Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 182


__ADS_3

Lingga membangunkan istrinya untuk sholat subuh. Tapi mungkin karena terlalu lelah sisa aktivitas semalam, perempuan beranak satu itu masih tertidur pulas. Hal itu tidak berlaku bagi Lingga. Justru ia terlihat lebih segar dari sebelumnya. Entah kenapa bisa begitu.


"Yang!", panggil Lingga lirih. Hanya gumaman kecil dari bibir istrinya.


Lingga membungkukkan badannya mendekati telinga sang istri dan mengecup pipinya beberapa saat.


"Sholat subuh dulu Yang!", bisik Lingga.


"Nanti bang, masih ngantuk!", Galuh melenguh.


"Udah jam setengah enam lho! Nanti kaya yang di sinetron-sinetron ikan terbang. Menantu perempuan di julid-in sama ibu mertuanya gara-gara bangun kesiangan. Apalagi kita lagi numpang lho!", kata Lingga.


Mau tak mau Galuh membuka matanya, mencerna ucapan suaminya. Seketika ia menoleh pada suaminya yang sedang menahan tawa.


"Emang mama Gita gitu ya bang? Perasaan enggak deh, lagi pula kita kan num-pang di-ru-mah i-bu...!", kata Galuh tersendat.


Lingga mengedikan bahunya sedikit. Rupanya ucapan suaminya cukup dicerna dengan baik oleh seorang Galuh.


"Baru tahu Abang suka nonton sinetron!", kata Galuh beranjak dari tempat tidur tanpa menghiraukan Lingga.


Ganesh pun terbangun dari tidurnya. Bayi itu menangis mencari keberadaan sang ibu. Dengan sigap Lingga mengangkat Ganesh.


"Anak ayah yang sholeh kok nangis sih?? Cup...cup...jangan nangis dong pinter. Ibu mau sholat dulu. Kita keluar yuk...!", Lingga mengoceh sendiri. Sedang si bayik masih menyisakan tangisnya.


Lingga pun mengajak Ganesh keluar dari kamar mereka. Suasana begitu sepi. Masih setengah enam pagi, aktivitas di kebun belakang sudah terlihat dengan beberapa pekerja.


Sebagian ada yang membereskan sayuran yang masih bisa di selamatkan. Mereka mau mengambilnya untuk di masak. Biasanya sayuran sisa di sortir tadi dini hari.


Lingga hanya mengintip dari dalam jendela. Masih terlalu dingin, kasihan Ganesh jika di ajak keluar sepagi itu. Apalagi pagi berkabut putih menambah hawa dingin yang semakin menusuk.


Kebetulan Ganesh nya pun sudah tak menangis. Bahkan bayi itu mulai berceloteh sambil sesekali menggigit jemarinya.


Usianya sudah mendekati tiga bulan. Tentu banyak perkembangan dari bayi yang dilahirkan secara prematur tersebut.


"Bang, mau bikin teh?", tawar Galuh yang sudah selesai sholat subuh kesiangan.


"Eum... boleh!", jawab Lingga. Galuh pun beranjak ke dapur. Ternyata ibu dan bapak tirinya serta kedua mertuanya ada di sana. Mereka berempat sedang


 mengobrol.


Keempatnya menoleh saat Galuh tiba di dapur. Perempuan itu tersenyum simpul menyapa para orang tuanya.


"Ganesh mana Luh?", tanya Arya pada menantunya.


"Sama Abang, Pa!", jawab Galuh. Arya yang sempat melihat pertengkaran anak dan menantunya sudah bisa menilai jika sepasang suami-isteri itu sudah kembali damai.


Ternyata apa yang dia cemaskan tidak terjadi.


"Bik Mumun ngga datang kak. Katanya mau ke kampung suaminya."


"Oh...iya bu, ngga apa-apa. Nanti biar kakak yang masak. Udah lama kan ngga makan masakan kakak?", tanya Galuh.


"Tapi takutnya nanti Ganesh rewel kak!", kata Sekar lagi.


"Kan ada Abang, udah tenang aja!", kata Galuh yang beralih ke meja kompor. Dia akan membuat teh untuk dirinya dan suaminya.


Tak lama kemudian, Lingga bergabung dengan para orang tua.


"Eh, cucu opa! sini!", Arya meminta Ganesh dari gendongan Lingga. Bayi itu pun tak menolak. Tangan dan kakinya lincah berpindah dari ayahnya ke Opa nya.


