Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 152


__ADS_3

Lingga baru selesai makan malam, ia berpamitan pada ibu mertua dan adik iparnya untuk masuk ke kamar lebih dulu.


Sejujurnya Lingga merasakan lelah di tubuhnya. Sejak kepulangan nya mendadak karena kondisi psikis Galuh yang sedang dalam mode kurang baik, Lingga memang kurang cukup istirahat.


Dia memang bisa tidur saat di kost, tapi tentu saja rasanya berbeda karena dia sering kali terjaga.


Memikirkan putranya juga kondisi psikis istrinya. Tidak mudah menjadi Lingga saat ini. Jika dulu dia hanya terpaku tentang kekurangan biaya, tidak untuk saat ini. Biaya banyak , lebih dari cukup.


Tapi masalah juga tak kalah banyak. Apalagi... menyangkut keselamatan keluarganya.


Setelah menutup pintu kamar, Lingga mendekati Galih yang meringkuk memeluk Ganesh. Cuaca di kampungnya memang sangat dingin. Wajar saja jika Ganesh betah dalam dekapan ibunya.


Tangan Lingga terulur mengusap pelipis Galuh. Perempuan cantik dan mungil itu kini benar-benar sudah melakukan perannya sebagai seorang ibu.


Dikecupnya kening sang istri dan putranya bergantian.


"Kalian harta paling berharga ku!", gumam Lingga.


Jam dinding menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Untuk ukuran kampung, jam segitu sudah terlalu malam dan kebanyakan sudah beristirahat.


Berbeda dengan kota besar, bahkan masih ada sebagian yang bekerja di saat orang-orang sudah terlelap dalam mimpi.


Tiba-tiba terlintas di pikiran Lingga, ia akan menemui Arya di rumah baru mereka. Mengingat kejadian tadi, ia memutuskan menggunakan mobilnya untuk ke rumah Arya meski jaraknya tak terlalu jauh.


"Yang, Abang pergi sebentar ke rumah papa ya?", ucap Lingga lirih. Tapi tanpa di duga, Galuh justru mendengarnya dengan samar lalu mengerjap pelan.


"Abang mau ngapain ke rumah papa malam-malam?", tanya Galuh serak.


"Ada urusan sebentar, ngga apa-apa ya?"


"Benar ya? Jangan lama-lama!", kata Galuh.


"Iya Yang. Abang janji, kalo udah selesai Abang langsung pulang."


"Huum, hati-hati!", kata Galuh.


"Iya!", sahut Lingga lalu melabuhkan ciumannya di kening Galuh. Setelah itu iapun mengenakan kaos lengan panjangnya karena cuaca memang sangat dingin.


Lingga sudah bersiap untuk mengambil mobilnya lewat pintu dapur, ternyata....


"Maaf Bu, bukan maksud saya untuk mendesak Bu Sekar. Akan tetapi...saya rasa... alangkah baiknya kita bicarakan dengan Den Lingga dan Non Galuh!", kata Salim.


"Saya tidak bermaksud untuk menunda-nunda nya Mang Salim, tapi...saya takut waktunya tidak tepat."


Lingga yang tadi sudah hampir di pintu dapur pun memilih mundur. Nguping!!!! 😆


"Kalau begitu, saya minta maaf Bu!", kata Salim pada akhirnya.


Si menantu menautkan alisnya lalu menggeleng.


"Belum apa-apa sudah menyerah Mang!", gumam Lingga yang pasti tidak akan terdengar Salim atau pun Sekar.


"Mang Salim jangan berpikir yang tidak-tidak dulu, sungguh saya tidak ada maksud lain kok. Saya benar-benar menunggu waktu yang tepat. Saya...saya kasian sama Abang dan kakak. Mereka sibuk selama ini. Apalagi... rencananya akan di adakan aqiqah Ganesh. Pasti mereka akan semakin banyak beban pikiran kalau...kalau kita mengatakan niat kita. Saya tidak mau menambah beban pikiran mereka, minimal... sampai acara aqiqah Ganesh selesai. Maaf, bisa bersabar sedikit lagi kan?", tanya Sekar.


