
"Papa!", ulang Lingga. Arya hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap kebun. Syam seolah paham jika abangnya ingin berbicara dengan Arya, maka dari itu ia pun meninggalkan Arya dan Lingga.
"Pa, Syam haus. Mau ambil minum dulu ya!", pamit Syam. Arya tak menyahut ucapan Syam.
Karena Syam pergi, Arya pun berniat meninggalkan teras tersebut. Dia hanya tidak mau akan ada pertengkaran lagi dan lagi. Karena dia harus hemat energi untuk pulang ke kota nanti.
"Tunggu pa!", tahan Lingga. Arya menoleh dan menatap tajam pada putra bungsunya.
"Ada apa?", tanya Arya dengan nada galak.
"Kenapa selama ini papa bohong!", kata Lingga. Arya yang bingung dengan ucapan Lingga pun mengibaskan tangannya dan memilih abai. Dia tetap melangkahkan kaki nya menjauh dari Lingga.
"Papa tidak pernah membenci Galuh! Papa takut jika dekat dengan Galuh, papa menyayanginya dan tidak bisa kehilangan nya. Papa takut aku menderita seandainya Galuh meninggalkan aku lebih dulu. Kenapa cara berpikir papa sejauh itu?"
Arya terdiam. Lingga mendekati Arya hingga keduanya berhadapan.
"Papa bohong! Papa bilang tidak peduli pada kami! Tapi kenyataannya justru papa yang sudah membantu kami! Tapi kenapa papa membiarkan kami selalu salah sangka sama papa seolah papa ini pantas di benci?"
"Ngomong apa kamu ini!", Arya mencoba melangkah lagi.
"Aku tidak pernah tahu masa lalu papa yang membentuk papa bersikap seperti ini. Kenapa papa begitu menyayangi Syam, karena papa merasa kalian senasib? Bahkan Lingga sebagai putra kandung papa, tak pernah tahu apa yang terjadi dan papa alami!"
Arya menatap putranya dengan tajam.
"Alex sudah menceritakan semuanya pa! Sampai kapan papa akan pura-pura membenci kami?"
"Ccckkkk...Alex! Kamu percaya dengan ucapan bocah itu!??", tanya Arya sinis.
"Aku percaya. Karena dia baru jujur mengatakannya sekarang. Bukan dari dulu! Itu pun karena dia melihat papa ada di sini!"
"Alex di sini?", tanya Arya. Lingga pun mengangguk.
Arya tak ingin mendengar Lingga lagi, ia mencoba kembali melangkah tapi lagi-lagi Lingga menahannya.
__ADS_1
"Pa! Tolong turunkan ego papa. Papa tidak perlu gengsi untuk mengakui Galuh sebagai menantu papa! Tolong terima istri ku pa! Katakan pada semua, papa menerima kehadiran Galuh sebagai istri ku. Menantu dari keluarga Arya Saputra!", kata Lingga sambil memeluk lutut Arya.
Terdengar helaan nafas dari bibir Arya. Dia menatap langit-langit teras lalu selebihnya ia memejamkan matanya.
"Beri papa waktu!", kata Arya pada akhirnya. Lingga mengendurkan Pelu di kaki Arya. Calon bapak itu pun bangkit lalu memeluk papanya yang sudah lebih dari belasan tahun tak pernah ia lakukan.
"Terimakasih pa, terimakasih!", ucap Lingga di sela pelukannya. Tangan Arya terulur untuk membalas pelukan pada putra bungsunya.
"Tapi papa tidak bisa berjanji untuk melakukan dalam waktu dekat ini!", ujar Arya.
Lingga mengangguk.
"Tak apa pa. Yang penting Lingga tahu jika sebenarnya papa tak pernah membenci Galuh. Lingga juga sudah menjadi orang tua pa, Lingga juga ingin yang terbaik untuk anak-anak nanti nya. Seperti halnya papa yang menginginkan kami, anak-anak papa mendapatkan hal yang terbaik."
