
Sekar dan Salim baru saja pulang dari rumah sakit setelah memeriksa kandungan Sekar. Sesuai pemeriksaan sebelumnya, mereka akan di anugerahi anak kembar. Dan saat ini, pemeriksaan sudah terlihat lebih jelas dibandingkan pemeriksa di awal dulu.
"Abah sudah tanya ke dokter soal mengajak ibu umroh? Apakah diperbolehkan?", tanya Galuh.
"Alhamdulillah udah kak, tapi nanti setelah masuk trimester kedua jadi kandungan ibu sudah mulai kuat", jawab Salim.
Mereka sekeluarga tengah menikmati makan malam bersama.
"Oh... syukur atuh, nanti biar Abang yang urus semuanya. Kebetulan Abang udah ada kenalan di biro haji dan umroh di kabupaten."
"Iya bang, terimakasih sebelumnya."
Syam mendengarkan obrolan para orang dewasa yang sedang membicarakan nazar kakaknya untuk memberangkatkan umroh kedua orang tua mereka.
Galuh menoleh pada sang adik yang tak menyahuti sama sekali.
"Adek mau berangkat umroh bareng Abah sama ibu sekalian?", tanya Galuh pada Syam hingga bocah tampan itu sedikit terkejut.
"Heh? Eh...ngga kak!", jawab Syam. Galuh pikir, adiknya diam saja karena ingin ke tanah suci seperti orang tuanya. Ternyata tidak! Entah apa yang bocah itu pikirkan.
Dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya Galuh pun memiliki keinginan yang sama. Hanya saja belum ada kesempatan untuk menginjakkan kaki di Mekah. Semoga lain kali bisa di berikan kesempatan untuk ke baitullah. Termasuk othor dan para reader's muslim khususnya. Aamiin 🙏🙏🙏
"Terus kenapa dari tadi bengong?", tanya Galuh. Syam menggeleng.
"Ada apa?", Lingga mengusap bahu Syam karena memang dia yang duduk paling dekat dengan adik iparnya. Syam mendongak sebentar.
"Ehem...itu, soal undangan makan bersama dengan pak gubernur, Syam rencananya mau di temani papa Arya."
Semua mata tertuju pada Syam. Mungkin dalam hatinya bertanya-tanya.
"Sama papa Arya?", tanya Galuh. Syam mengangguk dan tersenyum tipis.
"Iya, papa Arya bersedia kok."
"Bukan gitu dek, adek kan bisa minta ditemenin Abang atau Abah!", kata Lingga.
Lagi-lagi Syam hanya tersenyum.
"Ngga apa-apa bang, papa juga seneng kok nemenin Syam dan ngga keberatan sama sekali. Kalo sama Abang, kasian kakak jagain Ganesh sendirian. Ibu juga pasti lebih butuh Abah, apalagi akhir-akhir ini ibu sering mual dan muntah. Ya kan?"
Wajah Syam memang tersenyum, tapi mereka semua tahu seperti apa perasaan bocah itu.
"Syam udah selesai, mau langsung ke kamar ya. Beresin buku buat besok pagi."
Syam beranjak dari bangkunya lalu menapaki anak tangga menuju ke kamarnya. Suasana meja makan mendadak hening.
Para penghuni meja sedang larut dalam pemikirannya masing-masing. Benarkah Syam sebijak dan seikhlas itu?
.
.
.
[Iya ...]
Arya mematikan sambungan teleponnya dari seseorang yang menghubunginya tadi. Lelaki itu kembali menonton acara pertandingan sepakbola antar klub lokal.
Dia bukan penyuka olahraga sebenarnya. Tapi acara-acara di stasiun lain berisi tentang sinetron, gosip dan acara berbau politik. Dia tak mau ambil pusing. Jadi untuk melepas penat, cukup menonton olahraga rebutan bola.
"Minum Pa!", Gita meletakkan teh hijau hangat di depan suaminya.
"Papa jadi nemenin Syam?", tanya Gita.
