Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 20


__ADS_3

Malam menjelang pagi sebelumnya...


"Lho, kirain kamu pindah ke kamar Han?",sapa Lingga saat melihat Burhan masih di depan televisi. Dia ingin mengambil air minum dingin di lemari es.


"Tadi udah tidur mas, susah mau tidur lagi",jawab Burhan kikuk karena dia merebahkan diri di karpet dekat sofa.


Lingga lantas mendekati Burhan yang sekarang sudah dalam posisi duduk. Lelaki tampan itu meneguk minumannya lalu duduk di sofa.


"Kayanya kamu lagi mikirin sesuatu?",tanya Lingga pada Burhan. Laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun itu tak dapat mengelak. Karena memang dirinya sedang memikirkan sesuatu, lebih tepatnya memikirkan majikannya.


"Saya mau cerita mas, tapi ...saya takut..."


"Cerita apa memang? Dan kenapa harus takut! Tentang siapa?", pertanyaan Lingga cukup banyak.


"Eum... soal mba Galuh." Lingga langsung menoleh pada supirnya itu.


"Galuh? Galuh istri ku? Kamu mengenal dia sebelumnya?",tanya Lingga lalu meletakkan gelas nya di meja.


Burhan yang sedikit tersentak pun mengangguk pelan. Lingga melipat tangan di dadanya.


"Cepat katakan, bagaimana kamu kenal dengan istri ku? Tapi kalo memang kamu mengenalnya, kenapa seolah kamu tak mengenalinya sekarang? Padahal aku udah cerita tentang hubungan kami?", tanya Lingga lagi penuh selidik.


"Maaf mas. Sebenarnya saya sudah lama sekali tidak bertemu dengan mba Galuh mas. Baru setelah mas Lingga cerita, saya liat mba Galuh istrinya mas Lingga adalah Galuh yang sama dengan gadis yang saya temui sekitar tujuh tahun yang lalu mas."


Lingga turut duduk di karpet, di samping Burhan. Lelaki tampan itu ingin mendengar bagaimana supirnya mengenal istrinya itu.


"Galuh yang sama? Maksud kamu apa?",tanya Lingga penasaran.


.


.


.


Flashback on


"Ibu....!",teriak Galuh yang baru saja membereskan bekas dagangannya. Dia terkejut saat melihat ibunya sedang merintih kesakitan di lantai.

__ADS_1


"Sakit Luh!",keluh Sekar. Galuh melihat ada cairan dari jalan lahir ibunya. Ya, saat itu Sekar akan melahirkan.


"Sebentar Bu, Galuh cari pertolongan dulu!",Galuh langsung berlari keluar. Karena sudah hampir tengah malam, kondisi lingkungan sekitar rumah nya pun sudah sepi. Mau tak mau dia berlari ke jalan. Setidaknya dia bisa menghentikan bajaj atau taksi atau apa pun kendaraan yang melintas.


Sayang nya sampai beberapa saat Galuh berdiri di sana, dia tak menjumpai kendaraan apapun. Apalagi hujan rintik sudah mulai turun.


Gadis itu semakin panik karena tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Tetangga??? Tetangga dekat rumahnya kebanyakan pada julid padanya karena status ibu nya yang hamil tanpa suami. Padahal mereka tak tahu cerita yang sebenarnya. Mereka langsung menghakimi Sekar.


Hingga dari kejauhan, terlihat ada sebuah kendaraan yang dari jauh menyalakan lampunya. Galuh nekat berdiri di tengah jalan yang sepi itu.


Burhan yang membawa Arya pun terpaksa menghentikan mobilnya. Burhan muda tentu saja takut jika sampai menabrak orang. Apalagi dia baru bekerja satu tahun terakhir ini sebagai supir dari seorang konglomerat seperti Arya.


"Kenapa berhenti mendadak Burhan!",teriak Arya pada supirnya. Lelaki setengah baya itu marah karena Burhan menghentikan laju kendaraannya.


"Maaf tuan, di depan ada orang yang berdiri di tengah jalan."


Burhan menjawabnya takut-takut. Arya pun menajamkan pandangannya hingga seorang gadis menghampiri mobilnya.


Tok...tok...tok.


"Pak, Bu...siapa pun di dalam tolong ibu saya!",ujar gadis itu. Burhan hendak membuka kaca, tapi Arya melarangnya.