"Insyaallah Bu. Jika memang seperti itu keputusan yang ibu ambil!", jawab Salim sambil tersenyum lalu membenarkan letak kacamatanya.


"Saya pamit pulang ke mess dulu ya Bu. Lebih baik Bu Sekar istirahat saja. Sudah malam!", kata Salim.


"Iya mang, hati-hati!", kata Sekar. Salim pun mengangguk lalu meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja.


Belum sempat Salim mengucap salam, Lingga masuk lewat pintu dapur hingga membuat dua orang dewasa itu terkejut.


Lingga pura-pura tak mengetahui ada ibu mertua dan juga supir papanya di dapur.


"Lho, ibu belom tidur? Mang Salim juga belum pulang?", tegur Lingga dengan mimik wajah seolah terkejut.

__ADS_1


"I-ni mau tidur bang. Abang mau ke mana?", tanya Sekar tergagap seperti orang yang ke-gep selingkuh heheheh


"Oh, mau ke rumah papa sebentar Bu. Ada urusan. Mang Salim masih ada urusan juga di sini?", tanya Lingga.


"Heuh? Udah ngga den, udah selesai kok. Kalau begitu, biar Den Lingga saya antar saja kerumah tuan Arya."


"Habis nganterin aku, mang Salim balik lagi gitu? Ngga efisien dong mang. Kecuali kalo mang Salim tinggal di sini."


Baik Sekar dan Salim terlihat salah tingkah. Dalam hatinya, Lingga meminta maaf. Bisa-bisanya dia membuat mertuanya malu seperti itu.


"Ehem, ya udah ayok bareng aja keluarnya mang!", ajak Lingga. Salim pun mengiyakan.


"Kalo mau tinggal di sini juga ngga apa-apa sih mang!", kata Lingga. Sontak Sekar dan Salim saling melempar pandangan.


"Tapi ...kalo sudah sah jadi anggota keluarga kami!", kata Lingga lagi. Salim meneguk salivanya sedikit perlahan. Perih!


Karena wajah Salim yang tampak tak karuan, akhirnya Lingga pun mengakhiri kejahilannya. Sudah ngga kuat!!!


"Abang keluar dulu ya Bu, nitip Galuh sama Ganesh!", pinta Lingga.


"Iya bang! Hati-hati!", kata Sekar.


"Cuma Abang yang di suruh hati-hati, Mang Salim engga?", ledek Lingga lagi. Wajah Sekar bersemu merah.


Mantu kurang aj** emang! Ibu mertua kok di ledek Mulu!


"Heheheh udah Bu, bercanda. Abang pergi ya Bu, assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!", jawab Sekar.


Lingga dan Salim menuju ke mobilnya masing-masing. Salim mempersilahkan Lingga untuk jalan lebih dahulu.


Di perjalanan pulang ke mess, Arya menghubungi Salim agar datang kerumahnya. Salim pun mengatakan bahwa Lingga juga sedang menuju ke arah sana.


Lingga melihat dari spion jika mobil Salim tak belok ke arah pabrik. Mobil sedan itu masih mengikuti di belakang Lingga.


Sudah ada mobil Arya dan Glen di sana. Di tambah mobil Lingga dan Salim yang sontak membuat halaman rumah tersebut terlihat ramai.


"Mang Salim ada perlu juga sama papa?", tanya Lingga saat keduanya turun.


"Iya den, tuan menghubungi saya di suruh kemari."


"Oh!", gumam Lingga.


Salim berjalan di belakang Lingga. Ide jahilnya kembali melintas di otak Lingga.


"Jadi kapan nih Mang?", tanya Lingga.


"Apanya yang kapan Den?"


"Bahas nanti deh kalo urusan ku sama papa udah selesai!", putus Lingga.


Salim hanya menebak dalam hatinya. Pertanyaan Lingga seolah mengisyaratkan jika dia tahu sesuatu.


Apa den Lingga sudah tahu tentang aku dan Sekar? Batin Salim.


Lingga dan Salim mengetuk pintu rumah Arya yang masih terbuka. Beruntung para penghuninya masih terjaga.


Tentu saja, Arya tahu jika anak bungsunya dan calon besannya akan datang.


"Assalamualaikum!", Lingga dan Salim mengucap salam.


