Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 44


__ADS_3

Lingga dan Syam baru saja pulang dari musholla kampung. Suasana kampung yang lengang dan nyaman menjadi salah satu alasan Lingga betah di kampung istrinya.


Terbiasa hidup bergelimang harta bahkan bertahun-tahun di Kanada, tapi bagi Lingga di kampung inilah tempat ternyaman selama ia hidup di usianya yang sudah masuk tiga puluh empat tahun. Sudah dewasa dan matang bukan?


Dan...ya... pencapaian nya lelah berjuang selama ini pun sudah bisa ia nikmati.


"Makan dulu dek, Bang!", pinta Galuh pada suami dan anaknya.


Kakak adik yang baru pulang dari musholla pun menuruti Galuh yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.


"Syam!", panggil Sekar.


"Ya Bu?"


"Kamu tadi kenapa?", tanya Sekar. Syam menoleh sekilas pada kakak iparnya, tapi Lingga sengaja tak menanggapi Syam. Dia sibuk dengan tangannya yang mengambil lauk.


"Ngga apa-apa Bu", jawab Syam singkat. Sekar tak mau lagi bertanya lebih. Keduanya memang sudah damai, tapi mungkin karena Syam tidak dekat dengannya sejak kecil membuat hubungan keduanya masih sedikit canggung.


Makan malam pun berlangsung hening. Syam yang lebih dulu selesai makan malam.


"Syam mau belajar. Duluan ya Bu, kak, bang!", pamit Syam menuju ke kamarnya di lantai atas.


Mereka bertiga hanya menganggukkan kepalanya saja. Makan malam pun usai, Sekar yang penasaran dengan sikap anaknya pun bertanya pada menantu kesayangannya.


"Adek kenapa sih bang? Ibu mau tahu!", kata Sekar. Lingga menatap ibu mertuanya sebentar.


"Bu, Lingga bukan ngga mau cerita sama ibu. Tapi Lingga cuma takut bikin ibu kepikiran. Mending ibu ngga usah denger ya!"


Sekar buru-buru menggelengkan kepalanya.


"Cerita sama Ibu, bang!", Sekar memohonkan pada menantunya.


Lingga pun menceritakan pertemuan antara dirinya dengan Glen dan juga Syam yang bertemu langsung dengan papa biologisnya.


Sekar tak mampu berkata-kata. Dia akui, dirinya salah. Andai dulu dia menerima pertanggungjawaban Glen, mungkin Syam tidak akan merasa seperti ini. Dan dirinya tak perlu di cap sebagai orang 'gila' selama bertahun-tahun. Tapi ya... semua sudah berlalu. Toh kehidupannya sekarang sudah jauh lebih baik.


Tapi siapa sangka, jika Syam masih lah anak-anak yang di paksa mengerti keadaan.


"Ibu istirahat saja di kamar ya Bu!", pinta Galuh. Sekar pun menuruti ucapan putri sulungnya.


Galuh merapikan bekas makan malam mereka, Lingga pun turut membantunya. Mereka kompak melakukan hal itu bersama-sama.


Tak lama kemudian, azan isya berkumandang. Niat hati, Lingga ingin kembali ke mushola tapi ternyata hujan begitu lebat.


"Jamaah di rumah aja sama aku bang!", kata Galuh.

__ADS_1


"Heum, iya sayang?!", jawab Lingga.


Kedua pun menuju kamar mereka yang ada di bawah.


Hujan semakin deras mengguyur kampung yang sejuk itu. Suasana yang dingin semakin dingin karena hawa dari hujan angin.


Galuh dan Lingga memilih untuk merebahkan diri meski malam belum terlalu larut. Keduanya saling bercerita tentang hal-hal yang sebenarnya sederhana. Tapi justru dari sana, keduanya saling melengkapi satu sama lain.


Berbeda dengan keluarga kecil Glen yang menginap di salah satu hotel di daerah itu. Niat hati ingin ke pasar malam, nyatanya alam tak merestui. Hujan dari sebelum isya sampai malam menyapa tak kunjung reda.


Mood Glen sudah terlanjur buruk sejak bertemu dengan keponakan istrinya. Memang, di depan Lingga ia bersikap arogan. Tapi dalam hatinya, ia ingin sekali memeluk Syam. Keinginan yang sudah lama ia impikan, karena sejak melahirkan Zea, Helen tak bisa lagi memberikan nya keturunan. Padahal dia sangat menginginkan anak laki-laki. Tapi bukan berarti dia tak menginginkan Zea.


Sayangnya, itu hanya angan-angannya. Dia sudah terlanjur memilih untuk melanjutkan kehidupan normal nya dengan Helen tanpa memperdulikan perasaan Syam, darah dagingnya sendiri. Kenapa? Helen mengancam akan berpisah jika ia berani mengakui Syam jadi anggota keluarganya.


