Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 147


__ADS_3

Gita dan Galuh kembali ke depan kamar Ganesh. Kali ini keduanya semakin mengembangkan senyum saat Gita di beri kesempatan untuk menyentuh sang cucu. Tidak hanya itu, dia memegang botol susu untuk Ganesh. Seperti itu saja dia sudah sangat bahagia.


Sesederhana itu kebahagiaan seorang nenek????


Lain Gita, lain pula Arya yang duduk bersama sang bungsu. Wajah Arya terlihat begitu serius kali ini setelah tadi tertawa lepas bersama menantu bungsunya.


"Ada yang mau Lingga ceritakan pa!", kata Lingga.


"Iya? Apa?", tanya Arya.


"Ada beberapa orang yang sepertinya sengaja ingin mencelakai aku dan Galuh, tapi ...aneh nya ada juga orang yang seolah sedang melindungi kami. Apakah ... mereka orang papa?", tebak Lingga.


"Orangnya Salim!", jawab Arya.


"Orang mang Salim?", Lingga menautkan kedua alisnya.


"Iya. Orang-orang yang memang di tugaskan untuk melindungi kalian."


"Hah? Melindungi kami? Kenapa dengan kami?"


Terdengar helaan nafas dari bibir Arya.


"Kamu tahu, perusahaan Malik, papa Shiena sekarang sudah berpindah tangan atas nama perusahaan kita Ga. Itu tidak kita rampas dengan cara curang kok. Perusahaan mereka memang memiliki hutang yang banyak dengan perusahaan kita. Apalagi, sejak beberapa tahun ini Malik selalu kalah tender."


Lingga tak menyela ucapan papanya. Dia fokus mendengarkan apa informasi yang akan papanya beri tahu. Apalagi, ini melibatkan dirinya dan keluarganya.


"Malik dan Yudis, om kamu itu bersahabat. Kamu tahu itu kan?", tanya Arya. Lingga mengangguk.


"Beruntung kamu tak jadi menikahi Shiena Ga. Entah kalau sampai hal itu terjadi, mungkin penyesalan papa akan semakin besar."


"Lingga ngga ngerti, maksud papa apa?", tanya Lingga dengan pertanyaan yang banyak melintas di otaknya.


"Malik dan Yudis bekerja sama ingin menghancurkan papa lewat pernikahan kamu dan Shiena. Beruntung....saat itu tindakan yang kamu ambil benar Ga. Kamu tetap memilih istri kamu, menantu kesayangan papa!"


Arya dan Lingga tersenyum.


"Sekarang kesayangan, apa kabar dengan kak Vanes?", ledek Lingga.


"Ya, papa sayang dengan kedua menantu papa!", sahut Arya lagi. Lingga menggeleng pelan dan tersenyum tipis.


"Lalu, apa hubungannya om Yudis dengan orang yang akan mencelakakan kami?"


"Orang-orang itu suruhan Yudis."


"Papa yakin? Dari mana papa tahu?", tanya Lingga penuh selidik.


"Yudis datang kerumah basa basi seperti itu lah. Apalagi dia menyinggung soal kamu dan Galuh. Papa yakin dia yang menyuruh orang-orang itu!"


"Sebenarnya mau om Yudis itu apa sih Pa!", Lingga merasa cemas jika itu berhubungan dengan istri juga anaknya.


"Dia hanya ingin papa hancur Ga. Tapi... sepertinya dia lupa siapa yang dia lawan kali ini. Dulu, papa hanya anak kecil yang mudah ia tindas. Tapi sekarang kami sudah sama tuanya."

__ADS_1


"Bukankah perusahaan Eyang ada dalam kendalinya?", tanya Lingga yang sebenarnya tak pernah ingin tahu urusan perusahaan keluarganya.


"Huum, tapi mungkin ada yang kamu tidak tahu Ga. Om Yudis tidak kompeten dalam mengelolanya. Yah ... lagi-lagi sebagian asetnya ada di papa. Tapi jangan salah sangka! Sekalipun papa menyebalkan dan mungkin arogan, tapi papa selalu jujur dalam berbisnis."


Lingga tahu hal itu, karena sekali pun papa nya kasar mendidiknya dari kecil tapi kejujuran sudah terlanjur tertanam sejak kecil.


Tapi ada yang Arya lupakan! Dia tidak jujur saat awalnya Arya yang ada di balik semuanya tentang kehidupan Galuh dan Lingga. Sudah lah! Itu masa lalu!


"Pa! Terimakasih sudah berusaha melindungi kami!", kata Lingga tulus.


"Itu kewajiban papa Ga. Selagi papa masih mampu, kenapa tidak! Selama papa masih hidup dan masih bisa melakukannya untuk kalian. Anak-anak dan cucu papa!"


"Papa melindungi kami, apakah papa juga melakukan hal yang sama pada kak Puja dan kak Vanes?"


