Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 148


__ADS_3

Flashback on


Salim mengaduk kopinya usai pulang dari kediaman Arya yang baru bersama Syam. Meski sudah hampir malam, Salim menyempatkan diri membuat kopi sebelum pulang ke mess pabrik.


Bisa saja ia membuat di sana, tapi biasanya setelah sampai di mess dia hanya membersihkan diri, sholat lalu tidur sambil mengobrol sedikit dengan pekerja pabrik.


Tapi malam ini.....


Baru saja Salim akan mendudukkan bokongnya di bangku tempat ia biasa duduk, tiba-tiba listrik padam.


Dan bersamaan pula dengan suara Sekar yang terdengar menjerit. Spontan Salim menyalakan ponselnya. Dengan sumber cahaya senter ponsel yang cukup terang, dia langsung berlari menuju ke arah suara Sekar.


Tapi karena kondisi yang cukup gelap, Salim justru tersandung hingga tanpa sengaja ia justru menubruk hingga memeluk Sekar yang sedang berdiri ketakutan.


Beruntung Sekar bisa menahan dirinya juga badan Salim yang sedikit oleng jadi mereka tak sampai jatuh.


Bukannya melepaskan pelukan, keduanya justru seolah tersihir dengan situasi yang entahlah....


Dalam keremangan cahaya ponsel yang berada di belakang bahu Sekar, terlihat sisi wajah keduanya yang sedikit terkena cahaya ponsel itu.


Mata keduanya saling memandang seolah tak mampu berpaling dari pemandangan indah yang tak sampai sejengkal di depan mata.


Jika ada yang bilang, jangan berdua-duaan antara lelaki dan perempuan maka yang ketiga adalah setan, maka apa yang terjadi setelahnya mungkin salah satunya karena bujukan setan.


Setan : fitnah gue aja terusssss!!! πŸ‘ΏπŸ‘ΏπŸ‘Ώ


Siapa di antara keduanya yang memulai??? Huh! Tentu... lelakinya dong. Tapi... Sungkem bibir itu pun di sambut dengan baik.


Waahhhh! Ga eling umur!


Keduanya terpejam menikmati hal yang seharusnya tak terjadi pada dua orang yang bukan sepasang suami istri.


Meski bukan pertama kalinya bagi Sekar, tapi hal itu pernah ia rasakan bersama mendiang bapaknya Sekar. Tapi....berapa belas tahun yang lalu???


Keduanya memejamkan mata seolah menikmati momen langka tersebut. Saat tak ada ucapan sebagai ungkapan, nyatanya tindakan sudah cukup membuktikan.


Langkah tergesa Syam di tangga menyadarkan kedua insan yang sedang kasmaran tersebut hingga tautan itu terlepas.


Keduanya tampak kikuk saat menyadari apa yang baru saja terjadi. Dan posisi seperti itu jelas dilihat oleh Syam.


Terbukti Syam kembali ke kamarnya tanpa menghampiri sang ibu lebih dulu.


"Ehem...maaf Bu!", kata Salim. Antara enak dan ngga enak sih sepertinya hihihihihi...


Sekar pun mengangguk kaku dengan menunduk dalam. Ya...siapa pun akan merasa malu dalam situasi seperti itu.


"Itu...eem... sekali lagi saya minta maaf. Bukan maksud saya melecehkan ibu tapi...!"


"Ngga apa-apa mang Salim!", kata Sekar.


Ya Allah?!?! Murahan sekali aku ini! Sekar meremas kedua tangannya yang saling bertautan.


"Bu, eum...kalo saya boleh jujur...saya...saya...!"


Kalimat Salim yang menggantung dari tadi membuat Sekar gemas sendiri.


"Saya juga?!", kata Sekar melengos. Dia mengatakan hal itu yang terdengar cukup ambigu.


Juga apa????


Plashhhh... listrik kembali menyala.


Jeng...jeng...jeng....


Wajah dua orang yang baru 'bersilaturahmi' tersebut tampak memerah. Dua manusia yang berusia kepala empat itu terlihat sama-sama malu tapi juga sama-sama mau. Ya salam!!! Gimana itu???

__ADS_1


"Em...itu...em...!", Sekar mendadak tak bisa berucap.


"Saya ngga bertepuk sebelah tangan kan Bu maksudnya?", tanya Salim dengan mata yang terlihat berbinar.


