
"Kak, Abang! Mama Gita dan yang lain udah datang!", kata Sekar mengetuk pintu kamar Galuh.
"Iya Bu!", sahut Galuh.
Setelah mendengar sahutan putri sulungnya, Sekar pun meninggalkan pintu kamar Galuh.
"Bang, udah pada datang tuh! Ayo keluar!", ajak Galuh.
"Duluan aja Yang, Abang mau Dhuha dulu!", kata Lingga. Galuh pun hanya mengangguk pelan lalu membopong Ganesh untuk di bawa keluar.
Perempuan cantik itu menemui mertua dan keluarga lainnya.
"Cucu Oma belom bobo pagi apa baru bangun?", tanya Gita menowel pipi Ganesh.
"Belum bobo Oma, di ganggu mulu sama ayahnya!", adu Galuh.
"Lingga mana Luh?", tanya Arya.
"Lagi sholat Dhuha dulu, Pa. Sebentar ya!"
Arya dan yang lain cukup tercengang mendengar ucapan Galuh. Apa yang salah???
"Eh, udah pada sarapan belum?", tanya Galuh yang melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Udah dong!", jawab mama Gita. Mereka semua pun memilih duduk di teras samping yang cukup luas. Selain itu ada tanaman milik Sekar yang menyejukkan mata.
Syam menghampiri Galuh yang masih mendekap Ganesh.
"Kak, adek ke kamar nemuin Abang ya!", kata Syam pelan.
"Iya!", kata Galuh memberi jawaban. Syam pun meninggalkan beberapa orang yang ada di sana. Tak berapa lama Sekar pun mengekor di belakang Syam.
"Adek?!", panggil Sekar. Syam pun menoleh pada ibunya.
"Iya Bu?"
"Kamu jadi ikut papa kamu ke Jakarta?", tanya Sekar. Syam mengangguk tipis.
"Ibu bolehin kan?", tanya Syam harap-harap cemas.
Sekar mengusap kepala Syam pelan.
"Boleh, tapi jangan lama-lama!", kata Sekar sendu. Syam tersenyum lalu memeluk ibunya yang sekarang tinggi nya sudah hampir sama dengannya.
"Ngga Bu, cuma liburan doang!", kata Syam. Sekar mengusap kepala Syam. Di sudut yang tak jauh dari ibu dan anak itu, nampak Glen yang berdiri di belakang mereka.
Lelaki itu menatap ibu dan anak yang tengah berpelukan dan mengobrol akrab seperti tadi. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin memberikan keluarga yang utuh untuk Syam. Tapi dia juga tidak bisa serakah, banyak hati yang harus ia jaga perasaannya.
Tidak hanya Helen, tapi orang-orang di sekitarnya.
"Bu, adek mau ngobrol sama Abang dulu ya!", kata Syam melepaskan pelukannya.
"Iya. Ibu beresin baju adek dulu. Mau pakai ransel gunung atau koper Abang?", tanya Sekar.
"Hehehe ibu! Pakai ransel biasa aja. Ngga usah bawa baju banyak-banyak. Gampang beli di sana nanti."
"Eh....jangan merepotkan Opa dan papa kamu lho dek!", towel Sekar ke hidung Syam.
"Masyaallah, ngga lah Bu. Kan Syam ge punya cicis sorangan heheh!", kilah Syam. Sekar terkekeh pelan mendengar jawaban Syam.
Setelah itu, Syam pun mengetuk pintu kamar Galuh yang kebetulan Lingga tengah membuka daun pintu tersebut.
"Boleh adek masuk bang, mau ngomong sama Abang hehe!"
Lingga mengacak kasar rambut Syam.
"Penting banget nih kayaknya!", ledek Lingga.
Setelah itu Syam pun masuk ke dalam kamar Galuh.
Glen meneruskan langkahnya menuju ke kamar mandi bersamaan dengan Sekar yang berbalik badan.
