Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 16


__ADS_3

"Sudah siap belum dek?",teriak Galuh dari bawah. Ibunya sedang berjemur di balkon samping yang tentunya tak melihat keberadaan Syam. Aneh memang, serumah tapi tak boleh mendekat dan bertatap muka! Kasian sekali nasib seorang Syam.


"Udah kak!",kata Syam sambil menuruni tangga. Galuh pun memasukkan bekal makan siang Syam. Tak lupa uang saku. Walaupun Syam hampir tak pernah jajan di sekolah.


Kedua kakak beradik itu pun keluar dari warung menghampiri kendaraan roda duanya. Galuh mendesah pelan saat melihat ternyata ban motor nya kempes.


"Mas Usman, pinjam motor dong...!",teriak Galuh. Hobi banget emang teriak-teriak.


"Yah...mba, kan motor ku di pake sama Umar!",jawab Usman. Galuh menggaruk rambutnya kepalanya yang tertutup hijab.


Warung sudah mulai ramai pengunjung yang mencari sarapan. Tapi tidak mungkin kan meminjam kendaraan salah satu pengunjung?


"Aku yang antar Syam!", tiba-tiba terdengar suara bariton yang cukup Galuh kenal. Syam pun menoleh sekilas.


"Tidak usah, terima kasih! Kakak pesan ojol aja ya dek!",kata Galuh mengambil ponselnya. Tapi gerakan Galuh yang akan mencari aplikasi di benda pipihnya pun terhenti karena Lingga merebut ponsel Galuh.


Tanpa persetujuan Galuh, Lingga memasukkan ponsel Galuh ke saku nya. Gadis itu bahkan ingin mengomel tapi di hentikan lebih dulu oleh Lingga.


"Udah ayo aku antar, nanti Syam terlambat!",kata Lingga.


Syam hanya menjadi penonton dua orang dewasa di depannya.


"Ayo Syam, Abang antar ke sekolah! Kalo kakak mu takut Abang nyulik kamu, suruh dia ikut!",kata Lingga. Syam menoleh pada kakaknya yang menahan emosi. Padahal keseharian nya mah, hobi banget meledak-ledak.

__ADS_1


"Ya udah!",kata Syam berlalu meninggalkan kedua orang dewasa itu. Lingga tersenyum menang lalu mengekor di belakang Syam. Mau tak mau Galuh pun mengikuti mereka berdua ke dalam mobil. Bukan karena takut Syam di culik, tapi ponsel Galuh ada pada Lingga.


Syam mengambil tempat duduk di belakang. Belum sampai Galuh ke pintu belakang, anak itu sudah menutupnya.


"Kamu di depan sama aku Luh!",kata Lingga. Tak ingin berdebat di depan adiknya, Galuh pun mengalah.


Mobil Lingga pun melaju ke arah sekolah. Bersamaan pula dengan Zea yang di antar oleh Glen.


"Dek, nanti kakak jemput!",kata Galuh pada adiknya. Syam hanya mengangguk. Di perjalanan tadi, tak ada obrolan berarti di antara mereka bertiga.


"Iya kak! Assalamualaikum!",Syam mencium punggung tangan Galuh. Sempat ragu-ragu, Syam juga melakukan hal yang sama pada Lingga.


Glen melihat Lingga dan Galuh yang akan memasuki mobil lagi. Tapi tak sempat Glen menyapa keponakan istrinya, Lingga sudah keburu melesat meninggalkan area sekolah.


Pagi ini, penampilan Lingga kembali seperti saat pertama kali ia bertemu dengan Galuh. Anak selengekan, memakai anting hitam dan pakaian kasual. Berbeda saat bersama Zea kemarin.


Karena sang suami tak segera membuka suara, Galuh pun memberanikan diri bertanya.


"Mau bicara apa?",tanya Galuh tanpa menatap suaminya sama sekali. Lingga menoleh ke arah Galuh yang betah memandangi jalanan ibu kota yang sudah mulai padat merayap.


"Gimana kabar kamu dan ibu?",tanya Lingga berbasa-basi.


"Kaya yang kamu lihat. Aku baik-baik saja!",jawab Galuh. Lingga mengangguk pelan dan jemari nya mengetuk-ngetuk setir.

__ADS_1


"Gimana kalo kita bicara di tempat yang ya...cari udara segar gitu lah. Mungkin ke taman atau ke danau?"


Galuh langsung menoleh.


"Tinggal bicara saja, aku masih banyak pekerjaan!",sahut Galuh lalu melipat kedua tangannya di dada.


Lingga cukup paham dengan sikap sang istri. Wajar bukan jika Galuh marah, bahkan benci pada nya???


"Baiklah, kita bicara di mobil. Tapi tidak di jalan seperti ini?!"


Galuh tak menyahuti ucapan Lingga. Mau menolak pun percuma bukan?


"Kembalikan ponsel ku!"


"Nanti, setelah aku minta nomor kamu dan setelah kita selesai bicara. Oke?"


Sampai keduanya berhenti di pinggiran hutan bakau, mereka masih sama-sama diam. Suasana masih cukup pagi. Belum bahkan tidak ramai orang berlalu lalang di jembatan kayu itu.


Galuh menyandarkan kedua tangannya di pagar jembatan kayu yang membelah hutan bakau di kanan kiri nya.


"Maaf!", begitu kata pertama yang Lingga ucapkan. Galuh langsung menoleh pada suaminya.


Siapkah dia mendengar penjelasan Lingga?

__ADS_1


__ADS_2