Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 186


__ADS_3

Bab ini isinya Syam doang 🤭🙏🙏🙏


Selamat mampir 😁


_-_-_-_--_-_-_-_-_-_-_--_-_


"Capek?", tanya Glen pada Syam dan Zea.


"Iya! Zea mau langsung mandi terus tidur deh!", kata Zea lesu. Bagaimana tidak? Gadis kecil itu menguras energinya sejak pagi di taman bermain. Segala wahana ia jajal, tak terkecuali yang paling ekstrim sekalipun.


"Iya sayang!", kata Glen. Helen sendiri langsung ke dapur untuk mengambil minuman dingin yang akan ia berikan pada Glen dan Syam.


"Minum dulu ya biar seger, habis itu istirahat! Mama duluan ke kamar ya!", kata Helen meletakkan minuman dingin di depan bapak dan anak lelakinya tersebut.


"Iya ma, makasih!", kata Glen.


"Terimakasih Tante!", kata Syam tulus.


"Oh iya Syam, kalau mau pake laptop Tante minta saja sama papa, suruh ambil di ruang kerja. Ya?"


"Iya Tante!", jawab Helen. Lalu perempuan cantik itu pun memasuki kamarnya di lantai yang sama. Sedang kamar Zea dan Syam berada di lantai atas.


"Kamu mau pakai laptop, buat apa? Perlu papa belikan besok?", tanya Glen yang seolah kalah start dari sang istri.


"Iya pa, ada tugas dari wali kelas. Syam di suruh ikut lomba menulis. Nanti di kirim filenya ke email Bu guru."


"Oh ya? Anak SD di kampung sudah semaju itu?", tanya Glen heran.


Syam menghela nafas berat. Terlihat sekali ia merasa di remehkan oleh papanya sendiri. Glen menyadari ucapannya menyinggung sang putra.


"Maaf!", kata Glen yang duduk berpindah ke samping Syam. Lelaki berdarah timur tengah itu menepuk pelan bahu Syam. Syam hanya bereaksi tenang tanpa mengucapkan apa pun.


"Maaf kalo ucapan papa tadi menyinggung perasaan Syam. Ya?", ulang Glen lebih panjang.


"Heum!", sahut Syam pada akhirnya.


"Kalo boleh papa tahu, apa tugas Syam? Mungkin bisa papa bantu?", tawar Glen.


"Menulis aja sih Pa, tema nya ... keluarga!", jawab Syam yang menatap kosong ke depan.


"Keluarga?", tanya Glen dengan suara sedikit bergetar. Glen menyadari, kata 'keluarga' cukup sensitif bagi seorang Syam.


"Ngga ada yang sulit kok, Syam bisa!", kata Syam. Glen tak menyahut.


"Untuk sekarang, Syam rasa bisa menuliskan cerita seperti itu entah itu real atau cuma fiktif."


Syam menoleh ke Glen yang tengah menatapnya juga.


"Kalo begitu Syam masuk kamar deh. Laptop Tante Helen besok aja!", kata Syam bangkit dari duduknya.


"Syam!", panggil Glen.


"Besok lagi ya Pa. Selamat malam!", pamit Syam melangkahkan kaki menuju ke lantai atas. Glen menghela nafas memandangi punggung anak lelakinya yang menaiki anak tangga satu persatu. Setelah memastikan sang anak menghilang di balik pintu, Glen menuju ke kamarnya sendiri.


Helen sedang bersandar di headboard ranjangnya sambil berbalas pesan di ponselnya. Ia hanya menoleh sekilas saat suaminya memasuki kamar mereka.


"Papa pikir mama sudah tidur!", tanya Glen basa basi.


"Masih balas email klien,Pa!", jawab Helen masih fokus dengan benda canggihnya di tangan. Glen langsung melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak sampai lima belas menit, Glen sudah selesai. Saat keluar dari kamar mandi, Helen sudah menyiapkan pakaian ganti untuknya.


Lelaki itu memakai pakaian di samping istrinya tanpa rasa canggung sama sekali. Jelas, suami istri sah!


Selesai berpakaian, Glen turut duduk di atas ranjang bersama istrinya. Ia memandangi wajah cantik istrinya yang tak banyak berubah sejak mereka menikah.


"Kenapa?", Helen menoleh kepada suaminya karena merasa jika dirinya tengah di perhatikan.


"Terimakasih!", kata Glen meraih tangan Helen lalu di kecupnya punggung tangan nan mulus tersebut.


