
Sepasang suami istri itu masih sama-sama terdiam saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan warung makan sekaligus rumah Galuh.
"Terimakasih!",ujar Galuh mau membuka pintu. Tapi ternyata Lingga masih menguncinya. Mau tak mau, Galuh pun menoleh pada suaminya. Lingga menatap sang istri dengan senyum yang tipis, seperti orang meledek.
"Aku mau turun, terimakasih sudah mengantar ku!",kata Galuh.
"Iya, sama-sama istriku!",kata Lingga. Hidung Galuh kembang kempis mendengar kata 'istriku' dari bibir Lingga.
"Ya udah, buka!",pinta Galuh.
"Apa yang di buka?",tanya Lingga balik. Lalu ia membuka seat beltnya sendiri.
"Pintu nya lah!",sahut Galuh ketus.
"Oh...iya sabar, nanti aku buka. Kamu aja masih pake seat belt kok!",kata Lingga sambil membantu Galuh melepaskan seat belt nya itu. Saking buru-burunya ingin keluar dari mobil, Galuh tak menyadari jika badannya masih nyangkut di jok.
Jantung Galuh berdetak cepat saat tubuh Lingga dekat dengannya. Semua masih tetap terasa asing bagi seorang Galuh.
"Sudah! Aku antar ke dalam?",tawar Lingga.
"Ngga usah, terima kasih!", Galuh hendak membuka pintu lagi. Tapi Lingga mencegahnya. Galuh pun langsung menoleh pada sosok lelaki tampan itu.
"Apa lagi?", tanya Galuh kesal.
__ADS_1
"Aku akan menjemput Syam nanti."
"Tidak perlu, aku bisa menjemput Syam nanti."
"Luh, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya dari awal. Mungkin...sebagai kakak lebih dulu! Please?",kata Lingga memohon.
"Aku sudah biasa melakukan apapun sendiri, jadi jangan kamu pikir setelah kami datang terus aku harus manja dan tergantung sama kamu?",tuding Galuh. Lingga menggeleng.
"Ngga! Ngga kaya gitu maksud ku Luh. Dengar!",Lingga menahan bahu Galuh lagi.
"Aku ingin kita memulai semuanya dari awal. Please...beri aku kesempatan satu kali lagi."
Galuh melihat kesungguhan di wajah Lingga. Gadis itu pun akhirnya luluh.
"Beneran? Makasih istriku!",Lingga hampir memeluknya, tapi Galuh menyilangkan tangannya.
"Mungkin di Kanada kamu terbiasa seperti itu dengan para gadis mu di sana!",kata Galuh membuka pintu mobil.
"Ya Tuhan, mana ada seperti itu Luh! Galuh!", panggil Lingga. Tapi Galuh langsung menutup pintu mobilnya. Brukkkk....
Lingga ingin menyusul, tapi ternyata ada panggilan telepon dari papanya. Malas! Itu yang Lingga rasakan. Dia tak membenci papanya, hanya saja sudah muak dengan segala aturan dan tekanan dari papanya.
[Hallo?]
__ADS_1
[Dimana kamu?]
[Ada urusan]
[Urusan apa? Kamu kemarin datang ke kantor Helen kan?]
[Heum, papa sudah tahu. Tak perlu bertanya lagi!]
Lingga menjalankan mobilnya. Ia tak jadi menyusul Galuh ke dalam warung.
[Anak kurang ajar kamu ya!]
[Pa, aku bukan anak kecil lagi. Ngga di rumah ngga di telpon, kenapa papa hobi banget marah-marah sama aku? Ngga bosen apa marahin aku dari kecil?]
[Hans Arlingga!!!]
Arya berteriak di ujung telpon sana.
[Ada apa papa nyari aku?]
[Nanti malam keluarga Shiena datang, kamu juga harus pulang. Dan jangan lupa, besok pagi kamu mulai ke kantor! Paham!]
Tanpa menyapa papanya, Lingga menutup panggilan telepon itu. Dia kesal, marah dan benci setiap papanya memerintah seperti ini. Tidak ada yang bisa melawan perintah sang papa.
__ADS_1
Apa aku katakan saja pada papa kalau aku sudah menikah? Dan bagaimana setelah papa tahu kalau gadis yang ku nikahi adalah....Galuh!