
Lingga dan Galuh baru saja menunaikan hal dan kewajibannya. Seperti biasa, Lingga lah yang bertugas membersihkan sisa perjuangan merupakan. Galuh hanya terima beres sambil rebahan di kasur mereka.
Hal ini sudah Lingga lakukan sejak pertama kali mereka menikmati surga dunia.
"Abang!", panggil Galuh yang sudah rapi dengan piyama yang Lingga siapkan.
"Kenapa sayang?", tanya Lingga pelan.
"Abang ngga mau tidur?", tanya Galuh. Lingga melirik jam dindingnya yang menempel tepat berhadapan dengan arah matanya saat bangun tidur.
"Sudah mau jam satu. Anak-anak bentar lagi mau kirim. Kamu tidur aja dulu yang?!", pinta Lingga pada Galuh.
Ya, jam dinding sudah menunjukkan pukul satu kurang seperempat. Dan biasanya jam satu pagi anak-anak kebun akan bersiap berangkat menuju ke pasar induk. Hari ini pengiriman cukup banyak karena kemarin tak ada rute ke arah sana. Di tambah hujan yang mengguyur sejak kemarin-kemarin.
"Tapi nanti langsung tidur ya!", pinta Galuh. Lingga mengusap perut Galuh.
"Iya, nanti kalo anak-anak udah selesai Abang langsung tidur kok! Udah ngga bisa jauh-jauh dari ayahnya nih kayanya si utun!", kata Lingga sambil mengecup perut Galuh. Tangan Galuh terulur mengusap kepala Lingga yang basah karena dia langsung mandi wajib tadi. Berbicara dengan Galuh yang akan mandi besok sebelum subuh.
"Abang bahagia banget Yang!", kata Lingga. Galuh tersenyum. Dia tahu hal apa yang membuat Lingga bahagia.
"Aku juga sama Bang. Alhamdulillah, akhirnya... Allah membuka pintu hati papa!", kata Galuh. Tangan itu masih terus mengusap kepala suaminya. Lingga masih betah di atas perut buncit Galuh.
"Doa kita di kabulkan ya Yang! Heheh!", kata Lingga tertawa pelan.
"Iya, dan aku merasa sangat bersalah Bang!", kata Galuh. Lingga bangkit, lalu duduk menegakkan badannya.
"Kenapa Yang?", tanya Lingga heran.
"Selama ini aku , khususnya kita sudah salah sangka sama papa. Kita selalu menganggap papa orang yang tak punya hati. Tapi ternyata...di balik sikapnya yang arogan, galak bahkan kasar papa memilki hati yang lembut. Papa tidak tegaan!"
Lingga memeluk tubuh Galuh. Di kecup nya puncak kepala Galuh berulang-ulang.
"Kamu tidak sakit hati dengan sikap papa selama ini Yang?", tanya Lingga pada Galuh.
"Bohong kalo aku jawab tidak bang. Nyatanya aku juga manusia biasa. Aku pun merasakan seperti apa rasanya sakit hati. Hanya saja, mungkin aku sudah kebal atau terlatih menghadapi sikap dan kebencian papa. Jadi... untuk saat ini, aku sama sekali tak menaruh kebencian sedikit pun ke papa. Aku... sayang papa, seperti halnya aku sayang mendiang Ayah ku!", pungkas Galuh panjang lebar.
"Pantas bukan jika aku selalu mengagumi dan jatuh cinta berulang kali pada mu Yang???"
Galuh mencibir.
"Ga usah gombal ah. Udah cukup satu ronde. Kalo keseringan di jenguk nanti di utun cepat lahirnya!", cebik Galuh. Lingga terkekeh pelan.
"Abang ngga minta nambah yang, ya Allah su'uzon aja deh! Tapi kalo di kasih lagi juga ngga nolak sih! Heheheh!", ledek Lingga di tengah malam bahkan menjelang pagi.
"Tuh kan Abang....!", Galuh memukul lengan Lingga pelan.
Sesederhana itu tingkat keromantisan mereka berdua. Tidak lebai bahkan mungkin terkesan sangat biasa. Tapi keduanya berusaha untuk saling mengerti dan menempatkan diri sesuai posisi serta situasi. Jika salah satu sedang terbakar emosi yang satunya mendinginkan dan sebaliknya. Pokoknya, mereka selalu bekerja sama agar hubungan mereka selalu harmonis.
Tapi namanya berumah tangga tentu saja tak selamanya mulus. Ada saatnya juga mereka bertengkar tapi tetap tidak melebihi batas kewajaran.