"Terimakasih untuk apa?", tanya Helen. Glen meraih ponsel Helen lalu meletakkan di atas nakas. Setelahnya, Glen meraih bahu istrinya.


Lelaki itu mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Terimakasih untuk segalanya, yang masih tetap bersama ku dan menjaga keutuhan rumah tangga kita. Dan juga menerima Syam sebaik ini!", kata Glen bersungguh-sungguh.


"Heem. Entah ini ucapan yang keberapa yang aku dengar mas!", kata Helen.


"Iya, memang. Sepertinya ribuan ucapan terimakasih tak bisa menggantikan apapun pengorbanan kamu!"


Keduanya saling berpelukan. Rasa lelah setelah seharian berpetualang di taman bermain, membuat tubuh keduanya memutuskan untuk beristirahat, mengarungi mimpi.


Syam yang belum bisa tidur nyenyak akhirnya menghubungi ibunya. Beruntung Sekar dan Salim tidak sedang 'sibuk' jadi Syam aman melakukan video call dengan Sekar.


[Udah malam banget belum bobo, dek?]


Sapa Sekar dari kampung halamannya.


[Capek kakinya malah ngga bisa tidur Bu. Biasanya kalo capek suka di pijit sama ibu]


Suara Syam terdengar manja. Sekar dan Salim tersenyum mendengar tingkah putra mereka seperti sedang merengek.


[Tapi seneng kan jalan-jalannya?]


Kali ini Salim yang menimpali ucapan Syam.


[Huum, seneng sih tapi banyak capeknya juga]


Setelah itu obrolan pun mengalir begitu saja dengan panggilan jarak jauh tersebut hingga Syam mulai menguap, barulah panggilan itu berakhir.


"Ibu lihat kan, adek di sana baik-baik saja!", kata Salim.


"Iya, bah. Ibu tadinya mah khawatir kalau...mamanya Zea tidak memperlakukan Syam dengan baik. Tapi... astaghfirullah, ibu sudah berburuk sangka."


Salim mengusap bahu istrinya yang usianya jauh lebih tua darinya tapi nampak seumuran dengannya.


"Selama Abah mengenal Nyonya Helen, beliau perempuan yang baik dan lembut Bu. Tidak berbeda jauh dengan Bu Gita. Tapi... mungkin karena permasalahan kemarin membuat dia...jadi berperan antagonis sesaat. Namanya orang baik, tetap lah akan baik pada akhirnya. Seperti ibu, ibu tetap ibu yang terbaik untuk anak-anak ibu yang hebat. Juga... anugrah yang terindah yang Allah berikan pada Abah!", kata Salim panjang lebar.


Sekar tersenyum mendengar...entah itu ucapan atau rayuan yang suaminya katakan. Intinya setelah itu, mereka pun menikmati indahnya malam berdua.

__ADS_1


.


.


.


"Zea sama Syam mau ikut ke kantor?", tanya Helen pada dua bocah ketika sarapan.


"Mau ke rumah Opa aja, kalo kamu Syam?", tanya Zea pada Syam.


"Sama deh, ke rumah Opa", jawab Syam.


"Jadi pinjam laptopnya Syam? Kalo tidak, biar nanti orang kantor antar laptop baru aja ke rumah?", tawar Helen.


"Ngga usah Tante. Ngga perlu beli, Syam juga ada di rumah. Sekarang cuma lagi urgent aja. Mau di kirim ke wali kelas besok."


"Oh... baiklah kalau begitu!", kata Helen.


"Mau jam berapa ke rumah Opa? Mau sekalian papa antar atau minta di jemput pak Ujang?"


"Ngga usah lah Pa, jalan aja. Iya kan Syam?", tanya Zea. Syam pun mengangguk saja.


"Baiklah. Tapi kalau nanti mau ke kantor nyusul mama papa, minta anterin pak Ujang aja!", titah Helen.


"Eum...Pa, kalo Syam ijin ke kafe kakak boleh ngga?", tanya Syam pada Glen.


"Ikutttt!", Zea antusias. Syam mencebikkan bibirnya pelan.


"Kenapa? Ngga boleh?", tanya Zea manyun pada Syam.


"Udah-udah ngga usah berantem deh! Syam kalau mau ke sana, minta di antar Opa atau mang Ujang ya!"


"Iya Pa."


"Kalian hati-hati di rumah ya. Mama papa ke kantor dulu!", Glen dan Helen mengusap kepala kedua bocah itu bergantian.


