
Burhan dan Lingga berjalan lebih dulu menuju ke restoran di seberang kafe Lingga. Mereka tampak berdiskusi tentang interior kafe juga kitchen set yang harus lebih aman dari sebelumnya. Di tambah lagi soal kejadian korsleting listrik yang takut terulang kembali. Maka Lingga dan juga Burhan mendatangkan langsung para ahlinya.
"Ehem...Ga!", panggil Shiena karena dia merasa di cueki oleh Lingga.
Lingga pun menghentikan obrolannya dengan Burhan.
"Owh ...sorry Shiena!", kata Lingga. Sungguh dia tak betah dihadapkan dengan sosok ajaib semacam Shiena. Entah apa yang terjadi dengannya setelah empat tahun berlalu pasca penolakan pertunangan saat itu.
Delapan tahun hidup bersama... dalam artian sama-sama tinggal di benua Amerika bukan seatap tentunya, Lingga melihat perubahan Shiena yang sangat signifikan. Bahkan terkesan....amat sangat jauh berbeda dengan dulu saat mereka masih berteman baik.
"Aku ingin bicara berdua dengan mu saja Ga. Bisa kan asisten kamu pindah ke meja lain?", tanya Shiena.
Lingga tersenyum simpul. Di dunia serba digital, Lingga sudah mulai hafal dengan segala pemikiran yang nantinya akan menimbulkan ini dan itu. Untuk mencari aman, Lingga tak ingin Burhan pindah meja.
"Maaf Shiena, aku tidak ingin ada fitnah jika aku berdua saja dengan mu meski ada di ruang terbuka seperti ini."
Shiena terkekeh pelan.
"Fitnah apa? Jangan kolot begini!", sindir Shiena masih saja terkekeh.
"Tapi maaf sekali lagi Shiena, aku laki-laki beristri!", jawab Lingga lagi.
"Oke...oke...!", Shiena mengangkat tangannya tanda menyerah. Gondok???? Tentu saja!
Bagaimana dia akan mendekati Lingga jika seperti ini sikapnya! Jika dulu Lingga memang dingin, sekarang bukan lagi dingin melainkan seperti suami yang takut istri!
Burhan tertawa dalam hati, dia pikir seorang Lingga bisa dengan mudah di rayu oleh perempuan sepertinya meski dia cantik??? Nyatanya...big No!
"Ga, kita masih bisa berteman baik kan? Aku...em maksud ku begini, bagaimana kalo...kalo kita bekerja sama!", kata Shiena. Lingga dan Burhan saling berpandangan.
"Wait? We just met again after four years Shiena? This might sound silly!", Lingga terkekeh pelan. Dan...ya...kadar ketampanannya pun meningkat. Dia semakin tampan setelah empat tahun bersama sang istri. Mungkin karena bahagia atau .. ya ...ada yang mengurus dan memenuhi kebutuhannya.
(Tunggu?Kita baru bertemu lagi setelah empat tahun Shiena? Ini terdengar konyol)
Shiena berdecak pelan. Kenapa dia masih mengagumi sosok tampan yang sudah jelas-jelas menolaknya.
"Memang kenapa kalau kita baru bertemu lagi Ga? Ada yang salah jika kita bekerja sama?",tanya Shiena.
"No! Tapi kita beda jalur! Memang mau kerja sama yang seperti apa? Bidang apa? Kuliner? Atau apa? Bahkan bidang perusahaan kamu saja tak ada hubungannya sama sekali dengan bisnis kecil ku ini!", Lingga merendah, sedikit.
Lagi-lagi Burhan hanya tertawa dalam hati. Dia masih ingin melihat seperti apa perjuangan Shiena mendekati Lingga yang tak tahu tujuannya apa.
"Ya ... makanya aku mau belajar dari kamu!", kata Shiena gagap.
"Maaf Shiena, tapi aku rasa bidang kita yang tak saling bersangkutan mungkin.... tidak ada kerja sama yang bisa kita lakukan!"
"Apa kamu sedang menolak ku lagi?", tanya Shiena dengan wajah memerah.
"Menolak dalam arti sebagai sesama pebisnis. Kita masih bisa berteman Shiena!", jawab Lingga.
__ADS_1
"Kamu benar-benar berubah Ga. Apa istri kampungan mu itu sudah membuat mu berpikir kolot seperti ini?", tanya Shiena ingin memancing amarah Lingga. Tapi Lingga sudah berusaha untuk belajar menahan emosi terlebih itu karena ulah seorang Shiena.
"Heum, gadis kampungan itu resmi menjadi nyonya Hans Arlingga Saputra! Apa ada yang salah?", tanya seseorang yang tiba-tiba datang ke meja tersebut.
Semua mata tertuju pada sosok tingga tegap di usianya yang tak lagi muda. Tapi kadar ketampanannya masih sebelas dua belas dengan sang bungsu.
"Om Arya!", Shiena bangkit dari bangkunya.
"Papa!", sapa Lingga tersenyum. Shiena menoleh pada Lingga. Terakhir yang ia tahu, Lingga keluar dari rumah Arya saat pertunangan itu batal. Dan hubungan mereka buruk. Tapi sekarang????
