Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 40


__ADS_3

"Di minum bang kopinya!", pinta Galuh.


"Makasih sayang!", jawab Lingga lalu meraih cangkir kopinya. Keduanya sedang duduk di teras sambil menikmati pemandangan kebun yang ada di halaman samping rumah mereka.


Setelah beberapa tahun lalu keduanya keluar dari kediaman keluarga Arya, Galuh dan Lingga memilih menetap di kampung halaman Galuh.


Usahanya masih berjalan, hanya saja orang kepercayaan mereka yang menjalankannya. Rumah makan milik Galuh sekarang sudah semakin besar dan memiliki beberapa pegawai. Salah seorang kepercayaan mereka tentu lah Burhan. Dia menjadi orang kepercayaan Lingga di minimarket yang bersebelahan dengan rumah makan Galuh. Dia juga yang bertanggung jawab atas rumah makan tersebut dan berjalan sampai sekarang.


Semudah itu mereka sukses??? Tidak! Banyak yang harus mereka lalui hingga berada di titik ini.


"Luh, ibu mau ke kebun pare dulu ya!", pamit Sekar.


"Iya Bu, hati-hati. Nanti Syam nyusul ke sana!", balas Galuh.


Ngomong-ngomong, Sekar sudah sembuh dari sakitnya. Meski ia berjalan harus pelan. Tapi memaksa nya agar tetap tinggal di rumah, juga membuat ia stres. Galuh ingin ibunya kembali normal seperti dulu.


Dan, sejak kepindahan mereka di kampung, perlahan Sekar menerima kehadiran Syam. Itu pun atas campur tangan Lingga. Ia sangat berperan penting untuk menyatukan keduanya. Tak mudah memang. Tapi bagaimana pun mereka tetap lah memiliki ikatan darah.


"Bang!"


''Heum?",gumam Lingga.


"Abang ngga ada niatan buat jenguk Mama?", tanya Galuh sambil mengelus perutnya yang membuncit. Ya, dia tengah hamil lima bulan sekarang.


Lingga menoleh sekilas pada istrinya. Ia pun memajukan bangkunya agar bisa mendekati sang istri.


Lelaki tampan itu, mengusap lalu menciumi perut Galuh dengan penuh kasih sayang. Galuh reflek mengusap kepala Lingga hingga lelaki itu pun mendongak.


"Abang ingin bertemu mama, tapi...Abang tidak mau mama yang akan jadi sasaran kemarahan papa!", kata Lingga pelan.


"Bang, kita coba saja dulu. Niat kita bertemu mama. Pasti mama kangen banget sama Abang?", kata Galuh lagi sambil mengusap pipi suaminya.


"Abang tahu. Tapi... melihat dan mendengar informasi dari Burhan kalau mama baik-baik saja, bagi Abang sudah cukup Luh!", jawab nya tersenyum lalu mengusap lagi perut buncit Galuh.


"Coba maafkan papa, bang! Insyaallah Abang pasti akan merasakan jauh lebih tenang."


Lingga menggeleng pelan. Lalu menyandarkan punggungnya ke punggung kursi. Tangan nya merengkuh bahu Galuh.

__ADS_1


"Papa tidak akan pernah berubah sayang! Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Lihatlah, tanpa campur tangan dan kekuasaan papa kita bisa seperti sekarang. Ya, intinya karena rezeki dari yang kuasa."


Lelaki itu mengusap lengan atas istrinya.


"Anggap saja cemooh dari papa adalah motivasi kita bisa sukses seperti sekarang Bang!", Galuh mencoba membujuk suaminya.


"Mungkin...iya! Tapi, hati Abang masih sakit Luh. Bahkan mungkin tidak akan pernah bisa Abang lupakan sampai kapanpun."


Galuh menghela nafas panjang. Dia tak tahu harus bicara apa lagi. Keduanya menatap lahan luas yang menjadi penghasilan selama mereka di kampung halaman dengan tetap mendapatkan penghasilan dari kota.


Lingga menerawang kejadian dimana saat wabah covid parah menyerang. Usaha yang baru dirintis yang awalnya booming semakin hari semakin sepi. Begitu pula dengan rumah makan Galuh. Di tambah lagi, kondisi Sekar yang menurun. Dia lebih sering kumat karena Lingga mencoba membiasakan kehadiran Syam di antara mereka.


Disaat yang sama, Galuh tengah hamil besar. Lingga tak bisa egois, ia pun terpaksa merumahkan para karyawannya selama rumah makan belum beroperasi, begitu pula minimarketnya.


Dengan sisa tabungannya, ia memberikan gaji dan tunjangan untuk para karyawannya. Lingga meminta anak-anak untuk pulang kampung lebih dulu sampai situasi memungkinkan. Meskipun mereka berat meninggalkan tempat itu, terlebih Sari yang kesehariannya membantu Galuh merawat Sekar. Dia tidak tega melihat Galuh yang sedang hamil besar harus mengurus Sekar juga.


Tapi Lingga meyakinkan mereka semua, jika semua sudah membaik, Lingga akan kembali memanggil mereka. Tapi tidak dengan Burhan. Dia masih berada di sana untuk membantu Lingga semampunya.


