Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 161


__ADS_3

Arya meminta Salim untuk datang ke rumah baru nya. Ada hal penting yang harus ia katakan pada calon besannya tersebut.


Di sinilah keduanya sedang duduk menatap hamparan sawah yang masih hijau karena belum terlihat tanda-tanda akan panen.


"Sudah selesai semua persiapannya Salim?", tanya Arya.


"Alhamdulillah sudah tuan. Den Lingga juga sudah mendatangi warung sate yang menerima pesanan katering akikah Ganesh besok."


"Soal itu, aku sudah tahu. Tapi... tentang niat kamu melamar Sekar."


Salim menghela nafas perlahan. Meski bukan pertama kalinya ia di tanya tentang urusan nya dengan Sekar, kali ini cukup berbeda.


"Insyaallah sudah saya siapkan tuan."


"Termasuk mental kamu?", tanya Arya menoleh pada Salim yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Salim.


"Ada hal yang harus kamu tahu Salim!", kata Arya menatap gelap nya langit malam ini. Salim mendengarkan dengan seksama ucapan Arya.


"Mendiang suami Sekar itu, ternyata sahabat masa kecil ku Lim!", kata Arya dengan suara bergetar.


Hal itu cukup membuat Salim terkejut. Tapi lelaki berkacamata itu tak menyahuti apapun.


"Prastian, dia bekerja di rumah keluarga Pandu. Aku hanya lah anak pembantu, istri kedua Pandu."


Arya menghela nafas sesaat.


"Pras, seumuran dengan ku. Dia selalu bersama ku selama bekerja di keluarga Pandu. Kakak-kakak tiriku sering kali membuli bahkan menyiksa ku saat itu."


Tenggorokan Salim tercekat. Untuk pertama kalinya ia mendengar curhatan majikanya tersebut. Selama ini, Salim melihat jika Arya adalah sosok tegas dan arogan. Tidak mungkin bisa di tindas. Tapi ternyata masa lalunya....


"Heeuhh! Aku makan tak tentu Lim. Ibu ku selalu menyediakan berbagai macam lauk untuk para kakak ku. Tapi untuk ku??? Bahkan sering kali aku nyaris tak kebagian makanan. Tapi Pras yang bekerja jadi tukang kebun di rumah mewah itu, sering kali berbagi makanan...untukku!", mata Arya mengembun.


"Pras, mengajari ku berkebun meski aku tak pandai berurusan dengan tanaman. Tapi...dari hasil kebun yang ibuku dan Pras urus, aku bisa menjual hasil kebun itu."


Salim menoleh, menatap wajah sendu majikannya.


"Hubungan kami sangat dekat. Tapi.... setelah ibuku di temukan meninggal, beberapa hari kemudian dia berhenti. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar berhenti atau di berhentikan."


"Sejak saat itu, aku bertekad untuk bangkit. Aku tidak mau ada yang meremehkan ku, sekalipun dia memiliki darah yang sama dengan ku."


Lelaki itu menunduk sesaat.


"Aku bisa sukses dan berdiri dengan kaki ku sendiri tanpa bantuan keluarga Pandu sama sekali. Mungkin... karena obsesi ku yang ingin lebih dari sekedar sukses, sikap ku semakin menyebalkan dan... arogan bukan?", tanya Arya menoleh pada supirnya.


Salim tersenyum tipis.


"Hal yang paling ku sesalkan!", Arya menjeda kalimat nya lalu mengusap wajah nya dengan kasar.


"Ternyata...menantu yang selama ini ku sia-sia akan adalah anak dari seseorang yang sangat berjasa di masa lalu ku. Mungkin tanpa Pras, aku tidak akan seperti sekarang!"


"Aku sudah menyakiti menantu ku begitu dalam! Bertahun-tahun lamanya Lim!"


"Maaf tuan, tapi...Non Galuh pasti memaafkan semua yang sudah terjadi bukan? Saya tahu, non Galuh adalah gadis yang sangat baik dan pemaaf tentunya."


