Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 210


__ADS_3

"Maaf ya Puja, semalam kami malah ketiduran jadi nginep tanpa ijin sama kamu!", kata Helen saat mereka tengah sarapan.


"Iya Tante ngga apa-apa. Harusnya kami yang minta maaf, udah bikin Tante sama Om nunggu lama sampe ketiduran. Padahal Puja tahu banget kalau ada yang harus kita bahas semalam. Sekali lagi, kami minta maaf!", kata Puja yang benar-benar tak enak hati.


Saat Vanes mengajak Puja beristirahat, bibik art menyampaikan bahwa Helen beristirahat di bekas kamarnya saat masih gadis dulu. Sedang Glen tertidur di sofa ruang keluarga. Miris....! 🤭🤭🤭


"Tante Lita ada kepentingan mendesak ya, tumben dia kesini? Setahu ku, bahkan saat Om kamu masih hidup, dia ngga pernah ke sini?", tanya Helen pada Puja.


Puja menceritakan tentang permasalahan yang sedang ia hadapi. Bahkan Glen dan Helen pun sependapat dengan apa yang Puja lakukan pada Lita.


"Yang penting kamu jangan main fisik ya Puja!", kata Glen memperingatkan.


"Iya , Om. Insyaallah!", sahut Puja.


Usai sarapan, Glen dan Puja membahas tentang rencana mereka yang akan membuatkan aset untuk masa depan Angel, Zea dan Syam. Aset berupa rumah di kawasan elit pusat kota.


Sebagai orang tua, kedua lelaki yang usianya tak seberapa beda jauh itu memilih untuk menyiapkan bekal masa depan anak-anak mereka.


.


.


.


"Adek berangkat sama Abang aja!", pinta Lingga pada Syam.


"Iya bang!", sahut Syam patuh.


"Abah mau ke warung?", tanya Sekar pada suaminya.


"Iya Bu, tapi insyaallah nanti siang Abang pulang. Mau ambil beras di penggilingan. Stok di sana udah mulai menipis", jawab Salim.


"Alhamdulillah, laris manis ya Bah!", kata Lingga.


"Aamiin...!", sahutan kompak dari mereka semua yang tengah sarapan.


"Ayah pergi dulu ya ganteng! Nanti kita main lagi, oke!", pamit Lingga pada Galuh dan Ganesh. Tak lupa ia menyempatkan mengecup puncak kepala Galuh dan Ganesh bergantian.


Salim pun memperhatikan kebiasaan Lingga tersebut. Dia tersenyum tipis lalu menoleh pada istrinya yang sedang membereskan meja makan.


Syam dan Lingga lebih dulu keluar diikuti oleh Galuh yang menggendong Ganesh. Sedang Salim berdiri di samping Sekar.


"Eh, kirain teh mau berangkat bareng Abang?", tanya Sekar terkejut melihat suaminya ada di sampingnya.


Dengan pelan Salim meraih pundak Sekar dan setelahnya ia mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala istrinya hingga membuat wajah seorang Sekar memerah karena malu.


"Abah berangkat ya? Assalamualaikum!", pamitnya.


"Iya bah, walaikumsalam!", jawab Sekar. Salim menyusul Lingga dan Syam yang sudah ada di samping mobil Lingga.


"Eh, bang! Sebentar! Raket Syam ketinggalan!", kata Syam berlari ke kamarnya untuk mengambil raket.


"Kalo gitu Abah duluan ya Bang!", pamit Salim.


"Iya bah, silahkan!", kata Lingga.


.


.


.


"Bang, itu...mobil Abah kok belok ke sana sih?", tanya Syam menunjuk mobil Salim yang berbelok ke arah sepi. Selang beberapa menit kemudian, ada beberapa pengendara motor yang menyalip mobil Lingga dan berbelok di tempat yang sama seperti Salim.


Lingga yakin jika sepeda motor itu ada urusan dengan bapak mertuanya. Benar saja, saat mobil Lingga melintas melewati belokan, terlihat bapak mertuanya sedang berbicara dengan orang-orang yang tadi mengendarai sepeda motor.