Arya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Kok gitu? Kasian Syam dong Pa!", kata Gita yang seolah merasakan seperti apa di posisi Syam. Yang harus di tempatkan menjadi 'pengertian' di setiap situasi dan keadaan.
Arya merangkul bahu Gita.
"Memang papa ngga bisa nemenin Syam, Ma. Nanti mama sama siapa? Menginap di Lingga?"
Gita mengangguk cepat.
"Sudah, mama jangan terlalu banyak memikirkan hal yang berat-berat. Syam baik-baik saja, oke?!"
"Tapi kasian Syam Pa, bagaimana kalau...!?"
"Sudah Ma, mama tenang saja!", kata Arya lagi lalu fokus menonton televisi.
.
.
.
"Ma, sebenarnya kita mau ke mana sih Ma?", tanya Zea saat melihat ibunya tengah mengepak pakaian ke dalam koper.
"Healing lah Ze, masa mau kerja terus!", jawab Helen tersenyum.
"Healing ke mana Mama?", tanya Zea lagi.
Helen duduk di ranjangnya bersebelahan dengan koper yang sudah terisi penuh pakaian mereka sekeluarga.
"Ke suatu tempat yang menyenangkan dimana kita bisa kembali berkumpul dengan suasana yang nyaman dan menyenangkan!", kata Helen. Zea semakin di buat bingung.
"Apa di hari ulang tahun mama, mama sama papa mau honeymoon? Zea di tinggal?"
"Honeymoon apa sih Ze!?", Helen menyentil pelan dahi Zea.
"Ya habisnya mama kaya lagi main tebak-tebakan sih!", Zea memanyunkan bibirnya lalu meninggalkan kamar mamanya.
"Lho, ma? Ini koper isi? Mau ke mana?", tanya Glen.
"Pengen liburan keluarga aja Pa!", jawab Helen tersenyum sambil menurunkan kopernya.
Apa dia mau mengajak kami berlibur jauh? Kenapa harus membawa koper segala? Batin Glen.
.
.
.
Pagi sudah menyapa. Matahari sudah mulai menampakkan cahayanya di ujung timur. Suasana rumah kembali terlihat hidup. Apalagi sudah ada beberapa pekerja kebun yang datang pagi-pagi sekali.
Pengiriman sayur dini hari tadi menyisakan sayuran yang masih bisa di sortir. Ada beberapa karyawan kebun yang memanfaatkan sisa sortiran tersebut untuk di masak pribadi karena Lingga dan Galuh yang menyuruhnya. Dari pada sayuran itu busuk dan jadi sampah, lebih baik di oleh selama masih layak.
Syam menuruni tangga menuju ke meja makan. Jika makan malam , mereka biasanya bisa kumpul bersama. Tapi tidak jika pagi. Tidak semua penghuni rumah tersebut sarapan pagi sekali seperti Syam yang masih anak sekolah.
"Adek, mau bawa bekel?", tanya Sekar yang sudah ada di dapur.
"Boleh deh Bu!", jawab Syam. Ibu hamil itu menyiapkan nasi dan lauknya. Tak lupa minum dan makanan ringan.
"Adek mau naik sepeda?", tanya Galuh yang baru tiba di meja makan.
"Iya kak, udah janjian sama Deni!", jawab Syam.
"Dek.....?", panggil Galuh lirih.
"Syam ngga apa-apa kok kak, kalo kakak mau tanya syam gimana!"
__ADS_1
Galuh mengusap puncak kepala Syam dan memeluk kepala adiknya tersebut. Di kecupnya berulang-ulang rambut setengah basah Syam yang beraroma sampo wangi.
"Kak...!", panggil Syam lirih. Galuh yang membesarkan Syam, wajar jika dirinya tahu seperti apa perasaan adiknya tersebut.
"Maafin kakak, harusnya kakak yang mengerti kamu. Tapi..."
"Udah kak, Syam kan bilang ngga apa-apa. Kakak jangan memikirkan apapun yang Syam rasakan. Syam baik-baik saja!", kata Syam kekeh.
