Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 212


__ADS_3

Lagi memikirkan endingnya yang pas bagaimana. Soalnya othornya sadar diri makin sini isinya makin ke sana 😆✌️. Dulu target 100 bab eh...malah ngelunjak 200 bab. Ga tahu ntar ujung2nya berapa 🙈. Maafkan daku jika kalian boseeeen 🙏🙏🙏🙏🙏🙏😭


Happy reading 🤗🤗🤗


*********


"Astaghfirullah!", Lingga di tarik oleh seseorang yang akan menyeberangi jalan sepertinya.


Setelah berada di tepi jalan juga mobil truk yang melaju kencang sudah menjauh, barulah Lingga menyadari kejadian yang begitu cepat tadi.


Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya jika orang itu tak menariknya ke tepi jalan.


"Kalau menyeberang jangan sambil melamun!", kata seorang laki-laki beruban yang memakai seragam dinas.


"Eh...iya maaf ya pak. Terima kasih bapak sudah menolong saya. Saya ngga tahu kalau tidak ada bapak nasib saya seperti apa."


"Iya sama-sama. Lain kali hati-hati!", kata lelaki itu.


"Sekali lagi terimakasih pak!", kata Lingga. Lelaki itu meninggalkan Lingga lalu masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di antara mobilnya dengan mobil Inka.


Lingga memasuki mobilnya lalu menenggak air putihnya. Dia masih sedikit shock. Tapi yang kuasa masih melindunginya hingga detik ini. Entah jika tidak ada bapak tadi, mungkin dia tinggal nama.


Lingga tak bisa membayangkan jika dia harus meninggalkan istri dan anaknya.


"Nauzubillah! Astaghfirullah ya Allah!", Lingga mengusap wajahnya membayangkan yang buruk-buruk.


"Alhamdulillah, terimakasih masih melindungi ku Ya Allah", monolog Lingga.


Dia masih ada janji bertemu dengan juragan pasir yang menjadi supplier pabriknya. Tapi kali ini tempatnya tak terlalu jauh dari kampungnya. Jadi dia bisa sekalian jalan karena satu arah dengan rumah.


Lingga merogoh ponselnya saat ada chat dari Arya. Lelaki itu sempat menautkan kedua alisnya beberapa saat hingga kemudian hanya helaan nafas yang keluar dari bibirnya.


"Apa pun yang papa lakukan, aku yakin itu yang terbaik!", monolog Lingga lagi. Lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


.


.


.


Puja dan Lukas mempublikasikan semua bukti-bukti yang menyudutkan Lita, di depan direksi dan pemegang saham yang lainnya.


Kasian? Sebenarnya Puja merasa kasian, tapi kesempatan yang Puja berikan pada istri mendiang om nya itu tidak di gunakan dengan baik.


Dia masih menjelekkan Arya dan lebih parah memfitnah menantu bungsu yang tak banyak di kenali oleh rekan bisnis Puja.


Bahkan...korban yang di fitnah saja tidak tahu jika dirinya menjadi korban! Galuh memang tidak tahu menahu. Lita saja yang keterlaluan, terlalu mengada-ada memang!


Dan ... gara-gara celoteh Lita di medsos yang menyudutkan pihak Arya dan Galuh, sekarang banyak kaum pencari berita yang mencari tahu tentang Galuh.


Sayangnya, Galuh tidak terlalu aktif di media sosial. Jadi...dia tak tahu jika sedang menjadi artis dadakan gara-gara Lita.


Karena Lita tetap menjalankan rencana semula meski Inka sudah tak mau ikut campur.


"Kamu benar-benar keterlaluan Puja!", Lita menggebrak meja di hadapan semua orang yang ada di ruang rapat kantor.

__ADS_1


"Saya hanya menunjukkan yang sebenarnya karena Tante sudah menuduh adik ipar saya dan papa saya bahkan memfitnah mereka! Maaf Tante, setelah ini tante akan menyadari jika sanksi sosial lebih kejam dari pada hukuman!"


Lita sudah terlanjur emosi dan siap menyerang Puja. Tapi beberapa orang menahan perempuan yang sudah tak muda lagi tersebut.


"Terakhir kali saya peringatkan Tante! Sudahi kekonyolan Tante maka Tante akan nyaman menghabiskan masa tua Tante!", kata Puja.


"Kurang ajar kamu Puja! Brengsek!", Lita meronta tak mau di tahan oleh orang-orang Puja.


Puja kembali memimpin rapatnya. Dia meminta maaf pada mereka semua yang memaklumi tindakan Puja pada Lita. Sejauh ini, tindakan Puja masih di anggap wajar karena tidak kasar dan tidak main fisik.


Di satu sisi, Arya mengerahkan orangnya yang ahli IT untuk meredam berita tentang beredarnya tuduhan Lita terhadap dirinya dan juga Galuh yang dianggap mengambil alih kuasa perusahaan Yudis atas nama Galuh.


Beruntung Arya yang masih memiliki karyawan-karyawan mumpuni dan royal padanya meski dirinya tak lagi menjadi pemimpin utama di perusahaannya.