"Siapa yang sama Abah ya bang? Ngga ada maksud buat celakain Abah kan?", tanya Syam cemas.

__ADS_1


"Ngga dek. Insyaallah Abah baik-baik aja. Sepertinya itu memang orangnya Abah sama papa!", jawab Lingga menenangkan adik iparnya tersebut.


Syam sebenarnya belum merasa puas dengan jawaban Lingga tapi melihat ekspresi wajah Lingga baik-baik saja, Syam berusaha percaya.


Saat mobil Lingga melewati rumah baru, terlihat seorang perempuan berjilbab sedang mengomel karena mobilnya mogok. Dan ada anak kecil berseragam SD seumuran Syam yang menunduk dan meremas jemarinya.


"Bang, coba ajak Riang ikut mobil kita. Kemarin ibunya bilang kalau dia mau sekolah di sekolah yang sama kaya Syam!", kata Syam pada Lingga.


Lingga tak bertanya lagi, ia memundurkan mobilnya hingga tak terlalu jauh dari pintu masuk rumah baru tersebut.


"Adek aja yang turun, Abang tunggu!", kata Lingga.


"Kok aku bang?", tanya Syam balik.


"Lha...dia kan teman adek?", Lingga mengernyitkan alisnya.


"Belum bang, cuma tahu aja namanya! Belum kenal banget juga!"


"Memang kalo mau nolong harus tau biodata nya dek?", tanya Lingga yang langsung membuat Syam kicep. Dengan sedikit kesal ia turun dari mobil menghampiri mobil mogok Riang.


"Assalamualaikum, selamat pagi Bu?", sapa Syam. Perempuan yang di panggil ibu itu menoleh.


''Walaikumsalam, eh...nak Syam", jawabnya sambil tersenyum. Tidak seperti tadi marah-marah karena mobilnya mogok.


"Mobilnya kenapa Bu?", tanya Syam.


"Ngga tahu nih, mogok kayaknya padahal mau anterin Ruang ke sekolah", jawabnya. Syam menoleh pada Riang yang menunduk.


"Oh...gini bu, kalo ngga keberatan Riang bisa ikut mobil Syam kok. Kami satu sekolah kan? Ibu sudah mendaftarkan Riang di sana?"


"Beneran ngga apa-apa kalo Riang ikut mobil kamu Syam?", tanya si ibu.


"Beneran ngga apa-apa Bu!", jawab Syam.


"Ya udah kalo begitu terimakasih banyak ya nak Syam. Tuh Riang, kamu bersikap yang baik sama Syam ya. Dia udah baik sama kamu mau ngajak kamu sekalian berangkat sekolah!", kata si ibu pada Riang.


"Iya Bu, terimakasih Syam!", kata Riang pelan.


"Ini Abang ku, namanya bang Lingga", Syam memperkenalkan Lingga pada Riang. Riang hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


Tak ada obrolan yang berarti sampai mobil Lingga tiba di halaman sekolah Syam. Tadi sempat terhenti perjalanannya beberapa saat ketika mobil yang keluar dari pabrik Glen keluar tapi tak sampai menimbulkan kemacetan.


"Nanti bilang pak Rama kalo mau minta di jemput Abang atau Abah!", kata Lingga pada Syam.


"Iya bang! Syam turun dulu. Assalamualaikum!", Syam mencium punggung tangan Lingga.


"Walaikumsalam!", jawab Lingga. Ternyata, Riang pun akan melakukan hal yang sama seperti Syam. Bersalaman dan mencium punggung tangan Lingga.


"Terima kasih, Bang Lingga!", kata Riang dengan suara begitu lirih.


"Iya sama-sama!", kata Lingga tersenyum ramah.


Entah kenapa Lingga seolah menangkap ekspresi wajah Riang tidak seriang namanya. Seperti ada kesedihan yang begitu mendalam dan di pendam dengan sikap tenangnya.


Setelah memastikan kedua anak itu masuk gerbang sekolah, Lingga melanjutkan perjalanan menuju ke tempat di mana ia sudah ada janji dengan beberapa orang yang akan mengambil batako dari pabriknya.