"Iya Ma, Pa!", sahut Zea malas-malasan karena dia masih mengantuk tapi sudah di bangunkan.


"Iya Pa, Tante!", kata Syam sopan. Sepeninggal kedua orang tua itu pergi, tinggallah dua bocah yang masih duduk berhadapan dengan sarapannya. Si mbok alias si bibik sibuk dengan pekerjaannya di belakang.


"Kalo mau tidur, di kamar! Jangan makan sambil merem!", ujar Syam. Sontak Zea melirik tajam pada saudara satu bapak tersebut.


"Bisa ngga sih, jangan di komen. Aku ngantuk tahu!", kata Zea sambil menguap.


"Ngga sopan!", kata Syam meninggalkan meja makan sambil membawa piring bekas ia sarapan ke dapur.


"Duh, den Syam. Saya aja yang beresin!", kata bibik yang melihat Syam mencuci bekas makannya.


"Ngga apa-apa Bik, Syam udah biasa kok!", kata Syam tersenyum. Bibik memandangi wajah Syam yang sangat mirip dengan majikannya. Siapa pun pasti bisa menebak jika Syam adalah putra Glen.


"Syam ke kamar ya bik!", kata Syam sambil mengelap tangannya dengan serbet yang menggantung di dekat kran wastafel.


"Iya den, kalo butuh apa-apa panggil bibik aja!", katanya.


"Iya Bik!", jawab Syam. Syam pun kembali melewati meja makan. Zea masih terkantuk-kantuk di meja makannya. Masih ngantuk tapi di paksa makan! Ya begitulah jadinya!


"Dasar pemalas!", gumam Syam yang pasti di dengar oleh Zea.


Bocah itu sudah duduk di depan layar laptop. Sebelum jemarinya mengetik, Syam terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya....jemari itu lincah memainkan tuts keyboard laptop milik ibu tirinya.


Keluarga**ku


Ada yang tahu bahagia itu seperti apa? Tentu! Setiap orang punya versi kebahagiaan masing-masing. Ada yang hanya makan bersama dengan keluarganya, mungkin seperti itu saja sudah sangat bahagia. Bagaimana dengan ku???


Namaku Arsyam Nadir Saputra. Aku tidak sedang menjual kisah sedih ku agar viral seperti yang sedang tren saat ini. Kenapa??? Karena aku merasa jauh lebih beruntung. Aku di kelilingi oleh orang-orang baik yang begitu menyayangi ku serta tulus pada ku terlepas dari mana aku berasal.


Memang dari mana asalku? Aku lahir dari sebuah kesalahan! Tapi ...tidak akan ku sebutkan di sini! Biarlah aib di masa lalu, menjadi rahasia kami.


Selama sebelas tahun aku hidup, baru akhir-akhir ini aku bertemu dengan papa kandungku dan juga saudara perempuanku dari pihak papaku. Apa aku bahagia???


Tentu saja aku bahagia! Ternyata...aku masih punya mereka, selain ibu kandung dan kakakku yang berbeda ayah. Dan juga....aku memiliki seseorang yang sebelumnya membuat ku bersu'uzdon. Nyatanya...beliau begitu baik padaku. Cerita ibu tiri kejam, bagi ku benar-benar hanya sebuah cerita. Karena faktanya, istri papaku memang seorang ibu yang baik.


Ada yang tahu? Menjadi aku tidak lah mudah. Tapi aku punya orang-orang yang begitu peduli padaku. Lantas, masih pantas kah aku kufur nikmat dengan apa yang DIA berikan selama ini?


Meski... mungkin sedikit terlambat aku kembali bertemu dengan papaku, tapi... tidak ada yang perlu ku sesali. Karena...memang Tuhan memberi takdir seperti ini yang harus aku lalui agar aku bisa menjadi sosok yang kuat.


Dan tahukah kalian? Tanpa mengurangi rasa syukur ku di hari-hari sebelumnya, hari ini aku sangat bahagia. Aku pernah memimpikan hal ini. Dan ternyata, impian ku menjadi nyata.


Terkesan sepele , hanya jalan-jalan dan menghabiskan waktu di taman bermain. Tapi...aku bahagia! Aku bisa berkumpul dengan papaku! Lelaki yang lebih dari sepuluh tahun ku rindukan.


Melihat mereka tertawa lepas, aku pun turut tertawa! Aku merasa sempurna memiliki mereka, lagi! Karena...banyak hal yang harus terjadi sebelum kami sebahagia ini.


