
Acara makan bersama dengan gubernur berjalan lancar. Sebuah kehormatan bagi para peserta yang di undang ke acara tersebut. Dan saat makan bersama berlangsung, justru orang yang sama sekali tak terpikirkan oleh Syam malah menemaninya saat ini.
Syam terlihat sering tersenyum dengan beberapa peserta lainnya saat tanya jawab dengan para peserta acara tersebut.
Pukul delapan malam, acara resmi tersebut selesai. Glen meminta ijin pada Rama untuk membawa Syam ke restoran hotel. Bagaimana pun juga, Rama adalah penanggung jawab kegiatan yang melibatkan Syam sekali pun Syam pergi dengan orang tuanya sendiri.
"Nanti saya Syam ke kamar pak Rama!", kata Glen.
"Baiklah pak Glen!", kata Rama mempersilahkan untuk Syam mengikuti papa kandungnya. Rama yakin jika Syam pasti akan baik-baik saja.
.
.
.
Di salah satu meja yang di pesan khusus tentunya, sudah ada beberapa makanan dan kue ulang tahun. Syam mendesah pelan saat melihat jajaran makanan berbagai jenis.
Bagaimana tidak? Dia sudah makan tadi, tapi sekarang dia harus melihat banyaknya makanan yang terhidang rapi di meja.
"Kalau Syam sudah kenyang, ngga usah di paksain makan ya!", kata Helen pelan sambil mengusap bahu Syam.
Syam menoleh beberapa saat lalu tersenyum kemudian. Istri ayahnya tak seburuk yang ia kira selama ini.
Keempat orang itu pun duduk melingkar di meja yang terlihat mewah. Ada kue tart kecil berwarna coklat.
Acara inti pun Glen mulai dengan meminta sang istri make A wish lalu meniup lilin. Suara tepukan dan lagu happy birthday to you di nyanyikan oleh keempatnya.
"Boleh papa tahu apa make A wish mama tahun ini?", tanya Glen.
"Iya ma...Zea juga mau tahu. Selama ini Zea juga ngga pernah tahu lho harapan mama apa aja!", kata Zea antusias.
Tapi Syam memilih diam, dia tak mau ikut bertanya seperti papa dan adik tirinya.
"Harapan mama... semoga kita semua selalu bahagia dan bisa berkumpul seperti ini, selamanya!", kata Helen dengan tersenyum lalu menoleh pada Syam juga tengah menatapnya.
Entah...hati Syam menghangat melihat tatapan istri papa kandungnya itu. Tatapan kebencian yang pernah ia rasakan dari Helen saat itu ,kini telah sirna tak berbekas.
Glen meminta salah seorang pramusaji untuk mengabadikan momen kebahagiaan itu. Helen duduk di bangku dan Glen berdiri di belakang.
Di samping kanan kiri Helen, dua calon remaja itu berdiri agak membungkuk untuk mensejahterakan tubuhnya dengan Helen.
Tangan Helen terulur menyentuh pipi Zea dan Syam di masing-masing tangannya sambil tersenyum. Jika Zea biasa saja, tentu tidak dengan Syam.
Merasa jika Syam terlihat tegang, Helen menoleh dan di saat yang sama Syam pun menatap Helen. Helen mengangguk tipis dan tersenyum.
Dan kali ini, Syam menunjukkan senyum lebarnya dan berpose tampan ke arah kamera.
Glen sendiri pun tak kalah bahagianya saat ini. Hari ulang tahun istrinya menjadi momen yang sangat bersejarah baginya.
__ADS_1
Istri dan anak-anaknya berkumpul dengan suasana yang membahagiakan. Bukankah harapannya selama ini sudah terwujud? Istri dan anak biologisnya bisa bersatu!
Setelah melakukan beberapa sesi foto, Glen pun mengantar Syam ke kamarnya bersama Rama. Mereka hanya berdua, Zea sudah mengantuk katanya. Apalagi cuaca kota bandung memang sejuk hingga membuat si biang rusuh itu ingin sekali merebahkan diri di kasur hotel.
"Makasih ya Pa!", kata Syam tiba-tiba saat keduanya berjalan di koridor menuju ke kamar Syam.
"Untuk apa?", tanya Glen.
"Untuk hari ini!", jawab Syam singkat. Glen meraih bahu putranya.
'"Justru papa yang harusnya berterima kasih, karena kamu bersedia untuk bersama papa dan Zea merayakan ulang tahun mama Helen. Terimakasih banyak Syam!"
Senyuman manis tersungging di bibir mungil Syam. Intinya hari ini, seorang Syam bahagia. Tak berapa lama, mereka sudah tiba di depan kamar Rama.
Di saat yang sama, Rama keluar dari kamarnya.
"Eh, pak Glen, Syam. Sudah lama?", tanya Rama.
