Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 215


__ADS_3

Salim menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan Syam tentang mafia. Meski dengan sedikit penjelasan, Syam cukup paham.


"Sebenarnya adek tahu kata-kata itu dari mana? Sepertinya...disekolah kata-kata itu tidak ada dalam salah satu pelajaran ?", tanya Salim.


"Tahu aja lah bah, Syam kan suka baca!", jawab Syam.


"Oh ya??? Adek suka baca juga? Eh ... tunggu!", Salim langsung menoleh pada Syam yang sedikit terkejut lalu menautkan kedua alisnya.


"Apa bah?"


"Kamu baca apa? Tidak semua bacaan aman di baca anak kecil lho dek!"


"Iya, Syam tahu bah. Kiranya ngga cocok untuk seumuran Syam, ya ngga Syam baca!"


"Tapi kalo ada istilah mafia, sudah pasti genre action, iya? Banyak adegan kekerasannya lho dek! Abah ngga mau adek ikut-ikutan..."


"Ya Allah Bah, Syam juga paham hal itu. Abah tenang aja, insyaallah Syam bisa memilah milih bacaan yang cocok buat seumuran Syam. Dan...Syam juga tau mana yang boleh di tiru dan tidak."


Salim tersenyum mengacak rambut Syam dengan pelan.


"Abah belum jawab, orang-orang berbadan besar itu siapa?", tanya Syam yang masih belum puas karena pertanyaannya belum terjawab. Apakah abahnya anggota atau bahkan pemimpin mafia?


"Itu... orang-orang papa Arya yang sengaja melindungi keluarga Abang, keluarga kita lah pokoknya!"


"Melindungi dari apa?", tanya Syam lagi. Salim menghela nafas berat.


"Papa Arya kan pebisnis hebat. Lawan bisnisnya banyak, makanya dia memiliki bodyguard untuk melindungi beliau dan keluarganya, termasuk adek!"


"Dulu... sebelum Abang dan kakak akur sama papa, ngga ada tuh bodyguard?!"


Salim menggaruk pelipisnya. Syam terlalu penasaran dengan segala hal. Wajar saja pemikirannya lebih dewasa di banding dengan teman sebayanya. Bahkan diusianya yang baru tujuh tahun kala itu, dia sudah mengerti jika dirinya lahir di luar nikah.


"Abah ngga tahu dek!", Salim cari aman dari pada di tanya seperti terdakwa.


"Tapi...apa mereka berada dalam kendali Abah?", tanya Syam lagi.


Astaghfirullah! Batin Salim.


"Ehem...adek, udah mau sampai tuh!", kata Salim mengalihkan pembicaraan. Mobil mereka pun berhenti di depan sebuah rumah.


Setelah selesai mengirim, Salim dan Syam pun kembali ke rumah mereka.


.


.


.


Lingga menggosok rambutnya yang basah usai keramas tadi. Aktivitasnya di luar cukup membuat kulit kepalanya banyak berkeringat. Saat keluar kamar, ia tidak mendapati istri atau pun anaknya. Tapi samar-samar terdengar suara tertawa di teras samping yang tak jauh dari kamar Lingga.


Usai mendirikan empat raka'at sorenya, lelaki gagah itu keluar dari kamar masih mengenakan sarungnya berwarna hitam dengan motif garis.


Dia menemui anggota keluarganya yang sedang berkumpul di sana. Ternyata ada mama papanya yang bertandang ingin bertemu cuci kecilnya.


"Ada mama papa juga, kirain cuma Ganesh sama ibunya!", kata Lingga turut bergabung dengan keluarga tersebut.

__ADS_1


Ganesh yang ada di pangkuan Galuh meronta ingin berpindah ke ayahnya. Dengan senang hati Lingga mengulurkan tangannya untuk menerima Ganesh.


Bayik chubby itu tertawa di pangkuan sang ayah. Dia senang jika suasana ramai seperti sekarang ini. Mungkin dia akan jadi tipe lelaki yang ramah dan suka keramaian.


Berbanding terbalik dengan situasi saat Syam kecil dulu. Makanya tidak heran jika Syam sedikit bicara pada orang asing dan mau berbicara dengan orang-orang tertentu saja.


"Ga!", panggil Arya. Lingga pun langsung menoleh, begitu juga dengan Galuh dan Sekar yang menemaninya.


"Iya pa?", tanya Lingga.


"Kamu sudah lihat di sosmed?", tanya Arya. Lingga mengangguk.


"Papa sudah berusaha agar berita itu bisa dihapus, tapi ternyata sudah ada beberapa yang membagikannya ke laman-laman receh."


Lingga menghela nafas berat.


"Terimakasih pa, tapi ...",Lingga menjeda beberapa saat lalu menoleh pada istrinya yang sedang memandanginya.


Galuh berkedip melihat suaminya yang memandanginya seperti itu.


"Tapi...Lingga yakin berita itu akan hilang dengan sendirinya."


Galuh semakin di buat bingung dengan pembicaraan suami dan juga mertuanya. Kalau memang pembahasan mereka cukup berat dan rumit, bukankah sebaiknya jangan di bahas di hadapannya apalagi ibunya.


"Luh!"


"Iya Pa?"


"Kamu tidak membuka sosial media kamu?", tanya Arya pada menantunya.


"Sosial media? Buka aplikasi hijau tiap hari pa, kenapa?", tanya Galuh.


"Galuh ngga aktif di sosmed Pa, kerjaannya paling cuma aplikasi chat, tilawah online sama novel online. Jadi sepertinya papa tidak perlu mengkhawatirkan menantu papa ini!", kata Lingga.


