Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 41


__ADS_3

"Abang antar aja Syam!", kata Lingga pada adik iparnya.


"Ngga usah lah Bang, Syam udah besar. Sudah kelas empat lho. Lagian kan jalannya udah bagus, Syam naik seperti aja sama teman-teman", tolak Syam.


Lingga pun tak bisa memaksa adik iparnya yang sudah tak ingin lagi di antar sejak jalan menuju ke sekolahnya sudah di aspal.


Meskipun kehidupan Syam berkecukupan, dia pandai membawa diri dengan anak-anak sebayanya yang notabene kebanyakan bekerja pada kakaknya.


Lingga memiliki perkebunan sayuran dan juga pabrik penggilingan beras yang ia kirim ke kota-kota besar. Dia juga memiliki pabrik pembuatan batako dan batu bata. Memang belum terlalu besar, tapi permintaan sejauh ini masih cukup tinggi. Lelaki tampan itu mempekerjakan warga sekitar. Dan tanggapan warga pun sangat baik, banyak yang terbantu dengan adanya pabrik dan kebun tersebut. Belum lagi usaha minimarket dan kafe yang ada di kota. Tapi, kehidupan Galuh yang sederhana dari dulu membuat Lingga mengikutinya. Meskipun kini ia tak kekurangan uang, dia tak sombong sama sekali. Bahkan ia sering membantu warga jika ada yang membutuhkan.


Sempurna sekali hidup Lingga dan keluarga di mata warga sekitar! Tapi mereka tak tahu hal sulit apa yang sudah mereka lalui.


"Berangkat ya bang, Assalamualaikum!", pamitnya.


"Walaikumsalam, hati-hati Syam!", kata Lingga. Syam hanya mengacungkan jempolnya. Di depan gerbang, ia bertemu dengan Galuh yang baru pulang jalan-jalan. Karena semasa hamil, dia harus banyak olahraga. Beruntung udara di kampung sangat sehat dan segar, ia pun tak segan-segan berjalan di sekitar rumahnya.


"Hati-hati atuh dek!", kata Galuh mengingatkan Syam yang sudah naik sepedanya.


"Iya kak. Syam berangkat ya. Assalamualaikum?", pamit Syam.


"Walaikumsalam!", jawab Galuh. Ia pun melihat punggung adiknya menjauh dengan menaiki sepedanya. Tak jauh dari sana, teman Syam juga sudah menunggu, sama-sama menggunakan sepeda.


Galuh mendekati suaminya yang berdiri di halaman. Lelaki tampan itu tersenyum melihat istrinya yang berjalan sambil membawa kantong kresek.


"Beli apa lagi?", tanya Lingga tersenyum.


"Peyeum Bang, ada yang jualan keliling tadi!", Galuh mengangkat kantong kreseknya di depan Lingga.


"Kalo beli, di makan. Jangan cuma di beli doang!", kata Lingga merangkul bahu istrinya.


"Heheh iya bang iya...nanti di goreng ya!?", kata Galuh.


"Iya, maunya kamu aja gimana."


"Oh iya bang, di pabrik Xxx kayanya rame banget deh!", kata Galuh.


"Rame gimana nih maksudnya? Kamu mau jualan di sana?", tanya Lingga.


"Issshhh!", Galuh memukul pelan lengan suaminya.


"Awshh, iya...iya rame gimana maksudnya?", tanya Lingga.


"Itu, kayanya ada penyambutan pemilik pabrik gitu. Entah pemilik entah investor. Ngga tahu deh!"


"Oh, ya udah sih. Biarin!"


"Ya emang biarin Bang, aku mah takut aja kalo Syam pas pulang lewat sana. Mana lagi rame begitu."


"Insyaallah Syam hati-hati lah sayang. Dia sudah besar lho!", kata Lingga lagi.


"Huum, iya sih!", sahut Galuh. Dia meletakkan kantong kreseknya di atas meja. Lingga sendiri duduk di sana.


"Kenapa Abang ngga coba jadi investor pabrik itu bang? Kan lumayan bang, punya wewenang buat masukin warga sekitar kerja di sana."


"Prospek kedepannya ngga ada Luh. Kalo di pabrik kita, misalnya ada yang mau bikin batako atau batu bata kan bisa sendiri bikinnya. Kalo di pabrik Xxx itu, emang bisa? Udah lah, ngga usah tertarik."


"Heum, gitu ya bang!"