"Memang nya kamu tidak takut, kalo ternyata gadis itu komplotan begal?",tanya Arya. Burhan tak bisa berbuat apa-apa. Tapi ketukan pintu semakin banyak dan akhirnya Arya sendiri yang membuka kaca itu di belakang.


"Alhamdulillah, tuan...maaf tuan...saya mengganggu. Tuan, tolong saya. Ibu saya akan melahirkan tuan. Tolong...!",Galuh menghiba pada Arya.


"Kamu mau bohongi saya? Kamu pikir saya percaya begitu? Banyak gadis yang pura-pura lugu tapi ujung-ujungnya mau cari kesempatan mendekati pria kaya seperti kami."


"Astaghfirullahaladzim, ya Allah tuan. Saya tidak bohong, ibu saya benar-benar akan melahirkan!", ucap Galuh di sela isaknya. Lama-lama hati Arya pun luluh.


"Dimana rumah kamu?",tanya Arya.


"Di gang itu tuan!",jawab Galuh. Bibirnya sudah memucat karena kedinginan terkena guyuran hujan.


"Burhan, ikuti gadis itu menuju ke rumahnya!",titah Arya. Galuh membulatkan matanya.


"Terimakasih tuan, terimakasih!",ujar Galuh. Gadis itu pun berlari kecil menuju ke gang yang menuju rumahnya.

__ADS_1


"Kamu saja yang turun, saya tunggu di sini!",ujar Arya.


"Baik tuan!",Burhan pun turun dari mobil membawa payung lalu menyusul Galuh yang sudah memasuki rumah kumuh.


"Maaf mas! Tapi ... bagaimana bawa ibu ke depan?",tanya Galuh pada Burhan.


"Biar saya yang gendong. Sebaiknya kamu ganti bajumu. Sama persiapkan pakaian untuk adik dan ibu mu!",pinta Burhan.


"Tapi mas...!"


"Sudah cepat. Kasian ibu kamu!",ujar Burhan yang melihat wajah Sekar semakin pucat. Galuh membawa beberapa baju dan uang yang tak seberapa itu. Yang rencananya memang ia simpan untuk biaya melahirkan ibunya.


Dengan susah payah, Burhan membawa Sekar dalam gendongannya. Galuh memayungi ibunya dan juga Burhan. Ternyata, Arya sudah berpindah duduk di depan.


Burhan meletakkan Sekar di bangku penumpang, disusul Galuh yang duduk sampingnya. Usai menutup pintu belakang, Burhan pun kembali duduk di belakang kemudi.


"Mau di bawa ke rumah sakit mana?",tanya Burhan pada Galuh. Arya yang semula tak percaya jika Galuh jujur tentang ibunya yang akan melahirkan pun memilih untuk cuek. Toh, dia merasa sudah membantu Galuh.


"Rumah sakit yang paling dekat saja mas!", jawab Galuh. Burhan pun melajukan kendaraannya. Majikannya seolah tak merasa ada orang lain di situ. Pria itu sibuk memainkan benda pipihnya.


Beberapa menit berlalu, Burhan pun kembali menolong Galuh untuk membawa ibunya ke dalam untuk di periksa dokter.


"Terimakasih banyak, Mas...!"


"Burhan!",jawab Burhan saat Sekar sudah berada di dalam ruang tindakan.


"Iya mas Burhan, saya Galuh!",kata Galuh.


Burhan mengangguk kecil. Sepertinya jika di lihat usia keduanya tak berbeda jauh.


"Kalau begitu, saya pamit ya. Semoga ibu dan adik kamu sehat selamat tanpa kurang satu apapun!", kata Burhan mendoakan.


"Aamiin mas. Sekali lagi terimakasih. Tolong sampaikan juga terima kasih saya sama tuan ..."


"Tuan Arya. Nanti saya sampaikan Mba Galuh!"


Setelah mengucapkan itu, Burhan pun kembali ke mobil menemui majikannya. Arya sendiri sedang memejamkan matanya.

__ADS_1


"Maaf tuan. Kalau saya lama. Dan, mba Galuh menitipkan pesan jika dirinya sangat berterimakasih kepada anda Tuan!",kata Burhan.


"Heum!",sahut Arya dengan gumaman.


__ADS_2