Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 160


__ADS_3

Menjelang magrib Lingga sudah tiba di rumah nya. Wajah nya terlihat begitu lelah. Tapi ia tak ingin menunjukkannya pada sang istri. Apalagi sejak sebelum berangkat, Galuh sudah bersikeras melarangnya agar tak usah kirim barang.


Semua penghuni rumah mungkin sedang berada di kamar masing-masing. Tapi tadi Lingga sempat melihat Syam yang berjalan menuju ke mushola kampung yang ada di bawah.


Lingga membership diri lebih dulu di kamar mandi belakang sebelum masuk ke dalam kamarnya.


Lelaki itu sudah mandi lebih dulu di pabrik sekalian memarkirkan dump truk nya.


Pintu kamarnya terbuka lebar memperlihatkan sang istri yang sedang memangku putra mereka sambil bersandar di kursi yang nyaman untuk menyusui.


Suara lantunan ayat suci Al Quran terdengar syahdu di telinga. Tangan Galuh mengusap penuh sayang kepala Ganesh.


Dengan langkah perlahan, Lingga mendekati Galuh yang memunggunginya. Dikecupnya puncak kepala Galuh dengan lembut. Meski lembut, kecupan singkat itu cukup membuat nya terkejut.


"Abang!"


"Ssstttt!",Lingga meletakkan jarinya di depan bibirnya sendiri.


"Assalamualaikum!", bisik Lingga pelan. Lalu ia berjongkok di hadapan Galuh.


"Walaikumsalam!", jawab Galuh lirih.


Lingga mengusap kepala Ganesh pelan karena takut membangunkan putra mereka. Sesekali ia ciumi pipi chubby Ganesh hingga si baby merasa terusik tapi tidak sampai bangun.


Galuh melihat wajah suami yang sangat terlihat lelah. Jemari lentiknya mengusap rahang tegas Lingga.


"Capek ya bang? Aku siapin makan ya?", tawar Galuh. Lingga mengangguk.


"Iya, Abang laper! Tapi kamu juga pasti laper, sepertinya jagoan Abang kuat sekali minum asinya. Sampai ayahnya aja ga kebagian!", kata Lingga terkekeh pelan.


"Itu mulut!", Galuh mencomot bibir seksi sang suami yang selalu membuat nya candu. Ihiiir.....🤭🤭😆


"Abang udah sholat Maghrib?"


"Belum, ini mau sholat. Tapi liat dua kesayangan Abang, ngga nahan buat ngga deketin heheh!"


Galuh menggeleng kepala pelan sambil tersenyum tipis.


"Sholat dulu bang, abis itu nitip Ganesh. Aku siapin makan malam."


Lingga pun tak membantah. Lelaki itu langsung mengambil air wudhu di kamar mandi yang ada di kamarnya.


Sepuluh menit berlalu, Galuh meletakkan Ganesh di kasurnya. Lingga juga sudah selesai berzikir singkat.


"Abang mau aku siapin kopi atau teh bang? Biar abis makan, Abang bisa nyantai dulu ngopi atau ngeteh?"


"Teh aja lah Yang, sekalian taroh di meja makan aja."


Galuh mengiyakannya dan beranjak ke dapur. Tapi ternyata ibunya sudah lebih dulu ada di dapur. Galuh menghentikan langkahnya karena ia melihat ibunya tidak sendiri, melainkan bersama Syam dan....Mang Salim.


Galuh tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka bertiga. Beruntung Sekar saat itu menyiapkan teh hangat dengan teko di meja makan.


Galuh pun memilih untuk mengambil teh untuk suaminya lebih dulu. Dia membawa gelas berisi teh itu ke dalam kamar.


Lingga cukup terkejut melihat istrinya yang katanya akan mempersiapkan makan malam tapi kembali ke kamar sambil membawa teh panas.


"Kenapa di bawa ke kamar Yang? Nanti Abang juga ke sana."


"Udah di siapin ibu bang!", jawab Galuh sambil meletakkan gelas nya di atas meja rias. Galuh duduk di ranjang di samping Lingga yang menjulurkan kakinya. Sedang di pahanya, laptop berlogo jendela sedang dalam posisi menyala.


Itu artinya, Lingga sedang melakukan pekerjaan jarak jauhnya.


Sungguh, Galuh merasa kasian pada suaminya. Laporan dari Burhan memang selalu benar, tapi sebagai seorang owner, Lingga juga tak sepenuhnya bisa lepas tangan.


Sedang di kampung, dia masih sesekali terjun ke lapangan jika memang sangat di butuhkan, seperti hari ini contohnya. Dia menggantikan tugas karyawannya.


Pabrik nya memang belum besar, jadi dia belum banyak memiliki karyawan.


Melihat suaminya sibuk dengan benda canggihnya, Galuh menyentuh kaki Lingga yang berbalut sarung.


Lingga sempat terkejut tapi setelah itu dia tersenyum tipis. Ternyata Galuh memijat kaki Lingga.


Tak ada penolakan dari Lingga, pun dari Galuh yang tak banyak bertanya. Karena kenyataannya, suaminya memang lelah bekerja.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, pijatan di kaki Lingga pun berhenti.


"Makasih Yang!", kata Lingga tulus. Galuh mengangguk pelan.