"Kamu mirip banget sama ayah kamu Nesh!",puji Arya pada sang cucu.


"Iya Pa!", sahut Gita yang memainkan tangan Ganesh.


"Oh iya Ga, gimana soal tanah pak Haji?", tanya Arya pada Lingga.


"Nanti Lingga obrolin langsung sama pak Haji nya pa. Kalo menurut Lingga, pak haji perlu membicarakan masalah internal keluarga mereka tanpa melibatkan kita sama sekali."


Galuh menyimak obrolan suami dan papa mertuanya.


"Mungkin ada baiknya, kamu ngga usah ambil tanah itu!", kata Arya. Semua mata tertuju pada Arya. Tak terkecuali dengan Galuh yang sedang mengaduk teh nya.


"Kan kita bisa menunggu masalah mereka selesai lebih dulu ,Pa!", kata Lingga. Arya menggeleng.


"Jangan! Kamu bisa mencari tempat lain."


Lingga terdiam.


"Tapi Lingga pikir tempat itu strategis", sanggah Lingga.


"Strategis tak menjamin kebahagiaan keluarga kamu. Dari pada hubungan kalian bermasalah, lebih baik tak perlu melanjutkannya!", kata Gita.

__ADS_1


Lingga dan Galuh menautkan kedua alisnya masing-masing.


"Ga, istri mu atau bahkan kamu mungkin bisa saling mengalah. Tapi apa setelahnya semua akan jauh lebih baik setelah ada perselisihan di awal?", kata Gita.


Terlihat sepasang suami istri muda itu diam.


"Papa yang bilang kalau semalam kalian bersitegang saat di rumah sakit!", kata Arya. Salim dan Sekar menjadi pendengar obrolan antara menantu dan mertua. Lingga dan Galuh saling berpandangan.


"Kakak, Abang! Kami bukan mau ikut campur urusan pribadi kalian. Tapi ... tolong bicarakan baik-baik. Jangan bertengkar. Cari solusi sama-sama, ya?", kata Sekar. Baik Galuh dan Lingga pun mengangguk tipis mendengar nasehat dari para orang tua mereka.


"Nanti temani ke rumah pak haji ya pa!", pinta Lingga.


"Iya, jangan lupa ajak bapak kamu juga! Kalau kamu lupa, papa ingat kan. Rumah yang papa tinggali sekarang juga Salim yang mencarikannya!", ujar Arya.


Lingga menoleh pada bapak tirinya.


"Ehem...aku lupa pa, ada bapak yang punya bakat jadi broker!", kata Lingga.


"Ketinggian atuh broker, pan ngga main saham. Cuma calo kali Bang!", kata Salim di sertai kekehan ringan. Tampak nya mantan supir Arya sudah mulai bisa beradaptasi dengan keluarga mantan majikannya yang kini menjadi besannya.


"Oh iya, boleh Galuh menyela sebentar? Mungkin keluar tema dari obrolan kita sebelumnya!", kata Galuh.


"Mau ngomong apa Yang?", tanya Lingga.


"Ehem...maaf sebelumnya, kakak pernah punya nazar dulu Bu... bang...bah!" , kata Galuh pada suami, ibu dan juga bapak tirinya.


"Nazar apa Yang?", tanya Lingga menautkan kedua alisnya.


"Eum...dulu, dulu banget bang. Waktu aku masih belum punya rejeki melimpah seperti sekarang, aku....pengen banget ibu berangkat umroh. Dan... berhubung sekarang ibu udah ada Abah juga, bagaimana kalau ibu sama Abah umroh. Sekalian bulan madu! Dan juga ...papa sama mama! Apa kalian keberatan?", tanya Galuh dengan sedikit takut-takut di akhir kalimatnya.


Lingga merangkul bahu Galuh dan tersenyum.


"Bagaimana bah,ibu? Mama dan papa juga?", tanya Lingga pada dua pasang orang tua nya.


"Alhamdulillah, ibu akan dengan senang hati menerima hadiah luar biasa seperti itu. Jujur, ibu juga ingin sekali ke baitullah!", kata Sekar terharu. Salim mengusap punggung tangan istrinya yang terharu hingga menitikkan air matanya karena sangat bahagia.


"Alhamdulillah! Abah juga ngga keberatan kan bah? Bukan maksud Kakak yang gimana-gimana tapi....ini udah nazar kakak dari dulu!", lanjut Galuh. Salim tersenyum dan mengangguk.