Kedua pasang mata itu saling berpandangan beberapa detik. Tapi beberapa detik kemudian, Sekar menunduk dan tersenyum tipis tanpa mengatakan apa pun pada Glen.
"Aku tidak akan pernah merebut Syam dari kamu, Sekar! Tapi tolong beri aku kesempatan untuk bersama putra ku!", kata Glen. Sekar menghentikan langkahnya tanpa menoleh, dia memberikan jawaban.
"Iya, silahkan!"
Setelah itu ia meninggalkan Glen yang masih menatap punggung kecil yang menjauh darinya. Setelah punggung itu tak terlihat, Glen masuk ke dalam kamar mandi.
Di kamar....
"Mau ngomong apa sih! Kayaknya serius banget!", kata Lingga menyilangkan kakinya di hadapan Syam yang duduk bersila di karpet.
"Abang beneran bolehin adek ikut ke Jakarta kan?", tanya Syam.
"Kan kemarin teh udah jawab Dek. Boleh! Kenapa ini heum?", tanya Lingga.
"Adek teh bingung bang. Nanti di sana, mau tidur di mana!", kata Syam. Lingga tertawa mendengar kebingungan Syam.
"Kok malah ketawa sih bang?", tanya Syam sambil merajuk.
__ADS_1
"Ya kan kamu mau ikut papa kamu! Ya tinggal di rumah papa mu atau opa mu lah dek!", jawab Lingga.
"Eum... ngga enak sama Tante Helen, bang!", kata Syam menunduk memainkan jemarinya. Lingga mulai memahami perasaan Syam. Lelaki itu menekan pelan bahu adik iparnya tersebut.
"Dek, Tante Helen insyaallah udah menerima kamu kok. Lihat kan sikapnya sekarang?"
Syam mengangguk.
"Tapi...adek cuma mau jaga perasaan Tante Helen aja bang."
"Terus, kamu ngga mau kasih kesempatan papa kamu biar dekat sama kamu juga dek?"
Syam mendongak.
"Dek, papa kamu sedang berusaha memperbaiki hubungan kalian. Kamu, Zea dan Tante Helen. Jangan patahkan usaha papa dengan alasan yang hanya persepsi kamu sendiri!"
Syam menyelami ucapan kakak iparnya tersebut. Apa yang kakak iparnya katakan cukup menyadarkannya.
"Tapi...adek ngga enak sama Tante Helen, bang!", kata Syam lirih.
Lingga mengusap pelan bahu adik iparnya tersebut dengan pelan.
"Coba saja dulu Dek. Tinggal beberapa hari di rumah papa kamu. Kalau ternyata sikap Tante Helen menunjukkan bahwa dia tidak suka keberadaan kamu, kamu bisa bilang sama Abang. Nanti Mas Burhan jemput kamu! Kamu bisa ikut nginep di kafe. Kalo kamu ke rumah Opa, takut nya Zea cemburu. Nanti dia pikir Opa nya juga pilih kasih."
Syam menghela nafas.
"Udah, positif thinking aja. Abang tahu kok, Tante Helen itu baik. Kan Abang dari kecil udah sama Tante Helen. Kalo adek mau tahu, usia Abang sama Tante Helen ngga beda jauh lho! Kami biasa main bareng dari kecil, bahkan sampai Abang dan Tante Helen sama-sama belum menikah."
Syam tersenyum tipis lalu mengangguk. Dia yakin apa yang Abang nya katakan adalah kebenaran. Tidak mungkin Lingga akan membohongi dirinya.
"Ya udah, ayok keluar!", Lingga merangkul bahu Syam dan keluar bersama menghampiri keluarga besarnya di luar.
.
.
.
"Jadi rencana kamu apa Lim?", tanya Arya pada Salim.
"Insyaallah saya mau buka warung di pasar tuan...eh...mas!", jawab Salim agak kagok karena mengubah panggilan pada majikannya yang sudah bertahun-tahun itu menjadi 'mas'.
"Warung apa?", tanya Gita menimpali.