Sekar mengangguk tipis dan tersenyum malu. Pokoknya mahhhh.... malu-malu mau tuh orang dua !


Salim merapatkan kedua bibirnya berusaha menahan senyumnya agar tak lebar dan tak menimbulkan kehebohan meski hanya mereka yang tahu.


"Makasih Bu! Terimakasih banyak! Eum... sebaiknya...ibu istirahat, sudah malam. Biar pintu dapur saya yang kunci."


Sekar mengiyakan dengan anggukan kecil dan masih tertunduk malu.


Siga ABG etahhh jelema duanana!!! 🀣🀣🀣


"Bu!", panggil Salim sebelum ia melangkah menuju dapur.


"Ke-kenapa Mang?", tanya Sekar tergagap. Jangan bilang mau mengulang adegan tadi πŸ˜†βœŒοΈ


Salim mengusap tengkuknya yang tak gatal.


Gimana ngomongnya? Batin Salim.


"Itu Bu...ibu ngga keberatan kalau saya...saya...saya sampaikan niat baik saya sama Non Galuh?", tanya Salim. Spontan Sekar langsung mendongak dan menggeleng cepat.


"Jangan dulu mang!", cegah Sekar. Salim tak berekspresi apa pun. Mungkin benar, ini terlalu terburu-buru.


Tapi bukankah niat baik harus di segerakan?? Dari pada berbuat yang 'iya-iya' seperti tadi?!


"Kenapa Bu? Bu Sekar tidak percaya sama kesungguhan saya?", tanya Salim sedikit takut.


"Bukan mang, tapi...jangan dalam waktu dekat ini. Nanti-nanti saja."


"Bu, maaf! Tapi...usia kita sudah bukan belia lagi. Apa perlu kita melalui masa penjajakan, pacaran?", tanya Salim. Lagi-lagi Sekar menggeleng.


"Bukan begitu tapi... tunggu semua kumpul di rumah mang. Dan suasana sudah kondusif. Jika sekarang-sekarang kakak sama Abang juga lagi sibuk. Saya ngga mau menambah beban pikiran mereka."


"Baiklah, kalo memang itu yang Bu Sekar mau. Tapi tolong kalau sudah siap, bilang saya ya bu!", kata Salim masih dengan senyuman manisnya.


Sekar mengangguk malu. Setelah itu Salim pun pamit pulang lewat pintu dapur. Kunci ia letakan di tempat biasa agar bik Mumun datang tak perlu mencarinya.


Sepanjang perjalanan menuju ke mess, senyum Salim sama sekali tidak memudar. Di sentuhnya bibir yang tadi sudah sungkem tanpa ijin. Lagi-lagi hanya tersenyum jika teringat adegan manis tersebut.


Tak berbeda jauh dengan Salim, Sekar pun tak bisa memejamkan matanya hingga dini hari.


"Astaghfirullah! Aku kenapa sih!", Sekar menutup wajahnya sambil tersenyum sendiri.


Flashback off


.


.


.


Di tempat yang berbeda,


Yudis mengamuk saat mengetahui jika Arya sudah berada di kampung sang menantu. Yudis benci tempat itu. Kenapa???


Ada masa lalu yang harus ia kubur dan tutupi hingga menjadi rahasia sampai hari ini. Rahasia apakah????


Tapi...dia belum puas jika dia belum berhasil mengalahkan Arya. Minimal membuat ia terpuruk. Dia tak mau kalah lagi dari sang adik tiri meski keduanya lahir dari ayah yang sama.


"Siapkan mobil! Kita ke kabupaten Xxx!", kata Yudis lantang kepada anak buahnya. Anak buahnya pun mengikuti titah bos besarnya.


.

__ADS_1


.


.


Lingga akan mengurus administrasi Ganesh yang sudah bersiap di perkenankan pulang esok hari. Tapi ternyata semua administrasi sudah terselesaikan oleh sang papa tentunya.


"Pa!", Lingga memanggil Arya yang sedang menemui Ganesh di ruang rawatnya, bukan lagi ruangan khusus.


"Kenapa Ga?", tanya Arya menoleh. Bukan hanya Arya, tapi juga Gita dan Galuh yang sedang duduk di samping box Ganesh.


"Boleh bicara sebentar?", tanya Lingga dengan raut wajah serius. Melihat wajah Lingga seperti itu, Arya pun mengangguk lalu keduanya pun keluar dari ruangan Ganesh.


