Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 101


__ADS_3

Lingga makan siang bersama dengan Arya juga Burhan. Ia menjelaskan pada Burhan bagaimana dia dan sang papa berdamai saat berkunjung ke rumahnya di kampung.


Siapa sangka sosok Syam lah yang menyatukan sepasang bapak dan anak yang selama ini terlanjur salah paham yang berlarut-larut.


Burhan hany mengangguk mendengarkan dua majikannya bercerita. Sebagai seseorang yang sudah sangat lama mengabdi di keluarga itu, tentu lah Burhan merasa sangat bahagia.


"Maaf, aku ke toilet dulu!", pamit Lingga. Arya dan Burhan pun mempersilahkan.


"Jadi, kamu sudah menikah juga Han?", tanya Arya.


"Alhamdulillah sudah tuan. Anak saya perempuan, umur dua tahun."


"Lalu istri mu di mana? Di sini juga?"


"Ngga tuan. Di kampung, sebelah kabupaten Xxx. Jadi kalo pulang kampung, saya sekalian ke rumah mas Lingga."


Arya mengangguk pelan. Ponsel Burhan berdering. Ada panggilan masuk dari pihak kitchen set.


"Permisi tuan, saya angkat telpon dulu."


Arya pun mempersilahkan Burhan untuk menjauh takut mengganggu. Setelah Burhan menjauh, justru ponsel Lingga yang berbunyi.


Lelaki itu mungkin lupa membawanya. Apalagi dia hanya akan ke toilet. Arya melirik siapa yang menghubunginya.


Pamajikan calling....


Majikan? Siapa? Bosnya? Emang Lingga kerja sama siapa? Monolog Arya.


Arya menoleh ke arah toilet, Lingga belum nampak dari sana. Setelah beberapa detik kemudian, dering itu berhenti. Arya pun membiarkannya.


Tapi saat akan menyuapkan makanan ke mulutnya, ponsel Lingga kembali berbunyi. Arya pun dengan ragu mengangkatnya. Takutnya penting.


[Assalamualaikum Abang!]


Hubungan melalui Vc dan yang pertama kali Arya lihat adalah layar berwarna putih yang ternyata adalah plafon.


[Walaikumsalam]


Arya mencoba menjawabnya.


[Abang kemana sih? Kenapa ngga telepon lagi! Kan udah janji makan siang mau telpon aku. Sibuk banget ya bang?]

__ADS_1


Cerocos seorang perempuan yang tak lain adalah Galuh. Tapi perempuan itu tak menampakkan dirinya. Entah berada di mana, tapi justru membiarkan sambungan telepon itu berlangsung.


Arya tersenyum mendengar suara cempreng menantunya. Ternyata...gadis anggun dan kalem yang selama ini ia lihat bisa secerewet itu. Pantas saja, sosok Lingga yang dingin bisa cair oleh pesona gadis kampung itu.


[Tuh kan....ngga di ja....]


Saat mengatakan demikian, Galuh langsung mengarahkan ponselnya ke wajah. Dia baru selesai solat Dhuhur belum sempat memakai jilbab. Ponselnya langsung terjatuh, beruntung ia meletakkannya di atas kasur. Jadi otomatis jatuhnya di kasur


Galuh menganga tak percaya. Siapa sangka yang menjawab teleponnya adalah papa mertua. Perempuan hamil itu buru-buru mengenakan jilbab.


Ia tak mau mertuanya salah sangka. Dikira tak mau menyapa beliau.


[Ehem, Lingga sedang ke toilet. Maaf, terpaksa papa yang angkat telpon kamu. Papa pikir bosnya yang menelpon, ada hal urgent]


Dengan sedikit malu-malu, Galuh melanjutkan vc dengan papa mertua nya yang dulu galak pakai banget. Tapi sekarang???


[I ..iya ..Pa. Ngga apa-apa. Galuh yang harusnya minta maaf. Tadi....tadi...udah ngoceh-ngoceh ngga jelas]


Dengan menahan malu, Galuh mengatakan demikian.


[Nah, itu Lingga datang. Papa kasih ke suami mu dulu!]


Lingga duduk kembali ke kursinya. Dia melihat ponselnya di pegang oleh papanya.


"Galuh!", kata Arya menyodorkan ponselnya. Lingga tersenyum dan meraih ponselnya.


Lingga sedikit menjauh dari papanya. Takutnya pembicaraannya dengan sang istri di dengar oleh sang papa. Tak ada yang rahasia sebenarnya. Tapi biasanya jika jarak jauh seperti ini, Galuh akan bersikap manja.


Dan benar saja, perempuan hamil itu menceritakan betapa dirinya malu saat mengetahui jika papa mertuanya yang mengangkat telponnya. Apalagi kondisi nya sedang berantakan karena baru selesai sholat.


Arya memperhatikan Lingga yang menjawabi telpon istri nya dengan suara lembut dan tersenyum.


Dalam hatinya, Arya merasa bahwa dirinya begitu jahat selama ini. Apakah dia pantas di maafkan????


Arya sadari, Lingga dan Galuh begitu saling mencintai meski awalnya mereka menikah karena terpaksa. Di tambah lagi hubungan yang tak jelas selama lebih dari tujuh tahun. Tapi mereka membuktikan bahwa perasaan cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan sepertinya... putra bungsunya serta menantunya sangat menghargai perasaan masing-masing.


Burhan dan Lingga sama-sama kembali ke kursi mereka.


"Mas, pihak pemasang kitchen set sudah otw. Dan furniture juga siap. Paling lambat besok siang", jelas Burhan.


Arya menatap kagum pada mantan supir pribadinya dulu. Ternyata...dia bisa menjadi orang kepercayaan Lingga meskipun pendidikannya tidak tinggi. Masih mau meremehkan kemampuan mereka???

__ADS_1


"Oh, bagus lah! Kalo dalam dua hari ini kelar, kita bisa secepatnya grand opening Han!", kata Lingga.


"Iya mas. Semuanya sudah lengkap. Jadi kita hanya butuh persiapan untuk grand opening."


"Anak-anak kafe ada yang pulang kampung?", tanya Lingga.


"Ngga mas. Yang cewek bantu di minimarket. Yang cowok bantu tukang!", jawab Burhan.


"Oh, oke. Jangan lupa gaji mereka sementara kamu yang urus ya Han. Kalo kafe udah normal lagi, kasih sama Sri lagi."


"Siap mas!", jawab Burhan.


Arya hanya menjadi pendengar antar Lingga dan Burhan. Dia menikmati makanan yang ada dihadapannya.


"Sorry ya pa, bukan maksud Lingga cuekin papa."


"No problem. Eum...segitu cinta nya ya sama istri sendiri, manggilnya aja majikan!", kata Arya.


Suaranya datar, mungkin karena tak pernah bercanda jadi kesan kaku jelas terlihat dari wajahnya.


"Hehehe papa, bukan majikan. Tapi pamajikan. Artinya tuh istri papa!", jelas Lingga. Arya ber'oh' saja karena baru tahu arti kata tersebut.


"Oh....!", Arya menutup sendoknya.


"Ga, kamu mau pulang?",tanya Arya. Lingga menoleh dan menatap sejenak papanya.


"Rencananya nanti malam pa!", jawab Lingga.


Disudut lain, sepasang suami-isteri yang baru akan pesan makanan melihat Arya dan Lingga. Mereka terkejut melihat pemandangan tersebut.


Mas Arya?


Lingga?


Gumam mereka berdua bersama-sama


******


14.12


Insya Allah up lagi nanti. Makasih 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2