
Bada isya, Lingga dan Syam pulang dari musholla. Entah kenapa sejak tadi Lingga merasa beberapa jama'ah tersenyum aneh padanya.
Apa ada sesuatu yang salah padanya? Penampilannya kah???
Lelaki tampan itu langsung masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju kokonya sebelum makan malam bersama ibu mertua juga adik iparnya.
Lingga menghampiri istrinya yang sedang melipat mukenah lalu menyimpan di tempatnya.
"Yang!"
"Heum?"
"Apa penampilan Abang ada yang aneh?", tanya Lingga.
"Aneh? Nggak! Biasa aja! Kenapa?", justru Galuh balik bertanya.
"Ngga apa-apa!", sahut Lingga pada akhirnya. Lalu ia pun berjalan ke arah lemari pakaian yang terdapat cermin di depannya.
Tadi saat selesai mandi, istrinya sudah menyiapkan pakaian untuknya. Lingga tak sempat bercermin setelah memakai baju Koko dan sarung.
Saat melihat ke cermin, mata Lingga tertuju pada lehernya yang sudah dibubuhi pahatan cinta dari sang istri.
Tumben???? Batin Lingga. Tapi mengingat istri nya sejak hamil sering mood swing, Lingga enggan bertanya.
Apa jangan-jangan jamaah masjid banyak yang melihat tanda cinta dari istrinya itu? Lingga menggeleng cepat dan hal itu di sadari oleh Galuh.
"Kenapa bang?", tanya Galuh sambil mengusap jakun Lingga yang naik turun. Lingga menelan salivanya dengan kasar.
"Ngga apa-apa sayang!", jawab Lingga.
"Abang ngga nanya kenapa aku kasih stampel di situ!", kata Galuh menunjuk leher Lingga dengan dagunya.
"Heuh? Eummmm...ya ngga apa-apa kan wajar suami istri seperti ini!"
Ya Allah, semoga jawaban ku aman untuk menghadapi bumil satu ini! Batin Lingga. Dia tak mau jika istrinya akan salah tanggap jika dia berbicara banyak.
"Oh gitu doang tanggapannya?", tanya Galuh.
Kan??? Salah lagi! Lingga berusaha sabar dalam menghadapi istrinya.
"Abang harus gimana dong yang?", tanya Lingga sambil merayu.
"Aku mau kasih tahu walaupun Abang ngga mau tahu!", kata Galuh memeluk pinggang suaminya posesif. Perut Galuh yang maju menghalangi pelukan mereka.
"Okay? Apa itu sayang!?", tanya Lingga dengan lembut.
__ADS_1
"Biar semua orang tahu, ini nih....!", Galuh menekan dada Lingga dengan telunjuknya.
"Laki-laki ganteng ini udah punya istri jadi jangan coba-coba buat tebar senyuman apalagi tebar pesona!", kata Galuh dengan tatapan galak.
"Astaghfirullahaladzim Yang!", Lingga mencubit hidung Galuh dengan gemas. Istrinya benar-benar posesif sejak hamil kedua.
"Biarin! Cuma aku yang boleh kaya gini!", kata Galuh manja.
"Ya kan emang cuma kamu Yang. Masa Bik Mumun boleh juga?", ledek Lingga.
"Mau gitu di peluk bik Mumun?", Galuh balik meledek.
"Hehehe ngga usah terima kasih! Cukup bidadari Abang saja!", rayu Lingga. Galuh pun terkekeh dengan rayuan receh suaminya itu.
Tok...
Tok...
"Kakak, Abang! Di panggil ibu! Di suruh makan malam!", kata Syam dari luar pintu kamar mereka.
"Iya!", sahut keduanya.
Mereka berdua pun keluar dari kamarnya. Lingga sekalian membawa ranselnya.
"Lho, Abang mau ke mana?", tanya Sekar.
"Syam, jagain Kakak sama ibu selama Abang ngga di rumah. Oke?"
"Siap! Insya Allah bang! Kerjaan Abang juga biar Syam aja yang kerjain. Kasian kak Galuh kalo kebangun terus malam-malam."
Galuh tersenyum mendengar adiknya berkata demikian.
"Iya Syam. Ibu Abang pamit dulu ya!", lingga mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Iya, hati-hati. Kabarin terus istri mu biar ngga khawatir!", kata Sekar.
"Insya Allah Bu!"
Lalu lingga pun beralih pada istrinya. Seperti sadar diri, Syam dan Sekar meninggalkan mereka berdua.
"Sayang? Ayah kerja dulu ya ke jakarta! Dedek utun nurut sama bundanya. Jangan rewel, oke?!", Lingga mengecup perut Galuh beberapa kali. Galuh meraih kepala Lingga lalu mengusap rambutnya.
"Abang hati-hati!", kata Galuh. Lingga pun mengiyakannya. Tak lupa ia mengecup kening istrinya dengan hangat. Galuh pun hanya mampu memejamkan matanya.
"iya sayang. Insyaallah Abang nanti kabari kamu terus Yang?!"
__ADS_1
"Heum, iya bang?"
"Abang jalan ya, assalamualaikum?", pamit Lingga.
"Walaikumsalam!", jawab Galuh. Lalu perlahan mobil Paj**** milik Lingga pun melesat keluar gerbang rumah.
Jika tak macet, kemungkinan jam satu dini hari nanti Lingga akan sampai ke ibukota.
.
.
.
[Ya Han? Kenapa?]
Lingga menerima telepon dari Burhan saat berada di perjalanan setelah dua jam berlalu. Burhan menghubungi Lingga karena tadi Lingga sempat menelpon Burhan untuk memesankan hotel untuknya via wa.
[Mas Lingga sudah sampai mana?]
[Masih sejam lagi sampai. Kenapa? Apa aku mengganggu istirahat mu? Kalo begitu kamu tidur saja Han. Toh kamu sudah memberikan kode booking nya pada ku!]
[Iya mas. Tapi...itu mas. Saya mau bilang, tadi ada yang mencari mas Lingga. Namanya Shiena]
[Hah? Shiena? Kok bisa di cari aku Han? Tahu dari mana?]
[Kurang tahu mas]
Lingga menghela nafas panjang. Jujur dia enggan berhubungan lagi dengan Shiena. Tapi untuk apa Shiena mencari dirinya???
[Ya sudah, biarkan saja! Yang penting jangan beri kontak ku padanya ya Han!]
[Siap mas]
[Ya udah, kamu istirahat saja Han! Makasih]
[Iya mas]
Lingga melepaskan handsfee nya lagi ketempatnya. Calon bapak itu memikirkan apa tujuan Shiena mencari dirinya. Bolehkah su'uzon???
Apakah ini yang dan sebut insting seorang perempuan, khususnya istri?????
*****
Post 22.02
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🙏🙏🙏