
Sudah hampir jam lima sore saat mobil Lingga berhenti di depan warung makan Galuh. Tampak Usman dan Umar sedang membereskan meja.
Rolling door belum tutup sempurna, hanya saja sebagian masih di buka karena stok pajangan makanan tidak banyak. Di rumah makan ini menggunakan model prasmanan. Jadi mereka bisa mengambil lauk sesuai selera. Tapi, jika ada yang Memes ketoprak atau soto misalnya, mereka harus pesan lebih dulu.
"Apa Abang ada ide?",tanya Syam. Lingga menggeleng.
"Mau mencoba ide ku ngga?",tanya Syam.
"Caranya?",tanya Lingga. Syam pun berbisik pada Kakak iparnya. Lingga tersenyum tipis.
"Oke, bisa dicoba Syam!",kata Lingga mengacungkan jempolnya. Syam pun turun lebih dulu, dia sedikit terburu-buru turun dari mobil Lingga. Setelah itu dia berlari sambil berteriak memanggil kakaknya. Lingga sendiri menyusul Syam di belakangnya.
"Kak Galuh!",teriak Syam. Galuh dari dalam warung sudah tersenyum menyambut sang adik yang baru saja pulang bersama...suaminya!
Saat akan melangkah ke pijakan lantai, tiba-tiba Syam tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, dia tersandung dan langsung terjatuh.
"Syam",teriak Galuh lalu menghampiri Syam. Begitu juga dengan Lingga. Ini rencana dari Syam, dia akan pura-pura jatuh lalu minta tolong Lingga mengantarkannya ke atas. Ide bagus bukan?
__ADS_1
Syam yang biasa kuat, tiba-tiba mendadak cengeng. Dia menangis tersedu-sedu.
"Apa yang sakit Syam?",tanya Lingga perhatian. Karena lingga lebih dulu sampe ditempat dimana Syam jatuh.
"Kaki ku sakit Bang! Hiks...hiks...!",drama Syam. Sungguh, ini bukan Syam yang biasanya! Umpat Syam dalam hati.
"Adek, makanya jangan lari-lari. Jatuh kan jadinya. Mana yang sakit, ayo kakak obati!",ajak Galuh pada adiknya.
"Kakiku sakit kak. Aku capek, mau tidur di kamar!", rengeknya. Galuh menghela nafasnya.
"Tapi bisa kan jalan lewat tangga, pelan aja. Kakak udah ngga kuat gendong kamu sampai atas lho Dek!",kata Galuh. Dia seolah mengabaikan keberadaan suaminya.
"Gendong mas Usman atau mas Umar deh!",tawar Galuh sambil berdiri tapi lingga menahannya.
"Biar aku aja yang antar ke kamar Syam. Ngga apa-apa kan, Abang yang bawa Syam ke kamar?",tanya Lingga pada syam. Tanpa persetujuan kakaknya, Syam mengangguk setuju. Dan dengan mudahnya, Lingga mengangkat tubuh anak kecil itu.
Abang? Sejak kapan mereka sedekat itu? Batin Galuh yang baru menyadari jika adik dan suaminya sudah tidak ada di hadapannya.
__ADS_1
Mendadak Galuh khawatir, takut saat Syam dan Lingga melintas, ibunya melihat Syam. Pasti akan kacau!
Galuh pun lari mengejar adik dan suaminya ke lantai atas. Beruntung, sang ibu sedang di kamarnya. Akhirnya, Galuh bernafas lega.
Dengan nafas sedikit memburu, Galuh sampai di kamar Syam.
"Kaki kamu terkilir dek, kakak panggil tukang urut ya?"
"Ngga mau!",jawab Syam.
"Abang aja yang pijat dek. Mau ngga? Dulu waktu Abang masih aktif di basket, Abang sering kok mijat teman Abang yang terkilir."
"Adikku bukan barang percobaan ya Mas!",kata Galuh. Dia khawatir adiknya akan semakin parah jika Lingga asal-asalan mengurut Syam.
"Dicoba dulu kak!", kata Syam membela Lingga. Lingga pun berpura-pura memijat kaki Syam. Karena memang kaki Syam tidak luka.
Galuh pun memperhatikan pijatan lingga di kaki Syam.
__ADS_1
"Tunggu, bukanya yang terkilir kanan, kenapa pijat yang kiri???", tanya Galuh dengan mata melotot tajam pada kedua lelaki beda usia itu.