Egois? Mungkin! Tapi sebagian perempuan pasti akan merasakan hal sama seperti apa yang Helen rasakan. Bagaimana bisa dia dengan tangan terbuka menerima anak dari perempuan lain?


Glen menoleh ke arah kedua perempuan cantik yang berharga dalam hidupnya. Zea dan Helen sudah terlelap karena lelah dan rencana mereka gagal total.


Glen memilih untuk keluar dari kamar mereka menginap. Dia ingin menenangkan diri. Tapi saat pintu tertutup dari luar, Helen membuka matanya. Dia paham, suaminya pasti sedang galau karena setelah beberapa lama ia dipertemukan lagi dengan anak lelakinya.


'Aku tahu kamu dan keluarga mu sangat menginginkan anak laki-laki untuk meneruskan keturunan kalian. Tapi aku tidak rela jika karena kehadiran Syam, posisi Zea tersingkirkan!' batin Helen. Helen yang sebenarnya baik pun kini menjadi egois sejak mengetahui jika suaminya memiliki anak dari perempuan lain yang hadir karena kebejatan suaminya.


.


.


"Udah malam bro!", kata Andre tiba-tiba menepuk bahu Glen.


"Ga bisa tidur gue!", kata Glen.


"Kepikiran Lingga?"


"Ya."


"Lo mau tahu alamatnya?", tanya Andre. Glen langsung menoleh.


"Gue ga punya muka buat sekedar ke sana Ndre!"


"Why???"


Glen tampak membuang asap rokok yang tadi ada dalam mulut sekaligus hidungnya.


"Lo ingat, jaman kita baru beberapa tahun mendirikan pabrik ini? Sebelum gue gabung?"


Andre mengangguk cepat.

__ADS_1


"Lo dan anak-anak bikin gue mabok parah sampai nidurin cewek?"


Andre memundurkan kepalanya, memang benar bahwa mereka sampai mabok parah tapi soal nidurin cewek, Andre sepertinya tak ikut-ikutan.


"So???", lanjut Andre bingung.


"Cewek yang gue tidurin hamil."


"What? Astaga!", pekik Andre terkejut.


Glen tak lagi menyahut, ia kembali menyalakan rokoknya untuk yang ke sekian kali. Entah sudah habis berapa batang.


"Lalu, Helen tahu hal ini?", Andre penasarannya. Glen mengangguk.


"Gue dan Helen juga tahu belum lama ini, mungkin sekitar tiga tahunan yang lalu."


"Gimana ceritanya?", Andre memajukan bangkunya.


Glen menceritakan kejadian yang ada di rumah kakaknya saat dimana ia mengetahui bahwa Arsyam adalah putranya dan Galuh istri Lingga, keponakan istrinya.


Andre menggelengkan kepalanya.


"Gila ini mah! Beneran gila Lo Glen!"


"Gue juga mau ngakuin Syam, Ndre. Tapi masalah nya anak istri gue. Mereka ngga terima kehadiran Syam karena kesalahan di masa lalu gue! Gue juga pengen deket sama darah daging gue, apalagi Lo tahu kan gimana keluarga gue? Mereka sangat menginginkan anak laki-laki dalam keluarga kami!"


"Ya setidaknya Lo ngakuin ke anak itu, Lo ayah biologisnya dong! Percuma Lo bilang pengen deket sama darah daging Lo kalo ga ada aksinya."


"Helen mengancam pisah kalo sampai gue ngakuin Syam di depan keluarga besar! Gue ngga mau nyakitin Helen dan Zea."


"Tapi Lo udah nyakitin mereka juga sekali pun Lo kaya gini. Apalagi anak laki-laki Lo!", entah kenapa Andre jadi merasa ingin menoyor kepala sahabatnya yang sudah tak lagi muda sepertinya.


"Terus gue harus apa??? Gue nemuin mereka? Cewek yang gue perko** aja depresi Ndre. Gimana kalo kedatangan gue bikin dia makin depresi!"


"Tunggu, mertua Lingga itu Bu Sekar, apa dia yang udah Lo lecehin?", tanya Andre yang baru ngeuh! Glen pun mengangguk.


Andre yang sudah berumah seperti Glen sempat tertarik dengan Sekar saat ia berkunjung ke rumah Lingga. Karena semua tahu jika Sekar sudah sendiri sejak lama.


"Gila Lo sumpah!", kata Andre tiba-tiba bangkit dari bangkunya.


"Woi, kenapa Lo jadi sewot begini sih Ndre?", Glen turut bangkit.


"Gak. Sorry... mungkin gue udah kelewat baper gara-gara dengar cerita Lo! Gue balik ke kamar!", kata Andre meninggalkan Glen begitu saja.


Glen yang bingung dengan sikap sahabat nya pun ikut kembali ke kamar nya setelah membayar tagihan kopinya.

__ADS_1


__ADS_2