Nyatanya, meski ia ada di kota yang jauh dari perusahaannya ia masih bisa memantau segala sesuatunya terutama putra sulungnya yang pasti akan menjadi incaran lawan bisnisnya.


Sayangnya berita itu sudah terlanjur beredar meski tidak berani hiperbola seperti judul-judul sebelumnya yang di unggah.


Dari kejadian ini, Arya ingin memperkenalkan Galuh pada khalayak umum bahwa gadis yang berasal dari kampung kecil itu adalah menantu bungsunya.


Arya melakukan zoom dengan Puja di ruang rapat. Hampir semua berdecak kagum pada sosok lelaki yang sudah tak muda lagi itu. Meski dari dulu Arya di kenal begitu arogan dan nampak ambisius, kenyataannya dia tak pernah mengambil apa yang bukan hak nya.


Perusahaan yang ia rintis sejak awal menikah, hingga kini masih berdiri kokoh karena jiwa kepemimpinan seorang Arya.


Setelah puas berbicara via zoom, Arya kembali beraktivitas dengan sang istri di kebun. Rencananya sore nanti dia akan ke rumah Lingga untuk menemui cucunya.


Di sela kesibukannya di kebun bersama Gita, Arya menerima panggilan dari salah seorang suruhannya yang masih bernaung di bawah kendali Salim.


[Ya?]


[....]


[Apa kamu bilang?]


Suara Arya terdengar marah saat mendengar berita dari ujung telponnya.


[.....]


[Oke...kawal kemanapun dia pergi]


[....]


[Mau apa dua perempuan itu?]


[....]


[Oke, berikan semua informasi padaku]


Arya menjadi khawatir dengan putra bungsunya. Benarkah mobil pengangkut batu tadi tidak ada niat sama sekali untuk mencoba mencelakai Lingga?


Tapi saat Arya mendapatkan balasan pesan dari Lingga, ia yakin putranya baik-baik saja.


.


.

__ADS_1


.


Bel istirahat berbunyi. Sebagai anak baru, Riang dikerubuti oleh teman sekelasnya. Sayangnya, meski bernama Riang pembawaan gadis itu tetap kalem dan tenang. Tapi dia mau menjawab setiap pertanyaan yang teman-temannya ajukan.


"Bawa bekel Syam?", tanya Deni.


"Bawa, kamu mau,?", Deni menggeleng.


"Ya udah aku ke kantin dulu kalo begitu!", kata Denis. Satu persatu teman-teman Syam meninggalkan Riang karena mereka juga ingin jajan.


Syam menoleh ke belakang, tepatnya menghadap belakang. Dan itu artinya ia berhadapan dengan Riang.


"Kamu ngga istirahat keluar?", tanya Syam pada Riang. Gadis itu hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis.


"Mau makan bekal ku? Ibu ku bawain banyak."


Syam meletakkan kotak nasinya di depan Riang yang diam saja sejak tadi.


"Maaf, aku puasa!", jawab Riang. Kunyahan Syam terhenti saat menatap wajah Riang yang tersenyum. Dengan gerakan slowmo, Syam kembali menghadap ke depan.


"Maaf!", kata Syam lirih tapi masih cukup di dengar oleh Riang.


"Bukan salah kamu Syam!", lanjut Riang yang kembali sibuk dengan bukunya.


Tak terasa jam pulang sekolah pun usai. Anak-anak berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Tak terkecuali Syam dan Deni. Deni dan dua temannya naik sepeda bersama. Sedang Syam memilih menunggu Abah atau Abangnya menjemput. Tapi di luar dugaan, seorang laki-laki dewasa dengan uban yang mulai memenuhi mahkotanya, melambaikan tangannya pada Syam.


"Opa!", Syam terlihat bahagia melihat kehadiran kakeknya.


Surya menghampiri cucu lelakinya.


"Opa kapan sampainya?", tanya Syam.


"Tadi siang!", jawab Surya. Lalu matanya beralih pada sosok gadis manis yang berjalan ke arah mereka berdua.


"Teman kamu Syam? Belum di jemput juga?", tanya Surya.


"Iya", sahut Syam.


"Nak, kamu belum di jemput!?", tanya Surya pada Riang.


"Rumah kamu di mana? Biar Opa antarkan, yuk!", ajak Surya pada Riang.


Riang menoleh ke Syam apakah ia mengijinkan jika dia boleh menumpang lagi seperti tadi pagi.


Tapi belom sempat Riang menjawab, sebuah ojek menghampirinya yang menunjukkan bahwa mamanya memesankan ojek untuk nya.


"Duluan Syam, opa!", pamit Riang.


Kakek dan cucu itu sedang menikmati quality time dengan obrolan ringan di samping mobil Surya. Dia sudah menghubungi Lingga dan Salim agar tak menjemput Syam. Alhasil, keduanya menikmati kebersamaan mereka berdua.


******


Terima kasih 🙏🙏🙏


21.34

__ADS_1


__ADS_2