Arya tak membalas ucapan Lingga lagi, kali ini ia benar-benar meninggalkan Lingga tak ingin di tahan lagi. Yang ada...Arya semakin merasa jika wibawa nya jatuh karena selama ini ia gengsi mengakui keberhasilan Galuh yang bisa merubah sosok Lingga.
Lelaki setengah baya itu berniat menuju ke kamarnya. Tapi ternyata ia melihat Galuh sedang duduk bersama seseorang, mungkin pekerja nya karena terlihat dari pakaiannya.
"Punten neng!", kata pekerja itu.
"Eum, saya teh mau kasbon. Boleh teu?", tanya nya. Galuh pun mengangguk.
"Boleh, berapa mang?", tanya Galuh. Arya mendengar percakapan keduanya.
"Eum, kalau boleh sepuluh juta neng!", katanya. Galuh menghentikan tangannya yang sedang merapikan bon. Si mamang tadi terlihat gelisah.
"Boleh, harus hari ini ngga? Saya ngga pegang uang kas sebanyak itu. Kalo amang ada nomer rekening teh saya transfer, tapi kalo ngga ada ya ngga apa-apa. Nanti saya ambil dulu ke ATM!", kata Galuh.
Si mamang itu menganga tak percaya jika dengan mudahnya Galuh akan memberikan pinjaman.
"Sore aja ngga apa-apa neng! Saya mah ngga punya nomor rekening apa-apa selain rekening listrik!", jawab si amang.
Galuh justru terkekeh pelan.
__ADS_1
"Neng ngga tanya uang sebanyak itu teh buat apa sama saya?", tanya Si amang.
"Emang nya saya berhak tahu ya mang? Kalo memang pinjem, berarti kan karena emang ada kebutuhan mendesak!", jawab Galuh.
"Kenapa sih neng Galuh baik sekali. Main ngasih aja padahal ngga tahu alasannya."
Galuh memilih tersenyum tipis.
"Kalo saya sedang bisa membantu, saya bantu mang. Insyaallah Ikhlas!", kata Galuh.
"Eum...jadi anak saya teh mau menikah. Uang itu insya Allah buat walimatul ursy sederhana aja neng!"
"Oh, gitu! Iya mang, nanti sore ngga apa-apa kan mang? Emang kapan acaranya?"
"Minggu depan neng!"
"Oh, gitu...!", Galuh manggut-manggut.
"Kalo boleh, utang nya dipotong dari upah saya saja neng!", kata si amang. Galuh tersenyum kecil.
"Iya gampang soal itu mah. Yang penting mamang sebagai orang tua, menunaikan kewajibannya buat menikahkan anaknya mang. Kemewahan atau apapun itu hanya bentuk rasa syukur, yang penting sah dan sakral ya mang hehehe!"
"Kenapa sih neng Galuh teh meuni baik pisan!", puji si Amang dengan mata berkaca-kaca.
"Prinsip saya sama sama Abang teh gini mang, seperti kata Imam Syafi'i : Kebaikan dunia dan akhirat terdapat dalam lima perkara yaitu jiwa yang merasa cukup, tidak menyakiti orang, mencari Rizki yang halal, selalu bertakwa dan selalu percaya dan bergantung kepada Allah dalam semua hal."
Si amang mengangguk perlahan tanda mengerti.
"Kalo sekarang saya bisa menolong mamang, mungkin Allah sedang memberi kepercayaan pada saya agar bisa menolong mamang. Apa yang saya lakukan, nanti nya akan kembali lagi pada diri saya sendiri mang. Tolong jangan terlalu memuji saya berlebihan, nanti kalo saya berubah jadi sombong kan repot hehehehe!"
Si amang pun ikut tertawa, dan di sudut pintu. Arya tersenyum melihat menantunya yang memang baik, bukan pura-pura baik.
Harusnya aku bersyukur memiliki menantu seperti nya! Batin Arya, tapi setelah itu ia pun berlalu meninggalkan Galuh dan pekerja nya.
__ADS_1
Galuh yang sempat merasa ada orang melintas di belakangnya pun menoleh, tapi dia tidak tahu siapa yang tadi berada di belakangnya.