
Puja dan keluarga kecilnya baru saja tiba di ibukota. Ia selesai mengurus kepindahan keluarganya kembali ke negeri tercinta setelah lebih dari sepuluh tahun tingga di negeri yang jauh.
Ketiganya langsung menuju ke kediaman keluarga Arya. Kemana lagi? Puja belum membeli rumah atau apartemen untuk mereka.
Jadi sementara mereka akan tinggal di rumah orang tua Puja. Seandainya mau tinggal di rumah orang tua Vanes, Vanes pun anak tunggal. Orang tuanya juga hanya tinggal berdua. Sayangnya, Puja lebih memilih untuk di rumah Arya di bandingkan di rumah mertuanya.
Taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu gerbang yang megah itu. Puja heran, dua mobil papanya tak ada satupun yang ada di dalam. Hanya mobil sedan yang terparkir di dalam garasi. Mobil miliknya jika ia sedang ke sini.
Puja membuka pintu gerbang bersamaan dengan bibik yang keluar.
"Tuan Muda, maaf saya ngga tahu kalo anda datang!", si bibik.
"Ngga apa-apa Bik, kok sepi? Mobil ngga ada. Pada ke mana?", tanya Puja.
Bibik mengambil alih koper milik Puja dan juga milik Vanes.
"Punya angel bawa sendiri aja deh. Angel langsung ke kamar ya!", kata Angel. Puja dan Vanes pun mengangguk.
"Euum...tuan dan nyonya pulang ke kampung tuan muda Lingga, tuan!", jawab Bibik.
"Mereka ke kampung lagi? Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?", tanya Vanes yang sudah duduk di bangku meja makan.
"Saya kurang begitu paham. Tapi beberapa hari yang lalu, Tuan muda mendapatkan telpon katanya istrinya jatuh dan di bawa kerumah sakit!", jawab si bibik.
"Astaga!" Vanes menutup mulutnya.
"Kondisi Galuh gimana Bik!?", tanya Vanes panik.
Dia pernah merasakan keguguran, jadi pasti dia khawatir jika Galuh akan mengalami seperti dirinya. Apalagi, kandungan Galuh belum cukup bulan.
"Kurang tahu non, bibik ngga ada informasi apa-apa", jawab Si bibik.
"Ya udah bik, biar nanti saya tanya ke papa atau Lingga langsung!", kata Puja.
"Iya tuan, maaf...mau bibik siapkan makan siang apa ya tuan muda, non Vanes?", tanya Bibik.
"Apa aja lah Bik, yang praktis dan ngga bikin bibik repot jadi cepat matang!", sahut Vanes. Dia dan suami tidak pilah pilih makanan.
"Kalo non Angel?"
"Buatkan saja nasi goreng spesial, pasti mau!", jawab Vanes. Si bibik pun undur diri. Puja mengeluarkan ponselnya bersamaan dengan suara mobil yang masuk.
Puja meletakkan ponselnya lalu keluar menuju ke depan untuk mengetahui siapa yang datang.
"Lho, Burhan?", sapa Puja.
"Tuan Muda, anda kapan datang?", sapa Burhan.
"Berhenti panggil aku seperti itu. Kamu bisa panggil mas Lingga, kenapa sama aku ngga bisa?", tanya Puja.
Burhan tersenyum kikuk. Si bibik yang akan membuang sampah pun permisi ingin melewati mereka berdua.
"Bibik juga berhenti panggil tuan muda. Kesannya kaya apa gitu, panggil mas saja seperti Burhan memanggil Lingga!", pinta Puja.
"Iya, mas Puja!", kata Bibik kikuk.
Lalu Puja mengajak Burhan duduk di teras depan ruang tamu. Tidak terlalu di depan sih, agak samping sedikit.
"Kamu ada perlu dengan siapa Han?", tanya Puja.
"Oh, gini Tu... eh...mas Puja. Kebetulan saya mau ke kampung. Saya sekalian bawa baju tuan Arya dan nyonya Gita."
"Sekalian mau tanya, bagaimana kondisi Galuh? Tadi bibik bilang dia jatuh?", tanya Puja.
"Alhamdulillah, mba Galuh sudah melahirkan. Anaknya laki-laki mas, tapi....harus di inkubator karena bayi nya masih sangat kecil!", jawab Burhan.