Untuk kalian yang masih bertanya, seperti apa definisi bahagia? Tak perlu mencari jauh-jauh! Karena bahagia itu di ciptakan, bukan di cari.


Keluarga ku, bahagia ku. Terimakasih


Syam 🙂


Syam membaca ulang tulisannya. Dia sama sekali tak berharap menang, tapi dia hanya ingin mencurahkan rasa bahagianya dan rasa syukurnya lewat tulisan. Syam tahu, mungkin di belahan dunia lain ada yang jauh lebih menderita tapi lebih kuat dari Syam.


Tapi, apa pun itu bagi Syam saat ini adalah mensyukuri apa yang sudah ada.


Setelah membaca ulang, barulah ia mengirim email tersebut pada wali kelasnya. Baru selesai mengirimkannya, Zea menelusup masuk ke kamar Syam.


"Ngapain?", tanya Zea yang tahu-tahu sudah duduk di ranjang Syam.


"Astaghfirullah!", Syam terkejut di buatnya.


"Ya Tuhan, kamu liat aku Syam! Kayak liat setan aja deh!", Zea memanyunkan bibirnya.


"Isssh ...lagian kamu main masuk aja ngga ada suara apa-apa! Ngga sopan!", kata Syam datar tanpa dosa.


"Kamu aja yang ngga dengerin saking konsentrasinya. Emang lagi ngapain sih?", Zea mencoba melongok untuk bisa mengintip isi laptop Syam.


"Ckkkk....bukan urusan kamu!", kata Syam menutup laptop tersebut. Zea mencibir.


"Sok banget deh! Kaya bisnisman aja! Papa juga ngga segitunya!"


"Masalah????", celetuk Syam menyebalkan.

__ADS_1


"Ih...kamu tuh nyebelin tahu ngga Syam!"


"Mau ngapain sih?", tanya Syam pada Zea.


"Katanya ke rumah Opa! Ayok!", ajak Zea.


"Jalan apa di jemput mang Ujang?", tanya Syam.


"Naik sepeda aja lah, aku bonceng! Heheheh!", kata Zea cengengesan.


"Kamu mau bonceng sepeda pake celana sependek itu?", tanya Syam sambil melihat risih ke arah Zea. Zea memandangi celana pendek yang ia pikir wajar di atas lutut.


"Kan cuma mau ke rumah opa, Syam. Masih di komplek sini juga! Bukan mau ke masjid!", sahut Zea.


Syam menggeleng pelan.


"Terserah!!!", kata Syam meninggalkan Zea yang masih duduk di ranjang Syam.


"Ehhhh.... iya-iya bentar! Kamu tunggu di garasi deh. Aku ganti celana dulu!", kata Zea manyun sambil menghentakkan kakinya memasuki kamarnya.


"Sekalian kaya Angel, bisa juga kan belajar pake hijab kaya dia? Minimal pake yang tertutup! Kamu tuh udah remaja. Harus bisa menjaga aurat mu sendiri! Kelak yang jadi penanggung jawab di akhirat itu papa! Tapi terserah sih, itu juga kalo kamu sayang sama papa!",kata Syam sambil menuruni tangga.


"Kok jadi bandingin aku sama Angel sih??? Dia kan emang di asrama harus pake hijab!", Zea masih tak terima. Tapi Syam seolah mengabaikannya.


Namanya juga Zea, meski mulutnya merepet seperti petasan, akhirnya dia pun memakai celana panjang, kaos lengan panjang dan jilbab yang memang jarang ia pakai. Mungkin hanya saat lebaran, mungkin!


Syam sudah mengeluarkan sepedanya. Yang ada di bayangan Syam, sepedanya bisa untuk boncengan. Tapi ternyata???


"Udah kan???!!!", tanya Zea yang membuat Syam mematung sebentar.


"Iya!", jawab Syam sambil menelisik penampilan Zea yang jauh lebih baik.


"Cantik ya adik kamu ini kalo pake hijab??? Jangan di bandingin sama Angel ya! Aku ngga suka!", Zea melipat kedua tangannya di perut. Entah kenapa Tante Zea yang masih mungil itu harus di bandingkan dengan keponakan yang usianya lebih tua darinya. Mau heran, tapi ini fakta!


"Narsis!", sahut Syam yang gengsi memuji Zea.


"Iiihh...punya saudara satu-satunya gitu amat!", sahut Zea.


"Ini kamu beneran mau bonceng? Di mana?", tanya Syam yang memperhatikan sepedanya.


