
Jamuan makan malam khas ala kampung plus kearifan lokal masyarakat desa pada umumnya harus di nikmati oleh kaum kelas atas semacam Arya.
Yups, meja makan yang ada di kediaman Sekar tak menampung banyak hidangan untuk beberapa anggota keluarga itu.
Keluarga Arya, keluarga Puja, keluarga Glen termasuk Surya dan tak lupa juga si tuan rumah.
Karpet panjang tergelar di ruang tengah yang cukup luas. Mumun dan beberapa rekannya membantu menyiapkan hidangan makan malam untuk keluarga Lingga di sana.
Jika Lingga sudah terbiasa dan beradaptasi dengan acara seperti ini, lain hal nya dengan para tamu yang lain.
Tamu yang tak lain keluarga nya sendiri. Mereka terbiasa hidup serba modern. Makan di restoran mewah mungkin tak terhitung jumlahnya. Dan sekarang, mereka dihadapkan dengan cara yang biasa di lakukan di kampung ini.
Makanan sederhana dan tentunya lezat siap di hidangkan untuk keluarga besar tersebut. Galuh pun membantu Mumun untuk menyiapkan menu yang akan disajikan sebelumnya.
"Bik, jangan lupa! Kalian ambil dulu buat kalian, kalo udah baru bawa ke depan!", kata Galuh pada Mumun dan beberapa orang yang membantunya.
"Atuh di mana-mana mah nunggu sisa dulu non, malah suruh ngambil duluan!", kata Mumun terkekeh.
"Memang kenapa? Pamali atuh kalo mau niat ngasih eh ... nunggu sisa! Iya kalo sisa? Kalo ngga?"
Galuh menjeda ucapannya sesaat lalu di lanjutkan lagi.
"Kalian kan udah capek-capek masak. Bahkan dari kemarin lho! Masa iya ngga kebagian? Belum yang di rumah. Mereka udah di tinggal-tinggal Mulu!", kata Galuh.
"Lagian, kalian kan masak nya banyak tuh. Ngga bakal habis juga kalo di taroh di depan semua. Dari pada mubadzir, mending kalian ambil buat anak-anak juga di rumah. Ya?", kata Galuh lalu meninggalkan Mumun dan teman-temannya.
"Meuni bageur pisan si neng teh!", kata teman Mumun.
"Sok atuh, gaskeun lah isi rantangnya heheheh!", kata teman Mumun yang lain.
"Era geuningan, ulah kitu-kitu teuing!", celetuk Mumun. Tapi tetap saja tangan nya mengisi rantang untuk ia bawa pulang. Yahhh????
Arya sempat melihat Galuh yang mengobrol dengan Mumun di dapur. Lelaki dewasa itu sangat bersyukur memiliki Galuh saat ini.
Bukan hanya wajahnya yang cantik, tapi hati dan kelakuannya pun sangat baik. Wajar jika anak bungsunya memilih sosok mungil itu.
Arya mengulas senyum mendengar celetukan Mumun dan kawan-kawan yang memuji Galuh. Nyatanya, Galuh memang baik di mata orang banyak.
Mereka mengatakan apa adanya. Karena kenyataannya Galuh memang baik tanpa ada yang melihatnya atau tidak. Bukan berpura-pura!
"Eh, papa? Mau Galuh ambilin minum?", tanya Galuh saat berpapasan dengan Arya. Arya menggeleng pelan.
"Ada minyak angin? Sepertinya papa kembung, ngga enak badan!", kata Arya bohong.
"Oh, sebentar Pa. Galuh ambil dulu di kamar. Ada minyak telon Ganesh!", kata Galuh meninggalkan Arya.
Arya menatap punggung Galuh yang menjauh. Setelah itu ia melanjutkan ke dapur.
__ADS_1
"Tuan Arya , anda butuh sesuatu?",tanya Mumun. Wajah datar Arya tak membuat seorang Mumun merasa takut. Dia sudah kebal dengan model berbagai perangai orang kaya karena dia sudah berpengalaman menjadi art di kota besar sebelum-sebelumnya.
"Cucu perempuan saya belum terbiasa menu makanan lokal. Ada menu yang lebih modern?", tanya Arya.
"Modern yang seperti apa ya Tuan?", tanya Mumun. Mata Arya menelisik ke arah meja dapur yang berisi beberapa menu masakan.
"Itu apa?", tanya Arya.
"Oh...itu chicken katsu, kata non Galuh, non Zea dan non Angel biasanya suka makanan seperti itu."
Arya mengangguk. Menantunya memang sangat memperhatikan hal-hal kecil seperti itu.
"Kalau buat Syam?"
"Den Syam mah gampang Tuan. Yang penting mah ada sambal. Mau pakai tempe aja atau ikan asin pun jadi."
"Benarkah?", tanya Arya. Mumun mengangguk.
"Den Lingga juga sama kok Tuan. Kadang malah cuma minta telor ceplok sama sambel kecap doang, udah! Hehehehe!", jawab Mumun.
Arya sempat tertegun mendengar penuturan Mumun. Menantunya benar-benar sudah merubah seorang Lingga.
Hanya makanan seperti itu????
