Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 58


__ADS_3

Jam tujuh pagi, Gita dan yang lain sudah bangun. Karena di lantai atas tidak ada kamar mandi, mereka pun terpaksa antri di kamar mandi lantai bawah yang kebetulan ada dua. Di dekat ruang keluarga dan dapur.


"Ma, kak, Angel sarapan dulu ya?", sapa Galuh pada keluarga suaminya.


"Iya nak."


Gita dan anak serta menantunya duduk di bangku meja makan. Sedang Angel sendiri memilih untuk melihat taman samping ruang makan dimana banyak bunga yang bermekaran. Semalam suasana cukup gelap, dia yang menyukai bunga tak bisa melihat pemandangan seindah ini.


"Angel, sarapan dulu ya?!", pinta Galuh.


"Iya Aunty."


Angel pun duduk di samping Omanya. Matanya menelisik ke sekeliling, mungkin ada seseorang yang ia cari.


"Aunty!"


"Ya?"


"Oma Sekar, ke mana?", tanya Angel yang tak melihat keberadaan mertua dari om nya.


"Oh, ibu udah ke kebun sawi. Di belakang sana, agak kebawah", jawab Galuh.


"Bu Sekar ikut di kebun Luh?", tanya Gita sambil mengoles roti dengan selai coklat.


Alhamdulillah, untung masih punya stok roti tawar. Orang kaya di kota terbiasa sarapan roti, ngga kaya di sini. Cukup kopi sama rebusan singkong pun jadi. Tapi ...Lingga bisa dengan mudahnya menyesuaikan diri. Padahal dari kecil ia terbiasa seperti itu, ditambah lagi kehidupannya di Kanada....


"Ah? iya Ma. Ibu ngga mau diam. Alasannya... beliau bosan di rumah terus. Tadi mau ngajakin mama ngobrol, tapi....mama belum turun!", Galuh nyengir kuda.


Ibunya memang sudah di bilangin, di suruh jangan ke kebun dulu karena ada tamu, alasannya minder katanya mau ngobrol apa. Mau bagaimana lagi???

__ADS_1


"Maaf ya, mama kerasan banget tidur di sini. Tanpa AC aja udah dingin begini."


Galuh tersenyum tipis.


"Oh iya aunty, Syam...ke mana?", mata Angel menelisik ke segala penjuru ruangan.


"Oh, Syam kalo Sabtu Minggu biasanya main badminton sama teman-temannya di lapangan desa. Tadi Syam juga ijin mau main ke sungai di ujung kampung bawah sana", jelas Galuh.


"Wow, badminton? Tahu begitu, aku ikut aunty. Angel juga suka badminton. Lalu...ke sungai? Apa tidak bahaya?"


Angel teringat kasus tenggelamnya seorang laki-laki yang sedang berada di negara Eropa sana.


"Insyaallah tidak An. Sungai nya kecil dan berbatu. Bukan sungai dengan air yang dalam dan tenang."


Angel mengangguk pelan. Dia tak pernah ke tempat seperti itu sebelumnya.


"Di makan sarapannya An!", titah Vanes pada putrinya. Dia tak enak pada Galuh karena sejak tadi, setiap akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, Angel selalu bertanya.


"Aunty, memang tidak sakit perut pagi-pagi makan nasi dan....apa itu kentang pedas?", tanya Angel setelah semuanya selesai sarapan.


"Kami di biasa sarapan seperti ini sayang. Kalo orang sini bilang mah, belum makan namanya kalo belum makan nasi!", jawab Galuh.


Bik Mumun pun mendekati mereka, mengambil bekas sisa sarapan mereka sambil tak henti-hentinya permisi pada keluarga majikannya.


"Itu, art kamu Luh?", tanya Vanes.


"Iya kak. Berhubung rumah nya ngga jauh, jadi bik Mumun datang pagi, sore pulang. Kan dia mah juga punya keluarga yang harus di urusin. Kasian kalo di suruh nginep di sini."


Vanes mengangguk paham. Entah apa yang di pikirkan oleh kakak ipar Galuh itu.

__ADS_1


"Oh ya Luh, boleh kakak tanya?", tanya Puja.


"Silahkan kak? Tanya apa?"


"Eum...papa kamu, di mana?", tanya Puja. Mungkin Lingga tak pernah menceritakan detail seluk beluk keluarga istri nya saat di Kanada dulu. Lingga hanya bercerita jika dirinya sudah menikah dan terpaksa meninggalkan Galuh karena tekanan dari papanya.


"Bapak sudah meninggal waktu Galuh masih kelas satu SMA, kak!", jawab Galuh sambil tersenyum.


Puja dan Vanes mengangguk pelan. Tapi...tidak dengan Angel.


"Kalo papanya aunty meninggal waktu aunty masih sekolah, lalu Syam???"


Galuh dan Gita sama-sama menegang. Apakah tidak apa-apa jika mereka menceritakan asal usul Syam pada keluarga Puja???


"Assalamualaikum!", seseorang memberi salam.


Semua mata tertuju pada seseorang yang memberi salam tadi. Mata Galuh berbinar.


"Abang!", Galuh langsung bangkit menghampiri suaminya lalu memeluknya begitu erat. Lingga menyempatkan mengecup puncak kepala Galuh.


"Ma, kak!", sapa Lingga.


"Tahu-tahu udah ada di sini aja kamu! Nyusul jam berapa?", tanya Gita.


"Heheh sebelum subuh Ma, gantian sama Burhan!", tak lama kemudian Burhan muncul. Dan ya.... mereka berbasa-basi alakadarnya.


"Ga, kakak mau bicara setelah kamu istirahat. Bisa kan?", tanya Puja. Lingga tahu, banyak hal yang ingin Puja tanyakan padanya. Maka dari itu, ia mengiyakannya.


"Iya kak, aku ganti baju dulu sebentar. Ayo Yang!", ajak Lingga pada Galuh sambil merangkul bahunya.

__ADS_1


Gita tersenyum melihat kemesraan Lingga dengan Galuh. Terlihat sekali jika mereka benar-benar saling mencintai.


__ADS_2