"Apa mau bikin minimarket juga di sini?", tanya Lingga. Dengan cepat Galuh menggeleng.

__ADS_1


"Jangan lah bang. Aku tahu, rejeki sudah ada yang atur. Tapi, di sini kan juga ada beberapa warung dan toko sembako. Bukannya apa, kita memang mampu bikin yang lebih dari mereka. Tapi jangan mematikan usaha mereka juga dengan bikin persaingan. Toh, Alhamdulillah kita masih di beri kecukupan dari sumber lain."


Lingga tersenyum dengan pemikiran istrinya. Dia sangat bersyukur, bisa mendapatkan istri yang baik dan pintar seperti Galuh.


"Eh, kenapa cengengesan begitu?", tanya Galuh meletakkan air putih di depan suaminya.


"Ngga. Abang cuma lagi inget aja waktu kita baru di nikahkan. Nikah paksa lagi!", kata Lingga.


"Udah sering bahas kali bang!", kata Galuh.


"Tapi Abang ga pernah bosen kalo bahas itu. Kita berantem ngga jelas, malah ujung-ujungnya di nikahin. Tapi kalo ngga ada peristiwa itu, mungkin aku belum tentu memiliki kamu. Makasih ya?", Lingga mengusap pipi chubby Galuh yang berat badannya semakin bertambah.


"Aku juga makasih lah bang. Abang udah berusaha untuk selalu bahagiain aku. Ngga cuma aku, tapi ibu dan juga Syam."


"Itu kewajiban dan tanggung jawab Abang! Kalian sangat berarti buat Abang."


Galuh meraih tangan suaminya, lalu ia kecup telapak tangannya.


"Makasih udah banyak berkorban dan berjuang, buat kami!", kata Galuh terharu. Lingga mendekap tubuh istrinya. Mengecup pelipis dan puncak kepala bergantian.


"Sarapan dulu yuk!", ajak Lingga.


"Heum, aku panggil ibu sebentar." Lingga pun mengangguk.


.


.


.


Jam satu siang....


"Iya, ada acara apa ya?", tanya Syam.


"Oh, itu. Penyambutan pemilik pabrik sih yang aku dengar!", sahut teman yang lain.


"Heum, jadi kita puter balik nih?", tanya Syam.


"Aku mah terserah. Lewat situ hayuk, puter balik yang lebih jauh juga hayuk!", sahut teman yang lain.


Syam melihat jam tangannya. Sudah jam satu lewat. Kalo memutar arah, itu artinya ia harus lewat kampung lain. Dan pastinya sampai ke rumah lebih lama.


"Ya udah lah, lewat situ aja. Tapi kita turun aja, sepedanya di tuntun."


Syam dkk pun sepakat untuk tidak menaiki sepedanya karena mobil dan kendaraan roda dua berlalu lalang di depan pintu gerbang pabrik.


.


.


"Lain kali, Zea ngga mau ikut ke kampung gini ah Pa!", keluh Zea saat mobil mereka memasuki kawasan pabrik yang ada di kampung.


"Kan weekend Ze. Ngga ada salahnya kan ikut ke pabrik. Lagi pula, nanti kalo Zea udah besar pabrik ini punya Zea juga!", kata Helen. Zea mencebikkan bibirnya.


Glen menatap banyak umbul-umbul dan spanduk yang ada di kanan kiri jalan.


"Penyambutannya kaya pejabat aja ya Pa!", kata Helen. Sejak mereka tahu jika Lingga dan Galuh tak lagi di kota, hubungan Helen dan Glen kembali membaik. Tidak ada lagi yang membahas tentang Syam.


"Tahu nih, paling ulah nya si Andre!", sahut Glen. Pabrik itu milik Andre, hanya saja lima puluh persen sahamnya atas nama Glen. Otomatis, dia memiliki kekuasaan yang sama dengan Andre selaku pemilik pabrik itu.

__ADS_1


"Ayo Ze, ma! Kita turun!", kata Glen. Anak dan istrinya pun turun setelah supir membukakan pintu untuk mereka.


Bak seorang pahlawan, Glen dan keluarga di sambut oleh karyawan pabrik dan juga Andre.


"Selamat datang bos!", kata Andre menepuk lengan Glen. Keduanya pun akhirnya tergelak bersama-sama.


Mereka berjalan menuju ke kawasan pabrik. Andre menceritakan tentang kondisi pabrik mereka sedetail mungkin.