"Perlu aku antar ke ruang guru?", tanya Syam pada Riang. Tapi gadis itu hanya menggeleng lemah.


"Terima kasih!", kata Riang menunduk lalu meninggalkan Syam menuju ke ruang Guru. Deni melihat sahabatnya yang menatap punggung Riang yang menjauh darinya.


"Syam!", tegur Deni.


"Heum?", sahutnya lalu berjalan menuju ke kelas.


"Saha anu gareulis eta teh?", tanya Deni.


"Riang!", jawab Syam singkat padat dan jelas tidak seperti saat tadi berbicara dengan Lingga dan Riang.

__ADS_1


Deni menggaruk pelipisnya lalu ikut duduk di samping bangku Syam.


"Dia teh saudara kamu bukan sih? Yang waktu itu?", tanya Deni lagi.


"Siapa? Zea? Angel?", tanya Syam balik.


"Eh... berati bukan atuh!", celetuk Deni.


"Ya emang bukan. Dia penghuni rumah baru yang kemarin kamu bilang!", kata Syam.


Deni mengangguk mengerti. Tapi saat dia akan bertanya lagi, bel masuk berbunyi. Alhasil, Deni tak bisa banyak bertanya karena wali kelasnya sudah tiba di dalam kelas.


"Baris dulu anak-anak!", pinta wali kelasnya.


"Siap Bu....!", sahut anak-anak. Syam dan Deni pun keluar dari kelas untuk berbaris lebih dulu dan periksa kerapian.


Beberapa menit berlalu, semua sudah duduk di bangkunya masing-masing. Tak lama kemudian, salah seorang guru mengantar seorang gadis masuk ke kelas Syam.


Kasak kusuk pun terdengar, tapi hal itu tak terjadi pada Syam dan Deni. Keduanya yang sudah tahu nama gadis itu memilih diam.


"Perkenalkan diri kamu!", kata guru.


"Perkenalkan nama saya Riang Destiara. Saya pindahan dari Jakarta. Salam kenal!", Riang sedikit membungkukkan kepalanya.


"Hai Riang....!", sama anak-anak kelas tersebut.


"Oke, kenalannya di lanjutkan nanti lagi. Sekarang kit mulai pelajaran. Baiklah Riang, kamu bisa duduk di belakang Syam dan Deni!", kata guru tersebut menunjuk bangku yang kosong.


Riang mengangguk dan mengucapkan terima kasih yang nyaris tak terdengar oleh sang guru.


Pelajaran pun di mulai....


.


.


.


Lingga tiba di halaman sebuah gerai atm. Dia memang sengaja bertemu di sana. Dan dari tempat tersebut tak jauh ada sebuah kafe ala-ala kampung yang sederhana.


[Iya halo?]


[.....]


[Saya sudah tiba di lokasi]


[....]


[Baiklah. Terimakasih!]


Lingga memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu mengambil tumbler yang sudah di siapkan sang istri di mobilnya.


Lelaki itu menenggaknya beberapa saat setelah berjongkok lebih dulu. Dia hanya mengamalkan sunah yang jangan makan atau minum sambil berdiri.


Tak berapa lama, sebuah mobil berhenti di samping mobil Lingga. Dua orang perempuan dan seorang laki-laki turun dari mobil tersebut.


Jika kedua perempuan itu tersenyum melihat Lingga, justru Lingga menunjukkan wajah datarnya.


"Selamat pagi pak Lingga!", sapa seorang laki-laki menyalami Lingga.


"Selamat pagi?!", jawab Lingga dengan nada suara yang ia usahakan terdengar ramah.


Dia cukup kecewa sebenarnya saat mengetahui bahwa dirinya justru bekerja sama dengan dua perempuan yang nantinya akan menimbulkan masalah internalnya dengan sang istri.


Tapi jika mundur, itu artinya dia tidak profesional.


*****

__ADS_1


Uthie.... terimakasih udah teliti 🤭🤭🤭


Buat semuanya juga makasih banyak2 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭


__ADS_2