
Sekar menatap putrinya dengan penuh tanda tanya. Bagaimana dia bisa berpikir jika dirinya tengah jatuh hati, apalagi pada ayah kandung Syam?
"Kak, pertanyaan kamu...kenapa seperti itu?", tanya Sekar penuh selidik pada Galuh.
"Bu, Galuh tahu ibu seperti apa. Bukan Galuh ngga suka perubahan ibu, bukan sama sekali. Tapi...segala perilaku ibu... menunjukkan ibu sedang kasmaran. Benar kan bu?", cerca Galuh.
Sekar hanya menghela nafas berat.
"Bu, maaf! Bukan maksud Galuh mengatur perasaan ibu. Tapi...tolong, jika memang ibu menaruh hati pada Om Glen, tolong...tolong sekali, hilangkan perasaan itu Bu. Kubur dalam-dalam. Galuh tahu, itu hak ibu. Dan ...om Glen juga ayah kandung Syam, tapi Galuh ngga mau kalau ibu di bilang sebagai pelakor bu. Apalagi.... nanti Tante Helen akan sakit hati lagi!", kata Galuh panjang lebar.
Sekar tak menjawab apapun sampai mereka berdua berada di depan ruangan Ganesh.
"Bagaimana bisa kamu berpikir ibu sedang kasmaran, apalagi dengan papa nya Syam,kak?", tanya Sekar tanpa menoleh pada Galuh.
Galuh tertunduk, dia merasa tak enak hati pada ibunya atas pertanyaannya tersebut.
"Ibu ngga tersinggung kak!", Sekar mengusap bahu Galuh hingga kemudian perempuan itu menoleh pada ibunya.
"Ibu hanya heran, bagaimana bisa kamu kepikiran ibu seperti itu. Sedangkan selama ini, hanya almarhum bapak kamu saja yang ibu cintai. Tidak ada yang lain!", kata Sekar tersenyum.
"Bapak kamu tidak akan tergantikan kak, jasadnya memang sudah tidak ada. Tapi hati ibu masih terisi namanya. Lagi pula, ibu sudah tua. Sudah hampir empat puluh tujuh tahun kamu lupa? Ibu sudah punya cucu Galuh, sepertinya tak pantas rasanya kalau ibu berpikir untuk jatuh cinta apalagi kembali menikah!"
"Siapa bilang ibu sudah tua, bahkan ibu terlihat seumuran dengan ku. Ibu juga masih pantas memiliki pasangan lagi asal bukan suami orang."
"Heheh kak, ibu sudah tua. Siapa yang mau sama ibu?", tanya Sekar terkekeh.
"Kalo ternyata ada yang mau sama ibu, skip lelaki bersuami lho ya ...ibu bersedia menikah lagi?", tanya Galuh serius.
"Kan tadi ibu bilang, cinta ibu buat bapak kamu kak!", kata Sekar tersenyum.
"Galuh kan tanya Bu, seandainya ada yang bersedia menikah dengan ibu, apa ibu mau?", tanya Galuh lagi.
"Kenapa kakak keukeuh sekali bertanya seperti itu?", tanya Sekar memicingkan matanya.
"Jawab aja Bu!", paksa Galuh.
"Iya ibu harus jawab apa? Ibu sudah bilang berulang kalo sampe detik ini, ibu masih cinta sama almarhum bapak kamu Kak!", Sekar menegaskan.
"Jadi...ngga ada kemungkinan ibu menikah lagi, apalagi dengan om Glen kan?", selidik Galuh.
"Astaghfirullah nih kakak!"
"Ayo, ibu bilang kalo ibu ngga suka sama om Glen di luar masalah Syam!"
"Galuh! Ibu capek ah...! Ibu sama sekali ngga tertarik Luh, nggak!", tegas Sekar lagi.
__ADS_1
"Kalo sama mang Salim, tertarik ngga?", tanya Galuh. Hidung Sekar kembang kempis menghadapi ibu muda itu yang entah kenapa berada dalam mode seperti itu.
"Apa sih kak!", sahut Sekar lalu melangkah menuju kaca agar lebih dekat.
Galuh tersenyum tipis, apakah dia tahu jawabannya setelah bertanya berulang-ulang seperti tadi....????
.
.
.
Hampir ashar mobil yang Lingga kendarai sampai di halaman minimarketnya. Badannya cukup lelah hingga ia berniat mengistirahatkan sejenak badannya dan istirahat di rumah khusus miliknya.