"Iya, Abah terimakasih sekali sama kakak!", kata Salim yang bingung mau mengatakan apa. Tapi ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Arya dan Gita tentu saja berbeda.


Mereka bukan tersinggung karena 'hadiah' gratis dari menantunya. Tapi....mereka menyadari jika selama ini, mereka sudah kufur nikmat.


Sejak dulu, mereka di beri kesempatan memiliki harta yang berlimpah. Seharusnya untuk sekedar umroh, mereka sanggup membiayainya. Bahkan tidak hanya untuk keduanya tapi anggota keluarga lainnya pun sanggup Arya tanggung biayanya.


"Pa?", panggil Galuh. Arya sedikit tersentak mendengar panggilan menantu tersayangnya itu.


"Apa papa keberatan? Maaf! Galuh tidak bermaksud menyinggung perasaan papa. Galuh sadar, papa lebih berada dibandingkan kami. Tapi...."


"Apa papa pantas mendapatkannya Luh? Kamu tahu seperti apa papa. Bahkan ibadah papa saja belum sempurna!", kata Arya. Tampaknya, Gita pun berpikiran seperti suaminya. Bukan perkara biaya yang dia pikirkan, melainkan mental mereka yang sepertinya terlalu dini untuk melakukan ibadah istimewa tersebut.


"Papa, mama! Iman seseorang itu sering pasang dan surut. Jika memang kali ini papa dan mama bisa berangkat umroh, itu salah satu cara Allah memberikan kesempatan buat mama dan papa mendekatkan diri dengan Nya. Maaf, kalo ternyata...niat Galuh membuat mama dan papa tersinggung!", kata Galuh menunduk.


Gita beringsut mendekati menantunya. Diusapnya pundak Galuh dengan pelan.


"Kami tidak tersinggung, hanya saja... kami tertampar dengan....ya ...kamu tahu sendiri, mama dan papa masih harus banyak belajar!", ujar Gita.


Tak ada sahutan dari Galuh yang masih setia berdampingan dengan Lingga.


"Ngga apa-apa Luh, jangan menunduk seperti itu. Mama senang menerima maksud baik kamu, bukan begitu Pa?", tanya Gita pada suaminya. Awalnya...Arya cukup ragu, tapi melihat menantunya menunduk seperti itu.... akhirnya mantan lelaki arogan yang sudah luluh itu mengangguk pelan.


Senyum bahagia merekah di bibir Galuh. Matanya berbinar bahagia meski hanya anggukkan kepala dari papa mertuanya.


"Alhamdulillah, makasih ma, Pa!"


"Seharusnya kami yang berterima kasih Luh!", kata Arya. Galuh menggeleng.


"Ngga pa! Galuh tahu, papa jauh lebih mampu dari kami!", Galuh menoleh pada suaminya.


"Tapi... alangkah bahagianya kami sebagai seorang anak yang bisa memberangkatkan umroh untuk para orang tua kami!", kata Galuh.


"Masyaallah... beruntung sekali kami memiliki anak perempuan seperti kamu Luh!", Gita mengusap pipi Galuh yang masih setia tersenyum.


"Mama jangan berlebihan. Galuh tak sesempurna itu. Justru Galuh yang beruntung, mama dan papa sudah melahirkan anak laki-laki yang kini jadi suami Galuh. Tanpa Abang, mungkin...semua hanya jadi impian Galuh!"


Lingga menggeleng.


"Ngomong apa sih, makin ke sini makin ke sana!"


Lingga berusaha menutupi rasa harunya. Bagaimana pun juga keduanya saling melengkapi satu sama lain.


"Sebelum Abang ke rumah pak Haji, mending kamu masak Yang. Abang juga kangen masakan kamu!", pinta Lingga.

__ADS_1


"Iya Bang! Nitip Ganesh ya! Kalo perlu mandiin sekalian!", ujar Galuh bercanda.


"Akan saya laksanakan nyonya!", sahut Lingga hormat.


Akhirnya, Ganesh di jaga oleh para lelaki tampan beda generasi tersebut. Sedang Galuh di temani oleh ibu serta mama mertua memasak untuk keluarga besar mereka.


.


.


.


Untuk pertama kalinya, Syam berada di tengah-tengah keluarga papa kandungnya. Helen melayani sarapan keluarga kecil tersebut. Terlihat senyumnya merekah di bibir tipis perempuan cantik itu.