"Oh ya Ndre, empat tahun terakhir gue ke sini jalanan masih rusak parah. Yakin nih Pemda atau Lo yang benerin nih jalan?", tanya Glen. Karena seingat Glen, dia kesini jalanan masih rusak. Padahal pabriknya kala itu sudah cukup kuat berdiri. Hanya sejak pandemi saja ada pemberhentian operasi. Tapi setelah itu, kembali berjalan seperti semula.


"Huh! Gua lupa ga cerita kayanya Glen!", kata Andre. Mereka duduk di kantin pabrik. Sedang Zea dan Helen memilih untuk masuk ke ruangan head office, mencari ruang yang dingin karena menggunakan AC.


"Kenapa?"


"Sejak ada pengusaha batako dan batu bata sama eum... pengusaha sayuran, jalanan ini di benerin sama dia. Gue salut lho. Padahal dia masih muda. Ngga kaya-kaya banget sih. Tapi ya...dia nyumbang buat benerin jalan. Ya... sebenarnya sih buat mobilitas dia sendiri!", kata Andre.


"Sirik aja Lo, bilang aja Lo ngiri dia yang baru punya usaha udah mau nyumbang jalan sedang Lo yang udah tahunan pake wilayah kampung ini malah kagak pernah nyumbang!", cibir Glen.


"Kaya yang ngomong bener aja sih!", sahut Andre tidak terima.


Sekitar jam satu siang, keluarga Glen dan Andre memutuskan untuk mencari makan siang di restoran yang ada di sekitar jalan kabupaten. Cukup lumayan jauh dari bangunan pabrik. Acara sambutan yang cukup ramai tadi pagi pun sudah selesai. Karyawan kembali bekerja sesuai shift dan bagian mereka.


Syam dan tiga temannya menuntun sepedanya sambil tertawa lepas khas anak-anak. Saat melintas di depan pintu gerbang, mereka di kejutkan oleh suara klakson mobil yang baru akan keluar dari pintu gerbang.


Sontak keempat anak itu pun terkejut. Mereka buru-buru menyingkirkan sepedanya. Karena terburu-buru, salah satu teman Syam terjatuh bersama sepedanya.


Syam meninggalkan sepedanya lalu membantu temannya yang jatuh tadi. Supir yang mengendarai mobil hendak turun, tapi Andre mencegahnya. Hingga Glen tak sengaja menatap wajah bocah yang menolong temannya yang jatuh tadi.


Beruntung Helen dan Zea langsung tidur saat memasuki mobilnya. Glen berniat turun tapi Andre juga mencegahnya.


''Ngapain sih Glen, tuh bocah juga ga luka!", cegah Glen. Tapi Glen tak menghiraukan ucapan Andre. Dia pun turun menghampiri bocah yang jatuh.


"Kamu ngga apa-apa?", tanya Glen pada teman Syam. Syam yang ada di sampingnya pun menoleh pada laki-laki berjas hitam itu. Kedua mata Glen dan Syam bersitatap.


"Ngga apa-apa om!", jawab bocah kecil itu.


"Syam?", gumam Glen pelan. Sedang si empunya nama tak menghiraukan panggilan lelaki itu.


"Kamu masih bisa naik sepeda kan?",tanya Syam pada temannya yang tadi terjatuh. Teman Syam mengangguk.


"Ya udah, kita pulang!", ajak Syam pada temannya.


"Syam!", panggil Glen lagi saat ia menaiki sepedanya. Teman-teman Syam pun belum beranjak, menunggu Syam berjalan lebih dulu.


Syam tak menoleh, meski dalam hatinya ada perasaan aneh yang entah apa. Perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Entah itu benci pada sosok laki-laki yang karenanya,ia hadir ke dunia. Atau karena merindukan sosok yang di sebut ayah.


Syam menggowes sepedanya, mendahului teman-temannya.


''Syam!", teriak Glen lagi. Tapi Syam dkk sudah menjauh dari area pabrik. Glen meremas rambutnya frustasi, ia pun kembali ke dalam mobil.


"Kenapa sih bro? Udah lah, mereka cuma anak kampung!", kata Andre. Tapi tatapan Glen membuat nyali Andre menciut.


Andre tak bicara apapun lagi hingga mereka tiba di restoran yang ada di kota kabupaten.


*****


Lumayan panjang kan heheheh 😁😁😁😁


Makasih ✌️✌️✌️🙏✌️

__ADS_1


Selamat berakhir pekan dan berpuasa 🤗🤗


__ADS_2