
Lingga benar-benar mengajak Galuh ke salah satu pantai di ibukota Jakarta. Lingga memilih tempat yang cukup private mengingat keduanya memang berniat untuk menghabiskan waktu berdua tanpa mengkhawatirkan keadaan sang putra.
Jika tadi Lingga mengatakan akan mencari hotel, kenyataannya Lingga tak melakukannya. Bukan karena tidak mampu, hanya saja ia tak ingin membuat istri kelelahan.
"Ngga jadi ke hotel bang?", tanya Galuh saat dirinya menginjakkan kaki di pantai.
"Kamu mau Yang?", tanya Lingga balik. Galuh mengerucutkan bibirnya.
"Sini!",Lingga merengkuh bahu Galuh dan keduanya berjalan beriringan mengikuti pinggiran pantai.
"Aku terserah Abang aja , bang!", kata Galuh. Lingga tersenyum tipis.
"Mending di rumah kak Puja aja, hemat!", kata Lingga yang membuat Galuh mencubit perut suaminya yang sudah tak kotak-kotak lagi tapi juga tak buncit.
"Awshhh...sakit Yang, astaghfirullah!", keluh Lingga.
"Lagian ngomongnya gitu!"
"Iya maaf, cuma bercanda Yang!", kata Lingga.
"Besok berangkat habis subuh kan pulang kampungnya?", kata Galuh yang sekarang menggenggam tangan Lingga dan tangan satunya menenteng sandal.
"Abang ikut papa dan mama aja mau jam berapanya." Galuh pun mengangguk pelan.
"Apa yang kamu suka dari pantai Yang?", Lingga menyempatkan mengecup pelipis Galuh.
"Apa ya? Suara deburan ombaknya, anginnya dan mungkin suasananya!"
"Memangnya ngga ada kenangan apa gitu Yang?", tanya Lingga.
"Kenangan? Apa? Paling waktu studytour jaman SMP dulu sama teman-teman satu sekolah ke pantai selatan. Setelah itu ngga pernah!"
"Sama ibu atau mendiang bapak?", tanya Lingga.
"Ngga ada waktu untuk jalan-jalan jauh Bang. Paling kalau ada waktu berkumpul bapak ngajakin ke kali yang di bawah Bang. Kita piknik bawa nasi sama lauk dari rumah."
Lingga menatap wajah istrinya dari samping yang terlihat ayu dengan pasmina instan berwarna maroon hingga membuat kulit wajahnya terlihat kontras.
"Abang tahu setelah itu apa yang kami lakukan?", tanya Galuh. Lingga menggeleng.
"Bapak ngajakin solat di alam terbuka dengan suasana yang syahdu." Bibir Galuh melengkung. Di matanya ia seolah melihat adegan itu berlangsung.
"Kapan-kapan kita bisa kaya gitu juga kali bang! Ajak semuanya!", kata Galuh.
Lingga masih menatap wajah istrinya dari samping hingga akhirnya Galuh menyadari jika dirinya di perhatikan.
__ADS_1
"Maaf...maaf... tadi lagi bahas pantai tapi malah jadi bahas yang la ..."
"Abang pikir, Abang paling mengenalmu Yang. Tapi ternyata banyak yang Abang tidak pernah tahu..."
Galuh menghentikan langkahnya di ikuti oleh Lingga yang kini berdiri berhadapan satu sama lain.
"Maksud Abang apa? Memang Abang yang paling tahu seperti apa aku. Bahkan mungkin selain ibu, Abang yang tahu dimana saja letak tahi lalat ku!", kata Galuh mencoba membuat jokes agar tak tegang.
"Yang!", Lingga meminta Galuh untuk menatapnya.
"Kalau ada yang kamu rasakan dan inginkan, tolong beri tahu Abang! Karena Abang tidak pernah bisa membaca pikiran kamu. Ngga susah kok mengatakan keinginan mu, apa pun itu selama Abang mampu akan Abang usahakan!"
Galuh tersenyum tipis.
"Ngga minta yang aneh-aneh kok Bang! Cukup selalu bersamaku dan Ganesh!", kata Galuh tersenyum. Lingga pun membalas senyuman istrinya.
