
Ponsel Lingga berdering sejak tadi, karena yang mengemudikan mobilnya adalah Puja, maka dengan santainya Lingga menjawab panggilan video dari sahabatnya, Alex.
[Hai bro!]
Sapa Alex menunjukkan senyum ramahnya.
[Hai bos, tumben vc kenapa?]
[Gue udah sampe gang kampung Lo Ga, mau lanjutin kerja sama kita yang udah pernah kita bahas. Gue ambil bahan baku di pabrik Lo buat bikin villa di kampung Xxx]
[Astaghfirullah, gue lupa Lex]
[Lo di mana sih Ga?]
[Di mobil, biasa abis antar ibu cek up ke rumah sakit]
[Oh...]
Sahut Alex tapi kamera Lingga mengarah ke belakang menunjukkan sosok Gita.
[Itu yang di belakang Tante Gita bukan sih? Yang sama ibu?]
Alex penasaran.
[Heum, iya. Mama, ibu sama kak Vanes. Dan ini supir baru gue, kak Puja!]
Lingga mengabsen penumpang mobil tersebut.
"Berani bayar berapa kamu bilang kakak mu ini supir pribadi?", tanya Puja. Tapi lingga malah tertawa seperti Alex.
[Waaah...ga nyangka gue! Kemajuan Ga! Sampe ketemu di rumah deh kalo gitu ya Ga! Gue tancap gas nih!]
[Oke!]
Panggilan video itu pun berakhir. Mobil Lingga pun perlahan memasuki pekarangan rumah Lingga.
Gita dan Vanes membantu Sekar turun dari mobil lalu menemani hingga masuk ke kamar.
"Kalian masuk aja dulu ya, Abang mau nunggu Alex! Ibu di temani mama sama kak Vanes ya Bu?", kata Lingga lembut.
"Iya bang!", jawab Sekar. Sekar sudah menganggap Lingga anak kandungnya sendiri. Jadi tak ada kecanggungan di antara mereka tapi sejauh ini masih dalam tahap yang wajar. Jangan di salah artikan atau di bayangkan dengan kejadian yang viral antara ibu mertua dan menantu ya 🤭
Ngga lagi ghibah lho, suwerrrr ✌️
Lingga menunggu Alex di pintu gerbang. Ini bukan pertama kalinya Alex mengunjungi kampung Lingga, bahkan berkali-kali.
Dari kejauhan, terlihat mobil Alex yang mendekat ke arah rumah Lingga. Senyum lingga mengembang saat sahabatnya turun dari mobil.
"Kenapa berhenti di sini, parkir di dalam aja!", pinta Lingga.
"Udah di sini aja ngga apa-apa. Di dalam udah ada empat mobil kan?", kata Alex sambil menunjuk mobil-mobil yang terparkir di dalam. Lingga pun tersenyum.
"Ngobrol di dalam deh kalo gitu!", ajak Lingga.
"Ngga ah, gue mau di belakang aja yang dapur!", kata Alex.
"Ngga usah nggrecokin bik Mumun deh Lex!"
"Hahaha gue demen kalo denger dia ngomongin pake bahasa sini. Enak banget gitu ngomongnya. Ibarat peyek, omongannya tuh renyah rame banget!", kata Alex sambil tertawa.
Lingga hanya menggeleng pelan. Sahabatnya memang iseng. Tapi sayang, sampai saat ini dia belum berencana untuk menikah. Entah seperti apa selera seorang Alex.
"Bik Mumun!", sapa Alex pada Mumun yang ada di dapur karena Lingga dan Alex langsung ke dapur tanpa masuk ke ruangan lain.
"Eh, si Aden kasep. Iraha dugi? Meuni lila teu kadieu? Kamana wae?", cerca Mumun.
__ADS_1
Benar kan? Alex di sambut bahasa 'renyah' nya bik Mumun.
"Bik Mumun, teh panas sama singkong rebus ya bawa ke teras belakang!", kata Alex songong. Lagi-lagi Lingga hanya berdecih. Sahabatnya emang kadang-kadang! Bukan nya menjawab pertanyaan bik Mumun, malah ngeloyor meninggalkan bik Mumun yang cengok.
"Saya juga teh , Bik Mun!", kata Lingga.
"Iya den!", jawab Mumun.
Alex sudah duduk di terasa belakang. Dia sangat nyaman di kampung Lingga. Teras belakang adalah spot favoritnya. Rumah Lingga yang benar dan dikelilingi kebun, memiliki tetangga yang agak jauh.
Setelah keduanya saling mengobrol soal kerja sama mereka, akhirnya Alex berbicara urusan pribadi.
"Om Arya ikut ke sini? Udah baikkan dong kalian?", tanya Alex.
