Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 105


__ADS_3

Syam mencoba menghubungi ibunya tapi untuk kesekian kalinya, panggilan itu tak terjawab oleh sang ibu. Syam yakin jika ponsel ibunya pasti ada di dalam tas , sedang beliau entah masih di tempat hajatan atau dalam perjalanan pulang. Ibunya mengatakan akan pulang sebelum malam. Sedang saat ini, hari sudah menjelang petang.


Panik? Iya lah! Syam tetap lah anak kecil yang butuh bantuan orang dewasa. Sesekali ia mengusap lembut kakaknya yang sudah pingsan.


"Bisa lebih cepat ngga pak Ujang?", tanya Syam pada sopirnya.


"Iya, Den!", Ujang mempercepat laju kendaraannya. Beruntung kota kabupaten ini tak sepadat ibukota. Andai di ibukota, entah kemacetan macam apa yang akan mereka hadapi.


Di sisi lain, Sekar dan Mumun serta yang lain sudah bersiap pulang dan akan menaiki kendaraan yang tadi mengantarkan mereka.


Entah hubungan batin atau apa, Sekar dari tadi tampak cemas. Tapi dia sendiri tidak tahu apa yang ia cemaskan.


"Ibu teh kenapa?", tanya Mumun. Dia duduk bersebelahan dengan Sekar.


"Ngga tahu bik, perasaan saya ngga enak!", jawab Sekar.


"Atuh coba telpon neng Galuh atau dek Syam. Barang kali mau nitip apa gitu Bu!", jawab Bik Mumun, Jaka sembung bawa timun 'tidak nyambung Mumun!'


Tapi Sekar tak menyalahkan ucapan Mumun. Ia pun mengambil ponselnya di dalam tas kecil yang tadi sudah Galuh siapkan untuk nya.


Matanya terbelalak lebar saat ada puluhan panggilan tak terjawab dari nomor Syam. Tiba-tiba pikirannya kacau. Dia takut terjadi sesuatu dengan anak-anaknya.


Jemarinya menekan kontak Syam.


[Assalamualaikum ibu....]


[Walaikumsalam, Syam? Kenapa sayang? Ada apa?]


Suara Sekar terdengar sangat panik.


[Ibu, Kakak jatuh. Sekarang udah mau sampai rumah sakit ****. Ibu ke sini ya Bu! Syam takut kakak kenapa-kenapa Bu!]


Syam kembali merengek. Lalu apa kabar Zea yang duduk di samping Ujang????


Gadis kecil itu pun sama takutnya! Ketakutan yang macam apa, hanya dia yang merasakannya!


[Iya, ibu nyusul ke sana Syam. Jagain kakak sampai ibu datang ya]


[Iya Bu]


Sekar memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Bik, saya turun di sini! Kalian langsung pulang saja ya!", kata Sekar pada Mumun.


"Tapi Bu, ini teh masih jauh. Ibu mau ke mana?", tanya Mumun cemas.


"Galuh masuk rumah sakit, Bik!"


"Astaghfirullah, ya udah atuh bu saya temani ibu!", kata Mumun.


"Ngga usah Bik, bibik pulang aja. Tolong, liat rumah saja. Ngga ada orang di rumah. Kalo nanti kami belum ada yang pulang, bik Mumun mau menjaga rumah semalam?"


"Iya Bu, tapi ..saya khawatir sama ibu kalau pergi sendiri. Apalagi ini udah mau petang."


"Ngga apa-apa Bik, tolong ya!", kata Sekar memelas. Mumun pun mengangguk pasrah.


Sekar menghampiri sopir dan mengatakan akan turun didepan sebuah rumah makan Padang. Awalnya si supir keberatan, tapi karena urgent akhirnya ia pun menurunkan Sekar. Setelah itu, mobil elf yang di tadi di tumpangi melesat menuju ke kampung mereka.

__ADS_1


Karena arah rumah sakit sama seperti tempat dimana hajatan tadi akan di gelar, Sekar bermaksud untuk menyebrang.


Tapi karena terlalu terburu-buru dan tak lihat situasi ia hampir saja tersambar mobil yang melaju kencang. Beruntung ada seseorang yang menariknya hingga perempuan cantik yang hampir tertabrak tadi kembali ke pinggir.


"Ibu ngga apa-apa?", tanya seorang laki-laki yang tadi menariknya ke pinggir.


Sekar pun menoleh padanya. Lalu kedua pasang mata itu saling menatap.


"Bu Sekar?", tanyanya.


"Mang Salim?", tanya Sekar balik. Salim membantu Sekar untuk berdiri.


"Ibu dari mana mau ke mana?", tanya Salim.


Ya Allah, mimpi apa aku bisa sedekat ini dengan nya??? Batin Salim.


"Saya ..saya habis dari hajatan. Tapi tadi Syam telpon ke saya katanya Galuh di bawa ke rumah sakit. Dia jatuh. Jadi niatnya saya mau balik ke kota lagi."


"Ya Allah, neng Galuh jatuh? Ya udah Bu, saya antar!", kata Salim.


Sekar sempat tak enak hati tapi, dia butuh tumpangan yang cepat agar segera sampai ke sana.


"Ayo, Bu! Silahkan!", Salim mempersilahkan dengan tangannya. Ia menunjukkan mobilnya yang ada di depan rumah makan Padang.


"Mang Salim mau ke mana memangnya?", tanya Sekar.


