Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 68


__ADS_3

"Punten den, Tuan!", kata Mumun meletakkan teh dan kue di depan majikannya. Perempuan gempal itu meletakkan di pinggir gerbang yang memang di sediakan untuk duduk.


"Lho...bik?", Lingga sempat bingung kenapa tiba-tiba art nya membawakan minuman kepadanya.


"Si neng yang minta bibik bawain ke sini. Katanya teh ada tamu, papanya den Lingga. Katanya tuan besar teh betah liat pemandangan di luar makanya saya di suruh bawain kesini!", kata Bik Mumun.


Lingga tak habis pikir jika istrinya masih saja berusaha menutupi keburukan papanya sekalipun pada art nya sendiri.


"Oh iya, makasih Bik !", kata Lingga.


"Papa kemari mau jemput mama kamu. Bukan mau minta makan sama kalian. Kamu pikir papa tidak mampu membeli makanan buat papa sendiri!?"


"Lingga tidak berpikir seperti itu. Lingga tahu, papa mampu membeli apapun yang papa mau."


"Ya udah, cepat panggil mama kamu!", perintah Arya lagi.


"Pa, terserah papa mau marah atau benci sekali pun sama Lingga, sama Galuh. Tapi Lingga mohon, bersikap lah yang baik terhadap mama. Sambil menemui mama, papa masuk dan istirahat ya!?"


"Jangan sok mengatur dan mengajari papa. Papa tahu apa papa lakukan!"


"Bukan mau mengatur pa, Astaghfirullahaladzim! Pa, Lingga bisa lihat kalau papa lelah. Tubuh papa butuh istirahat! Jangan memaksakan diri seperti ini."


Arya sedikit lelah karena sejak datang ke rumah ini, ia hanya berdiri. Apalagi tenaganya juga cukup terkuras karena dari awal ia sudah berdebat dengan karyawan Lingga yang sejak tadi lalu lalang dengan kendaraan mereka meskipun dari gerbang yang berbeda.


Akhirnya, lelaki tua itu pun memilih duduk di samping teh dan kue yang bik Mumun bawa. Aroma teh melati yang masih berasap menggugah selera Arya. Ingin sekali ia merasakan hangatnya teh melati tersebut. Hanya saja... lagi-lagi rasa gengsi yang terlampau tinggi membuat ia enggan menyentuhnya.


Lingga menyadari jika papanya melirik minuman hangat itu. Tapi dia juga tidak bisa meledek papanya. Papanya bukan tipe orang yang bisa di ajak bercanda.


Perlahan, titik-titik kecil gerimis mulai berjatuhan. Pagi ini memang sedikit mendung dan juga berangin.


Lingga terbiasa di sini, sudah paham situasi. Dia memakai pakaian lengan panjang. Sedang papanya? Arya hanya memakai kaos berkerah lengan pendek. Ia yakin jika papanya pasti kedinginan. Dan pasti sang papa belum berganti pakaian sejak kemarin.

__ADS_1


"Pa, udah mulai gerimis. Ayo masuk kedalam!", pinta Lingga pelan.


"Ngga! Lebih baik papa kehujanan menunggu mama kamu dari pada harus menginjakkan kaki ke rumah kalian!", kata Arya masih dengan gaya songongnya.


"Oke, papa ngga masuk ke dalam rumah ku. Papa cukup berada di teras samping. Yang penting papa tidak kehujanan! Disini tidak hujan saja sudah dingin pa, apalagi hujan seperti ini. Lingga ngga mau nanti papa kenapa-kenapa!"


"Peduli apa kamu sama papa hah? Kamu sudah mempermalukan papa, masih bisa bilang kamu peduli?"


"Pa, ayo masuk! Dari atas udah keliatan mau hujan badai pa!", kata Lingga sambil menunjukkan arah bukit yang tak begitu jauh dari rumah.


Arya pun menoleh ke arah bukit yang Lingga maksud. Pria tua itu mendengus kesal. Bisa saja ia berada di dalam mobil, tapi jujur saja dia sudah ingin meluruskan pinggangnya.