Perlahan pelukan Galuh mengendur.
"Sekali pun adek udah besar dan makin dewasa, di mata kakak kamu tetap adik bayi kakak!", Galuh mencubit pipi kanan kiri Syam. Syam tersenyum tipis.
"Makasih ya Kak, selalu menjadi penenang buat Syam!", kata Syam.
Galuh tak menjawab, hanya acakan rambut pada Syam yang dia lakukan. Sekar sudah selesai menyiapkan bekal untuk Syam.
Karena menggunakan sepeda membutuhkan waktu lama, Syam berangkat lebih pagi. Jika menggunakan sepeda, Syam dan teman-temannya pasti melewati pabrik Glen. Beberapa temannya yang sudah tahu jika pemilik pabrik itu adalah papa kandung Syam sering meledek pada bocah tampan itu.
Khayalan tingkat tinggi sering terlontar dari mulut-mulut mungil itu. Entah itu berandai-andai jadi anaknya Glen, pasti makan saja pakai sendok emas. Belum lagi tentang pakaian dan hal-hal random yang jadi fantasi anak-anak seusianya.
Syam hanya menggeleng lemah. Apa yang harus di banggakan darinya?
Sepertinya Syam dan teman-temannya hampir terlambat karena baru saja memarkirkan sepeda, bel masuk berbunyi.
Keempatnya masuk ke kelas. Pandangan Syam langsung tertuju pada bangku yang tepat berada di belakangnya.
Riang belum masuk? Batin Syam. Pelajaran pun di mulai, tapi Riang masih tak terlihat batang hidungnya.
Syam merasa heran teman barunya itu tak masuk sekolah.
Apa Riang sakit? Batin Syam lagi.
.
.
.
Hari yang di nanti tiba. Lingga mengantar Syam ke sekolah karena ia akan berangkat dengan Pak Rama. Rencananya wali siswa diijinkan untuk ikut tapi karena sebelum acara makan bersama, akan ada seminar tentang literasi. Jadi alangkah baiknya wali menyusul saja dari pada menunggu terlalu lama.
Ekspektasi Syam tidak terlalu tinggi. Seandainya nanti Arya tak bisa, Syam juga sudah menyiapkan diri untuk tidak kecewa.
Beberapa jam berlalu, Syam dan pak Rama tiba di balai pertemuan yang terlihat ramai. Syam dan pak Rama sama-sama menggendong ransel dan juga tas laptop.
Mereka menghadiri seminar itu lebih dulu. Di sela jeda istirahat dan makan siang, ada tamu undangan dari Jakarta.
Syam dan Rama sibuk berdiskusi hingga waktu istirahat tadi selesai. Saat diskusi dengan gurunya selesai, Syam memfokuskan perhatiannya ke depan.
Matanya tertuju pada sosok yang melihat ke arahnya sambil tersenyum. Dia melambaikan tangannya pelan pada Syam.
Syam tertegun beberapa detik hingga kemudian suara sosok itu terdengar memenuhi ruangan seminar tersebut.
Ternyata...dia salah satu pemilik penerbit yang bekerja sama dengan panitia pelaksana event menulis tersebut.
Sesi tanya jawab pun berlangsung. Sebenarnya banyak hal yang ingin Syam tanyakan, tapi sosok di depannya itu justru membuatnya canggung. Hingga akhirnya Syam memilih diam.
Selesai tanya jawab, seminar pun ditutup dengan beberapa hiburan. Syam dan Rama memilih untuk meninggalkan aula itu ke mushola gedung tersebut untuk beristirahat. Nanti menjelang sore, mereka akan makan malam bersama dengan gubernur dan menginap di hotel.
Syam melangkah pelan hingga sebuah panggilan padanya membuat ia berhenti dan menoleh.
"Syam!", panggilnya sambil tersenyum. Syam tak tahu harus berkomentar apa. Dia hanya tertegun memandangi sosok itu yang berjalan mendekat padanya.
*****
21.47
__ADS_1
Terimakasih semuanya 🙏🙏🙏🙏✌️🙏