Hingga masa sulit itu tiba.....


"Sayang, kamu mau melahirkan? Bukannya hpl nya masih dua Minggu lagi?", tanya Lingga panik. Galuh tak bisa menyahuti ucapan suaminya karena terlalu fokus dengan rasa sakit di perutnya.


"Kita ke rumah sakit ya sayang. Abang siap kan dulu keperluan kamu." Galuh pun mengangguk. Di depan televisi, Lingga menghampiri ibu mertuanya.


"Bu!"


Sekar spontan menoleh. Ia mengernyitkan alisnya.


"Maaf Bu, sepertinya Galuh akan segera melahirkan. Maaf sekali Bu, sekali ini saja bantu Lingga Bu. Biarkan Syam menjaga ibu. Lingga mohon!", Lingga mengatupkan kedua tangannya di depan ibu mertuanya.


Mata Sekar mengerjap, lalu mengangguk. Lingga menyalami tangan ibu mertuanya.


"Terimakasih Bu!", ucap Lingga. Setelah itu ia menghampiri kamar adik iparnya. Ia menjelaskan apa saja yang harus Syam lakukan selama ia dan kakaknya tidak di rumah.


"Tapi ibu?", tanya Syam ragu.


"Ibu mengerti Syam. Dia mau kamu menjaganya."

__ADS_1


"Benar kah?"


"Abang ngga bisa lama-lama. Harus berangkat sekarang. Jaga ibu baik-baik!Ya?"


"Siap bang!"


Lingga membawa Galuh menuju ke rumah sakit di temani Burhan. Wajah Galuh sudah memucat.


"Sayang, sabar ya!!?", Lingga mengusap kepala istrinya. Setelah sampai rumah sakit, Lingga langsung membawa Galuh ke UGD untuk di tindak. Tak lupa, ia dan Burhan memakai masker karena sudah di wajibkan selama pandemi.


Ternyata, Galuh dan bayinya perlu perawatan intensif karena mereka berdua terdeteksi positif covid. Ada perasaan yang tak bisa di gambarkan dalam hati Lingga. Rasa takut kehilangan anak dan istrinya.


Karena dia dan Burhan di ketahui berinteraksi dengan Galuh, keduanya pun di periksa. Beruntung, ia dan Burhan di nyatakan negatif.


Lebih dari sebulan, Galuh dan bayi mereka di rawat. Tiba saatnya menuju ke ruang administrasi, Lingga terpaksa melihat tagihan biaya rumah sakit anak dan istrinya bernilai fantastis.


Tabungannya sudah tak banyak. Tapi untuk membayar tagihan itu pun juga tak cukup. Ia pun mencoba memberanikan diri mendatangi keluarga papanya. Masa bodo di bilang menjilat ludah sendiri, jika bukan karena masalah nyawa anak dan istrinya, ia juga tidak Sudi menemui papanya.


''Papa bilang juga apa? Kamu tidak akan mampu hidup susah Lingga!", ledek Arya saat Lingga mengatakan niatnya untuk meminjam uang pada Arya. Meminjam, bukan meminta.


Tapi ternyata papanya sungguh tega dan tak berperikemanusiaan. Dia sama sekali tak tersentuh dengan kehadiran calon cucunya. Gita berusaha memberikan apa yang Lingga butuhkan, tapi cepat-cepat Arya mencegahnya. Alhasil, Lingga keluar dari rumah itu dengan perasaan kecewa dan juga sakit hati.


Dia tak tahu lagi harus melakukan apa. Hingga matanya tertuju pada sebuah kendaraan yang dia miliki. P**** sport berwarna hitam itu, harus ia jual. Meski murah, yang penting bisa membayar biaya anak dan istrinya di rumah sakit.


Koneksi Lingga cukup banyak, jadi saat ia akan menjual mobilnya hari itu juga, dia tak kesulitan. Yang penting adalah keselamatan keluarganya.


Setelah ia melunasi biaya rumah sakit, ia harus menghadapi kenyataan bahwa putra pertama nya tiada. Dan yang lebih menyakitkan, ia tidak bisa ikut memakamkan bayinya karena jenasahnya masih positif. Sedang Galuh sendiri mulai membaik. Hati ibu mana pun pasti akan sedih seperti Galuh. Tapi perempuan itu tabah menghadapi kenyataan bahwa itu yang terbaik untuk putra pertamanya.


Pulang dari rumah sakit, Galuh pun kembali sedih karena ia harus mendapati suaminya yang menjemput dengan taksi. Bukan masalah jemputan nya, tapi karena pasti kendaraan satu-satunya yang suaminya punya sudah di jual untuk biayanya selama di rumah sakit.


Lamunan Lingga usai saat sang istri memintanya masuk ke dalam rumah. Syam juga berpamitan untuk menyusul ibunya di kebun.


Lingga pun mengikuti apa yang isterinya minta. Dia ikut masuk kedalam rumah yang dulu reyot, tapi sekarang sudah cukup dari sekedar layak huni.


****


Semoga bisa di pahami ya gaes ✌️🙏🙏🙏 makasih

__ADS_1


__ADS_2