
Lingga dan Galuh menuju ke rumah sakit sengaja dengan berjalan kaki. Mereka meninggalkan mobil di sekitar rumah kost.
Lingga menggenggam erat tangan sang istri seolah takut jika sampai terlepas. Sedang Galuh sendiri nampak nyaman-nyaman saja dalam genggaman suaminya.
"Tadi Abang udah kirim orang bengkel buat servis mobil di rumah Bang?",tanya Galuh.
"Udah! Ternyata ban mobil mang Salim juga kempes!", kata Lingga tersenyum sambil menggeleng.
"Terus ga jadi dong kasih gaji anak-anak?", tanya Galuh lagi.
"Udah lah, mang Salim anterin ibu pake motor!", sahut Lingga santai. Galuh menarik lengan suaminya hingga lelaki itu berhenti.
"Kenapa Yang?", tanya Lingga yang heran kenapa istrinya menghentikan langkah mereka.
"Mang Salim dan ibu, bonceng motor berdua gitu?", tanya Galuh heran.
"Heum? Iya berdua, emang sama siapa lagi? Bik Mumun ?", tanya Lingga mengerutkan alisnya.
"Bukannya mereka tuh lagi perang dingin ya?"
"Hehehe mana ada perang dingin Yang. Yang ada juga perang batin, belum menyadari perasaan mereka masing-masing kali!", sahut Lingga sambil menggandeng istrinya untuk kembali berjalan.
"Bang, tapi ibu kan udah ngga muda lagi! Kata ibu sih gitu...! Apa iya ibu jatuh cinta lagi? Katanya mah belum bisa lupain almarhum bapak sampai sekarang!", kata Galuh. Lingga terkekeh pelan.
"Dalam nya laut bisa di selami, dalam nya hati siapa yang tahu?"
"Iya sih bang! Tapi...Abang yakin kalo ibu teh ngga bertepuk sebelah tangan gitu? Kalo sampai iya kan kasian ibu!"
"Ya udah kalo gitu nanti kita cari tahu aja. Abang pikir...mang Salim bukan tipe orang yang percaya diri mengungkapkan sesuatu. Dari yang Abang kenal sih begitu!", kata Lingga.
Galuh pun mengangguk pelan.
Tanpa di sadari keduanya, sepasang suami istri itu sedang di perhatikan oleh beberapa orang yang berbeda kubu tentunya.
Orang-orang suruhan Arya bermaksud melindungi sepasang suami istri itu dan orang suruhan Yudis tentu punya maksud yang tidak baik pada mereka.
Lingga dan Galuh tampak tertawa sepanjang jalan menuju ke rumah sakit. Saat ini mereka berdua tengah menunggu lampu hijau berganti merah agar mereka bisa menyebrang ke rumah sakit.
Setelah memastikan lampu berwarna merah, Lingga dan Galuh pun menyebrang. Tapi tiba-tiba saja beberapa kendaraan roda dua tanpa bernomor polisi tersebut melaju kencang hingga tiba-tiba sekelompok orang Arya menarik paksa Lingga dan Galuh.
Raungan motor-motor besar tanpa nomor itu melewati sepasang suami istri serta beberapa orang Arya yang melindungi sepasang suami istri itu. Tak lupa juga beberapa pejalan kaki di belakang Lingga yang sama shock nya.
Suasana semakin riuh saat lampu kembali berwarna hijau. Cepat-cepat orang Arya menyebrangkan Lingga dan pejalan kaki lain.
"Terimakasih pak!", Lingga mewakili orang-orang yang tadi menyeberang bersama dengannya.
Orang-orang berwajah seram dan bertubuh tinggi tegap itu tak lupa tato yang cukup menyita perhatian orang itu pun mengangguk sekilas pada Lingga setelah mereka semua di rasa aman.
Ya, Lingga dan pejalan kaki lain masih cukup terkejut dengan aksi brutal pengendara yang tak tahu aturan tersebut.
"Kamu ngga apa-apa yang?", tanya Lingga pada istrinya karena dia merasa kejadian tadi begitu cepat. Apalagi orang-orang besar tadi reflek menarik dirinya juga Galuh menyingkirkan diri ke tepian dari laju motor yang ngebut itu.
"Ngga apa-apa bang, cuma luka ku sedikit nyeri. Mungkin karena tadi reflek bergerak cepat Bang."
"Apa orang yang menolong kita udah nyakitin kamu Yang?", tanya Lingga panik.
