Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 205


__ADS_3

Pagi sudah menyapa kediaman Arya yang sudah ramai dengan obrolan kedua anak dan kedua menantunya. Mereka memang berniat untuk kembali ke kampung halaman Galuh usai salat subuh.


Arya melihat kondisi Lingga yang sepertinya kurang tidur maka dia berinisiatif untuk menyetir roda empat miliknya.


Setelah berpamitan pada Puja dan Vanes keempat orang beda usia itu pun bersiap untuk menuju ke kota lain.


"Kamu begadang lagi Ga?", tanya Arya.


"Nggak begadang juga sih Pa, cuma agak malam aja tidurnya!", jawab Lingga.


Galuh yang duduk bersama Gita dibelakang terlihat memerah wajahnya. Sudah tentu papa mertuanya itu berpikir yang bukan-bukan meskipun memang seperti itu kenyataannya.


Gita yang menyadari menantunya tersipu malu pun menepuk punggung tangan Galuh dengan pelan lalu tersenyum.


"Gak apa-apa Luh, nggak usah malu!", ujar Gita menenangkan menantunya.


Galuh mencoba untuk bersikap biasa saja pada mertuanya tersebut dengan tersenyum tipis.


"Iya mah!", jawab Lingga.


Arya dan Lingga terlibat obrolan serius tentang perusahaan yang Puja kendalikan saat ini. Sedang Gita dan Galuh di belakang mengobrol hal lain dengan suara yang sedikit lebih pelan. Sepasang Mama mertua dan menantu itu mengobrol hal-hal yang sedikit sensitif.


"Maafin anak mama kalau dia berlebihan memperlakukan kamu saat meminta haknya ya Luh! Tapi kalau boleh Mama bicara, sebagai seorang istri kita berikan pelayanan yang terbaik untuk suami kita. Karena kadang banyak diluar sana pasangan yang menyimpang itu karena kurangnya rasa puas dalam pelayanan yang diberikan oleh istrinya dirumah."


Galuh cukup mengerti apa yang mertuanya katakan. Memang benar kadang pasangan hanya mencari kenyamanan dari orang lain yang tak bisa dia rasakan oleh pasangannya sendiri.


"Iya mah insya Allah Galuh akan melakukan semampu Galuh. Dan Galuh yakin jika Abang itu tipikal setia seperti papa Arya. Galuh tahu betapa papa sangat mencintai mama."


Gita tersenyum mendengar pujian Galuh pada suaminya. Memang benar di balik sikap kaku dan arogannya seorang Arya dia adalah laki-laki yang sangat mencintai pasangannya.


"Tolong ya Luh, kalau suami kamu berbuat kesalahan atau akan berbuat hal yang kiranya akan mengganggu hubungan kalian ,tegur dia! Kalian sudah melewati masa-masa sulit, jadi inilah saatnya kalian mempertahankan apa yang sudah kalian perjuangkan dulu."


Galuh mengangguk pelan.


"Iya Ma kami masih sama-sama belajar untuk saling memahami. Bagaimanapun dua isi kepala manusia tidak bisa sama. Salah satunya harus ada yang mengalah atau mencari solusi yang terbaik untuk keduanya."


"Lingga memang tidak salah pilih istri. Pantas saja saat dia dinikahkan paksa sama kamu dulu ,dia tidak menolaknya. Mungkin sudah insting kalau istrinya tidak hanya cantik rupanya tapi juga hatinya."


"Mama terlalu memujiku. Mama tidak tahu saja seperti apa keburukanku."


"Memang keburukan kamu apa Luh?", tanya Gita mengernyitkan alisnya.


"Ada lah mah lama-lama mama juga tahu hehehe", jawab Galuh. Gita menggeleng pelan. Ternyata ada yang dia tak tahu, menantunya bis seceria ini. Gita pikir, Galuh perempuan kalem yang jaim berbicara dengan mertuanya sendiri. Tapi kenyataannya??? Galuh tetap lah Galuh yang tak pernah gengsi menjadi dirinya sendiri.