"Sayuran segar, sekalian mendistribusikan sayuran di belakang."
Gita dan Arya pun mengangguk. Sekar yang sudah mendengar rencana itu sebelumnya tampak biasa saja.
"Kenapa harus warung sayuran saja? Tidak sekalian dengan sembako? Ada beras di penggilingan Lingga kan?", tanya Arya.
Glen dan Puja mengobrol tentang perusahaan mereka yang di tinggalkan beberapa hari di kampung ini. Beruntung mereka memiliki orang-orang kepercayaan hingga tak membuat mereka terlalu kelimpungan.
Dua gadis kecil itu pun sibuk dengan Ganesh yang masih di pangkuan Galuh.
Lingga dan Syam bergabung dengan keluarga besar tersebut.
"Maaf telat gabung!", kata Lingga. Ekspresi wajah mereka tentu saja tak marah. Masa iya, mau marah! Kan mereka yang bertamu.
"Nanti sore kami pulang ke Jakarta Ga!", kata Glen. Lingga mengangguk pelan.
"Iya, tadi Syam juga udah bilang ke Abang!", kata Lingga.
Tak lama kemudian, ponsel Lingga berdering. Dia melihat sekilas nama yang menghubunginya.
"Maaf, mau angkat telepon dulu sebentar!", ucap Lingga menjauh dari keluarganya.
[Assalamualaikum pak Haji!]
[Walaikumsalam, den Lingga. Saya sudah berunding dengan istri dan anak-anak saya. Alhamdulillah mereka setuju untuk menjualnya ke Den Lingga]
[Alhamdulillah, saya senang sekali dengar nya pak Haji. Jadi kapan kita bisa melakukan transaksi?]
[Saya di rumah terus kok den Lingga, sesempatnya den Lingga saja!]
[Oh begitu, insyaallah nanti malam saya ke rumah bapak. Terimakasih sebelumnya ya pak Haji]
[Sama-sama Den Lingga]
[Iya den, assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Setelah menutup panggilan telpon dari pemilik tanah incarannya, Lingga duduk di samping Galuh. Keluarga nya masih mengobrol satu sama lain.
Tahu kah siapa yang paling sibuk? Jelas Mumun! Beruntung ada tetangganya yang berkenan membantunya di sana selama keluarga majikannya di rumah tersebut. Jika tidak??? Sudah di pastikan Mumun akan kewalahan sendiri.
"Yang!", bisik Lingga yang justru terdengar oleh yang lain.
"Apa sih bang?", tanya Galuh.
"Tadi pak Haji Udin ngabarin kalo dia dan keluarganya udah deal mau lepas tanah itu buat kita. Insyaallah ntar malam Abang ke sana, kamu ikut ya yang?!", kata Lingga.
__ADS_1
"Heum, insya Allah bang?!", kata Lingga.
Helen yang duduk tak jauh dari Galuh pun menimpali ucapan Lingga.
"Kamu, beli tanah Ga?", tanya Helen.
"Iya Tan, rencananya kami mau bikin rumah di sana", jawab Lingga.
"Lalu, rumah ini?", tanya Galuh. Mungkin pertanyaan yang sama dengan yang lainnya.
"Ini kan rumah ibu, tentu saja ibu yang tinggal di sini. Lingga juga pengen kali Tan ngasih rumah buat anak istri Lingga!", kata Lingga. Helen tersenyum mendengar jawaban dari Lingga.
Tapi ada sosok yang terdiam mendengar jawaban Lingga. Sayangnya, hanya Galuh yang menyadari raut wajah orang tersebut.
.
.
.
Bada Ashar semua tamu sudah kembali ke ibu kota. Sedang Arya dan Gita pun sudah pulang ke rumah sederhana mereka. Tersisa Galuh, Ganesh, Lingga serta pasangan pengantin baru.
"Kak, kayaknya udah lama banget ibu ngga masak pepes Nila. Ibu mau masak ya!", kata Sekar pada Galuh lalu menyerahkan Ganesh pada ibunya.