"Maksudnya apa coba?", tanya Galuh semakin bingung.


"Ngga apa-apa kok sayang...!", Lingga mengusap kepala Galuh. Tapi tidak semua itu Galuh percaya.


Dia mengambil ponselnya di atas meja lalu membuka aplikasi berlambang F. Dia tak menemukan apa pun. Ya kan mau cari apa dirinya? Yang di cari saja tak tahu.


Akhirnya dia membuka aplikasi G. Dia baru membukanya saja sudah di kejutkan dengan berita yang mencatut nama papa mertuanya dan menyebut menantu yang berasal dari daerah Xx yang sudah dipastikan jika itu dirinya.


"Apa ini?", Galuh membaca isi beritanya itu sangat perlahan agar bisa memahaminya.


Lingga dan yang lainnya tak bisa mencegah perempuan mungil itu untuk terus membacanya hingga selesai.


"Astaghfirullah? Apa ini Pa? Kenapa bisa?", tanya Galuh pada papa mertuanya.


"Puja sudah membereskannya Galuh, kamu tenang saja. Perlahan berita itu akan tenggelam dengan sendirinya", jawab Arya dengan mode datarnya.


"Benar Yang, ngga usah dipikirin. Semua sudah baik-baik saja kok, ya ...?", Lingga mengusap bahu istrinya. Sedang tangan satunya memegangi Ganesh.


"Dan satu lagi!", kata Arya. Galuh serta Lingga menoleh pada papanya. Sekar dan Gita memilih untuk ke dapur saja membuatkan minuman untuk mereka semua.


"Apa Pa?", tanya Lingga dan Galuh bersamaan.

__ADS_1


"Papa sudah menyingkirkan dua hama yang mencoba mengusik kalian!", kata Arya.


"Dua hama?", Lingga dan Galuh sama-sama membeo.


"Iya. Dua perempuan yang ingin mendekati kamu! Mantan-mantan kamu!", kata Arya mempertegas.


"Maksud papa apa menyingkirkan mereka? Mereka ngga kenapa-kenapa kan?", tanya Lingga.


Galuh menatap sengit ke arah suaminya.


"Khawatir banget mereka kenapa-kenapa? Abang pikir papa mau ngapain mereka?", tanya Galuh ketus yang tak terima jika suaminya masih memperdulikan mereka dengan sebegitunya. Padahal papanya pasti tidak akan mencelakakan mereka bukan???


"Bukan gitu Yang!", kata Lingga pelan.


"Kamu tanya sama Abah mu Luh, dia lebih tahu!", kata Arya dengan santainya.


"Abah?", tanya Galuh dengan nada terkejut.


"Sudah Yang, ngga usah dibahas lagi. Urusannya kan sud....?"


"Stop! Aku mau mendengar penjelasan papa dulu!", kata Galuh.


"Nanti Abah mu yang akan menjelaskannya karena dia yang sudah mengeksekusi mereka!", jawab Arya santai.


"Mengeksekusi? Abah mengeksekusi? Menembak bah?", tanya Syam yang lagi-lagi harus melontarkan pertanyaan yang cukup sulit di jawab. Syam dan Salim tiba-tiba masuk dan sebelum mengucapkan salam, justru Syam mendengar ucapan Arya yang ambigu bagi seorang Syam.


Salim memijat pelipisnya. Baru selesai urusan mafia, sekarang harus ada istilah lagi yang lain.


"Bah!", Syam menoleh pada Salim yang hanya mampu mendesah pelan.


"Kebanyakan baca buku tema action kamu tuh dek! Ngga usah mengada-ada dek, pertanyaannya aneh!", Salim menepuk bahu Syam pelan.


"Bah....?", Syam memundurkan tubuhnya. Arya justru tertawa pelan melihat wajah salim yang bingung menjelaskan pada Syam.


"Sini Syam! Biar papa yang beri tahu!", Arya merangkul bahu Syam dan membawanya pergi dari semuanya.


Sepeninggal Syam dan Arya, bukannya Salim merasa tenang tapi tatapan mata Lingga dan Galuh juga seolah menyiratkan pertanyaan yang sama seperti Syam.


"Abang sama kakak mau tanya eksekusi juga?", tanya Salim frustasi. Tak ada anggukan atau gelengan kepala dari sepasang suami istri itu hingga Gita dan Sekar datang membawa minuman.


"Lho, Abah sudah pulang. Adek mana?", tanya Sekar.


"Sama mas Arya !", jawab salim.


Gita dan Sekar mendudukkan diri di samping Salim.


"Jadi, apa yang mau Abah jelaskan tentang eksekusi dua mantan Abang ini?", tanya Galuh pada Salim tapi lirikannya pada Lingga.


Fiyyyyuuuhh....Abang lelah Hayati!!! Batin Salim.


Dan bibir Salim pun menceritakan semuanya pada anak dan menantunya tersebut. Sekar sampai tak percaya mendengar suaminya melakukan hal seperti itu. Meski tak ada kontak fisik dan kekerasan, tetap saja.... terdengar mengenaskan...


Tapi Sekar tak mau ambil pusing,toh suaminya tak berbuat macam-macam. Dan yang paling penting, kedua perempuan itu tak bisa mengganggu rumah tangga Galuh dan Lingga lagi.


******

__ADS_1


Besok udah Senen lagi, sibuk lagi ya...ya...ya... kembali ke daily activity 🤭🤭🤭🤭


Terimakasih 🙏🙏🙏✌️🙏🤭


__ADS_2