Arya mengangguk.


"Ya, kamu benar Lim! Dia sangat...baik! Bahkan terlalu baik! Dan hal itulah yang membuat ku sangat menyesal pernah menyakitinya."


Ternyata Gita berada di belakang kedua lelaki yang sedang mengobrol itu. Perempuan cantik sudah mendampingi Arya lebih dari tiga puluh lima tahun itu menitikkan air matanya. Dia sama sekali tak mengetahui masa lalu suaminya yang begitu berat. Dia hanya tahu, mereka di jodohkan hingga akhirnya saling mencintai hingga saat ini.


"Semua sudah berlalu tuan. Insyaallah non Galuh tulus memaafkan semua kekhilafan tuan Arya beberapa waktu yang lalu. Yang penting, saat ini semua keadaan sudah membaik."


"Kamu benar Lim?!", sahut Arya.


"Ya, non Galuh bahkan mendidik Syam seperti ia di didik oleh ayahnya, mungkin! Terlihat seperti apa Syam menyikapi semua permasalahan dalam hidupnya juga...pemaaf!"


"Aku...ingin kamu berjanji Lim!", kata Arya dengan wajah serius.


"Berjanji apa tuan?"


"Berjanji untuk menjaga Sekar, dan juga anak-anaknya!", kata Arya. Salim mengangguk dan tersenyum.


"Insyaallah tuan, saya akan menjaga mereka semampu saya."


Obrolan itu pun berakhir saat hampir tengah malam.

__ADS_1


.


.


.


Lingga dan Arya menyaksikan proses penyembelihan kambing di warung sate. Bukan wajib, tapi mereka memang ingin menyaksikan proses tersebut.


Setelah selesai, keduanya langsung pulang. Mereka tentu tak ingin menunggu kambing itu di masak.


Lingga menyerahkan kertas yang berisikan nama sang putra untuk di masukan ke dalam kotak nasi.


"Kira-kira selesai jam berapa ya pak?",tanya Arya. Kakek itu terlalu excited dengan acara akikah Ganesh. Meskipun dia kaya, kedua anaknya tak di akikah. Ya ...kalian tahu lah kenapa!


"Insyaallah bada ashar sudah selesai dan kami langsung mengirimkannya tuan!", jawab si penanggung jawab.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Lingga dan Arya pun kembali ke kampung mereka yang letaknya agak sedikit ke atas.


"Pa, keberatan ngga kalau ke penggilingan padi dulu?", tanya Lingga.


"Nggak lah, papa malah seneng jadi tahu tempat gilingan padi kamu."


Lingga pun tersenyum simpul. Singkat cerita, mereka sudah tiba di sana.


Suara mesin penggiling terdengar nyaring sekali. Karyawan Lingga cukup banyak di sana karena mereka menjadi supplier tetap di beberapa toko sembako di kota tersebut. Bahkan ke kabupaten sebelah.


"Pagi Den!", sapa para karyawannya.


"Pagi!", jawab Lingga tersenyum. Arya melihat ke sekeliling penggilingan padi. Semua memegang tugas nya masing-masing.


Dalam hati Arya, dia sungguh bangga terhadap anak bungsunya itu. Dia benar-benar merintis usahanya hingga bisa seperti sekarang.


Memang belum besar sekelas pabrik-pabrik produk lain. Tapi...Arya sangat bangga putranya masih bersikap baik dan rendah hati. Terlihat bagaimana dia berinteraksi dengan para karyawannya yang tak canggung sama sekali meski masih dalam batas kesopanan.


Lingga juga memperingatkan mereka agar datang bada isya nanti untuk acara tasyakuran Ganesh. Tentu mereka akan hadir dengan senang hati.


Setelah mengatakan demikian, Lingga meminta Salim untuk menyampaikan ke anak-anak pabrik batako agar datang juga ke acara nanti malam. Sedang untuk anak-anak kebun, sudah ada Mumun yang jadi penyambung ucapannya.