"Abang mau ngomong apa ya Ma sama Papa, kenapa pakai keluar segala? Kita ngga boleh tahu?", tanya Galuh pada mama mertuanya.


"Mungkin belum di kasih tahu aja ke kita Luh. Ngga usah berpikir yang bukan-bukan."


Galuh mengangguk pelan lalu pandangannya kembali fokus pada baby Ganesh.


Arya dan Lingga duduk di bangku tunggu depan kamar rawat Ganesh.


"Mau ngomong apa sih sampai mukanya serius seperti itu?", tanya Arya.


Terdengar helaan nafas dari Lingga.


"Pa, terimakasih sudah membantu Lingga membiayai perawatan Galuh dan Ganesh. Maaf, bukan maksud Lingga buat menolak kebaikan papa. Tapi ... sebagai seorang suami, Alhamdulillah sekarang Lingga mampu memberikan yang terbaik buat istri dan anak Lingga Pa! Jadi....!"


Lingga menggantung ucapannya lalu ia menyerahkan sebuah amplop cokelat berisi uang yang banyak di telapak tangan papanya.


Lingga memang sengaja membayar dengan uang cash karena kebetulan dia juga akan membayar beberapa biaya produksi usahanya yang lebih suka cash dibandingkan transfer.


"Apa ini Ga?", tanya Arya menautkan kedua alisnya.


"Pa, aku tahu papa sudah berubah. Tapi...maaf! Kali ini Lingga benar-benar bisa memenuhi kebutuhan istri dan anak Lingga. Papa jangan tersinggung aku mengembalikan ini ke papa. Sungguh, aku ngga ada maksud untuk membalas dendam atas kejadian dulu Pa. Aku harap papa tidak tersinggung!", kata Lingga dengan tak enak hati tentunya.


Tapi dugaan Lingga salah, Arya justru tersenyum.


"Oke, papa terima uang ini!", kata Arya. Tapi ia mengambil tangan Lingga dan ia kembali menaruh uang itu di atas telapak tangan Lingga.


"Pa...!"


"Stttt...papa tahu kamu mampu Ga. Tapi, papa hanya ingin memberi hal kecil ini buat anak perempuan papa dan cucu papa kok. Bahkan papa sama sekali tidak berpikir jika kalian akan membalas dendam ke papa. Papa tahu kalian seperti apa!", Arya menepuk bahu Lingga pelan sambil tersenyum.


"Kamu memang sudah mapan Ga, tapi papa hanya ingin memberi untuk mereka. Itu saja! Kalau uang itu bisa berguna untuk yang lain? Kenapa tidak Ga??? Misal buat akikahan Ganesh dan Syam juga mungkin? Atau syukuran yang lain?", tanya Arya.


Lingga kehabisan kata-kata. Ia tak sanggup berkata apalagi hingga sebuah pelukan hangat ia berikan pada sang papa.


"Makasih Pa... makasih pa! Maafkan Lingga yang selalu berprasangka buruk sama papa!", kata Lingga. Arya menepuk bahu anak bungsunya tersebut.


"Papa paham Ga."


Lingga melerai pelukannya dari sang papa. Arya masih menepuk bahu Lingga dengan pelan.


"Ke kamar Ganesh lagi yuk, papa masih pengen liat!", kata Arya meninggalkan Lingga yang masih terpaku di sana.


Sepeninggal Arya, Lingga menimang-nimang uang yang ada di amplop cokelat tersebut lalu setelahnya ia tersenyum.


Apa yang papanya lakukan tidak salah, wajar jika seorang kakek ingin memberikan yang terbaik untuk cucunya.


Bukankah dulu dia pun melakukan hal yang sama saat putra pertama Galuh dan Lingga tiada????


*****


14.31


Buat kalian nih Mak2 kece badai 🀭🀭🀭

__ADS_1


Yuliana Tunru, Suci Dava, Cah Kangkung, Mita Sari, Ety Nadhif, Ririn, Umiroh Azzaitun,Yusni, Marlina djalis,Siti Nur Aisyah, Nunuy dan yang lain bingung mbok ga kesebut sadayana πŸ™βœŒοΈπŸ€­ maapkeun banyak2 πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™βœŒοΈβœŒοΈβœŒοΈβœŒοΈβœŒοΈ


Terimakasih πŸ™βœŒοΈπŸ˜


__ADS_2