Lamunan Arya terhenti saat Galuh menyerahkan minyak telon milik Ganesh.
"Ini Pa minyak telonnya. Sama ini, minuman pencegah masuk angin. Biar perutnya enakan!", Galuh menyerahkan minyak dan obat masuk angin kemasan kecil itu.
"Makasih!", kata Arya menerima benda tersebut lalu meninggalkan Galuh.
"Non!", panggil Mumun.
"Naon Bik?", tanya Galuh.
"Tuan Arya teh bisa senyum juga ternyata!", celetuk Mumun. Galuh terkekeh mendengar celetukan Galuh.
"Bik Mumun mah aya-aya wae!", kata Galuh meninggalkan dapur.
.
.
Bada Isya semua berkumpul di karpet yang sudah di gelar.
Mereka memulai makan malamnya dengan sedikit obrolan ringan hingga makan malam usai.
Keluarga Glen pamit akan ke hotel, begitu pula dengan keluarga Puja. Mereka menginap di hotel yang sama. Berhubung dua bocah perempuan sudah jadi gadis remaja, Puja memesankan satu kamar untuk mereka berdua. Untuk Zea dan Angel. Mereka tidak akan tidur bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tinggallah keluarga Lingga di rumah tersebut.
"Pa, ma, ibu , eum...mang Salim, rencananya Lingga sama Galuh mau buat rumah. Ngga jauh dari sini kok."
Keempat orang tua itu sedikit terkejut mendengar perkataan Lingga.
"Buat rumah?", tanya Sekar.
"Iya bu, sekarang ibu kan udah ada yang jagain. Jadi... alangkah baiknya kami mau mandiri bu!", kata Galuh.
"Abang sama kakak udah ngga mau ngurusin ibu?", tanya Sekar.
Galuh dan Lingga saling berpandangan. Lalu keduanya kompak menggeleng.
"Kenapa ibu ngomong begitu?", Galuh mendekati ibunya yang duduk bersebelahan dengan Salim. Salim mengusap pelan bahu Sekar.
"Itu...kamu mau ninggalin ibu! Kalo kalian udah ngga mau tinggal sama ibu lagi, biar ibu aja yang pergi dari sini!", kata Sekar bangkit dari duduknya meninggalkan ruangan tersebut.
Syam menggaruk pelipisnya melihat ibunya yang sedang merajuk. Salim hendak mengikuti Sekar tapi Arya melarangnya. Justru Lingga yang mengikuti Sekar ke dapur.
Perempuan yang baru menikah itu memilih duduk di bangku dapur. Lingga mendekati ibu mertuanya yang sepertinya sedang marah.
"Ibu marah sama Abang?", tanya Lingga. Sekar tak menggubris.
"Bu....!"
"Ibu tahu, selama ini ibu sudah merepotkan kalian. Makanya kalian seneng kalo ibu sudah menikah, jadi ngga ngrepotin kalian lagi!", kata Sekar. Lingga menghela nafas panjang.
"Ibu kenapa berpikir nya seperti itu Bu? Kami ngga merasa di repotkan sama sekali Bu! Itu kewajiban kami. Bukan berati setelah ibu menikah dengan mang Salim, kami tak peduli lagi sama ibu. Justru, kami sadar... kalo ibu dan mang Salim juga butuh privasi."
Sekar mendongak sesaat tapi setelah itu ia memalingkan wajahnya lagi.
"Bu...!"
"Tapi... rumah ini peninggalan almarhum bapaknya Galuh! Kamu juga yang sudah merenovasi semuanya. Kalau kalian mau mandiri, biar ibu saja yang keluar dari sini. Rumah ini haknya Galuh. Suami ibu juga mampu memberikan tempat yang layak buat ibu dan Syam. Ibu ngga....!"
"Bu, Lingga juga ingin memberikan istana buat istri dan anak-anak Lingga. Seperti halnya mendiang bapak Pras yang menyediakan tempat bernaung buat Galuh, buat ibu!"
Perempuan paruh baya itu mencoba memahami ucapan menantunya tersebut. Bagi Sekar, Lingga sudah seperti anak kandungnya sendiri. Banyak yang sudah Lingga lakukan sejak Sekar masih dalam kondisi yang kurang waras hingga sembuh seperti sekarang.
"Bu, kami juga ngga langsung pindah begitu aja. Kan butuh waktu lama buat bangun rumah. Abang aja masih nego sama pak Haji Udin."
"Ibu, tolong jangan salah paham. Nanti nya rumah kita deketan kok. Dari teras juga bisa lihat bukit bawah sana. Apalagi, nanti truk sayur nya lebih mudah ngangkutnya. Jadi ibu jangan berpikir kalau kami bakal ninggalin ibu. Apalagi seperti yang ibu bilang tadi, ngga mau ngurusin ibu lagi! Tolong jangan berpikir seperti itu. Ya Bu?", Lingga masih mencoba meyakinkan ibu mertuanya.
Galuh sejak tadi berdiri di dekat pintu dapur. Dia tak ingin mengganggu suaminya yang masih mencoba membujuk ibu mertua yang sedang merajuk.
*****
__ADS_1
20.20
Kangen ngga??? 🤭🤭🤭 Terimakasih 🙏🙏🙏🙏