"Selamat sore pak!", sapa pegawai minimarketnya.
"Sore, mba bagi air mineral satu sama roti sobek ya! Tolong bawa ke ruangan saya, saya mau istirahat sebentar!", kata Lingga lalu memberikan selembar uang dua puluh ribuan.
"Iya pak!", kata kasirnya.
Meski itu minimarket milik nya sendiri, ia tetap membayarnya agar tidak menyulitkan pegawainya saat rekap pemasukan nanti.
Ruangan itu di pakai olehnya dan juga Burhan untuk mengurus segala keperluan di minimarket tersebut. Sayangnya saat itu Burhan sedang berada di kafe untuk berbenah. Rencananya kafe tersebut akan grand opening bada magrib nanti. Tapi kafe sudah beroperasi sejak beberapa hari yang lalu.
"Sel, gila lho Bu bos! Beres Caesar aja udah bikin tato di leher lakinya?!", bisik kasir.
"Ya...gimana gitu lihatnya, emang ngga malu gitu? Norak!", katanya lagi.
"Norak menurut Lo, tapi ngga bagi mereka yang memang menganut tiada bercinta tanpa meninggalkan jejak percintaan."
"Lagak Lo, kaya orang udah punya laki aja!", sahutnya.
"Otewe!", katanya cengengesan lalu membawa minuman serta roti sobek sesuai perintah bosnya.
Tok...
Tok...
Tok...
"Permisi pak!"
"Ya, masuk!", sahut Lingga yang sedang menelpon istrinya.
Pegawai Lingga pun memberikan air mineral tersebut dan di letakkan di atas meja Lingga.
__ADS_1
"Silahkan pak!", katanya mempersilahkan. Lingga hanya mengangguk dan mengangkat salah satu tangannya pada karyawannya.
Lingga sedang menerima telpon Gita yang memintanya untuk tinggal di rumah mereka lagi selama ia di Jakarta.
Dan Lingga langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang. Lumayan hemat sewa hotel ya kan..???
Usai menelpon Gita, Lingga menyempatkan diri untuk mandi dan solat ashar. Barulah setelah itu ia merebahkan dirinya di atas sofa.
.
.
.
Sebelum Maghrib, Lingga dan Burhan sudah berada di kafe. Kafe nya sekarang berganti nama menjadi GG kafe singkatan nama istri dan putranya. Karena...kafe itu memang milik Galuh sebelum mereka kembali bersama.
Iklan di media online nyatanya lebih mudah di akses oleh para milenial dari pada media cetak untuk saat-saat sekarang.
Alhasil, baru di resmikan GG kafe membludak pengunjungnya. Apalagi menu yang di tawarkan cukup variatif. Dari makanan ringan hingga menu berat.
Kafe itu di kunjungi oleh berbagai kalangan entah itu remaja maupun dewasa. Segala usia bisa menikmati makanan hingga suasana yang cozy membuat mereka betah berlama-lama di sana.
"Pa!", sapa Lingga pada keluarga papanya yang datang mengunjungi peresmian kafenya.
Arya dan Gita memilih langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan. Sedang Puja dan keluarga kecilnya memilih untuk melihat-lihat apa-apa saja yang ada di kafe baru tersebut.
"Selamat ya Nak!", Gita mengusap rambut Lingga seolah dia adalah anaknya yang masih kecil.
"Makasih, ma!", sahut Lingga.
"Tapi...kafe ini milik Galuh, ma. Eum...uang dari papa, Galuh membuat usaha warung makan kecil-kecilan. Galuh bilang, papa berpesan agar dia buka usaha. Jangan bekerja yang berat-berat karena lukanya tidak akan secepatnya pulih."
Gita melirik suaminya yang sedang mendengarkan ucapan Lingga.
"Ya, whatever lah Ga. Kalau kalian mau memperbesar kafe ini, papa bantu investasi!", kata Arya.
"Makasih pa buat tawarannya, tapi sepertinya biarlah seperti ini dulu. Nanti Lingga ikut apa kata Galuh saja!", pinta Lingga.
Akhirnya sepasang suami istri itu memilih untuk mengangguk dan mulai menikmati menu yang best seller di sana.
*****
22.00
Capek sebenarnya, tapi tanggung jawab 🤭 apalagi sama kalian yang sudah baca sampe sini, masyaallah banget ya 🤗🤗😄😄
__ADS_1
Terimakasih banyak-banyak 🙏🙏🙏🙏