Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 139


__ADS_3

Salim berjalan menuju ke kantin rumah sakit. Tak sulit menemukan keberadaan Syam. Bocah tampan itu sedang duduk menunggu pesanan makanannya di salah satu sudut kantin.


"Den Syam!", panggil Salim saat lelaki itu tiba di dekat Syam.


"Eh, mang. Kapan sampainya?", tanya Syam memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil. Jangan lupa, isinya adalah uang gaji karyawan pabrik Lingga yang belum sempat ia berikan pada yang berhak.


"Belum lama. Bu Sekar sudah sama non Galuh di depan ruangan den Ganesh", penjelasan Salim.


"Oh!", Syam mengangguk perlahan.


Setelah itu seorang perempuan menyerahkan pesanan makanan itu pada Syam.


"Maaf Bu, pesan dua lagi kalo gitu. Tapi makan di sini, mang Salim belum sempat makan juga pastinya kan?", tanya Syam sambil menoleh. Salim pun mengiyakan dengan anggukan. Mungkin memang Sekar dan Galuh butuh berbicara berdua. Jadi, alangkah baiknya memang Salim dan Syam berada di kantin.


Ponsel Syam bergetar, ada panggilan dari Glen. Bocah itu hanya memandanginya hingga panggilan itu berhenti.


"Kok ngga di angkat den? Dari siapa?", tanya Salim.


"Dari papa Glen!", jawab Syam lesu.


"Kenapa atuh ngga di angkat? Kali aja penting. Eh...tapi kenapa harus ada panggilan nama di belakang kata papa? Kan beliau memang papa nya den Syam?", tanya Salim.


"Ya kan Syam juga punya papa Arya, Mang!", jawab Syam dengan entengnya. Salim tersenyum mendengar jawaban lugu seorang Syam.


Jika orang yang tidak tahu, mungkin menganggap Syam memiliki papa tiri juga papa kandung. Tapi nyatanya???


Ponsel Syam kembali berdering. Salim memberi kode agar Syam mau mengangkatnya.


"Angkat atuh, ngga baik mengabaikan orang tua seperti itu lho den!", nasehat Salim.


Dengan berat hati Syam pun mengangkat panggilan dari papanya.


[Assalamualaikum pa]


[Wa-walaikumsalam Syam]


Glen masih tergagap menjawab salam karena dia memang belum terbiasa seperti itu.


[Ada apa Pa?]


Tanya Syam sebisa mungkin bersuara ramah. Dia tak marah lagi pada Glen, hanya saja ia sedang malas meladeni papanya yang pasti akan bertanya macam-macam. Ingin tahu apa yang dia lakukan, apa kesukaannya dan pertanyaan-pertanyaan yang menurut Syam terlalu sepele di pertanyakan.


[Kamu lagi ngapain? Sibuk?]


[Ngga. Lagi di kantin rumah sakit sama mang Salim. Abang nyuruh Syam ke sini nemenin kakak]


[Sama mang Salim?]


[Heem. Kenapa Pa?]


[Hah? Ngga. Terus ibu di rumah sendiri kalo kamu nemenin kak Galuh?]


[Ngga. Tadi mang Salim jemput ibu. Paling nanti malam Syam pulang, besok kan sekolah]


Salim jemput Sekar? Berdua? Batin Glen.


[Oh, iya. Kamu yang rajin sekolahnya ya Syam]

__ADS_1


[Insyaallah Pa. Ada lagi yang mau papa obrolin? Syam sama mang Salim mau makan dulu, tadi ngga sempet makan siang soalnya]


[Oh...oke Syam. Nanti papa telepon lagi ya!]


[Heem. Iya , Pa!]


[Ya udah, papa tutup telponnya. Assalamualaikum]


[Iya pa. Walaikumsalam]


Panggilan selesai, makanan Syam dan Salim datang.


"Makan dulu mang, Syam laper!", kata Syam.


"Iya, Den!", mang Salim pun mempersilahkan.


.


.


.


Lingga sudah memasuki kota kabupaten kampung halaman Galuh. Dia ingin segera sampai di rumah sakit untuk menemui istrinya.


Meski ia berpikir positif, tetap saja rasa khawatirnya pada sang istri masih mengganggu otaknya.


Tiba-tiba saja perut Lingga merasa perih, entah karena lapar atau kebelet ke belakang. Akhirnya ia berhenti di salah satu pom bensin untuk istirahat sebentar dan ke toilet.


Beberapa menit berlalu, ia sudah kembali dari toilet. Tujuannya sekarang adalah minimarket yang ada di dalam area pom bensin.


Dia cukup menahan haus dari jakarta sampai ke kampungnya. Rasa enggan berhenti pun terkalahkan karena perut nya yang tak bisa di ajak kompromi.


Matanya menyapu keadaan sekitar. Padahal sebentar lagi sampai, tapi kenapa dia harus tiba-tiba sakit perut! Heran saja!


