Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 46


__ADS_3

Mobil yang Lingga bawa sudah terparkir di halaman minimarket yang hanya terjeda beberapa bangunan dengan kafe dan deretan perkantoran.


Lingga membantu Galuh turun dari mobil dan menggandeng istrinya menuju ke minimarket. Burhan dan karyawannya sudah duduk di teras minimarket.


Mereka menyambut kehadiran bos nya. Satu persatu menyalami Lingga dan Galuh.


"Kalian tidak ada yang terluka kan?",tanya Galuh. Mereka kompak menggeleng. Galuh menatap suaminya beberapa saat lalu memandang karyawannya yang bekerja di kafe. Hanya ada dua belas orang. Kepala chief tidak tinggal di mes karena sudah menikah.


"Barang-barang kalian tidak ada yang bisa di selamatkan ya?",tanya Lingga menatap anak buahnya. Karena pakaian mereka masih pakaian santai untuk tidur. Bahkan karyawan cewe masih memakai piyama.


Hanya ponsel dan dompet mereka yang bisa mereka ambil. Setidaknya itu barang berharga pribadi mereka.


"Kalian istirahat di gudang minimarket saja dulu sementara waktu ya, nanti kalo saya sudah selesai berurusan dengan polisi, saya akan cari tempat untuk kalian semua."


Karyawan Lingga dan Galuh tampak senang. Ya, mereka punya bos yang sangat perhatian dengan mereka.


"Sayang, kamu istirahat dengan mereka saja ya. Abang mau pergi sebentar sama Burhan. Kalo ada apa-apa hubungi Abang, ya?"


Galuh mengangguk pelan. Ya, dia memang merasa lelah sejak perjalanan dari kampung tadi pagi.


"Mba Galuh hamil berapa bulan?",tanya salah seorang karyawannya. Galuh dan yang lain sudah berada di gudang. Jangan bayangkan gudang yang berantakan dan banyak debu, tidak. Gudangnya rapi dan cukup luas.


"Masuk enam bulan mba!", jawab Galuh. Ia duduk di sofa.

__ADS_1


"Maaf ya, saya duduk di sofa begini!", kata Galuh tak enak dengan karyawannya. Sedang mereka malah duduk lesehan tanpa alas.


"Ngga apa-apa mba!", jawab mereka kompak.


"Kalian sudah makan?",tanya Galuh.


"Tadi pagi sudah, makan siang belum mba!", celetuk salah satu dari mereka. Ada teman nya yang menyenggol bahu anak yang nyeletuk tadi. Galuh menanggapinya dengan tersenyum. Ia mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah.


"Mas, beli K*C saja ya. Buat saya dan kalian semua, sama anak toko ini juga. Cukup ngga?",tanya Galuh. Semua menganga. Mereka pikir, Galuh akan marah karena kafe nya terbakar begitu saja. Padahal banyak penghuni di kafe tersebut. Tapi kenyataannya, dia masih berbaik hati.


"Iya mba!", salah seorang dari mereka pun menerima uang tersebut. Lalu dia mengajak temannya untuk membeli makanan di restoran ayam cepat saji yang terkenal tersebut.


Galuh bertanya banyak hal tentang kejadian yang menimpa kafe mereka. Bagaimana asal mula ada api dan melahap hampir semua bangunan termasuk bangunan tetangga. Hanya saja, kafe mereka yang paling parah. Menurut mereka, adanya korsleting listrik yang jadi pemicu terjadinya kebakaran. Tapi mereka akan menyerahkan semua ke pihak yang berwenang.


"Ada info rumah yang di sewa ngga Han? Biar jadi mes mereka. Tapi mes cewe cowo di pisah kaya mes di kafe kemarin."


"Saya cari tahu dulu mas. Semoga dapat secepatnya."


"Kira-kira, kalau kita renovasi kafe, butuh waktu berapa lama? Aku ngga mau memperpanjang kasus kebakaran ini. Kasian mereka kalo kelamaan ngga kerja."


Burhan langsung menoleh ke bos nya.


"Mungkin satu bulan, paling cepat itu mas."

__ADS_1


"Kamu pesan barang perlengkapan kafe Han, sama cari kontraktor yang mampu mengerjakan renovasi dalam kurun waktu kurang dari sebulan." Burhan terhenyak. Bos nya memang....


"Iya mas!", jawab Burhan. Mereka kembali ke minimarket. Burhan hanya mengantarkan, dia mencari informasi rumah yang akan disewakan untuk anak buahnya.


"Assalamualaikum!", Lingga masuk ke dalam gudang.


"Walaikumsalam, bang!", sapa Galuh.


"Udah makan Yang?",tanya Lingga. Galuh mengangguk, lalu menyerahkan kotak Makanan berwarna merah putih dengan gambar embah-embah berjenggot. Lingga tersenyum menerima kotak makanan tersebut.


"Oh iya, untuk sementara kalian bantu-bantu anak toko ngga apa-apa kan? Burhan sedang mencari tempat untuk kalian tinggal. Insyaallah, dalam sebulan kita renovasi kafe kita lagi. Jadi kalian bisa bekerja lagi."


Karyawan Lingga terdiam, entah harus dengan apa mereka harus berterima kasih pada bos nya yang memikirkan kesejahteraan karyawannya.


"Pak Lingga!",panggil salah satu karyawan.


"Iya?"


"Terimakasih banyak ya pak. Bapak baik sekali", katanya dengan mata berkaca-kaca.


Lingga tersenyum tipis.


"Jangan memuji ku berlebihan seperti itu. Saya dan keluarga saya pernah merasakan kesulitan lebih dari ini, dan karena itu...kami hanya ingin mencoba ikhlas dan berbuat yang lebih baik lagi. Kalian kerja kan tidak hanya untuk kalian nikmati sendiri. Ada keluarga yang menunggu kalian di rumah bukan?"

__ADS_1


Semua mengangguk. Mereka berjanji dalam hati akan setia dan tak mengecewakan bosnya yang sudah berbaik hati pada mereka.


__ADS_2