
Galuh dan Lingga sudah sampai ke hotel di mana mereka tinggal untuk beberapa waktu. Perempuan hamil itu sedang berkemas memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas. Sedang Lingga sendiri hanya berdiri dan melipat kedua tangannya di dada memperhatikan sang istri yang sibuk berkemas.
Menyadari dirinya sedang di perhatikan, Galuh pun menghentikan kegiatannya. Dia mendekati sang suami yang kini semakin berotot. Berbanding terbalik dengannya yang meski dirinya lebih gemuk dari biasanya, tetap saja Galuh seolah tak sebanding dengan tubuh sang suami.
"Abang ngga ngijinin aku balik dulu ke kampung?", tanya Galuh sambil memegang pinggang suaminya.
"Abang cuma cemas sama kamu Yang!"
"Apa yang Abang cemaskan? Aku pergi bareng sama keluarga Abang kok, ngga sendiri!"
"Iya, Abang tahu yang. Tapi....!?"
"Tapi apa?"
"Abang hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian!", Lingga mengelus perut buncit istrinya.
"Insyaallah kami akan baik-baik saja bang!", Galuh tersenyum tipis saat Lingga mengecup perutnya.
"Abang ngga mau jauh-jauh sama kamu lagi Yang!", kata Lingga lirih. Perasaan dimana mereka terpisah jarak dan waktu yang cukup lama membuat seorang Lingga enggan untuk berjihad lagi dengan istrinya. Nyatanya, perasaan cinta memang bisa hadir karena terbiasa. Contohnya ya mereka berdua, pada akhirnya mereka saling jatuh cinta bahkan tiap harinya memupuk rasa cinta tersebut.
"Kalau Abang pulang ke kampung sendirian kan bisa cepet. Beda sama kalo ada aku."
"Nanti kalo Abang kangen gimana?"
Galuh mencubit hidung suaminya dengan gemas.
"Tinggal telpon, video call kan bisa!", kata Galuh.
"Kalo pengen kaya gini, gimana?", tanya Lingga lalu ******* sekilas bibir manis istrinya. Galuh paham akan hal itu. Entah lah, sejak kehilangan anak pertamanya dulu Lingga lebih sering 'berkunjung' agar secepatnya memiliki anak. Tapi baru akhir-akhir ini yang kuasa menguji kembali hadir nya buah hati di rahim Galuh.
Galuh mengalungkan tangannya di leher sang suami yang jauh lebih tinggi darinya.
"Mau lanjut? Sebelum nanti malam aku berangkat?", tawar Galuh menggoda. Lingga tentu saja menyambutnya dengan senang hati. Sang istri yang menawarkan diri lho!!!!
"Mau lah!", sahut Lingga lalu keduanya pun melanjutkan kegiatan menyenangkan tersebut sampai benar-benar seorang Lingga merasa puas. Anggap saja sebagai bekal selama ia jauh dari sang istri.
Dua jam berlalu, Galuh sudah rapi dengan pakaian yang santai namun masih tetap sopan.
__ADS_1
"Abang!", Galuh kembali mengalungkan tangannya di leher Lingga.
"Apa sayang?", Lingga mengusap punggung ibu hamil tersebut.
"Selama aku ngga sama Abang, Abang harus bisa jaga diri. Jaga pandangan dari yang bukan mahram!", kata Galuh menasehati tapi sepertinya lebih tepatnya justru di sebut mengancam!
"Iya sayang. Abang ngga akan macem-macem. Kalo Abang macem-macem bisa di gorok sama ibu negara Abang ini!", goda Lingga.
"Janji lho bang, Abang kan ganteng! Kalo ada cewek deket-deket Abang, Abang jangan mau lho!!!"
"Astaghfirullah Yang, kok mendadak curiga gitu sih? Ngga lah, ngga usah nethink begitu. Eum...atau kalo ngga, kamu batalin aja pulang sama mama nya?"
"Ishhh...itu sih maunya kamu bang!", kata Galuh mencebik.
"Heheh makanya, Abang tuh ngga mau jauh-jauh dari kamu yang!"
"Mulai lagi! Kan tadi udah di kasih bekal buat beberapa hari ke depan!", Galuh kembali merayu.
"Oke...oke....!", Lingga memilih mengalah bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Ada nama mamanya di layar tersebut. Sebagai informasi, Galuh maupun Lingga sudah bertukar nomor ponsel mereka dengan keluarga Lingga.
"Angkat atuh bang!"
Lingga mengangkat panggilan tersebut.
[Ya ma?]
[.....]
[Oke. sebentar lagi kami turun!]
[....]
"Mama sama Angel udah di bawah Yang!"
"Oh, ya bagus atuh!", kata Galuh sambil menyangkutkan tali tas nya di bahu. Sedangkan koper sudah di tenteng oleh suaminya.
"Kita turun!", ajak Galuh. Lingga pun tak punya alasan lagi untuk menahan sang istri. Ia pun mengantar Galuh menemui mamanya dan keluarga Lingga yang lain.
__ADS_1
"Sore ma!", sapa Lingga pada Gita.
"Sore Ga. Sayang, kamu udah siap nak?", tanya Gita pada menantunya.
"Alhamdulillah sudah Ma."
"Uncle ngga ikut pulang kampung?", tanya Angel.
"Belum bisa An. Mungkin beberapa hari lagi."
Angel mengangguk paham.
"Ma, nitip Galuh ya ma!", kata Lingga.
''Kamu itu lho Ga. Galuh pulang sama mama, bukan mau di culik Lingga!"
Puja dan Vanes terkekeh pelan.
"Oke mam. Kak Puja, nitip istri ku dan calon keponakan mu!"
"Siap bos!", jawab Puja. Mata Galuh menyisir mobil mewah yang ada di hadapannya.
"Kenapa yang?", tanya Lingga.
"Eum? ngga bang?!", kata Galuh. Sepertinya Gita paham, siapa yang Galuh cari.
"Mama udah ijin sama papa kok."
Galuh dan Lingga pun saling menatap. Mungkin apa yabg yang di katakan mama Gita adalah jawaban dari pertanyaan yang ingin mereka lontarkan.
"Oh, bagus lah ma!", sahut Lingga.
Akhirnya, mereka semua menaiki kendaraan yang di supir oleh supir pribadi mereka.
"Hati-hati ya mang!", pinta Lingga pada sang supir.
"Siap Tuan muda!", jawabnya. Berpamitan ala Lingga dan Galuh pun cukup dramatis tapi akhirnya Lingga pun membiarkan sang istri bersama ibu dan juga kakak nya menuju kampung halaman Galuh.
__ADS_1