
"Ze?", panggil Lingga pelan pada adik sepupunya yang berusia sangat jauh darinya.
"Iya bang! Zea ...udah dorong Syam. Tapi Zea ngga bermaksud mencelakai kak Galuh. Kak Galuh yang ada di belakang Syam tadi. Makanya ikut jatuh kedorong Syam!", jelas Zea. Lingga menarik nafas dalam-dalam lalu memejamkan matanya untuk meredam gemuruh dalam dadanya.
"Ngapain kamu dorong-dorong Syam? Dan.... untuk apa kamu kesini?", tanya Lingga masih mencoba untuk bersabar. Bagaimana pun yang ia hadapi adalah anak kecil.
Zea menelan salivanya pelan. Kerongkongannya kering karena sejak tiba di rumah Syam hingga sekarang malam pun, dia belum minum sama sekali.
"Minum dulu Non!", pak Ujang memberikan sebotol air mineral pada Zea. Zea pun tak menolaknya bahkan langsung meminumnya hingga tandas tak tersisa.
Setelah Zea mulai tenang, baru lah gadis kecil yang menginjak remaja itu mencoba untuk menjawab. Bukan membela diri sebenarnya, hanya saja Zea ingin mengatakan apa yang dia rasakan.
"Dan kamu...hanya datang bersama pak Ujang?", tanya Lingga pada Zea lalu menolehkan kepalanya pada pak Ujang yang mengangguk pelan.
"Iya. Zea maksa mang Ujang biar nganterin ke sini, tanpa ijin mama papa!", kata Zea.
Lingga membuang nafas berat dan mengusap kasar wajahnya.
"Apa tujuan kamu ke sini? Yang pasti bukan mau menemui Abang kan?", tanya Lingga dengan nada suara lebih tinggi.
Zea memberanikan diri menatap kakak sepupunya.
"Zea mau menemui Syam. Dia udah ambil perhatian Abang, papa dan sekarang Opa! Zea ngga suka dia bang! Gara-gara dia, mama papa sering bertengkar! Mama dan Papa di marahi terus sama Opa! Zea benci dia bang, Zea benci!", teriak Zea mengeluarkan segala unek-uneknya.
Lingga menggeleng tak percaya jika gadis kecil yang ia sayangi selama ini bisa bersikap seperti itu.
Syam yang menjadi akar permasalahan kebencian Zea pun bangun dari bangkunya. Sekar mencoba untuk menahan Syam, tapi Lingga mencegahnya. Ia menggeleng pelan agar ibunya membiarkan apa yang akan Syam lakukan pada adik beda ibu tersebut.
Sekarang, Syam berdiri di hadapan Zea. Dua kakak beradik yang memiliki darah yang sama dari seorang laki-laki bernama Glenardi Suryaputra.
Zea pun turut bangun dari duduknya. Tinggi mereka yang tak berbeda jauh membuat keduanya sejajar.
Dua pasang mata itu saling berpandangan. Sorot kebencian jelas terlihat di mata Zea. Begitu juga dengan Syam! Dia tak membenci Zea karena statusnya. Tapi dia sudah mencoba mencelakai kakak dan calon keponakannya. Itu lah yang membuat Syam marah!
"Kamu bilang apa? Aku mengambil mereka dari kamu?", tanya Syam dengan nada pelan.
__ADS_1
Para orang tua di sana cukup cemas. Lingga memilih untuk bangkit dan menjauh! Dia tahu adik iparnya tidak akan bersikap kasar semarah apapun dia.
"Ya! Sejak kehadiran kamu, semua kacau! Anak haram!", kata Zea dengan mata tajam.
Jemari Syam meremas kuat. Sekar sendiri hanya mampu memejamkan matanya. Dia tak sanggup meski hanya berdiri di samping sang putra.
Dia tak kuat melihat Syam di sakiti seperti itu meski tidak secara fisik. Tapi lisan Zea benar-benar pedas!
"Iya, aku anak haram Ze. Anak yang di lahirkan karena kesalahan papa kamu yang bejat! Anak yang tak pernah di harapkan! Tidak seperti kamu!", tuding Syam.
Mata Syam mulai berkaca-kaca. Percaya lah, sekuat apapun bocah lelaki itu. Jika dia sudah di singgung tentang asal muasalnya, dia akan menjadi sosok yang mudah meleleh.
