
Gita memunggungi suaminya saat keduanya berada ditempat tidur. Perempuan setengah baya itu sangat kecewa pada suaminya yang tidak bisa berubah sejak dulu.
Kekecewaannya begitu dalam saat ia melihat lagi adegan yang terulang di depan matanya saat sang suami menghina menantu dan juga putranya.
Hati ibu mana yang akan tega melihat ayah kandungnya sendiri menghina dan merendahkan darah dagingnya. Terlebih, sang menantu sedang mengandung cucu mereka.
Harus dengan apa meluluhkan hati seorang Arya?
"Tidak sopan memunggungi suami !", kata Arya sambil menggunakan tangannya untuk bantalan.
Gita tak menggubris sindiran suaminya. Dia selalu minta di hormati tapi tak mau menghormati orang lain. Apa namanya kalo seperti itu?
"Mama ngga denger papa ngomong apa?", Arya menarik bahu Gita hingga perempuan itu berbaring.
"Beri tahu mama seperti apa bersikap sopan?!", tanya Gita langsung menoleh tajam pada suaminya.
"Bicara apa kamu?", tanya Arya.
"Kamu dengar pa apa yang mama katakan tadi, tolong beri tahu seperti apa bersikap sopan! Ajari mama!", kata Gita.
Arya tak mau membalas tatapan mata Gita yang sedang menantang suaminya. Bukan mau menantang berkelahi, hanya ingin memancing sikap suaminya nanti akan seperti apa.
__ADS_1
"Apa dengan menghina anak dan menantu kita, itu yang disebut sopan menurut Papa?"
Arya masih bergeming.
"Buat papa, gadis kampung itu tetap orang kampung. Harusnya kita mencari sosok yang sepadan dengan keluarga kita. Memberikan keturunan yang pantas buat keluarga kita, bukan dari rahim anak kampung itu."
"Ya Tuhan, papa lupa? Karena jasa nya, mama masih ada di samping papa sampai sekarang. Apa salah Galuh Pa?"
"Sudah papa bilang. Papa ingin keturunan kita benar-benar dari keluarga yang sepadan Ma!"
"Hanya itu?"
Arya menggelengkan kepalanya.
"Mama tahu silsilah keluarga kita kan? Perjodohannya dalam dunia bisnisnya adalah hal biasa. Buktinya kita! Kita di jodohkan oleh orang tua kita. Dan sampai sekarang kita masih bersama karena saling mencintai. Dan tentu saja karena kita dari kalangan yang jelas. Tidak seperti istri Lingga!"
Gita tak sanggup berkata-kata lagi. Apalagi setelah tahu alasan Arya karena hal itu.
"Papa sudah merancang masa depan Lingga sejak ia kecil. Tapi gara-gara gadis kampung itu, semua yang sudah papa rencanakan gagal total!"
"Tapi Lingga juga berhak dengan pilihannya sendiri Pa. Dia sudah lebih dari cukup untuk sekedar di sebut dewasa!"
__ADS_1
"Tetap saja! Selama dia masih menentang papa, selama itu juga sikap papa akan sama pada nya!!!"
Gita bangun dari ranjangnya. Dia keluar dari kamarnya karena emosi dengan tingkah Arya yang sudah kelewatan.
Jika selama ini, ia diam. Tidak kali ini! Dia sudah lelah menaklukkan segala kearogansian seorang Arya Saputra.
"Ma, mama!", teriak Arya. Lelaki itu pun mengikuti langkah istrinya yang sedang berjalan menuju ke dapur.
Sempat di dapur, Gita menenggak minuman dingin hingga tandas, meski hanya minum air putih dingin. Mungkin sedikit mendinginkan hati serta otaknya juga.
Gita merasa sangat lelah dan keberadaannya gak pernah di anggap oleh Arya. Meskipun dia tahu, jika Arya memang mencintai Gita sepenuhnya. Sayangnya, Arya memang terlalu temperamental.
Mengimbangi Arya selama lebih dari tiga puluh lima tahun adalah sebuah kesabaran luar biasa bagi sosok Gita. Jika ditanya, apa Gita tertekan???
Bohong kalau dijawab tidak! Arya menatap tubuh istrinya yang kini sudah kembali berbaring di sampingnya.
Nyatanya, pillow talk itu perlu! Meski kadang ada saatnya untuk sesekali berbeda pemikiran yang berakhir dengan pertengkaran!
****
Terimakasih 🙏
__ADS_1