"Syam mau pakai selai apa? Cokelat? Stroberi?", tanya Helen yang sedang mengolesi roti tawar untuk Zea.


"Eum? Syam...ngga biasa sarapan seperti itu, boleh ngga syam minta buatin telor ceplok sama si mbok?", tanya Syam.


Glen menghentikan kunyahannya lalu saling berpandangan dengan sang istri.


Helen tersenyum tipis. Lalu menyerahkan roti tawar yang sudah di olesi selai coklat pada Zea.


"Mau telor ceplok aja? Ngga pakai sosis, NuGet?", tawar Helen. Glen tersenyum mendengar istrinya menawarkan hal itu pada anak lelakinya.


"Telor aja ... Tante!", kata Syam. Bagaimana pun juga, ia masih kagok bersikap seperti apa pada istri ayahnya tersebut.


"Oke, sebentar ya! Mama buatkan dulu. Si mbok lagi ke pasar!", kata Helen beranjak dari duduknya. Zea cukup terkesima mendengar ucapan Helen.


Abangnya benar, mama Zea memang sebenarnya baik. Mungkin karena kesalahpahaman kemarin yang membuat hampir semua memojokkan dirinya. Padahal...andai ada yang mengerti posisinya, belum tentu ada yang mau merasakan seperti apa yang Helen rasakan.


"Awas ya Ma! Mentang-mentang ada Syam, Zea di cuekin!", Zea mulai cemburu lagi.


Glen dan Helen terkekeh mendengar celetukan Zea. Sedang Syam sendiri malah bersikap acuh, gak mau menanggapi Zea.


"Oh iya, apa rencana kalian hari ini? Mau ke mana? Monas? Ragunan? Dufan Ancol?Taman safari?", tanya Glen pada kedua anaknya.


"Zea udah pernah semuanya kali Pa!", seru Zea.


Tak mendengar jawaban dari Syam, Glen kembali bertanya.


"Gimana Syam, mau ke salah satu tempat itu?",tanya Glen lagi.


"Mana aja lah Pa!", jawab Syam pasrah bersamaan pula dengan Helen yang selesai menggoreng telur lalu di sajikan pada anak tirinya.


"Dari tempat itu, mana aja yang udah Syam kunjungi? Barangkali ada yang belum?", tanya Helen duduk kembali di bangkunya.


"Belum pernah ke mana-mana selain Monas!", jawab Syam singkat. Sepasang suami istri dan anaknya menatap Syam.


"Dulu waktu Syam tinggal di sini kan, ibu masih sakit. Kakak sibuk cari nafkah. Ngga kepikiran buat wisata kaya gitu. Paling....kakak ngajak ke kampung, itu pun ngga lama."


Glen meneguk salivanya dengan kasar. Perasaan bersalahnya semakin besar. Dalam sudut hatinya ia benar-benar merasa bersalah dan berhutang budi pada Galuh.


Selain menafkahi putranya, Galuh pun sukses mendidik seorang Syam hingga ia sebaik sekarang.


"Ehem...kakak ngapain ke kampung?", tanya Zea. Syam menoleh pada saudara tirinya tersebut.


"Dulu, sebelum kakak ketemu Abang lagi, kakak pasti pulang ke kampung. Memastikan Abang datang apa ngga di tanggal pernikahan mereka."


Nyes! Dada Helen merasa....


Glen memilih memalingkan wajahnya agar tak melihat wajah lugu dua anaknya.


"Tapi, Alhamdulillah... sekarang semua sudah jauh lebih baik. Buat Syam, ibu dan Kakak adalah segala-galanya. Termasuk Abang juga!", lanjut Syam.


"Kalau papa?", Glen memberanikan diri bertanya pada sang putra.


"Bagaimana pun masa lalu buruk hubungan kita, Syam tetap anak papa!", jawab Syam. Mungkin jawaban Syam terlalu ambigu. Tapi setidaknya, Glen menyadari jika tak ada kata terlambat untuk memperbaiki segalanya meski tak mengubah masa lalu mereka.


******


21.22


Mohon maaf, sedang sibuk di dunia nyata. Makasih komen, like dan masukkan kalian para reader's. Baik yang ngikutin othor atap silent reader sekalipun. Pokoknya terima kasih banyak. Mau kasih ide atau sarana, Mak othor terima dengan baik sekali 🤭🙏


Terimakasih


Haturnuhun


Matursuwun


Tengkyu 🙏✌️🙏🤭✌️

__ADS_1


__ADS_2