"Walaikumsalam!", sahut penghuni di dalam.


"Masuk Ga!", pinta Gita. Lingga dan Salim pun masuk ke dalam ruangan yang berlantai kayu tersebut.

__ADS_1


Nyaman! Itu yang Lingga rasakan saat menginjakkan kakinya di rumah tersebut.


"Duduk Nak!", pinta Gita. Begitu pula pada Salim. Glen sendiri masih menelpon putrinya di kota sana. Glen memberi tahu jika ia menginap di rumah Arya malam ini.


"Rumah ini nyaman sekali ya Ma, Pa!", kata Lingga sambil menatap ke sekeliling.


"Heum, ini sesuai keinginan mama. Terimakasih ya Salim!", kata Gita. Salim mengangguk samar dan tersenyum.


"Salim yang udah nyariin rumah buat kami Ga."


Arya mengatakan demi pada Lingga yang membuat Lingga mengangguk saja.


"Ganesh sama Galuh sudah tidur? Kamu tinggal ke sini?", tanya Arya.


"Sudah Pa."


"Lain kali, papa harap kamu hati-hati!", lanjut Arya.


"Jadi benar, orang tadi orangnya papa?", tanya Lingga.


"Tanya saja sama calon bapak mertua kamu Ga!", kata Arya menunjuk Salim dengan dagunya hingga Lingga menoleh pada sopir papanya tersebut.


Salim yang tiba-tiba di tunjuk seperti itu pun sedikit terkejut. Bukan masalah menunjuk dengan dagu, akan tetapi 'calon bapak mertua' kesannya Arya jauh lebih tahu dari Lingga.


Lingga mengangkat salah satu alisnya menatap Salim yang terlihat bengong.


"Mang?", panggilan Lingga membuyarkan lamunan Salim.


"Eh, iya Den?", Salim sedikit tergagap.


"Jadi, tadi tuh orangnya mang Salim? Tapi bagaimana mang Salim tahu kalau posisiku saat itulah sedang dalam incaran orang...asing?"


"Eum, iya den. Maaf, mereka memang tidak secara langsung mengawasi den Lingga. Sebab, sejak den Ganesh lahir teman-teman mamang memang bekerja atas perintah tuan Arya, melalui saya....! Dan soal yang tadi, dia memang berinisiatif untuk menggantikan posisi den Lingga. Tapi dia sudah melaporkan nya ke saya secara langsung."


"Iya, memang melihat percakapan chat nya mang. Aku pikir itu Papa."


"Iya papa juga kan Ga, calon papa mertua!", sindir Arya yang langsung kena pukulan ringan oleh Gita.


Salim terlihat salah tingkah, sedang Lingga tertawa pelan.


"Lingga ngga habis pikir Pa. Lingga ini siapa? Cuma pengusaha receh, kok kaya di drama-drama, kisah novel juga mungkin yang... yang ah...gimana ngomongnya ya."


Arya dan yang lain masih mendengarkan keluh kesah Lingga.


"Lingga cuma orang kampung, tinggal di kampung. Mau mereka itu apa gitu lho Pa."


"Maaf ya Ga. Mungkin ini semua ada hubungannya sama papa. Papa minta maaf, tapi papa janji kalau papa akan segera menyelesaikan semuanya. Dan tentu saja saya butuh bantuan Salim untuk menjaga kamu dan keluarga kita Ga."


Salim mengangguk patuh.


"Dan alangkah baiknya jika...mang Salim turut menjaga keluarga kami, setelah mang Salim resmi menjadi anggota keluarga besar kita. Bukan begitu Pa?", tanya Lingga pada papanya yang di sambut anggukan oleh Arya juga Gita.


Salim meneguk salivanya dengan pelan seolah dirinya sedang di sidang oleh para majikannya????


"Bagaimana mang Salim???", tanya Lingga.


"Heuh?", Salim mendadak bingung. Hingga membuat ketiga orang dewasa di depan Salim tertawa. Tapi ada seseorang di balik pintu yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.


Benarkah hubungan Salim dengannya sudah ke tahap sedekat itu????


*****


Niat up kemarin, tapi lagi-lagi ketiduran semalam 😆😆😆


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


05.05


__ADS_2