Beralih ke obrolan dua lelaki berbeda usia di depan.


"Kalau Papa capek biarin Lingga yang nyetir?!", kata Lingga.


Arya melirik sang putra bungsu dengan cukup tajam. Hal itu cukup membuat Lingga sedikit ngeri.


"Papa belum sejompo itu, Ga!", sahut Arya dengan suara yang seperti biasa, lantang!


Lingga terkekeh pelan mendengar celetukan papanya yang tak ingin disebut jompo padahal usianya sudah lansia di atas lima puluh tahun lebih banyak.


"Iya Papa, si paling muda!", sahut Lingga santai.


Arya tak menyahut lagi celetukan putra bungsunya.


Tak lama kemudian ponsel Arya berdering ada nama Lukas di sana.


"Eum...apa mau diangkat sama Lingga aja?", tanya Lingga.


"Papa aja ! Tolong ambilin handsfree-nya Ga!", pinta Arya.

__ADS_1


Linga mengambilkan handsfree di dalam laci dashboard lalu ia berikan pada Papanya.


[Iya Lukas]


[....]


[Lalu di mana puja?]


[.....]


[Atur saja seperti yang pernah saya perintahkan. Jangan biarkan Lita berkeliaran sembarangan di kantor. Kalau dia masih bersi keras ,tolong tunjukkan bukti-bukti bahwa dia tidak layak mendapatkan warisan satu sen pun dari Yudis.]


[....]


[Jangan lupa berikan bukti yang menunjukkan bahwa Yudis tidak subur dan bukti perselingkuhan Lita. Biar Lita tidak mengungkit hak dari anaknya yang ternyata bukan anak kandung Yudis]


[.....]


[Oke terima kasih Lukas saya percayakan padamu. Tolong tetap bimbing Puja ya jangan sampai dia salah langkah]


[.....]


Pnggilan antara Arya dan Lucas pun selesai. Lingga menoleh pada papanya.


"Tante Lita bikin keributan di kantor pah?", tanya Lingga.


"Iya !",awab Arya singkat.


"Tadi Papa bilang apa bukti tentang Om yudis yang tak subur?", tanya Lingga lagi.


"iya."


"Lalu Inka?", tanya Lingga.


Galuh yang duduk di belakang Lingga mendengar suaminya menyebut nama Inka yang cukup ia ingat sebagai salah satu mantan pacar suaminya tersebut.


Suara deheman dari seorang perempuan yang cukup nyaring membuat dua orang laki-laki yang duduk di depan sedikit terkejut. Gita pun mencoba untuk menenangkan sang menantu dengan mengusap bahu Galuh.


"Oh jadi Inka itu anaknya tante Lita ? Pantes dia tuh liatin aku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ternyata dia mau bandingin aku sama dia karena dia mantan kamu gitu ya Bang?",sindir Galuh.


"Astaghfirullah Yang!", Lingga mengelus dadanya pelan.


"Apa??? Orang dia emang lihatin aku sampai segitunya kok. Untungnya dia nggak ngomong macam-macam. Ngga kaya mantan kamu yang lain kemarin."


Arya mencoba untuk menahan tawanya saat sang menantu sedang memarahi putranya sendiri gara-gara cemburu.


"Mama bujukin Galuh dong biar nggak berpikir yang buruk-buruk lagi!", Lingga memelas pada mamanya agar bisa membantu membujuk Galuh. Tapi Gita hanya mengedikkan bahunya.


"Itu cuma masa lalu Yang."


"Masa lalu sih tapi kan ketemu kemarin nggak cuma satu. Banyak banget mantan bapak , ye kan???", sindir Galuh seolah lupa ada mertuanya di dalam mobil yang sama.


Arya tak mampu lagi menahan tawanya hal itu menarik perhatian Lingga, Galuh dan Gita yang baru melihat Arya tertawa lepas seperti itu.