"Ngga bang. Dia ngga bermaksud menyakiti aku. Justru dia udah menyelamatkan kita kan? Aku ngga bisa bayangin kalau tadi kita jadi korban orang-orang yang ngebut itu Bang. Alhamdulillah, kita semua masih di beri keselamatan!", kata Galuh.
Lingga mendesah pelan. Dia akui, apa yang istrinya katakan memang benar. Tentu saja mereka hanya berniat menolong Galuh dan tak tahu jika istrinya itu belum lama selesai di operasi.
Tapi Lingga juga tak bisa membayangkan kejadian yang lebih parah seandainya orang-orang tadi tak menolong dirinya dan Galuh.
Lingga cukup heran, dari mana orang-orang itu tiba-tiba muncul menyelamatkan dirinya dan juga Galuh padahal kejadiannya sangat cepat.
Dan seolah kejadian itu merupakan sebuah kesengajaan mengingat pejalan kaki yang ada di depan Lingga sepertinya buka target utama! Kenapa???
Kalau memang dia pengendara ugal-ugalan, bukankah dia akan melibas semua yang ada di hadapannya? Tapi tujuan nya kenapa justru dirinya dan juga Galuh?
"Bang?", panggil Galuh.
"Eh, iya sayang. Abang gendong aja ya, dari pada nyeri di bawa jalan kaki."
__ADS_1
"Jangan lah bang, malu. Lagi pula, sebentar lagi kita sampai kok!", kata Galuh dengan suara memaksa. Lingga tak mampu berkata apapun lagi jika permintaan sang istri sudah demikian.
.
.
[Astaghfirullah, kok bisa? Tapi mereka baik-baik saja kan?]
[....]
[Alhamdulillah, tuan Arya tahu?]
[....]
[Tolong lain kali lebih waspada ya!]
[....]
"Kopinya mang!", teriak Mumun.
"Nyak bik Mumun!", sahutnya.
[Ya sudah, terimakasih. Tolong terus jaga mereka ya!]
[....]
Lelaki itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Dia pun menghampiri kopi yang sudah di sediakan oleh Mumun beberapa detik yang lalu.
.
.
.
Sepasang suami istri berusia senja itu kini berada di dalam mobil hitam milik sejuta umat. Mobil itu inventaris kantor, tapi Arya justru memilih mobil tersebut untuk di bawa ke kampung.
"Pelan aja Pa! Kita nikmati perjalanan ini berdua. Anggap saja bulan madu yang kesekian!", kata Gita memecahkan keheningan.
Tak tanggung-tanggung, mereka tak melihat di mana pun tempat untuk menyerang. Bahkan di tempat yang ramai seperti depan rumah sakit.
Sayangnya, Arya menyimpan sendiri pikiran tersebut agar sang istri tak ikut kepikiran. Gita terlihat sangat bahagia saat mereka akan pergi ke kampung. Arya tidak tega melihat kekasih hatinya tersebut memikirkan hal tersebut.
Salim juga sudah melaporkan jika rumah baru nya sudah siap huni. Jadi saat mereka tiba nanti, mereka tidak perlu menunggu di bersihkan lebih dulu.
"Pa!"
"Heum?", gumam Arya.
"Boleh mama tanya, tapi...mama harap papa ngga marah!"
"Soal?"
"Dulu...papa kekeh sekali menginginkan menantu yang sepadan dengan kita."
Gita tak melanjutkan untuk bertanya saat mendengar suaminya mendesah pelan.
"Maafkan sikap papa dulu ya Ma. Wajar mama tanya seperti itu!"
Gita menoleh ke arah suaminya.
"Mama tahu kan, papa lahir dari rahim seorang art yang di paksa menjadi istri kedua Pandu Winanta Putra!"
Gita tak menyahuti ucapan suaminya tapi masih tetap memperhatikan Arya.
"Dulu, papa sering mengatakan bahwa kita harus memiliki menantu yang sederajat dengan kita. Vanes contohnya!"
Gita menghela nafas berat.
"Mama tahu sendiri seperti apa perlakuan anaknya Pandu. Terutama Yudistira itu!"
"Apa karena papa sakit hati?", tanya Gita. Arya pun mengangguk.
__ADS_1
"Papa pikir, saat menikahkan anak-anak kita dengan orang-orang yang berstrata sama, mereka akan berhenti mengganggu papa. nyatanya, bullyan itu masih tetap sama."
"Tapi sekarang papa sudah benar-benar menerima Galuh kan Pa?", tanya Gita lagi.
"Tentu saja Ma!", sahut Arya tegas.