"Mau kakak bantu ngga? Biar Ganesh sama Abang?!", tawar Galuh.
"Ngga usah Kak, udah kamu sama Ganesh aja!", kata Sekar meninggalkan Galuh dan Ganesh.
Karena Ganesh sudah tidur sebelum ashar tadi, saat ini bayi itu sedang membuka matanya lebar-lebar.
Galuh menghampiri suami dan bapak tirinya yang sedang mengobrol.
"Maaf ya mang, aku ngga ada maksud buat rendahin mang Salim. Tapi serius, aku cuma pengen ibu sama mang Salim punya privasi. Ngga ada maksud yang gimana-gimana!", kata Lingga. Galuh ikut duduk di samping Lingga.
"Iya, saya tahu maksud kalian baik. Tapi...kesannya saya tidak berguna sekali. Saya tidak punya apa-apa, tapi berani-beraninya memperistri Sekar."
"Jangan bicara seperti itu mang!", kata Galuh.
Salim tersenyum simpul.
"Terimakasih ya neng Galuh. Saya yang cuma supir begini, di terima dengan baik oleh keluarga kalian."
"Memangnya apa salahnya sama profesi supir sih mang? Ngga ada. Kalau pun sekarang mang Salim udah ngga jadi supir, mang Salim bisa ngerjain yang lain."
"Rencananya saya mau buka warung di pasar. Ambil sayurnya dari kebun Syam."
"Eum...boleh juga tuh Mang. Udah dapat tempatnya?", tanya Lingga.
"Belum, tapi insyaallah besok pagi mau cari tempat. Malah, mas Arya ngasih ide buat bikin warung sembako sekalian. Nanti ambil berasnya di penggilingan padi den Lingga."
Lingga manggut-manggut.
"Ehem, mulai sekarang coba di biasakan manggil nya teh. Abang, sama kakak, terus adek ke Syam. Terus kita panggil mang Salim Abah aja, gimana? Biar lebih akrab aja!", kata Galuh.
"Mang Salim masih muda kali Yang, masa di panggil Abah!", sahut Lingga.
"Kenapa ngga...?", tanya Galuh.
"Iya, apa aja boleh! Terserah kalian, Abang, kakak!", kata Salim tersenyum melihat sepasang suami istri yang ribut perkara panggilan.
"Lagi pula, wajar di panggil Abah. Kan selain udah punya istri, anak dan menantu juga udah punya cucu juga!", kata Salim.
Galuh dan Lingga berpandangan lalu setelahnya mereka terkekeh bersama.
"Tapi kayaknya kakak mau otewe punya adik lagi nih!", ledek Lingga pada Galuh dengan menaik turunkan alisnya. Tapi justru Salim yang memerah wajahnya.
"Doakan saja!", kata Salim pada akhirnya.
Mulut Galuh ternganga, lalu setelah itu ia mencubit perut Lingga.
"Abang ihhhh....!"
"Awshhh.... sakit Yang!!!!", pekik Lingga hingga membuat Ganesh terkejut dan menangis.
"Kamu sih Yang!", kata Lingga.
"Kan Abang yang teriak!", kata Galuh tak mau di salahkan.
"Kan kamu yang nyubit Yang!", Lingga masih kekeh.
Salim menggeleng pelan dengan sikap keduanya. Dia baru tahu sisi lain sepasang suami istri muda itu.
Suka bercanda dan suka berdebat!
Di sisi lain, Sekar pun yang tak sengaja mendengar obrolan mereka pun memilih diam. Di usapnya perutnya yang sudah tak selangsing saat muda dulu.
Aku sudah tua, apa aku bisa memberikan anak buat kamu Kang? Batin Sekar.
****
15.47
__ADS_1
Dalam rangka apa up siang menjelang sore begini??? 🤣🤣🤣🤣
Terimakasih banyak-banyak 🙏🙏🙏🙏