Lingga tak tahu seperti apa bersikap romantis meskipun mantan kekasihnya banyak. Tapi Lingga yang selalu menerima ungkapan cinta para kaum hawa yang tergila-gila padanya. Jadi jangan heran kalau mantan Lingga banyak karena dia akan mudah putus dan pacaran dengan gadis-gadis berikutnya. Nauzubillahimindzalik ya ✌️🙏
Keduanya menikmati senja sambil berpelukan. Lingga meletakkan dagunya di atas kepala Galuh. Angin pantai di sore hari menyejukkan keduanya. Pantai yang Lingga dan Galuh kunjungi memang tak terlalu ramai karena memang ada paket yang demikian. Tapi ternyata bukan hanya ada mereka berdua, masih ada pasangan lain hanya saja kondisi pantai tak terlalu ramai.
"Udah sore, kita pulang yuk!", ajak Lingga.
"Padahal aku belum puas Bang, belum basah-basahan air laut pula!", celetuk Galuh.
"Nanti cukup Abang yang puasin Yang! Kalau mau basah-basahan nanti Abang bantuin biar basah semuanya!"
"Jangan negatif thinking dong Yang. Maksudnya tuh Abang bantu mandi."
"Saya paham jalan pikiran bapak ya!", kata Galuh mendahului Lingga. Lingga terkekeh sendiri mendengar celetukan istrinya. Setelah itu ia mengejar Galuh yang berjalan lebih dulu beberapa meter dari Lingga.
"Tunggu Yang!", teriak Lingga yang pasti dengan mudah menyusul Galuh dengan kaki jenjangnya. Berbeda dengan Galuh yang sudah pasti akan tersusul dengan mudah oleh sang suami.
.
.
.
"Adek makan dulu!", kata Sekar pada Syam yang masih memakai seragam sekolahnya.
"Belum lapar Bu!", sahut Syam. Dia memainkan pipi Ganesh yang menggemaskan.
"Ganti baju dulu dek!", pinta Salim kali ini.
"Besok kan udah ngga di pakai bah, ngga apa-apa lah sekalian ngotorin. Lumayan ngga nambahin cucian bik Mumun."
__ADS_1
Sekar dan Salim hanya saling menatap. Entah apa yang putra nya alami hari ini hingga seolah Syam tak seperti biasanya.
Mungkinkah hanya lingga yang ia dengarkan dan patuhi?
Tapi Salim cukup mengerti anak seusia Syam memang sedang belajar mencari jati diri dari masa transisi. Dia sudah bukan anak kecil tapi dia juga belum bisa di sebut dewasa secara usia.
Tapi... bocah tampan itu di dewasa kan oleh keadaan hingga dirinya tampak tidak seperti anak remaja pada umumnya.
"Kalo adek ngga ganti, makan dulu dek!", pinta Salim pelan.
"Heum! Baiklah, Syam makan ya Bu, bah!!", sahut Syam dan langsung meninggalkan sepasang suami istri tersebut ke dapur. Salim dan Sekar hanya mengangguk pelan.
"Abah ngga ada niat ke warung!?", tanya Sekar setelah Syam ada di meja makan.
"Mungkin besok Bu, nunggu Abang pulang dulu."
Sekar mengangguk mengerti. Ganesh cukup lengket ikut dengan Salim. Mungkin karena Salim yang lembut hingga menciptakan rasa nyaman bagi Ganesh.
"Bah!"
"Heum?", gumam Salim.
"Apa seusia Syam sudah mengalami mimpi basah?", tanya Sekar.
Salim tidak tahu harus menjawab apa. Dia tak pernah mengobrol dengan Syam tentang masalah seperti itu.
"Abah ngga tahu Bu."
"Oh ...!"
"Ya udah nanti coba Abah obrolin sama Syam."
"Iya bah!"
"Ganesh mau ikut Abah?", tawar Salim. Ganesh hanya tersenyum lebar dengan kaki yang ia hentakan di atas kasur. Sungguh bayi itu sangat menggemaskan.
Salim mencium Ganesh yang sekarang ada di pelukannya. Bayi itu juga tetap anteng dan sesekali tersenyum. Senyum Ganesh pun menular hingga Salim ikut tersenyum tipis.
Sekar menatap suaminya yang sedang asyik dengan cucunya. Bagaimana mungkin dia akan merebut kebahagiaan itu berlangsung.
"Ibu mandi aja dulu, biar Ganesh sama Abah ya ..!"
"Iya deh Bah!", kata Sekar yang langsung meninggalkan cucu dan suaminya ke kamar mandi.
****
__ADS_1
Diusahakan up walaupun alakadarnya ✌️🙏
Terimakasih semuanya 🙏