"Di inkubator?", tanya Vanes yang tiba-tiba ada di belakang Puja. Burhan mengangguk.
"Kok bisa jatuh?", tanya Vanes yang sudah duduk di samping suaminya. Selang beberapa saat, bibik membawakan minuman untuk Puja dan Burhan.
"Punten bik, tuan dan nyonya meminta saya bawa beberapa pakaian beliau!", kata Burhan.
"Iya, nanti saya siapkan Han!", sahut Bibik.
"Kalo gitu, bibik ngga usah masak deh. Kami mau pesan online aja!", kata Puja. Bibik pun mengiyakannya.
"Gimana Han? Gimana bisa Galuh jatuh?",tanya Vanes.
"Saya ngga enak ceritanya non!", kata Burhan.
"Kenapa mesti ngga enak??? Memangnya ada apa??", tanya Puja.
Burhan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dan akhirnya ia pun menceritakan kronologisnya dari awal Zea datang hingga kejadian itu terjadi.
"Begitu yang saya dengar mas! Setelah itu saya balik ke sini!", kata Burhan.
__ADS_1
"Zea? Dia melakukan hal seperti itu?", gumam Vanes tak percaya.
"Sayang....!", Puja mengusap bahu istrinya mencoba menenangkan.
"Zea mungkin tidak bermaksud seperti itu, tidak sengaja lebih tepatnya!", kata Puja.
"Huum, hanya saja aku jadi ingat adiknya Angel. Aku juga keguguran saat Zea tidak sengaja menabrak ku karena dia lari-lari sampai aku jatuh dan ....!", Vanes tak lagi meneruskan kalimatnya.
Puja paham jika istrinya bersikap demikian, tapi...Zea kecil dan dia memang tidak sengaja melakukannya.
Burhan semakin tak enak hati.
"Ya udah Han, kamu istirahat saja dulu di sini. Sambil nunggu pesanan makanan datang. Nanti aku ikut ke kampung!", kata Puja.
"Baik Mas!", kata Burhan.
"Aku ik....!", belum selesai bicara, Puja memotong perkataan Vanes.
"Kamu dan Angel di rumah dulu. Kalian pasti masih jetlag. Jangan memaksakan diri. Di rumah ada bibik yang menemani kalian!", kata Puja. Vanes pun tak bisa membantah suaminya.
.
.
.
"Bang, aku mau liat Ganesh!", rengek Galuh pada suaminya. Meski Lingga menunjukkan video bayi mereka, tapi tetap saja kan naluri seorang ibu sangat menginginkan untuk menyentuh darah dagingnya.
"Kamu sudah bisa duduk di kursi roda Yang?", tanya Lingga. Galuh mengangguk pelan.
Lingga pun berinisiatif membopong Galuh duduk di kursi roda dengan pelan karena Galuh masih meringis.
Setelah merasa nyaman di kursi rodanya, Lingga mendorong tubuh istrinya menuju ke kamar bayi mereka.
Mama Gita dan papa Arya kembali ke hotel lebih dulu, sedang Sekar dan Syam pulang di antar oleh Salim atas perintah Arya tentunya.
Tak butuh waktu lama, Galuh sampai di depan ruangan putranya. Lingga menunjuk bayinya yang memang dekat dengan kaca.
"Masyaallah bang! Anak kita bang!", Galuh berkaca-kaca melihat anaknya yang bergerak-gerak di dalam kotak kaca tersebut.
Antara bersyukur dan sedih tentunya. Bersyukur karena dia lebih cepat dari prediksi untuk bertemu dengan sang putra karena peristiwa itu. Mungkin itulah hikmah yang bisa di petik dari pengalaman Galuh.
Tapi, dia juga bersedih. Belum bisa mengurusi putranya seperti pada umumnya seorang ibu pada bayinya. Kondisi bayinya belum memungkinkan untuk di urus olehnya.
Lingga mengusap pelan bahu Galuh yang terguncang pelan karena terisak haru melihat sang putra. Sesekali ia pun mencondongkan tubuhnya mengecup puncak kepala Galuh dengan sayang.
"Dia akan baik-baik saja sayang. Dia anak yang kuat, seperti bundanya! Kelak dia akan jadi orang hebat tapi tetap baik dan rendah hati seperti bundanya! Seperti kamu Yang!", bisik Lingga di samping telinganya.
