Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 91


__ADS_3

"Papa kenapa senyum-senyum terus?", tanya Gita pada suaminya. Mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju ibu kota.


"Ngga apa-apa ma!", jawab Arya sambil tersenyum. Padahal dia mungkin satu-satunya pria yang jarang tersenyum tulus


"Mama tahu!", kata Gita seketika. Salim yang mengemudikan mobilnya pun melirik dari spion.


"Tahu apa ya?", tanya Arya.


"Tahu papa bahagia sekarang. Sudah lega kan rasanya?", tanya Gita.


"Lega apa? Memang papa sembelit?!", tanya Arya sedikit bercanda dan itu ... sangat aneh di mata Gita.


"Papa!", sentak Gita. Arya pun kembali diam tak ambil pusing


"Iya, papa bahagia. papa mau punya cucu lagi!", kata Arya. Gita memeluk lengan Arya.


"Mama senang dengar nya pa! Terimakasih papa sudah membuka hati papa untuk meraih."


"Ngga ma, papa yang selama ini mencoba tutup mata tapi...."


"Tapi ternyata tidak bisa!", sahut Gita.


"Heeh, iya ma!", sahut Arya


"Berarti besok acara tujuh bulanan Galuh, kita beneran ke sini lagi pa?", tanga Gita. Arya pun mengangguk pelan.


"Terimakasih pa!", mata Gita berkacamata. Dia sama sekali tak menyangka jika yang bisa menaklukkan Arya hanya seorang Syam.


"Dan... awalnya papa tidak bermaksud seperti tadi ma. Papa hanya ingin Syam berada dan di akui oleh keluarganya. Itu saja! Tapi...terserah mereka saja!",


"Pa, nama Syam memang berbau nama papa. Tapi bukan berarti dia bisa menjadi anggota keluarga inti kita!"


"Iya,papa tahu. Tapi sepertinya Surya sudah punya ide yang lain ma. Kalo sampai mereka berebut Syam, Papa yang akan menjegalnya."


"Papa nggak usah aneh-aneh deh!", ujar Gita.


"Apa yang aneh sih mah?"

__ADS_1


"Sudah nggak usah terlalu ikut campur. Mama yakin mereka bisa menyelesaikan masalah tersebut tanpa kita ikut campur tangan."


"Baiklah!", jawab Arya. Keduanya pun memutuskan untuk tidur sambil duduk dan membiarkan Salim melek sendiri sepanjang malam.


.


.


.


"An!"


"Iya Pa?"


"Angel suka nggak di Indonesia?", tanya puja.


"Suka sih Pa tapi kayaknya sekolahnya jauh deh!'


"Kan bisa pakai sopir atau dianterin papa?"


"Angel ikut kata Papa aja deh!", jawab Angel.


"Papa ada niat buat pindah ke sini?", tanya Vanes.


"Rencananya iya. Tapi bagaimanapun juga aku harus mendapatkan izin dari kamu. Karena kamu dan Angel adalah kebahagiaanku!"


"Jadi, kalau aku nggak mau berarti kita tetap stay di Kanada?", tanya Vanes lagi.


"Aku terserah kamu saja sayang!", kata Puja.


"Apa alasan lain yang membuat kamu berubah pikiran tinggal di sini Mas?", Vanes masih belum puas mendengarkan jawaban Puja.


"Aku dengar percakapan mama dan papa. Mereka memikirkan nasib perusahaan keluarga kami seperti apa karena Lingga sendiri tidak akan mau mengurusi apalagi menggantikan Papa menjadi direktur utama perusahaan kami."


"Jadi kamu yang akan mengambil alih tugas?"


Puja pun mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah kalau memang itu keputusan kamu aku mah ikut aja!", jawab Vanes.


"Dua hari di kampungnya Galuh udah ngasih embel embe bahasa Sunda aja!", ledek Puja pada istrinya.


"mana bahasa Sundanya??? Ngga kok!",kata Vanes.


"emang enggak sih bohong doang!", jawab puja. Mereka ke kota dengan cahaya remang-remang. Puja sengaja mengajak ngobrol Vanes atau pun Angel karena takut dirinya ngantuk saat di perjalanan.


.


.


.


Glen sudah jauh lebih baik. Wajah bonyoknya perlahan pudar. Meski masih terlihat banyak luka.


Saat pintu kamar hotel yang mereka tempati terbuka, Glen langsung menghampiri papanya. Glen sendiri memilih duduk lagi karena sepertinya papanya.


"Jadi bagaimana usaha papa? ", selanjutnya bertanya sekarang Galuh atau Sekar ataupun Lingga mau menyerahkan Syam.


Surya menceritakan semuanya, Glen sampai tidak percaya.


"Aku akan menafkahinya."


"Bukan hanya soal nafkah Glen!", Surya sedikit bentak.


"Kesalahan kamu sudah terlanjur membuat cucuku menderita selama ini."


Glen tak berani membantah. Kenyataannya, dialah pelakunya.


"Bersiap lah, kita ke kota sekarang!", kata arya.


****


Dikit pake bgt yammmm?


Makasih. ngantuk berat 🤗

__ADS_1


__ADS_2