Entah kebetulan atau apa, Lingga memperhatikan ada sebuah mobil yang seolah sedang mengikutinya sejak dirinya keluar dari jakarta.


Awalnya dia berpikir kalau mungkin saja mobil itu memang kebetulan satu arah dengannya. Tapi saat Lingga berhenti, kenapa dia ikutan berhenti? Sama kebeletnya juta kaya Lingga?


Lingga mencoba berpikir positif, tapi sosok yang keluar dari mobil itu membuat Lingga ingin mengulang lagi menatap sosok itu.


Tak mau ambil pusing, Lingga pun segera meninggalkan area pom bensin. Saat ia melihat spion, beberapa orang terlihat menjadi penumpang di mobil tersebut.


Yakin mereka satu arah dengan ku? Atau mengikuti ku? Gumam Lingga.


Lingga mencoba mempercepat laju mobilnya hingga mobil yang ada di belakangnya pun membuntutinya.


Tak mau ambil resiko, Lingga memasukkan mobilnya ke dalam parkiran kantor polisi. Lingga pun meminta tolong pada petugas yang sedang dinas saat itu. Akhirnya Lingga di ijinkan masuk.


Mobil yang mengikuti Lingga pun sudah pergi menjauhi dari hadapan Lingga.


"Alhamdulillah!", gumam Lingga.


"Anda mengenal mereka?", tanya petugas itu pada Lingga.


"Tidak pak!", jawab Lingga.


"Saya rasa sudah cukup aman, dan sebaiknya anda jauh lebih berhati-hati pak!", kata petugas tersebut.

__ADS_1


"Terimakasih pak!"


.


.


.


Setelah melalui perjalanan cukup melelahkan, Lingga sampai di halaman rumah sakit. Rasa rindunya akan segera terobati melihat istri dan putranya.


Di lihatnya Galuh, Syam, Sekar dan mang Salim berada di depan pintu ruangan Ganesh. Melihat Lingga yang mendekati, Galuh buru-buru menghampiri suaminya.


Tanpa malu-malu ia langsung memeluk Lingga untuk mencurahkan rindunya.


"Hei? Kok malah nangis Yang? Abang kan sudah datang!", bisik Lingga sambil berbalas pelukan.


"Kangen Abang!", sahut Galuh.


"Iya, Abang juga kangen kamu Yang!", kata Lingga. Perlahan Galuh pun melonggarkan pelukannya.


"Ke ibu dulu yuk! Udah mau magrib nih!", Lingga menggandeng tangan istrinya.


"Bu!", Lingga menyalami punggung tangan ibu mertuanya.


"Kamu dari Jakarta jam berapa kenapa sudah sampai? Memang ngga macet?", tanya Sekar.


"Jam makan siang Bu, justru karena macet Bu. Makanya baru sampai sini!", kata Lingga.


"Jam besuk sudah hampir selesai, kalian mau menginap di kost kami?", tawar Lingga.


"Ngga lah Bang, kami pulang. Besok kan adek juga sekolah!", kata Sekar.


"Heum, oh iya dek. Gaji karyawan gimana?", tanya Lingga.


"Ini, masih di tas. Udah di amplop masing-masing sih bang, tapi tadi belum sempat kasihin."


"Iya sih, Abang yang minta kamu nemenin kakak di sini!", sesal Lingga.


"Eum, boleh minta tolong sama ibu aja ngga Bu?", tanya Lingga tak enak hati.


"Kalau ibu bisa bantu, ya ibu bantu bang. Emang apa?", tanya Sekar.


"Tolong besok anterin gaji anak-anak ya Bu, kasian mereka belum mendapatkan hak nya. Biar mang Salim yang nemenin ibu, ngga keberatan kan mang?", tanya Lingga pada Salim. Awalnya Salim sedikit terkejut tapi dia pun mengiyakan perintah majikannya.


Tak jauh berbeda dengan Sekar yang tak enak hati ingin menolak permintaan Lingga yang jelas-jelas meminta tolong padanya.


Jadi, gimana dong????


****



55



Terimakasih ya πŸ™πŸ™πŸ™ maaf banyak typo. Jangan lupa tinggalin jejak kalian dan bintangnya juga dong ya...ya...ya...πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ€§πŸ€§

__ADS_1


Selamat berakhir pekan βœŒοΈπŸ™πŸ™ sebelum hari Senin bertempur dengan rutinitas yang sempat terhenti selama dua mingguan, mari kita santai sejenak 🀭


(Terus terang mak othor ngga tahu gimana prosedur jam besuk. Jaman Mak othor kost di belakang RS. Carol*** mah jam delapan malam pasti ada lagi jadul apa gitu lah yang berpisah di St.Carol*** 🀭🀭🀭 nandain waktu besuk beres kayaknya. Ya maap kalo salah πŸ™πŸ™)


__ADS_2