
Lingga disambut oleh karyawan perusahaan papanya. Iya, perusahaan papanya, bukan miliknya. Karena Lingga sudah bertekad untuk mendirikan perusahaan sendiri.
Jika saat bersama Galuh dirinya tampak ramah, tidak saat ini. Wajah tampannya tak dihiasi dengan senyuman sama sekali. Siapapun yang melihat wajah tampan itu akan berpikir jika lelaki yang baru saja pulang dari Kanada itu, dingin dan kaku!
Acara perkenalan pun usai. Lingga dan Arya menuju ke ruangan mereka. Arya masih memantau kerja Lingga untuk satu Minggu ke depan sebelum ia benar-benar melepaskan kursi kepemimpinannya.
"Nanti, makan siang ada pertemuan dengan perusahaan AB!",kata Arya saat membawa putranya masuk ke dalam ruangan miliknya.
"Lingga tidak bisa, ada urusan!", sahutnya. Arya menoleh pada putra keduanya.
"Urusan apa? Istri siri kamu?",tanya Lingga.
"Yang jelas bukan urusan papa."
"Ckkk, apa sih kelebihan gadis itu? Kamu bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih cantik dan segala-galanya dari gadis itu!"
"Ini bukan perkara cantik Pa. Tapi tanggung jawab, seperti apa yang sering papa ajarkan dan gembar gemborkan pada Lingga."
"Tapi perjodohan kamu dengan Shiena akan tetap papa lakukan, ini demi kerja sama perusahaan yang akan membuat perusahaan kita nanti semakin besar!", pungkas Arya.
__ADS_1
Lingga tersenyum miring.
"Aku sudah bilang pa, aku sudah menikah. Aku seorang suami. Dan aku tidak mau di jodohkan! Terlebih untuk urusan bisnis. Pernikahan bukan ajang bisnis, Pa!"
"Lingga....Lingga, sekarang kamu masih bisa bicara seperti itu! Perjodohan antar pengusaha itu sudah biasa. Ayolah! Toh kamu masih beristri Galuh, tapi kamu menikahi Shiena secara legal! Kamu bisa memiliki dua istri sekaligus. Istri yang kamu cintai, dan istri yang akan mengembangkan perusahaan kamu!"
Lingga menggeleng pelan. Tak pernah ia bayangkan jika papanya akan berkata demikian.
"Di mana hati nurani papa? Papa lupa kalau Galuh yang sudah menyelematkan nyawa mama?",tanya Lingga pelan.
"Kenapa kamu masih bahas itu? Sudah papa katakan! Papa sudah membayarnya. Itu sudah lebih dari cukup! Kalo kurang, tinggal kamu beri saja. Anggap saja nafkah dari kamu! Jangan mempersulit diri sendiri Ga!"
"Perjodohan mu dengan Shiena akan berdampak luar biasa dengan bisnis kita Ga. Nantinya juga perusahaan ini, buat kamu!", Arya mendorong dada Lingga dengan telunjuknya.
"Papa berharap Shiena menjadi anggota keluarga Saputra??",tanya Lingga.
"Ya, tentu saja. Papa ingin dia menjadi nyonya Hans Arlingga Saputra."
Lingga tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kenapa tidak papa saja yang menikahi Shiena?"
Arya membulatkan matanya. Tangan nya langsung terulur untuk menampar Lingga.
Plakkkk....
Benturan kulit tangan dan wajah Lingga cukup terdengar begitu keras. Beruntung tidak ada orang lain selain mereka berdua.
Wajah Lingga tertoleh. Ia mengusap pipi nya yang memerah karena tamparan papanya begitu keras.
Lingga tersenyum sinis. Selain kasar secara verbal, papanya juga suka main fisik. Beruntung, Lingga tak ikut keras seperti papanya mengingat ia sangat menyayangi mamanya. Hanya saja, emosi Lingga mudah meledak-ledak. Tapi dia masih bisa mengontrol agar tak main tangan.
"Papa takut di katakan mengkhianati mama? Aku pun sama, karena kita sama-sama sudah beristri Pa!", kata Lingga masih mengusap pipinya.
Arya menatap telapak tangan nya yang sudah ia pakai untuk menampar Lingga.
"Aku memang belum sepenuhnya mencintai istri ku pa, tapi kami sudah berjanji akan menjalani pernikahan kami. Insya Allah sekali seumur hidup kami!", kata Lingga dengan nada suaranya yang cukup menekan. Ia melihat jam tangannya, sudah jam setengah dua belas siang. Itu artinya, ia harus menjemput Galuh untuk mengurus pernikahan mereka.
Tanpa berpamitan pada papanya, Lingga pun beranjak keluar.
__ADS_1
"Lingga! Kamu kemana Lingga! Dengarkan papa!",teriak Arya. Lingga sendiri sudah menghilang di balik pintu ruangan papanya.