"Kapan datang?!", tanya Arya yang terdengar begitu hangat. Burhan yang belum tahu tentang peristiwa selama di kampung pun menoleh pada Lingga dan Arya bergantian.
Lingga menepuk asistennya yang sudah ia anggap saudara sendiri.
"Semalam Pa!", jawab Lingga. Shiena semakin bingung.
"Burhan!", panggil Arya.
"Iya Tuan! Anda apa kabar?", tanya Burhan sopan. Bagaimana pun, Arya adalah majikannya meskipun setelah itu dia pindah ke lain hati ...ke lain bos maksudnya.
"Baik! Terimakasih sudah menemani Lingga selama ini!", ujar Arya. Burhan sempat oleng. Tuan besarnya yang terakhir ia kenal tak seperti ini, tapi....
"Heum, iya tu... tuan!", jawab Burhan gugup.
"Nanti kalau sudah sempat aku ceritakan sama kamu Han!", kata Lingga menepuk bahu Burhan. Burhan pun hanya mengangguk setuju.
"Kami kenapa?", tanya Arya santai. Lalu ia duduk di sebelah Lingga.
"Pesankan makanan seperti kamu Ga!", kata Arya pada Lingga. Lingga tersenyum dan mengangguk. Ia melambaikan tangannya pada pelayang untuk di buat kan menu yang sama.
"Ada apa kamu menemui Lingga, Shiena?", tanya Arya pada mantan calon tunangan anak bungsunya. Panjang ya??? 🤭
"Om...aku...!"
"Papa mu yang meminta?", tanya Arya. Shiena menggeleng cepat. Sedang Lingga hanya menautkan kedua alisnya. Memang apa hubungannya????
"Ngga om! Aku emang kangen sama Lingga. Dan kebetulan aku baru bisa bertemu dengannya lagi om!", jawab Shiena.
"Oh ya? Dari mana kamu tahu kalau Lingga ada di kota ini?", tanya Arya penuh selidik.
Burhan menyimak obrolan tuan besarnya yang sepertinya....pro dengan anak bungsunya sekarang.
"Ya...ada temen ku yang kasih tahu Om!", jawab Shiena gagap.
"Ckkk... bisakah kamu dan papa kamu fair dalam berbisnis?", sindir Arya. Lingga tersenyum tipis, ia menyadari arah pembicaraan papa dan Shiena.
"Mak... maksud om apa?", tanya Shiena.
"Jangan pernah coba-coba mencari celah dengan mendekati anak saya hanya untuk kepentingan perusahaan papa kamu!", jawab Arya lugas.
__ADS_1
Lingga dan Burhan saling berpandangan.
"Apa hubungannya dengan perusahaan papa ku sih om?", elak Shiena.
"Sportif lah! Kalau kalian ingin memenangkan tender proyek Xxxxx , lakukan dengan profesional!", kata Arya pelan tapi penuh penekanan.
Nafas Shiena seolah tercekat di tenggorokan.
"Kenapa? Atau...kalian biasa bermain curang, begitu ya?", tanya Arya dengan nada sinisnya.
"Om...!"
"Setelah usaha kalian gagal menjebak ku dengan para perempuan bayaran dan pengkhianat di perusahaan ku, sekarang kamu mau mencoba cara lain? Mendekati putra bungsu ku? Ckkk....bodoh!", umpat Arya.
Lingga dan Burhan ternganga tak percaya. Dan hal ini yang membuat Lingga semakin yakin tidak ingin mengikuti jejak sang papa untuk mewarisi perusahaannya. Biarkan puja yang mengurus semuanya.
Shiena bangkit dari kursinya.
"Pergi lah, katakan pada papamu. Jangan coba-coba mengusik keluarga ku, lagi! Dan satu hal yang harus kamu ingat Shiena!"
Shiena yang sudah bersiap pergi pun berhenti melangkah.
"Dunia bisnis memang kejam. Tapi sekali saja kamu salah jalan dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil yang kamu inginkan, bersiap lah! Akan ada penyesalan yang akan kamu dapatkan!", Arya menasehati Shiena.
Arya tahu, orang tua Shiena tak akan tinggal diam. Dulu Arya sempat kecewa saat Lingga menolak perjodohan itu. Tapi setelah tahu bahwa keluarga Shiena bobrok dan hanya ingin memanfaatkan dirinya, Arya justru bersyukur saat pertunangan itu gagal.
Tanpa berpamitan, Shiena pun pergi dengan menghentakkan kakinya meninggalkan tiga orang laki-laki di meja tersebut.
**********
Boleh kasih tepuk tangan buat papa Arya ngga sih???? 🤭🤭🤭🤭👏👏👏👏👏👏
Sambil menunggu Galuh Lingga apdet, boleh dong mampir dulu ke sini 🤭🤭🤭
Promo aja teroooossss.....
Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Bertahan Atau Lepaskan
habis itu..... lanjut ke sini 👇
Pesona Duda Ganteng tapi Jutek
*Liat aja dah di daftar karya receh Mak othor deh ya 🤭🤭🤭🤭
Terimakasih sudah berkunjung kemari jangan lupa tinggalin jejak kalian. Like. komentar. kembang kopi vote and etc lah pokokna mah 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏*
__ADS_1