Din...Din...suara klakson truk sayur sudah berbunyi. Lingga pun bersiap untuk menemui para pekerja kebun.
"Abang ke kebun dulu ya! Kamu bobo yang, nanti kalo Abang udah selesai, kalian pasti Abang kelonin!", kata Lingga.
"Iya bang!", ujar Galuh. Lingga pun meninggalkan kamarnya menuju ke kebun yang ada di belakang karena memang bagian di sana yang akan di angkut ke pasar induk.
.
.
Matahari sudah menyapa....
__ADS_1
Syam sudah bersiap dengan seragamnya. Salah seorang temannya sudah menunggu Syam di halaman. Rencananya Syam dan temannya akan naik sepeda. Tapi sayangnya, sepeda Syam kempes.
"Den, ban sepeda ku kempes nih!", keluh Syam pada Deni.
"Ya udah atuh bonceng aku aja!", tawar Deni.
"Tapi kan bahaya kalo bonceng berdiri gitu Den. Pan jalanannya ge turun gitu!", kata Syam.
Lingga yang baru selesai ngopi pun menghampiri adiknya yang berdiri dengan temannya.
"Ada apa dek?", tanya Lingga.
"Ban nya kempes bang!", jawab Syam sendu.
"Oh, ya udah nanti Abang minta mamang benerin. Sekarang, kalian Abang antar saja ya! Abang mau ke penggilingan padi!", tawar Lingga.
"Tapi...nanti pulangnya gimana bang?", tanya Syam.
"Abang jemput. Jam seperti biasakan?"
"Heum, gimana Den?", tanya Syam pada Deni.
"Iya mau atuh. Naik mobil kan?", tanya Deni riang. Lingga tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah, kalian masuk mobil dulu! Abang pamit kakak!", Lingga melempar kunci mobil pada Syam yang langsung di tangkap olehnya.
Lingga sendiri berpamitan pada Galuh yang sedang menyiram bunganya di teras.
"Yang?!", panggil Lingga. Galuh pun menoleh pada suaminya.
"Ada apa bang?"
"Iya Abang!", jawab Galuh. Lingga mengulurkan tangannya pada Galuh. Dengan senang hati menyambut tangan itu.
"Kalian hati-hati!", ujar Galuh. Lingga pun mengangguk. Usai mengucapkan salam, Lingga pun menghampiri Syam dan Deni yang ada di mobil.
"Sudah siap?", tanya Lingga. Dua bocah itu mengangguk kompak.
"Siap!", jawab mereka berdua. Tak butuh waktu lama untuk lingga mengantar adiknya ke sekolah dasar yang hanya ada satu di kampung tersebut.
Syam dan Deni berpamitan pada Lingga, sedang Lingga sendiri kembali melajukan kendaraannya ke pabrik penggilingan beras.
.
.
Helen menggeliat di atas ranjangnya. Kepalanya terasa pening dan pusing berputar-putar. Matanya perlahan mengerjap dan mencoba memahami dimanakah dia berada saat ini.
Yang terakhir ia ingat, ia ke club malam di temani Shiena. Tapi setelahnya, ia tak ingat apa pun.
Dia periksa pakaian nya yang sudah berganti menjadi piyama miliknya. Helen menyadari jika dirinya ada di rumah.
Selang berapa lama, pintu kamarnya terbuka. Muncul sosok suami nya yang datang membawakan teh hangat untuknya. Wajah tampan campuran timur tengah itu terlihat beberapa luka lebam. Tapi Helen seolah tak melihatnya. Ia memilih bungkam di depan suaminya.
"Minum lah! Setelah itu bersihkan diri! Kita harus bicara!", kata Glen sambil meletakkan gelas di atas nakas.
"Kenapa nanti? Bicara saja sekarang!", kata Helen. Glen yang tadi sudah berjalan ke arah pintu pun berbalik badan.
"Kita harus bicara. Ada papa juga di bawah!", kata Glen dan berlalu keluar dari kamar mereka.
Helen meremas kedua tangannya dengan erat. Perkataan mertuanya cukup membuat ia kesal semalam. Dan pagi ini, dia harus berhadapan dengan papa mertuanya lagi.
__ADS_1
Helen pun langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah siap, dia pun turun untuk bicara dengan suaminya sekaligus bertemu dengan papa mertuanya.
Jika selama ini Helen di kenal ramah oleh keluarga besar Glen termasuk mertuanya, tidak kali ini.