"Meski papa tahu dengan pasti seperti apa latar belakang Galuh?"
Arya menoleh ke arah istrinya.
"Sebenarnya dalam hati kecil papa, sejak dulu papa tak pernah membandingkan dari mana asal dan latar belakang Galuh. Hanya saja...papa takut...takut papa akan terlalu menyayangi menantu kecil kita Ma. Papa takut rasa sayang papa nanti...akan membuat papa merasa kehilangan jika suatu saat...dia pergi."
Arya meremas setirnya dengan kuat.
"Mama tahu seperti apa ketakutan papa saat melihat mama kesakitan karena penyakit itu kan?", Arya menoleh pada istrinya yang mengangguk tipis.
"Tapi, Galuh anak yang kuat pa. Dia akan baik-baik saja! Maafkan mama yang pernah menyudutkan papa!", Gita mengusap punggung tangan suaminya.
Arya tersenyum tipis.
"Dulu, papa begitu jahat dan sangat arogan ya Ma?", Arya menolehkan kepalanya ke samping.
"Mungkin sebenarnya tidak pa, hanya kami saja yang kurang menerima maksud baik papa!", kata Gita.
"Melihat Syam, papa seolah melihat masa kecil papa. Tapi... setidaknya Syam lebih beruntung karena dia bersama orang-orang yang menyayanginya. Cukup papa yang pernah merasakan hal pedih itu, jangan ada Arya-arya yang lain. Dan...papa bersyukur, akhirnya Syam di akui oleh keluarganya."
"Papa ikut andil dalam hal ini!", kata Gita pelan.
"Maafkan papa, Ma! Mungkin... sebagai seorang kakak, mama pasti ikut merasakan kekecewaan Helen. Tapi, papa yakin Helen akan bisa menerima semua ini. Dia perempuan yang lembut dan baik hatinya. Seperti mama!", puji Arya.
Bibir Gita berkedut, entah sudah berapa lama ia tak mendengar pujian sederhana dari suaminya tersebut.
"Kalau mau senyum ya senyum aja Ma, ngga usah di tahan! Kalau mama mau, kita bisa belok ke salah satu hotel dekat sini!", kata Arya tanpa ekspresi.
Gita menautkan kedua alisnya lalu menatap suaminya dengan heran.
"Ngga ada korelasinya menahan senyum sama hotel kan Pa?", tanya Gita.
"Ngga ada sih."
"Terus, ngapain kita ke hotel segala?", tanya Gita.
Hanya terdengar helaan nafas dari lelaki gagah yang sudah hampir berusia enam puluh tahun. Bahkan mungkin wajahnya tak menunjukkan jika dia sudah berumur segitu.
"Yang ada nanti papa encok! Ingat umur Pa!", kata Gita. Arya menoleh cepat ke arah istrinya.
"Papa ingat umur kok Ma, emang apa yang salah dengan istirahat ke hotel? Papa pengen meluruskan punggung karena papa sadar diri sudah berumur!", kata Arya.
Gita melipat bibirnya ke dalam menahan tawa.
"Jangan-jangan mama yang mau bulan madu ya?Ngaku ngga?", tanya Arya dengan wajah datarnya.
"Ishhhh...mana ada kaya gitu pa, kita udah tua!", sahut Gita malu.
Arya benar-benar membelokkan mobilnya ke arah hotel. Gita menganga tak percaya.
"Kita istirahat di hotel dulu Ma, mungkin kita yang sudah renta ini butuh suasana baru buat mengingat masa muda kita dulu!", ajak Arya pada Gita.
Gita tak mampu menahan senyumnya lagi. Suaminya memang sering menunjukkan wajah datarnya, tapi mungkin dirinya lah satu-satunya perempuan yang menjadi bahan keromantisan seorang Arya.
Padahal... sejujurnya dalam hati Arya, dia ingin segera sampai di kota sang menantu. Tapi dia tidak bisa egois, kapan lagi bisa meluangkan waktu bersama sang istri??? Karena.... sudah di pastikan, setelah di kampung sana perhatiannya akan banyak tersita oleh dua bocah. Ganesh dan Arsyam!
****
14.54
Lumayan panjang ye...kan??? 🤭🤭🤭
Terimakasih sudah berkunjung 🤣. Sekali lagi moon maap kalo masih buanyyyaakkk typo bertebaran di mana2 🙏🙏 harap di maklumi ya pemirsahhhh 😁
Haturnuhun 🙏✌️✌️✌️
__ADS_1