Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 190


__ADS_3

Helen memenuhi janjinya mengajak Zea dan Syam berbelanja keperluan sekolah. Jika Zea merdeka memilih apa-apa saja yang gadis itu ingin kan, berbeda dengan Syam yang tampak pasrah di ambilkan apa pun oleh mama tirinya.


"Ada lagi yang kalian butuhkan?", tanya Glen saat akan membayar belanjaan anak-anak mereka.


"Zea sih udah. Ngga tahu, Syam!", sahut Zea.


"Syam juga udah deh Pa, Tante!",kata Syam.


"Baiklah, masih ada waktu nih. Gimana kalo kita mampir makan dulu ke resto yang ada di lantai atas?", tawar Glen pada kedua anaknya.


"Boleh!", sahut Zea dan anggukan kepala Syam menunjuk dia pun setuju. Keempatnya menuju ke restoran yang ada di mall yang sama.


Syam membawa barang belanjaannya sendiri. Berbeda dengan Zea yang santai tak membawa apapun selain dirinya sendiri.


Glen memilih tempat duduk yang sesuai. Helen menyerahkan daftar menu yang restoran itu sediakan pada Zea dan Syam agar mereka bisa memilih. Dan seperti biasa, Zea antusias Syam diam alias pasrah apapun yang Zea pesankan.


Ditengah acara makan keluarga kecil itu seseorang menyapa keluarga Glen.


"Selamat sore tuan Glen!", sapa orang itu yang tak lain rekan bisnisnya.


"Selamat sore, tuan Beno. Kebetulan sekali bertemu di sini, jalan-jalan juga dengan anak istri?", tanya Glen sambil bersalaman dengan rekannya tersebut.


Belum sempat Beno menjawab, seorang gadis menghampirinya.


"Mas Beno, kayaknya kita cari tempat lain saja untuk makan. Yuk!", ajak seorang perempuan cantik yang cukup Glen dan Helen kenal.


Ya, perempuan cantik itu Shiena. Entah ada hubungan apa antara Shiena dengan rekan bisnis Glen. Karena yang Glen tahu, Beno sudah berkeluarga.


"Oh... baiklah sayang!", kata Beno. Glen dan Helen mengernyitkan dahinya. Beno memanggil Shiena sayang.???


"Tapi tunggu sebentar ya, aku mau nyapa rekan bisnis ku dulu!", Beno mengusap punggung tangan Shiena yang bertengger manis di lengan Beno.


"Tuan Glen, saya dengar dari salah seorang rekan kita. Mereka bilang...tuan Glen memiliki anak laki-laki selain dari pernikahan anda dengan nyonya Helen. Apa betul begitu?", tanyanya to the poin.

__ADS_1


Syam menegang tanpa menoleh ke rekan bisnis papanya tersebut. Apa yang Syam takutkan terjadi. Pasti akan ada yang mempertanyakan siapa dirinya!


"Apa saya berkewajiban menjawab urusan pribadi saya, tuan Beno?", tanya Glen. Lelaki itu tersenyum sinis.


"Jika anda berkenan menjawabnya silahkan, kalau tidak juga tidak apa", jawab Beno.


"Dan sepertinya anda tahu jawaban saya apa. Atau... perlu saya beri tahu anak dan istri anda jika tuan Beno ada main dengan salah satu karyawan saya?"


Beno mengernyitkan alisnya.


"Maksudnya?", tanya Beno.


"Dari pada anda sibuk mengurus urusan saya, lebih baik anda mengurus hidup anda sendiri. Ingat, ada anak istri dirumah tuan beno. Dan ...saya hanya memperingatkan, teman kencan anda perlu di waspadai!", bisik Glen pada Beno.


Niat hati ingin menjatuhkan Glen, ternyata Beno justru menjadi bahan obrolan antara Glen dan dirinya. Beno menyeret Shiena pergi dari meja Glen.


Zea mengusap punggung tangan Syam.


Jika papanya sudah siap menerima konsekuensinya, dirinya juga dong???? Batin Syam.


.


.


.


"Mau ibu buatkan teh?", tawar Sekar pada Salim.


"Ngga usah Bu, ibu sini aja! duduk!", pinta Salim meminta istrinya duduk di sebelahnya. Sekar pun menuruti perintah suaminya.


Salim berdiskusi tentang rencananya yang akan datang. Arya tak segan-segan membantunya besok. Selain tentang usaha barunya nanti, Salim juga mendiskusikan tentang niat Lingga yang ingin membuat rumah di samping rumah Sekar.


"Ibu setuju saja, bsh!", kata Sekar.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Besok bisa kita bicarakan dengan kakak dan Abang ya Bu", kata Salim. Sekar mengiyakannya.


"Eum... bah, ada hal yang mau ibu omongin juga."


"Soal apa Bu?", tanya Salim.


"Galuh dan mba Gita memberikan ide, bagaimana kalau kita konsultasi pada dokter atau bidan."


"Ehem? Lalu?", tanya Salim.


"Abah mau tidak kalau kita konsultasi sama-sama. Biar...nanti kedepannya kita tahu harus apa. Jujur, ibu sadar diri dengan usia ibu. Tapi...Abah juga berhak menginginkan seorang anak, darah daging Abah sendiri."


Salim mencoba memahami cara berpikir istrinya. Benar, Salim memang ingin memiliki keturunan. Tapi dia juga tidak memaksa agar Sekar segera hamil.


Meski masih subur, tapi untuk hamil di usianya segitu apakah aman??? Salim tak ingin egois!


"Iya, Abah setuju saja Bu. Kapan ada waktu ke sana?" tanya Salim.


"Kapan pun selama Abah tidak sibuk."


"Ya udah atuh, besok kita ke rumah sakit."


Sekar tersenyum lebar. Ternyata Salim memang sosok yang bisa di ajak berdiskusi.


Apapun hasilnya besok, Sekar sudah pasrah. Yang penting suaminya menerima apapun keadaannya nanti.


****


Sedikit ya??? Lagi ga enak badan gaes 🤧


Terimakasih 🙏🙏🙏


,22.09

__ADS_1


__ADS_2