"Ya masih gini-gini aja sih, cuma masih belum bisa menerima Galuh. Padahal...papa terlihat begitu menyayangi Syam."
"Gue pikir, om Arya ke sini karena beliau udah nerima Galuh Ga!", kata Alex. Lingga menggeleng.
"Ngga tahu lah, terserah papa aja. Mungkin memang papa tidak bisa membuka hatinya buat gue sama Galuh. Atau mungkin memang papa ngga ada hati!"
"Kok Lo ngomong gitu sih Ga?", tanya Alex. Lingga menaikkan salah satu alisnya mendengar Alex bertanya demikian.
"Kok Lo ngegas?", tanya Lingga balik.
"Bukan gitu, sori... kayanya gue harus melanggar janji gue sama om Arya!"
"Janji? Janji apa?", tanya Lingga penasaran.
"Lo ingat kan waktu Lo baru balik dari rumah om Arya, terus Lo jual mobil Lo ke gue?", tanya Alex. Lingga diam, tak menyahut apalagi mengangguk dan menggeleng.
"Lo pikir, gue tahu dari mana Lo mau jual mobil? Om Arya yang minta gue buat pura-pura beli mobil Lo! Sorry...kalo Lo udah anggap gue sekongkol sama bokap! Gue ga ada maksud Ga. Tapi...liat sekarang kalian ada di rumah yang sama, gue pikir kalian udah berbaikkan!", kata Alex.
"Jangan bilang Lo bayar mobil pake duit bokap gue? Makanya Lo pura-pura limit Lo ga cukup padahal Lo ...!", kalimat Lingga menggantung.
"Gue minta maaf Ga. Sumpah gue ga ada maksud buat bikin Lo salah paham kaya gini! Gue cuma mau meluruskan kesalahpahaman antara Lo sama bokap Lo!"
''Bokap Lo ga sejahat yang Lo pikir. Om Arya ngga setega yang Lo kira selama ini, dia ngga sekejam itu Ga!"
Lingga masih bergeming. Otaknya masih mencoba mencerna ucapan Alex hingga nanti dirinya tahu harus berbuat apa.
"Dan soal anak pertama Lo, sebenarnya... sebelum Lo bayar administrasi ke rumah sakit, om gue direktur utama rumah sakit Xxx, sahabat om Arya juga sudah menangani anak dan istri Lo lebih dulu. Tapi karena memang kondisi anak Lo yang lemah dan tidak bisa di selamatkan."
Lingga menoleh cepat pada Alex.
"Huffft, gue juga sempat marah sama om gue. Gue pikir, dia sudah menyalami kode etik profesinya. Tapi...dia sudah melakukan usaha yang terbaik buat anak Lo!"
Nafas Lingga terasa begitu sesak.
"Om gue bilang, dia terpaksa menutupi nya dari Lo biar Lo ga kecewa dan merasa bersalah jika seandainya...anak Lo lahir nanti...dia bakal ca*** bawaan! Om Arya memilih dirinya di benci sama Lo karena seolah dia udah menghambat penanganan anak dan istri Lo Ga!", kata Alex panjang lebar.
Lingga diam tak menyahuti apa pun hingga beberapa detik kemudian dia bangun dari bangkunya. Ia menepuk bahu Alex.
"Gue emang kesel sama Lo Lex, kenapa Lo baru ngomong sekarang! Setelah gue berlarut-larut menyimpan kebencian sama bokap gue. Tapi....!"
Alex menunduk, dia sadar jika sepertinya dia terlambat memberi tahu sahabatnya.
"Tapi terimakasih, berkat Lo setidaknya gue belum terlambat buat minta maaf ke bokap gue!", kata Lingga masih dengan menepuk bahu Alex.
Alex turut bangkit dari duduknya. Ia memeluk sahabatnya.
"Maafin gue Ga!", kata Alex.
"Lo ga salah Lex, gue yang selama ini tutup mata! Kalau Lo ngga bilang sekarang, mungkin selamanya hubungan gue sama bokap bakal stuck! Terimakasih banyak!"
"Huum, sama-sama Ga!"
__ADS_1
"Lo, nikmatin aja dulu suasana favorit Lo. Kalo butuh apa-apaan, Lo minta Bik Mumun aja. Gue...mau nemuin bokap gue dulu!"
"Huum, iya Ga!", ujar Alex.
Dengan sedikit terburu-buru, Lingga mencari keberadaan papanya. Melihat suaminya yang terburu-buru, menarik perhatian Galuh.
"Apa sih bang?", tanya Galuh.
Lingga memeluk tubuh gendut istrinya yang sedang hamil.