"Puja sudah melakukannya tanpa papa minta. Begitu pula mertua Puja. Mereka tidak akan membiarkan Vanes dan Angel dalam masalah apalagi bahaya!", jawab Arya.


"Papa benar-benar sudah pensiun dari dunia bisnis Pa?", tanya Lingga.


"Mungkin untuk saat ini papa tidak akan seperti saat muda dulu. Ada Puja yang akan melanjutkannya. Kamu yang tak mau mengambil alih Ga!", cibir Arya.


"Hehehe papa nikmati masa tua dengan bermain bersama cucu papa saja di rumah!"


"Heum, atau ... untuk mengisi kesibukan papa ingin berkebun juga. Tapi tidak untuk seperti usaha kalian! Papa hanya ingin mencari kesibukan saja!"


"Iya, terserah papa dan mama saja. Lingga akan mendukung apa pun asal itu untuk kebaikan kalian!", kata Lingga.


.


.


.


Setelah Syam masuk ke kamarnya, seperti biasa Salim menghabiskan waktu di dapur sebelum kembali ke pabrik batako untuk membantu rekannya.


Saat mengaduk kopi nya, Salim jadi teringat kejadian tadi malam. Bibirnya melengkung tipis mengingat kejadian malam yang sangat mendebarkan baginya.


"Mau di aduk berapa kali tuh kopi Mang?", ledek Mumun terkekeh yang melihat Salim mengaduk kopi nya entah untuk ke berapa puluh kali.


"Eh, iya Bik!", sahut Salim tergagap.


"Ngelamunin apa sih? Sampe segitunya!", Bik Mumun masih meledek.


"Ngga kok Bik!", sahut Salim tersenyum simpul. Setelah menyelesaikan aduk mengaduk kopi, ia pun duduk di bangku seperti biasanya. Tak baik minum sambil berdiri, makanya ia menikmati kopi sambil duduk santai sebelum kembali ke pabrik.


Di saat yang hampir bersamaan, Sekar masuk ke dapur tanpa melihat jika ada Salim di sana.


"Ibu, mau bibik buatin kopi juga kaya mang Salim?", tanya Mumun sambil memutar badan menghadap Salim hingga spontan Sekar pun mengikuti gerakannya.


Salim terlihat salah tingkah, begitu pula dengan Sekar. Wajah keduanya tampak memerah.


"Ada apa gerangan? Kenapa mukanya teh merah-merah gitu?", Mumun memicingkan matanya.

__ADS_1


Lalu keduanya pun menyadari jika si art sedang menutupi rasa malu yang entah kenapa!


"Ehm...bik, saya lagi pengen mie instan tolong nanti bawa ke meja makan ya!", kata Sekar pada Mumun. Lalu tanpa mengatakan hal lain, dia pun meninggalkan dapur.


Tapi dua pasang mata itu sempat saling melirik dan lagi-lagi tertangkap oleh kamera jeli sang art.


"Ciye.... kemajuan nih ehmm....!", ledek Mumun pada Salim. Salim hanya tersipu malu. Tapi setelah itu, Mumun pun melaksanakan tugas dari sang majikan untuk membuat mie instan.


Salim kembali tersenyum mengingat kembali kejadian semalam hingga membuat dia dan sang majikan sama-sama malu.


Tak perlu di ceritakan, sepertinya kalian bisa menebak kejadian saat mati lampu semalam 😆.


.


.


.


"Kok ibu makan mie instan? Belum makan Bu?", tanya Syam.


"Heum, lagi pengen aja dek. Adek mau?", tawar Sekar pada Syam. Syam menggeleng pelan.


"Bik Mumun mana Bu?"


"Ada di belakang. Kenapa dek?"


"Ada Mang Salim juga?", tanya Syam lagi hingga membuat Sekar tersedak.


"Uhuk...uhuk...!"


"Pelan Bu, ngga ada yang minta kok!",kata Syam. Sekar hanya tersenyum canggung usai minum tadi. Tenggorokannya terasa perih gara-gara makanan yang harusnya masuk kerongkongan nyasar ke tenggorokan.


"Iya dek!", jawab Sekar serak.


"Ada berita bahagia Bu!"


"Oh ya? Apa?", tanya Sekar antusias karena melihat Syam tersenyum lebar.


"Ganesh akan pulang besok Bu. Makanya....Syam mau minta tolong bik Mumun buat beresin kamar kakak. Dan...butuh bantuan mang Salim juga sih Bu!", kata Syam.


"Alhamdulillah!", kata Sekar bersyukur dan sangat bahagia.


"Ya udah, Syam panggil mang Salim sama bik Mumun dulu ya Bu!", kata Syam lari ke dapur. Bibir Sekar tak berhenti tersenyum.


Sebahagiakah seorang Sekar saat ini????


****


14.18


Sibuk di dunia nyata gaes. Ampun deh ah 🙈🙈🙈. Makasih yang masih setia nunggu lanjutannya 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir ✌️✌️😇🙏


__ADS_2