Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 6


__ADS_3

Delapan tahun berlalu....


Gadis cantik berkacamata dan berhijab itu sedang memeriksa bahan-bahan jualannya di warung makan. Iya, gadis itu adalah Galuh dewasa.


Perjalanan panjangnya untuk bisa sampai di posisi sekarang tidak lah mudah. Dulu, saat usianya belasan tahun ia hanya membantu ibunya berjualan gado-gado dengan gerobak di pinggir jalan.


Sedang saat ini, di usianya ke dua puluh enam tahun dirinya sudah memiliki sebuah warung makan yang cukup di kenal oleh kalangan anak muda. Tak hanya itu, kebanyakan karyawan yang bekerja di sekitar warungnya pun menjadi pelanggan tetapnya.


Bukan kafe atau restoran, tapi benar-benar warung yang dia disain untuk kalangan sepertinya. Galuh memang hanya memiliki lima karyawan di warungnya. Maka, dia sendiri juga kadang ikut menghandle jika warung sedang ramai.


"Kak!",seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun memanggil Galuh yang sibuk di dapur warung. Rumahnya memang berada di lantai dua. Sedang lantai bawah ia jadikan warung.


"Syam? Sudah siap? Ayok!",Galuh mengajak Syam, adiknya untuk berangkat ke sekolah.


"Kak!", panggil Syam lagi.


"Iya kakak lupa. Sebentar kakak ambil uang saku mu dulu!",kata Galuh beralih ke meja kasir.


"Bukan kak. Uang saku kemarin masih kok!", tolak Syam yang saat ini masuk di kelas dua SD.


Galuh pun beralih pada adiknya itu yang selisih umur cukup jauh dengannya. Pantas jadi anaknya mungkin.


"Ada apa Syam?",Galuh melembutkan suaranya.


"Lusa, tanggal dua puluh tiga kak. Kak Galuh mau pulang ke kampung kan?"


Galuh terdiam. Lalu setelah itu ia pun mengangguk pelan.


"Insyaallah Syam!", sahutnya sambil menggandeng tangan Syam. Galuh mengantar nya ke sekolah dasar yang tak terlalu jauh dari rumahnya.


Tak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit motor matic bity nya sudah terparkir di halaman sekolah dasar swasta itu. Kenapa swasta? Sekolah itu yang paling dekat dengan rumah. SD negeri cukup jauh. Sedang Galuh sendiri harus membagi waktunya untuk mencari nafkah.


Syam menyalami punggung tangan kakaknya dengan takzim.


"Belajar yang benar ya dek! Jangan nakal!",Galuh mengacak rambut adiknya itu.

__ADS_1


"Iya kak, assalamualaikum!",pamit Syam.


"Walaikumsalam."


Galuh pun menunggu Syam benar-benar masuk ke sekolahnya. Setelah memastikan Syam masuk, barulah Galuh kembali ke rumah sekaligus tempat usahanya.


Sepeninggal Galuh, sebuah mobil mewah berhenti di dekat gerbang.


"Zea, ingat ya! Dengarkan penjelasan guru mu baik-baik! Jangan bikin ulah lagi ya nak!",titah sang mama.


"Iya ma."


Zea hanya menyahuti seperti itu.


"Zea turun ya ma, pa!",pamit gadis kecil itu pada orang tuanya.


"Iya sayang!",jawab sepasang suami istri itu. Zea pun menuju ke kelasnya dengan riang seperti biasa. Berangkat ke sekolah adalah kesenangan tersendiri baginya. Karena apa?


Karena Zea yang usil bebas mengerjai teman sekelasnya yang pendiam. Siapa lagi kalo bukan Syam?


.


.


Galuh sudah sampai di rumahnya. Jam setengah delapan pagi, suasana warung selalu ramai. Kebanyakan orang mencari makanan untuk sarapan.


Sebenarnya tak banyak menu yang Galuh sediakan di warungnya. Tapi namanya sudah rejeki sudah di atur mah, meski itu-itu saja banyak orang yang kembali ke warungnya.


Melihat ketiga karyawan nya sibuk di depan, Galuh menggantikan karyawannya di kasir agar ia bisa membantu rekan lainnya. Sedang satu orang lagi standby di belakang untuk membersihkan perkakas makan para pelanggan.