"Ya di depan ini lah! Kalo ngga, berdiri di belakang!", kata Zea santai. Syam bergeming.


Bocah tampan itu memikirkan ide Zea. Bonceng seperti itu tetap sama-sama beresiko.


"Udah kamu naik duluan!", dorong Zea agar Syam naik ke sepedanya lebih dulu. Setelah kedua kali Syam siap menjaga keseimbangan sepeda, Zea mendudukkan dirinya di depan Syam dan duduk miring.


"Yuk! Pelan-pelan ya pak sopir!", kata Zea cengengesan tanpa dosa. Syam menghela nafas panjang. Tingkah Zea sungguh membuat ia kesal. Tapi mau seperti apapun meladeni Zea pasti berujung emosi. Alhasil, Syam pun mulai menggowes sepedanya.


Untung rumah Opa Surya tak jauh, hanya berbeda blok saja. Jalan komplek pun tak ramai karena kebanyakan mereka orang bekerja.


"Syam!", panggil Zea yang duduk di depan Syam.


"Heum!"


"Sekolah di sini lagi aja sama aku, ya?", tawar Zea.


"Ngga!", sahut Syam tanpa melihat Zea.


"Kenapa?", tanya Zea bawel.


"Males ketemu kamu tiap hari!", jawab Syam jujur.


"Emang kamu masih benci ya sama aku?", tanya Zea menoleh ke belakang berhadapan dengan Syam.


"Ngga!", jawab Syam singkat.


"Kamu tuh aneh tahu ngga Syam! Kalo sama aku dan papa, kenapa dingin banget. Tapi kalo sama Abang, Om Arya...kamu bisa cerewet!?"


"Ngga tahu!"


Tak ada obrolan lagi dari dua bocah bersaudara itu hingga sepeda mereka tiba di depan pintu gerbang rumah yang mewah.


Ini untuk pertama kalinya Syam datang ke kediaman Surya. Opa nya sedang ada pekerjaan di luar kota setelah tiba di Jakarta beberapa hari kemarin.


"Yuk!", ajak Zea pada Syam yang baru meletakkan sepedanya.


"Kaya ada tamu Ze, bukan mobil Opa kan ini?", tanya Syam pada Zea.


"Paling teman bisnis Opa, ayok ah masuk!", paksa Zea menarik lengan Syam sampai terseok-seok mengikuti langkah Zea. Dan bocah itu hanya pasrah dengan tingkah saudara perempuannya tersebut.


"Assalamualaikum!", Syam memberikan salam sebelum masuk ke dalam ruang tamu.


"Walaikumsalam! Zea, Syam! Cucu-cucunya Opa, sini sayang?!", Surya bangkit dari sofa menyambut kedatangan dua cucu kesayangannya.


"Opa baru pulang dari luar kota ya?", tanya Zea.


"Iya Ze. Ngomong-ngomong kemarin kalian sudah puas kan jalan-jalannya?", tanya Surya sambil menepuk bahu Syam pelan. Kedua bocah itu mengangguk.


"Kalian ke belakang dulu deh, tunggu opa di samping kolam. Oke?", titah Surya.


"Iya , Opa!", jawab Syam dan Zea kompak. Lalu Surya kembali duduk di depan tamunya lagi.


"Maaf ya, kangen cucu!", kata Surya pada tamunya.


"Memang yang bersama Zea itu siapa?", tanya rekan bisnis Surya.


"Tentu saja cucu ku!", jawab Surya bangga.


"Bagaimana bisa? Bukankah anak Glen hanya Zea ya?", tanya tamu itu lagi. Surya tak menjawab, dia hanya menyunggingkan senyumnya.


"Intinya, mereka cucu kesayangan ku!", kata Surya. Tamunya tak lagi memaksa Surya untuk bercerita.


Wajah bocah laki-laki itu, memang sangat mirip dengan Glen. Apa itu anaknya Glen? Jangan-jangan Glen punya istri simpanan? Heuh, aku harus cari tahu. Bisa saja kan Glen terlibat skandal dan akan menimbulkan citra buruk untuk perusahaan Surya Atmaja jika rumor itu beredar??? Batin tamu tersebut.


******


Lagi radak2 waras nih Mak othor sepertinya lebih dari 2600kata 🤣🤣🤣🤣


Semoga ngga salah hapus lagi 🤧🤧🤧

__ADS_1


Terimakasih atas kunjungan dan dukungan kalian 🤭🤭🤗🤗🤗🤗


21.06


__ADS_2