"Mama sudah pesan snack nya Pa?"


"Sudah! Kamu tahu sendiri seperti apa mama kamu Ga. Apalagi ini menyangkut cucunya, tentunya dia ingin segala-galanya sempurna!"


.


.


.


Beberapa menit setelah azan isya berkumandang, beberapa tetangga dan karyawan Lingga datang ke rumahnya. Tak lupa pak RT dan juga ustadz serta para sesepuh yang di tuakan di kampung tersebut pun turut hadir.


Acara tasyakuran akikah Ganesh pun di awali dengan pembukaan lalu pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Lalu di lanjutkan dengan sambutan dari pihak keluarga Lingga yang di wakili oleh Arya selaku kakek Ganesh. Baru lah setelah itu, acara potong rambut dengan shalawat mengiringi prosesi tersebut.


Setelah selesai, di lanjutkan dengan tausiyah oleh ustadz dan di tutup dengan doa. Akhirnya acara akikah Ganesh pun selesai. Hampir semua karyawan Lingga sudah kembali. Tapi masih ada beberapa orang yang bersama Salim membantu Lingga membereskan sisa acara tersebut.


Dan saat yang mendebarkan pun tiba...


Di saat keluarga Lingga berkumpul, Salim dan beberapa rekannya duduk di hadapan keluarga tersebut.


Sekar mengernyitkan alisnya saat Salim justru tak langsung pulang.


"Ehem, gimana mang Salim? Ada perlu apa?", tanya Lingga berpura-pura. Di sini, hanya Syam dan Sekar yang tak tahu.


"Sebelumnya...saya minta maaf, mungkin...saya lancang dan tidak tahu diri. Saya sadar, saya siapa dan apa pekerjaan saya. Tapi... dengan sangat berani nya...saya justru... justru bermaksud untuk... untuk...."


"Jangan Tremor begitu Lim! Katakan yang jelas dan lantang!",pinta Arya. Salim menelan salivanya dengan pelan. Lalu ia menatap mata lentik milik Sekar yang berhijab warna navy.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya... bermaksud melamar Bu Sekar untuk saya sendiri, bersediakah Bu Sekar menerima pinangan saya?", tanya Salim dengan suara yang lebih rileks tidak seperti tadi.


Sekar dan Syam tercengang, hampir tak percaya jika Salim akan mengungkapkannya saat ini.


Saat di mana keluarga besar sedang berkumpul, Salim justru seolah memanfaatkan situasi tersebut.


Seseorang di sudut yang tak jauh berada di belakang Arya, menatap Salim dengan pandangan yang hanya dirinya yang tahu apa maknanya.

__ADS_1


Glen, lelaki itu awalnya berniat pulang malam ini. Tapi karena adanya acara tersebut, Glen menundanya hingga besok pagi.


Tak lupa ia mengirimkan foto acara akikah Ganesh pada Helen. Bagaimana pun, Helen masih sedikit curiga dengan Glen. Dia memang sudah membuka hatinya untuk menerima Syam, tapi dia belum sepenuhnya percaya pada suaminya.


Kembali ke Salim yang lagi deg-deg serrr...


"Bu, gimana?",tanya Galuh pada ibunya yang terlihat masih terpaku.


Syam tersenyum sendiri, lalu ia pun mendekati Ibunya. Melakukan hal yang sama seperti yang kakaknya lakukan.


"Bu, gimana?", Syam mengulang pertanyaan yang sama seperti kakaknya.


Sekar tampak kebingungan sendiri di todong oleh kedua anaknya meski berbeda ayah.


"Bu....!", rengek Galuh dan Syam bersamaan.


"Bismillah, saya terima niat baik mang Salim", jawab Sekar menunduk malu.


"Alhamdulillahirrabillalamin!", seru semua orang yang ada di sana tak terkecuali Glen yang sedang menatap perasaannya sendiri.


"Alhamdulillah!", Salim mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia bersyukur atas keputusan Sekar. Awalnya Sekar masih ingin menunda, tapi ternyata Salim justru bergerak cepat.