"Kok Papa senang sih aku berantem dengan istriku sendiri?", tanya Lingga yang membuat Arya mengehentikan tawanya.


"Kenapa?", tanya Arya.


"Kok kenapa sih Pa? Papa mau aku sama istriku berantem?", tanya Lingga.


"Ya nggaklah cuma heran aja kenapa masalah seperti itu harus membuat kalian bertengkar. Inka juga bukan selera kamu Ga. Kamu pikir Papa tidak tahu sepak terjang kamu selama jadi playboy", sindir Arya pada putra bungsunya.


Galuh dan Gita akhirnya tersenyum mendengar ucapan Arya yang di tujukan pada Lingga.

__ADS_1


Disebuah rest area keempat orang itu memutuskan untuk beristirahat dan makan siang. Rencananya usai istirahat Lingga yang akan menyetir mobilnya.


"Yang aku ke kamar mandi dulu deh! Kalian pesan makanan dulu aja!", ucap Lingga pada istrinya.


"Iya Bang!", sahut Galuh.


Arya, Gita dan juga Galuh memesan makanan yang ada di rest area tersebut. Sedang Lingga sendiri langsung menuju ke toilet. Dia mencuci mukanya agar lebih segar dan tidak mengantuk saat mengendarai mobilnya nanti.


Saat ia keluar dari toilet, tak sengaja ia menabrak bahu seseorang.


Brukkk...


"Awsssh...",desis seseorang.


"Eh.... sorry sorry maaf maaf, anda tidak apa-apa?", tanya Lingga.


Seseorang yang jatuh tersebut mendengar dan langsung bangun dari lantai di mana ia tadi jatuh terduduk.


"Lingga? Lo disini?", tanya Karen.


Lingga tak menyangka akan bertemu lagi dengan Karen di tempat yang jauh dari ibu kota.


"Sendirian aja Ga?", tanya Karen sok akrab.


"Nggak bareng istri dan mama papaku."


"Oh kirain gue lo sendirian. Gue pikir kita jodoh karena ketemu lagi!",ucap Karen dengan kekehan kecil.


"Sorry Ren gua duluan permisi." Lingga lngsung meninggalkan Karen begitu saja. Dia sama sekali tak tertarik untuk mengobrol dengan Karen.


"Lama amat sih Ga?", tanya Gita.


"Iya ma!", sahut Lingga santai.


"Abang dipesenin apa Yang?", tanya Lingga.


"Sop iga sama gurame goreng!", jawab perempuan cantik itu.


"Ga kolesterol nih?Makin bengkak ini mah",tapi tangannya tetap menyendok makanannya.


"Nggak papa ,aku tetap sayang bang!"


"Malu atuh Yang sama mama papa kalau kamu gombalin Abang di sini!"


"Terus maunya di gombalin sama Karen. Mungkin kita jodoh??? Iya?"


Lingga menautkan alisnya, bagaimana tiba-tiba istrinya membahas tentang Karen???


"Aku lihat abang tadi ketemu sama Karen di toilet!!?", sahut Galuh menyesap SOP nya dengan pelan.


Arya dan Gita saling melirik satu sama lain. Mereka pasti berpikir jika perang dunia selanjutnya akan segera dimulai.


"Udah makan aja dulu nanti dilanjut lagi berantemnya di mobil!", ujar Arya.


Galuh dan Lingga pun menurut apa yang Arya perintahkan. Tak ada obrolan apapun sampai mereka kembali ke mobil.


"Lingga! Boleh nebeng ngga sampai hotel depan? Mobil aku mogok!", kata Karen yang tiba-tiba menghampiri mobil Lingga.


Semua mata tertuju pada Karen yang dengan percaya dirinya menghampiri keluarga Lingga.


****


Boleh nebeng ga Luh???? 🤭🤭🤭

__ADS_1


Untuk semuanya, Mak othor sampaikan banyak terimakasih 🙏🙏🙏🙏


21.27


__ADS_2