Galuh tersenyum simpul. Ucapan seperti itu saja yang keluar dari bibir Lingga sudah cukup menenangkannya.
"Aku ingin menggendongnya Bang!", kata Galuh lirih.
"Sabar sayang! Abang juga sama kok, pengen gendong dan peluk kalian bersama-sama!", kata Lingga.
Manis sekali π₯Ίπ₯Ίπ₯Ί?????
"Aku sudah tidak sabar bang!", Galuh mengusap punggung tangan suaminya yang ada di bahunya.
"Iya sayang!", sahut Lingga.
"Kembali ke kamar?", tanya Lingga.
Galuh pun mengangguk pelan.
"Kapan aku selesai di rawat bang? Aku ingin tetap di sini menemani Ganesh, bukan jadi pasien!",keluh Galuh.
"Hehehe....iya, nanti Abang tanya ke dokter ya. Jadwal visit dokter kan sebentar lagi!'', kata Lingga. Galuh pun mengiyakan dengan anggukan.
Saat akan memasuki kamarnya, ternyata Glen dan Helen sedang duduk di sana. Lingga sempat menatap tajam pada Glen, tapi dia tak melanjutkannya mengingat istrinya pasti akan memarahi dirinya.
"Lho, om Glen, Tante Helen? Sudah lama nunggu ya?", tanya Galuh.
"Belum Luh?", jawab Glen.
"Mau apa lagi kalian ke sini?", tanya Lingga.
"Abang, yang sopan!", pinta Galuh pada Lingga. Lelaki itu pun tak membantah istrinya.
"Maaf ,om Tante? Ada perlu sama kami?", tanya Galuh pelan.
Baik Glen atau Helen hanya mengangguk tipis.
"Ya udah atuh Bang, ajak om sama Tante masuk. Kita bisa ngobrol di dalam!", pinta Galuh pada Lingga. Sebagai suami yang sangat menyayangi istri tercinta, Lingga menurut tanpa membantah.
Helen dan Glen mengekor di belakang Lingga dan Galuh. Lingga mengangkat Galuh kembali ke brankarnya. Lalu lelaki tampan itu duduk di samping Galuh. Sedang sepasang suami istri yang lain, ada di sofa yang tak jauh dari mereka berdua.
__ADS_1
"Ada apa ya Om?", tanya Galuh.
"Kami mau minta maaf!", kata Glen. Galuh tampak menghela nafas sesaat lalu menoleh ke arah suaminya yang menatap Glen penuh intimidasi. Entah lah....punya dendam pribadi apa dia pada om nya itu!
Galuh menggaruk alisnya yang sedikit gatal karena dia memang belum mandi sejak tragedi jatuh beberapa hari kemarin. Hanya di basuh oleh perawat yang tentunya akan tetap berbeda jika mandi.
''Minta maaf untuk apa lagi Om?", tanya Galuh.
"Kesalahan kami selama ini!", jawab Glen.
"Tante yang melarang mas Glen untuk menemui Syam. Tante yang tidak ingin jika Mas Glen berbagi kasih sayang...maaf...!", kata Helen penuh penyesalan.
"Tapi sekarang Tante sudah mengijinkannya?", tanya Galuh. Helen mengangguk.
"Tante mau menerima Syam menjadi bagian keluarga kalian?", tanya Galuh lagi. Dan...ya Helen kembali mengangguk.
"Tante tulus menerima Syam atau di paksa papa?", tanya Galuh lagi dengan tatapan lebih serius. Helen tampak menghela nafas.
"Awalnya terpaksa, tapi tante menyadarinya Luh. Syam berhak merasakan kasih sayang keluarganya. Ya...Tante egois!", kata Helen menunduk.
"Apa Tante masih menganggap Galuh dan Syam musuh Tante? Maksudnya kami, ibu, aku dan Syam? Tante masih menyimpan dendam?", tanya Galuh lagi.
Dengan cepat Helen menggeleng.