"Ayok Pa! Yang penting papa istirahat dulu, kasian badan papa udah capek di perjalanan ke sini kan?!", Lingga masih mencoba merayu. Sedang Arya sendiri masih bergeming.


Suara celoteh anak-anak menarik perhatian bapak dan anak itu. Syam dan teman-temannya sudah pulang dari sekolah padahal masih sangat pagi jika untuk ukuran pulang sekolah.


"Assalamualaikum!", Syam menyapa Lingga.


"Walaikumsalam, kok masih pagi udah pulang dek?", tanya Lingga pada Syam.


"Adek masih ingat sama papanya Abang kan?", tanya Lingga. Syam menoleh lagi.


"Huum, kakeknya kak Angel kan? Makasih tuan, tuan yang sudah memberi saya nama kan?", kata Syam pada Arya. Arya tampak terpaku melihat sosok tampan kecil itu.


"Dek, jangan panggil tuan dong! Om atau opa, seperti Angel?!", pinta Lingga. Syam tersenyum dan menggeleng.


"Ngga bang, Syam kan bukan siapa-siapa nya Tuan!", kata Syam. Tapi ia mendekati Arya, lalu meraih punggung tangan Arya untuk di cium. Dan herannya, Arya seperti terhipnotis oleh pesona bocah kecil itu.


"Terimakasih tuan, sudah menyelamatkan saya dan ibu. Sudah mengazani saya, sudah memberikan nama juga buat saya!", kata Syam. Entah reflek atau entah lelaki tua itu sedang merindukan sosok Arsyam darah dagingnya sendiri, hingga ia mengusap puncak kepala Syam.


Lingga di buat tak percaya melihat sang papa bersikap demikian.

__ADS_1


"Hujan tuan, mari kita masuk! Kata kakak, hujan pertama itu suka bikin sakit. Karena ada zat-zat yang terkandung di dalam awan yang jatuh duluan!", kata Syam.


"Mana ada seperti itu!", kata Arya dengan nada ketusnya seperti biasa.


"Ayok bang, ajak tuan Arya masuk! Tuan Arya kan udah tua, lebih gampang sakit!", kata Syam.


Lingga ternganga tak percaya. Adik iparnya itu paling jarang bicara, tapi entah kenapa dari tadi ia bicara begitu panjang dengan papanya.


"Ayok!", ajak Syam lagi.


"Ah, iya! Adek duluan, simpan sepedanya dulu! Terus ganti baju!", titah Lingga.


"Iya!", jawab Syam sambil menuntun sepedanya. Lingga menoleh pada papanya. Arya masih menatap punggung Syam yang masuk ke dalam garasi.


"Ayo Pa! Hujan nya udah mulai deras!", ajak Lingga lagi.


Dengan terpaksa akhirnya Arya pun menuruti Lingga untuk masuk ke dalam rumahnya. Kebetulan ada karyawannya yang lewat. Lingga memintanya untuk membawa minuman yang sudah terkena gerimis itu di bawa ke dapur lalu meminta bik Mumun menggantinya dan di antar ke teras samping.


Lingga masih berpikir sejak tadi, dari mana Syam tahu sejarah kelahirannya dan juga namanya. Apakah dulu saat bertemu di rumahnya, dirinya pernah membahasnya dan Syam masih ingat????


"Teras mana?", tanya Arya dengan sedikit membentak.


"Ah, itu pa...ayok!", ajak Lingga pada Arya. Ada sedikit perasaan lega akhirnya Papanya mau di ajak ke dalam meski hanya di teras.


Senyum lelaki itu mengembang. Nyatanya... kehadiran Syam seolah bala bantuan yang di kirim untuk sekedar membawa sang papa masuk ke rumahnya.


Besar kemungkinan juga jika...lewat Syam juga, Lingga bisa meluluhkan hati papanya.


*****


Dobel up ye.... 🤭🤭🤭

__ADS_1


Semoga bisa di nikmati ✌️✌️✌️


terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏🙏


__ADS_2