"Belum Pak Rama!", jawab Glen.
"Pak Rama mau pergi?", tanya Syam.
"Tadinya iya, tapi kamu udah balik ya udah ngga jadi ngga apa-apa!", jawab Rama.
"Eh, jangan dong Pak. Kalo pak Rama mau keluar ngga apa-apa. Syam berani kok!"
"Jangan Syam, kamu sendirian nanti! Saya bisa batalkan bertemu teman saya dan Abah kamu waktu kuliah dulu. Dia dinas di dekat sini."
"Tuh, kan? Temen Abah juga. Udah ,pak Rama temui saja dulu. Syam beneran ngga apa-apa. Kalo ada apa-apa, saya bisa telpon papa atau pak Rama. Papa juga nginep di sini kok, Pak!", lanjut syam.
Akhirnya Glen pun mengiyakan ucapan Syam.
"Tapi....?!", Rama ragu-ragu.
"Udah ngga apa-apa kalau pak Rama mau keluar dulu, saya di lorong samping kok!", kata Glen.
"Baiklah, terimakasih pak Glen. Saya tinggal ya Syam?", Rama mengusap kepala Syam.
"Iya pak Rama!", jawab Syam lalu membuka pintu kamar hotelnya.
"Syam yakin mau sendiri?", tanya Glen.
"Yakin pa, papa sebaiknya istirahat juga!", kata Syam.
"Ya udah, selamat beristirahat ya sayang!", Glen mengecup puncak kepala Syam sebelum ia beranjak meninggalkan kamar sang putra.
Syam mengangguk pelan. Dia langsung masuk saat papanya sudah berlalu meninggalkan kamarnya.
Bocah itu kini tengah menatap ponselnya. Beberapa foto candid yang di tangkap kamera dikirim oleh Zea.
__ADS_1
Adik tirinya memang selalu saja bisa memancing orang. Entah itu untuk tertawa atau pun emosi. Tapi kali ini, Zea tak berulah.
Ada foto yang di rasa paling sempurna di antara yang lain. Syam mengirim foto itu pada seseorang. Tak butuh waktu lama, orang tersebut membalas pesan Syam.
[Nice pict!]
Syam tersenyum melihat balasan dari orang tersebut.
Awalnya dia sedikit kesal karena Arya tak kunjung datang. Tapi setelah melihat keberadaan Helen, Syam yakin jika ini juga ada campur tangan Arya.
Syam menyadari bahwa disekitarnya banyak yang menyayanginya. Dia tak perlu lagi merasa dirinya di abaikan. Sekarang dia sudah membuktikan, orang yang dulu ia anggap kejam pun nyatanya kini tulus menerima kehadirannya.
.
.
.
"Lihat apa Yang?", tanya Lingga pada istrinya.
"Ini bang, sw nya Syam!", Galuh menyerahkan ponselnya pada Lingga. Lingga tersenyum melihat foto yang bagus itu.
"Keluarga harmonis!", kata Lingga. Galuh mengangguk lalu menyandarkan kepalanya ke suami.
"Aku ngga nyangka kalau Tante Helen begitu mudah menerima kehadiran Syam, bang!"
Lingga mengusap bahu istrinya. Lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di pelipis.
"Aku sudah mengenal Tante Helen sejak masih kecil. Bahkan kami di besarkan oleh orang yang sama, Mama! Kelembutan Tante Helen, seperti mama bukan? Beberapa waktu lalu saat dia sedang khilaf...itu memang karena situasinya yang tidak kondusif. Tapi setelah dia bisa menerima keadaan...kamu bisa lihat, dia perempuan yang tulus."
Galuh mengangguk pelan.
"Akan ada saatnya nanti Syam bisa menentukan masa depannya. Dia akan sadar bahwa banyak yang menyayanginya. Jadi ..tidak ada lagi perasaan terabaikan oleh keluarganya sendiri."
"Itu juga karena hasil didikan kamu Yang, meski sebenarnya Syam keras kepala tapi hatinya rapuh dan mudah luluh. Dan satu lagi ...dia akan berhenti bertanya setelah puas dengan jawaban yang benar-benar pas!", kata Lingga sambil terkekeh.
Ia ingat cerita bapak mertuanya yang menceritakan tentang Syam. Pertanyaan yang sebenarnya agak ajaib untuk anak seusianya.
"Heheh iya sih bang!", sahut Galuh.
"Ya udah, tidur yuk! Nanti malam ada pengiriman sayur! Takut Abang kesiangan!", kata Lingga.
"Heum?!", sahut Galuh. Dia meringsek memeluk tubuh tegap suaminya. Ganesh berada di tempat tidurnya sendiri. Mereka berdua terlelap menuju ke alam mimpi.
*****
16.06
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1