"Nyonya Gita menyuruh saya membawa barang-barang untuk tujuh bulanan neng Galuh , Bu!", kata Salim. Sekar menghela nafas pelan.


Lelaki itu membukakan pintu depan untuk Sekar. Sebenarnya Sekar tak keberatan, tapi Salim sendiri yang tak enak hati. Setelah ia duduk di balik kemudi, barulah ia mengatakan perasaan tak enaknya.


"Maaf ya Bu, bangku belakang isi barang-barang semua. Jadi ibu terpaksa harus duduk di sini!", ujar Salim.


Salim hanya mampu melirik perempuan yang sudah menggetarkan hatinya sejak pertama kali ia temui. Tapi seorang Salim pun sadar diri, sadar posisi. Dia hanya seorang supir! Tak mungkin pantas mengagumi nyonya nya?!


.


.


Galuh sudah di bawa ke UGD. Syam duduk sambil terus berzikir. Azan magrib berkumandang, tapi Syam masih bergeming di sana. Dia takut...takut jika dia pergi dari sana, tapi kakaknya....


Ah....seorang Syam pun bisa bersuudzon! Dan benar saja, seorang perawat keluar dari ruangan itu.


"Keluarga pasien?", tanya perawat itu pada Syam.


"Iya sus, kakak saya bagaimana?", tanya Syam.


"Adek, orang tua atau suami kakak kamu mana? Kami harus menyampaikan kondisi pasien!", kata perawat tersebut.


"Abang masih di Jakarta sus, ibu lagi dalam perjalanan ke sini!", kata Syam.


"Eum, kami butuh wali pasien dek. Kamu masih belum cukup umur!", kata perawat itu dengan lembut.


"Tapi saya bawa uang sus, saya punya beberapa kartu debit atas nama saya dan kakak saya juga. Ayo tangani kakak saya sus, apapun itu!", kata Syam.


Perawat itu sempat melongo melihat gepokan uang dan beberapa kartu yang ada di tangannya.


"Ini bukan hanya soal administrasi dek, tapi prosedur yang harus di lewati memang begini. Kami membutuhkan tanda tangan wali agar pasien bisa segera di operasi!", kata perawat lagi.

__ADS_1


"Ya Allah, kakak harus operasi lagi?", tanya Syam dengan suara bergetar. Perawat itu tak sampai hati melihat bocah tampan itu sangat mengkhawatirkan kakaknya.


"Iya, dek!", kata perawat itu.


Tiba-tiba Sekar berlari terburu-buru menghampiri Syam.


"Syam!", panggil Sekar dengan terengah-engah.


"Ibu!", pekik Syam.


"Sus, itu ibu saya Sus! Ayo sus, tangani kakak! Selamatkan kakak dan dd utun sus!", kata Syam menarik-narik tangan perawat tersebut.


Perawat itu mengangguk cepat.


"Bagaimana kondisi kakak Syam?", tanya Sekar.


"Kakak harus operasi Bu, ayo Bu...ibu tanda tangan secepatnya biar kakak dan dd utun bisa cepat di tangani!", pinta Syam.


Sekar pun mengangguk lalu ia pun mengikuti perawat tersebut yang akan mengurus administrasi. Tak lupa Syam menyerahkan uang dan beberapa kartunya.


Perawat itu hanya menggeleng heran.


Orang kaya begitu ya??? Anak kecil aja pegangannya kartu emas begitu?? Gumam si perawat.


.


.


"Papa, udah ada kabar dari pak Ujang?", tanya Glen saat papanya datang ke rumahnya.


Di saat yang sama, Helen pun masuk ke dalam rumah. Dia jengah pada mertuanya sejak tahu jika lelaki itu memiliki cucu selain Zea.


"Ganti pakaian mu Glen, kita harus ke kampung Lingga!", pinta Surya. Helen yang tadi mengabaikan mertuanya pun menatap lelaki dewasa itu.


"Ke kampung pa? Ada apa lagi?", tanya Glen bingung.


"Kita harus bertanggung jawab atas apa yang Zea lakukan!", kata Sekar memalingkan wajahnya.


"Zea? Kenapa dengan Zea? Apa hubungannya Zea sama kampung Lingga?", tanya Glen semakin bingung.


"Zea datang ke kampung Lingga. Dia memaksa Ujang mengantarkannya ke sana. Dan kamu tahu apa yang terjadi? Zea membuat keributan, dia mencelakai Galuh. Entah itu sengaja atau tidak! Yang pasti, saat ini Galuh dirumah sakit!", kata Surya.


"Apa????!", pekik sepasang suami istri yang ada di hadapan Surya.


"Aku ikut!", kata Helen pada papa mertuanya dan juga suaminya.


"Terserah!", kata Surya keluar rumah lebih dulu. Glen yang masih mengenakan jas nya pun mengganti pakaiannya begitu pula dengan Helen.


Kali ini Glen yang membawa mobil, sedang Surya memilih duduk di belakang sambil berbalas chat dengan Ujang untuk memantau keadaan Galuh dan Syam.


*********


09.07


Satu bab dulu kayanya...ngga tahu nanti 😄😄 tapi kalo ente2 pada berkenalan meninggalkan jejak kopi kembang dsb.... insyaallah up lagi nanti 😄


Masyaallah... percaya diri sekali Mak othor ini 🤣🤣🤣

__ADS_1


Betewe... hatur nuhun, mau jadi kang ojek bocil dulu wkwkwkwk


🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2