Zea memalingkan wajahnya tak sanggup menatap kakak satu ayah itu.
"Aku tidak merebut Abang, karena Abang memang suami kakakku. Dia bersama ku! Dan aku berhak bersama Abang dan mendapatkan kasih sayang Abang. Karena Abang, aku bisa merasakan seperti apa rasanya punya ayah karena Abang bisa berperan keduanya!", seru Syam. Zea sampai memejamkan matanya karena sedikit tersentak.
"Kamu pernah bilang padaku, jangan pernah ambil papa mu dari mu! Aku turuti bukan? Bukan aku yang mendatanginya ! Dia yang datang padaku di saat aku dan keluarga ku sudah tenang, Zeandra Suryaputra! Bukan aku!"
Hidung Zea kembang kempis menahan emosinya.
Zea masih tak mau menyahuti ucapan Syam.
"Boleh aku sombong Ze?", tanya Syam. Semua orang dewasa hanya melihat perdebatan.... tepatnya....Syam yang dominan, jadi tidak berdebat.
"Aku tidak gila harta apalagi nama besar keluarga kamu Ze. Ngga! Jauh sebelum aku mengenal kamu, aku sudah memiliki nama Saputra yang di berikan langsung oleh papa Arya!"
Zea mengeratkan rahangnya. Om nya saja yang notabene arogan selama ini, memanggilkan dirinya 'papa' pada Syam! Gadis itu menggeleng tak percaya tapi mulut nya masih terkunci rapat.
"Sekali lagi aku tekankan! Aku, anak haram ini tidak tertarik untuk menjadi bagian dari keluarga kamu yang terhormat itu!", kata Syam dengan menggebu-gebu. Zea kembali memalingkan wajahnya.
Tanpa kedua bocah itu sadari, dua pasang suami istri serta seorang laki-laki dewasa yang baru datang menyaksikan obrolan kedua bocah itu.
"Maaf! Aku tidak kekurangan uang Ze! Kalau kamu tahu, aku bahkan sudah mewarisi sekaligus mengurus perkebunan sayur ku yang sengaja kakak berikan padaku meskipun usia ku belum dewasa. Karena apa? Aku bukan penadah tangan yang hanya ingin di kasihani! Aku sadar diri Ze, aku bukan anak dari kalangan terhormat seperti kamu! Aku hanya anak ha-ram!", kata Syam penuh penekanan.
"Cukup Syam!", teriak Glen yang sudah tidak tahan dengan semua ucapan Syam yang sangat merendahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Sekar berusaha menenangkan dirinya agar traumanya tidak lagi datang. Dia mengucapkan istighfar berkali-kali dalam dadanya.
Salim yang melihat perubahan wajah Sekar pun menghampiri perempuan cantik itu. Salim reflek memberikan minuman mineral untuk menenangkan Sekar, dan Sekar pun tak menolaknya.
Kembali ke Glen.
Glen menghampiri dua anaknya. Bukan Zea yang jadi tujuannya, melainkan Syam. Dengan cepat, Glen memeluk tubuh bocah tampan itu.
Lelaki berdarah Timur Tengah itu memeluk erat Syam dan mengecup ubun-ubunnya dengan penuh emosi.
Apa reaksi Zea dan Syam???
Zea menggeleng cepat, memundurkan tubuhnya lalu bergerak cepat menghampiri Helen lalu menghambur dalam pelukannya.
Sedang Syam?
Bocah itu membiarkan 'papa' nya memeluk tubuh kecilnya. Apa yang Syam rasakan? Senangkah? Atau....
Untuk pertama kalinya dalam hidup Syam, dia merasakan pelukan sang papa. Tapi....
"Lepas!", kata Syam datar. Glen menggeleng lemah masih terus memeluk Syam.
"Maafkan papa nak, maafkan papa!", Glen mendekap erat bocah kecil itu dengan isakan kecil.
Air mata Syam lolos begitu saja. Apakah Syam akan luluh setelah drama ini???? 🤷🤷
Kita lihat saja nanti!
*****
17.42
Ada yang nunggu up ngga??? 🤭🤭
Lagi sibuk ngurusin para bocil yang mo pada perpisahan hihihihihi
__ADS_1
Jadi dari pagi sibuk GaJe sana sini mulu, belum dapat wangsit buat lanjutin kisah mereka. Betewe... terimakasih sudah mampir 🙏🙏🙏