"Kok Abang kaya sedih gitu?", tanya Galuh sambil mengusap punggung suaminya yang sedang meminta pelukan darinya.
Perlahan, Lingga mengendurkan pelukannya.
"Kamu benar sayang, papa itu orang baik!", kata Lingga dengan mata berkaca-kaca. Galuh tersenyum.
"Papa emang baik Bang. Terus kenapa Abang jadi kelihatan sedih begini? Alex mana? Katanya dia datang?"
"Alex di teras belakang, kaya biasanya."
"Kamu tahu papa dimana Yang?"
"Ada sama Syam, di teras samping. Mereka hobi banget duduk di sana!", kata Galuh.
"Abang ke sana dulu ya!", pamit Lingga sambil meninggalkan kecupan di puncak kepala Galuh. Galuh yang bingung hanya mengangguk. Perempuan hamil itu pun membawakan minuman untuk di antar ke kamar ibunya. Tidak hanya untuk ibunya, tapi juga untuk Gita dan Vanes.
Lingga perlahan-lahan menghampiri pintu yang mengarah ke teras samping. Terlihat Arya dan Syam sedang berbicara serius. Tak ingin mengganggu mereka, Lingga memilih untuk mendengarkan obrolan mereka berdua.
Arya menceritakan masa kecilnya yang kelam pada Syam. Lahir dari istri kedua yang hanya seorang pembantu di keluarga papanya, Arya sering di asingkan karena di anggap sebagai anak seorang pelakor.
Tidak hanya itu, keluarga papa Arya terbilang kaya tapi Arya yang hanya anak dari seorang pembantu yang di peristeri oleh majikannya tak pernah di anggap ada. Hidup di rumah mewah tapi dia sama sekali tak mendapatkan kehidupan yang layak. Ingin sesuatu, dia harus berusaha. Menjual sayur yang ibunya tanam di belakang rumah papanya, contohnya!
Arya tumbuh dengan dipaksa menjadi dewasa. Apalagi ketika dirinya menginjak bangku SMA,ibunya meninggal dunia. Keluarga papanya semakin menginjak-injak harga dirinya.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari istana neraka milik keluarga papanya. Berkat usaha kerasnya, Arya mampu untuk bangkit hingga sukses. Dan karena kesuksesannya itulah, ia mulai menjadi pribadi yang arogan dan kasar. Ia selalu mendidik anak-anaknya agar jadi pribadi yang bisa sukses hingga tak ada yang berani meremehkan.
Tapi ternyata, tidak semua yang ia pilihkan untuk anak-anaknya di terima dengan baik. Lingga jelas-jelas melawan dirinya karena ingin mengikuti kata hatinya.
"Kamu lebih beruntung Syam, kamu punya orang-orang yang menyayangi mu!", kata Arya sambil mengusap kepala Syam. Syam kecil itu pun tersenyum.
"Jadi, sebenarnya Papa Arya ngga benci sama kakak kan?", tanya Syam lagi. Dia pernah bertanya hal itu sebelumnya.
"Papa hanya takut, melihat kakak kamu...papa seperti melihat diri papa yang berjuang sendirian dulu Syam. Papa mencoba untuk abai. Dulu, di pikiran papa...papa takut jika...kakak kamu lebih dulu pergi karena dia hidup hanya dengan satu ginjal yang sudah dia donorkan untuk mama Gita. Papa takut, Lingga akan sedih jika kehilangan kakak kamu!"
Arya menunduk.
"Tapi papa lihat kan, kakak baik-baik saja? Abang juga bahagia. Papa senang kan mereka berdua juga bahagia?", tanya Syam.
Arya hanya tersenyum.
"Pa, hidup mati seseorang kan sudah di atur. Kita yang hidup dengan dua ginjal belum tentu berumur lebih panjang dibandingkan dengan yang hidup dengan satu ginjal!", kata Syam.
Arya mengembangkan senyumnya. Ia meraih bahu Syam dan mengusapnya pelan.
"Terimakasih sudah menjadi pendengar yang baik, buat papa!", kata Arya.
Di belakang mereka, Lingga merutuki kebodohannya sendiri yang hanya memenuhi egonya. Menganggap papanya hanyalah laki-laki yang tak punya hati. Bahkan cerita hidup papanya saja dia tidak tahu????
Dengan langkah pasti, Lingga menghampiri Arya dan Syam.
"Papa!", panggil Lingga. Arya dan Syam menoleh bersama-sama.
*****
Kira-kira apa yang selanjutnya terjadi?????? 🤔🤔🤔🤔🤔
__ADS_1
terimakasih yang sudah mampir ke sini 🤭🤭🤭🤗🤗🤗🙏🙏🙏✌️✌️