"Masa manggil nya masih mang Salim sama Bu Sekar sih?", ledek rekan Salim yang membuat orang-orang turut tertawa.


"Belajar manggil nya jangan seperti itu Salim!", kata Gita.


Salim menggaruk tengkuknya yang tak gatal bahkan mungkin dirinya terlihat begitu salah tingkah. Biarlah saat ini mereka di tertawakan perihal panggilan, tapi panggilan khusus tentu hanya mereka berdua yang tahu.


"Jadi, kapan mau di sahkan mang?", tanya Lingga.


Sekar langsung menoleh dan melotot tajam pada menantu yang sudah ia anggap anaknya sendiri.


"Abang!", hardik Sekar dengan pelototan khas ibu-ibu pada anaknya. Tapi bukannya takut, Lingga justru tertawa.


Menantu lucknut memang! 🤭


"Jika bu Sekar bersedia, secepatnya pun saya siap!", kata Salim. Tentu saja jawaban Salim menuai reaksi yang beragam di antara mereka semua. Ada yang menyahuti secepatnya itu dalam Minggu ini ada pula yang mengatakan besok pagi.


Di kira tahu bulat? Goreng dadakan anget-anget...?


Kaya drama di novel-novel, menikah mendadak begitu? Ah tidak! Salim ingin menyiapkan segala sesuatunya agar sesuai dengan kesepakatan antara dirinya dengan Sekar tentunya.


"Ya sudah, mungkin bisa di bicarakan nanti di balik layar oleh mereka berdua. Yang penting Bu Sekar sudah menerima pinangan Salim. Bukan begitu, Bu Sekar?", tanya Arya. Sekat pun mengangguk pelan.


"Ya udah mana cincin yang sudah kamu siapkan Lim? Biar saya aja yang masang ke jari manis Sekar", tawar Gita yang tahu jika Salim tentu tak mau melakukan hal tersebut di depan semua orang. Selama ini, Gita tahu seperti apa supirnya yang selalu bisa menjaga diri agar tak sembarang bersentuhan dengan lawan jenis. Tapi bukan berarti dia sama sekali tak menyentuh perempuan.


Tak tahu saja Gita, jangankan menyentuh tangan Sekar. Bahkan mereka saja sudah 'bersungkem' ria versi Sekar Salim tentunya.


Salim menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna merah pada majikannya agar ia memasangkan di jari manis Sekar.


Sekar sendiri sebenarnya merasa malu, di usianya yang sudah tak lagi muda justru di lamar di depan keluarga besarnya.


Acara lamaran pun selesai. Semua sudah kembali ke tempat masing-masing. Begitu pula dengan Galuh dan Lingga.


Sepasang suami istri itu kini rebahan di kasur mereka. Ganesh juga masih tertidur lelap.


"Yang!", panggil Lingga sambil memeluknya dari belakang.


"Heum? Kenapa bang? Belum ngantuk?", tanya Galuh tanpa memutar badannya.


"Udah, tapi kangen!", bisik Lingga tepat di belakang tengkuk Galuh. Galuh menghela nafas berat. Dia pun membalik badan menghadap suaminya.


Di usapnya wajah tampan yang ada di depan matanya.


"Kali ini...aja... biar aku melakukan kewajiban ku buat Abang! Jangan menolak lagi! Menunggu ku masih beberapa hari bang, ternyata selesai nifas aku datang bulan. Aku... ngga mau Abang ...!"


Lingga menutup bibir istrinya dengan telapak tangannya. Ia pun akhirnya menyetujui ide Galuh yang ingin memberikan hak nya.


****


20.32


Wes toh??? Belum puas ye hehehe...


Sibuk gaes, ayahnya ditca lagi mudik. Mak othor sibuk wira Wiri sibuk ngga jelas tapi heheheh

__ADS_1


Makasih yang udah setia mantengin mereka heheh 🙏🙏🙏🙏🙏


Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2