Helen tampak memasang wajah datarnya. Sikap ramahnya pun seolah menguap entah kemana.
"Kamu sudah lebih baik Len?", tanya Surya pada Helen yang duduk di sofa lain. Tak duduk bersama dengan Glen.
"Seperti yang papa lihat!", jawab Helen datar. Surya menarik nafas dalam-dalam.
"Kamu marah sama papa?", tanya Surya pada menantunya. Helen tak mengatakan apapun.
"Baiklah! Papa minta maaf jika terlalu ikut campur urusan rumah tangga kalian. Papa sadar seperti apa perasaan kamu Len! Tapi bukan berarti papa membenarkan sikap semena-mena kamu terhadap Syam yang tak tahu apapun!"
Helen tersenyum sinis. Dia paham betul jika mertuanya pasti akan membahas soal Syam dan pasti akan membela Syam.
"Jangan kamu pikir, papa tidak tahu kekhawatiran kamu Len!", Surya mulai memelankan suaranya.
"Papa dan mas Glen tidak tahu apa yang aku rasakan?!", akhirnya Helen buka suara.
"Apa yang papa tidak tahu, tolong kamu beritahu pada papa Len! Kamu seorang ibu, seorang wanita, seorang anak jadi kamu bisa memahami dan mengatakan keberatan mu pada papa!"
Helen bergeming.
"Apa yang kamu pikirkan tentang tanggung jawab Glen terhadap Syam?", tanya Surya. Helen langsung menoleh pada suaminya yang dari tadi hanya menyimak obrolannya dengan papa mertua.
"Kamu pikir, papa minta Glen untuk menikahi ibunya Syam, begitu?", tanya Surya. Helen tak menjawabnya.
"Helen, kalian menikah karena dijodohkan. Perasaan cinta kalian tumbuh dengan sendirinya. Lalu, kamu pikir papa akan tega menyakiti menantu yang papa pilihkan untuk anak papa?", tanya Surya sambil menatap tajam menantunya.
"Ngga Len. Papa tidak menginginkan itu. Tanpa mengurangi rasa hormat papa terhadap ibu nya Syam, papa tidak pernah berpikir jika Glen harus menikahinya. Dan Sekar pun tidak akan mau. Melihat wajah suamimu saja dia sudah histeris. Lalu kamu masih mencemaskan jika papa akan membuat mereka bersama demi Syam??"
Suara Helen tercekat di tenggorokan. Ia ingin menyanggah ucapan papa mertuanya. Tapi...
"Papa tahu. Kamu tidak gila harta Len. Kamu mencemaskan Zea bukan? Tidak usah cemas! Zea tetap jadi pewaris utama keluarga kita. Papa tidak akan menggangu gugat apa yang menjadi hak Zea meski ada cucu papa yang lain, yang juga sama berhaknya!"
"Dan asal kamu tahu, Syam sudah menolaknya bahkan sebelum papa memberikannya, meski hanya sekedar menyematkan nama Atmaja di belakang nama Syam!"
Helen menunduk. Dia tak mampu menatap papa mertuanya.
"Syam masih bocah ingusan, tapi dia justru berpikir jauh lebih dewasa! Dan kamu masih berpikir jika posisi Zea terancam karena kehadirannya? Apa kamu pikir mentang-mentang kamu tidak bisa memberikan papa cucu laki-laki dari rahim kamu lalu papa akan marah padamu dan mengabaikan Zea?"
Surya menghela nafas berat. Lalu setelahnya, ia berdiri.
"Papa kecewa sama kamu Len! Bisa-bisanya kamu malah menjerumuskan diri kamu di dunia yang sama sekali tak kamu kenali. Bahkan seharusnya kamu belajar, kehadiran Syam juga karena dunia baru yang sedang kamu coba Helen!"
Setelah mengatakan demikian,Surya pun meninggalkan sepasang suami istri tersebut.
"Siapa yang mengajak mu ke tempat laknat itu semalam Helen!?", Glen menatap tajam pada Helen. Sedang Helen sendiri cukup terhenyak. Apa dia harus jujur pada suaminya????
*********
Terimakasih πππ
Maaf kalo masih banyak typo π
Jangan lupa tinggalin jejak kalian. Ya...ya ..ya....??? π₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπππ
karena buat kalian yang udah like & komen, mamak othor merasa sudah di apresiasi sekali π€π€π€
Haturnuhun πβοΈ
__ADS_1