"Kanjeng Nabi Muhammad bersabda : "Pintu-pintu surga di buka setiap hari Senin dan Kamis, maka di ampunilah setiap hamba yang tidak berbuat kesyirikan sama sekali . Kecuali seseorang yang ada permusuhan dengan saudaranya, maka di katakan: Tangguhkanlah (ampunan bagi) kedua orang ini, tundalah (ampunan bagi) kedua orang ini hingga kedua orang ini berdamai. (HR.Muslim)", kata Galuh.
(Mohon koreksi jika Mak othor salah ππππππππ)
Glen dan Helen meremas kedua jemari mereka. Usia memang jauh lebih tua dari Galuh, tapi apa? Mereka tak memiliki pengetahuan seperti itu yang bahkan mungkin pelajaran anak sekolah dasar. Mereka terlalu sibuk dengan urusan dunianya.
"Maafkan jika kehadiran kami membuat masalah yang besar dan berkepanjangan seperti ini Luh!", kata Glen.
Lingga masih menatap takjub pada istrinya. Kenapa dia bisa memiliki hati selapang itu?????
"Allah tidak pernah salah mempertemukan kamu dengan seseorang, hadirnya membawa
salah satu di antara dua hadiah untuk mu, yaitu kebahagiaan dan pengalaman. Dari Imam Al Ghazali."
Lagi-lagi sepasang suami istri itu merasa tertampar.
"Om, Tante! Mungkin benar, kami pernah sakit hati. Sangat sakit! Tapi kembali lagi, semua yang sudah terjadi tidak akan bisa di rubah untuk saat ini. Setidaknya... harapannya adalah....kita bisa belajar agar hal buruk itu tidak terulang lagi."
Helen terisak-isak pelan.
"Om dan Tante jangan mengira aku sangat baik. Jangan! Aku pun banyak kekurangan. Aku pun masih banyak belajar! Aku...juga minta maaf, bukan bermaksud untuk menggurui...!"
Ucapan Galuh terhenti saat tiba-tiba Helen memeluk perempuan cantik dan mungil itu.
"Maafkan Tante! Maaf!", katanya.
"Tante tidak sepenuhnya salah kok apalagi sama aku, aku maklum. Tante seorang perempuan, seorang istri dan juga ibu. Aku paham Tan!"
"Kalau Tante berkenan, Tante minta maaf sama Syam. Dan...ibu! Tuduhan Tante yang menyangka ibu akan mengambil om Glen cukup membuat ibu terkejut. Ibu tidak ada niat sedikit pun untuk ke arah sana, Tante!", kata Galuh.
"Iya, Tante akan minta maaf sama Syam dan ibu kamu."
Helen mengusap air matanya. Galuh tersenyum tipis.
"Meminta maaf memang memerlukan mental yang besar, tapi memaafkan juga butuh hal itu. Bahkan lebih dari itu. Berlapang dada dan menerima. Seperti halnya Tante yang mau memaafkan om Glen sebesar apapun kesalahan di masa lalunya!", kata Galuh dengan mata berkaca-kaca. Dia sedang mengenang perjuangannya sendiri untuk bersatu dengan Lingga.
Perempuan itu reflek memeluk pinggang suaminya. Lingga pun mengusap kepala Galuh dengan pelan.
"Eum... sebaiknya om dan Tante pulang saja dulu. Kalau mau ketemu Syam dan ibu, mereka ada di rumah!", kata Lingga.
"Iya Ga, om sama Tante pamit. Sekali lagi terima kasih ya Galuh!", kata Helen tulus. Galuh mengangguk dalam dekapan suaminya.
Sepeninggal Helen dan Glen....
Lingga paling tidak tahan melihat tangis Galuh, di takupnya wajah mungil itu. Ia hapus air mata perempuan yang sangat ia cintai.
"Jangan menangis Yang!", kata Lingga. Lalu ia mendekatkan bibirnya untuk menyatakan dengan Galuh yang tak menolaknya.
"Kamu sedang ingat perjuangan kamu buat maafin Abang kan?", tanya Lingga membuat Galuh mendongakkan kepalanya.
Perempuan cantik itu tak menjawab hanya menatap manik mata yang jernih, milik lelaki yang sangat ia cintai.
*****
15.54
Panjang kayaknya part ini π€π€π€
Heheh terimakasih ππππ
Mohon koreksinya ya klo banyak salah, tapi harap di maklumi namanya ge masih belajar π€π€π€π€
__ADS_1