Sekitar jam sepuluh, warung mulai sepi. Galuh bisa meninggalkan warungnya untuk menemui sang ibu di lantai atas.


Seperti biasanya, ibunya hanya duduk termangu menatap suasana sekitarnya dari kursi roda. Ya, Sekar mengalami kelumpuhan setelah melahirkan Syam. Di tambah lagi, psikis nya terganggu.


Delapan tahun Sekar seperti itu. Siapa yang tak iba melihat perempuan yang sebenarnya masih cantik itu diam seperti patung???

__ADS_1


Dan soal Syam, Sekar sama sekali tak menyentuh anak itu. Baginya, kehadiran Syam adalah malapetaka. Sekar sangat membenci Syam. Dalam bayangan Sekar, wajah Syam sama persis dengan pria yang sudah menodainya saat itu.


Lalu bagaimana dengan Syam? Anak lelaki itu tumbuh kuat. Dia selalu bersikap baik layaknya orang dewasa. Padahal...dia dewasakan oleh kenyataan. Ibunya tak pernah mengharapkan kehadirannya. Syam hanya merasa beruntung, dia memiliki kakak yang benar-benar sangat menyayanginya.


"Bu, udah mau siang nih. Makan ya?",ajak Galuh pada ibunya. Sekar menoleh sekilas pada putri sulungnya.


"Ibu capek Luh!",Sekar mulai mengeluh lagi seperti biasa.


"Bu, ibu ngga boleh ngomong gitu. Ada Galuh yang akan selalu mendukung ibu, menemani ibu!",kata Galuh meyakinkan ibunya.


"Kamu mau pulang kampung? Apa Lingga datang ke rumah kita?",tanya Sekar. Setiap ibunya menanyakan hal itu, hati Galuh selalu merasa sakit.


"Iya Bu, dia pasti datang!",Galuh meraih piring yang dia letakkan di meja tadi. Lalu menyodorkan nasi di depan mulut ibunya. Sekar pun menuruti perintah Galuh. Dia patuh makan siang dengan suapan dari Galuh.


Dua hari berlalu, setelah mengantar Syam, Galuh melesat menuju ke kampung halamannya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Galuh pasti pulang di tanggal pernikahannya dengan Lingga dulu.


Wajar kah dia masih berharap jika Lingga akan kembali memenuhi janjinya?


Galuh mengendarai roda duanya. Jika naik bus dia bisa menghabiskan waktu lima sampai enam jam, tidak dengan motor. Dia nyaris seperti pembalap. Pokoknya, sore hari dia harus kembali ke kota untuk merawat ibu dan adiknya itu.


Kendaraan hitam roda duanya sudah memasuki kawasan perkebunan. Dia selalu berhenti di depan gubuk di mana dirinya bertemu dan bertengkar dengan Lingga hingga berujung menikah dadakan.


Setelah lelah bernostalgia dengan masa lalunya yang seharusnya tak terlalu membekas, Galuh melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.


Setelah membuka pintu ruang tamunya, hanya helaan nafas yang terdengar dari bibir mungilnya. Keadaan masih sama, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak ada yang berubah!


Pesan yang ia tulis untuk Lingga masih teronggok di atas meja yang ia tindih dengan sebuah batu. Itu artinya Lingga memang belum pernah kembali ke tempat ini untuk memenuhi janjinya.


Gadis itu membersihkan rumah peninggalan ayahnya. Seperti biasa, Galuh akan mengenang kenangannya semasa kecil di rumah sederhana ini.


Setelah puas beristirahat, Galuh duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya ke punggung sofa.


Ia meraih botol minuman air mineral lalu meminumnya. Setelah itu ia mengunyah sararota yang sengaja ia beli di jalan tadi. Menjelang ashar, Galuh bersiap untuk kembali ke kota. Membersihkan rumah dan beristirahat selama satu jam di rumah peninggalan sang ayah, dirasa cukup olehnya.


Galuh pun melajukan kendaraannya menuju ibukota. Prediksinya, sekitar jam sembilan malam dirinya akan tiba di rumah.

__ADS_1


Saat ia melintas gubuk kenangan itu, ada sebuah mobil yang berhenti di sana. Tanpa menghiraukannya, Galuh pun melewati gubuk itu begitu saja.


__ADS_2