"Udah selesai belum ngecek kerjaan Mas Burhan?"


"Sebentar lagi Yang, serius dikit lagi."


Galuh pun mengangguk lalu ia mengambil teh panas yang sekarang sudah berubah hangat lalu ia sodorkan ke suaminya.


"Diminum dulu bang, habis itu kita makan!", pinta Galuh. Lingga pun menerima gelas tersebut lalu meminum nya hingga tandas. Lalu setelahnya, ia menyimpan laptopnya di meja.


"Ayok Yang? Kita makan malam, Ganesh keliatan kok dari bangku meja makan!", kata Lingga. Galuh pun tak menolak.


Ia membuka pintu kamar nya lebar-lebar. Lalu mereka berdua pun menuju ke meja makan bersamaan dengan Sekar dan Syam.


Galuh sempat mengernyitkan alisnya. Dia tak mendapati Salim bersama ibu dan adiknya tersebut.


"Kakak cari siapa?", tanya Syam yang melihat kakaknya seolah sedang mencari seseorang.


"Ngga dek!", sahut Galuh singkat.


"Oh...!", Syam manggut-manggut.


"Kak, bang! Akikahan Ganesh besok?", tanya Sekar.


"Iya Bu, tapi Abang sudah pesan di tukang sate yang biasa nanganin akikah Bu. Jadi ...ibu sama Galuh ngga usah repot-repot masak."


"Oh...gitu! Kambingnya dua, dapat berapa porsi bang?", tanya Galuh.


"Sekitar seratus dua puluhan kayaknya Yang!", jawab Lingga. Galuh pun mengangguk.


"Abang baru kasih DP, besok pas di anterin Abang baru lunasi sisanya."


"Jadi, apa yang perlu ibu siapin bang?", tanya Sekar. Syam sendiri menikmati makan malam nya sambil mendengarkan obrolan orang dewasa di hadapannya.


Lingga tersenyum simpul.


"Ibu ngga usah nyiapin apa-apa besok.Urusan konsumsi sudah Abang handel Bu, Yang!", Lingga mengusap punggung tangan istrinya. Galuh mengernyitkan alisnya tanda dia bingung karena sepertinya Lingga bekerja sendiri tanpa memberi tahunya.


"Maaf sayang, bukan maksud Abang ngga ngasih tahu kamu. Kemarin waktu Abang pulang malam juga karena Abang bahas itu sama papa. Sampai Abang pulang telat."


Galuh tak merespon apa pun.


"Abang ngga mau kamu atau ibu kelelahan Yang!", lanjut Lingga lagi.


Lagi-lagi Galuh hanya menghela nafas berat. Lingga benar-benar membuktikan ucapannya saat awal mereka mengesahkan pernikahan di kantor urusan agama.


Suami nya mengatakan bahwa ia ingin agar dirinya tergantung padanya, jangan terlalu mandiri seperti sebelum mereka di pertemukan lagi.


Acara makan malam pun selesai bersamaan dengan azan isya yang berkumandang.


"Syam mau sholat di mushola aja ya Bu!", pamit Syam pada Sekar.


"Abang ikut Dek!", kata Lingga.


"Ngga sholat di rumah aja bang? Bukannya Abang capek banget ya?", tanya Galuh.


"Cuma ke mushola Yang, jauhnya ngga seberapa!", Lingga mengusap kepala Galuh.


"Ya udah!", kata Galuh. Lalu Lingga beranjak rk kamarnya untuk mengganti kaos dengan baju Koko. Usai magrib tadi dia masih mengenakan sarungnya.


Galuh bermaksud membereskan meja makan, tapi ternyata Sekar melarangnya. Alasannya karena Ganesh sendirian di kamar. Karena dari dapur, mereka tak bisa melihat Ganesh di kasurnya.


Akhirnya Galuh pun memutuskan untuk masuk ke kamar nya lagi menemani Ganesh yang masih pulas.


Karena merasa jenuh, akhirnya Galuh memutuskan untuk membuka laptop Lingga. Ia membantu Lingga melihat laporan kafe nya. Karena perempuan cantik itu sudah melihat jika laporan minimarket selesai dari tanda yang sudah Lingga buat.


Ternyata kafe nya cukup ramai melihat pemasukan yang cukup variatif sejak grand opening. Kadang ada beberapa hari yang cukup sepi pengunjung hingga tiba-tiba membludak. Tapi...namanya usaha kan memang ada pasang surutnya. Galuh sudah hafal hal itu. Yang penting, semua masih berjalan lancar. Ia tak merugi untuk melanjutkan usahanya juga membayar gaji karyawannya.


Hampir jam delapan malam, Lingga baru kembali dari musholla. Dia cukup lama mengobrol dengan para tetangganya. Syam sendiri juga asik mengobrol dengan Deni dan beberapa temannya. Alhasil, dia sempat tertahan di sana.


Yang Lingga khawatirkan justru istrinya, takutnya dia akan berpikir yang tidak-tidak lagi seperti biasanya.

__ADS_1


Alhamdulillah, apa yang Lingga khawatirkan ternyata tidak terbukti.


Galuh justru sedang bermain-main dengan laptopnya. Lelaki itu tahu, istri nya pasti sedang membantu pekerjaannya.


Lelaki itu melepaskan sarung lalu melipatnya. Dan ia melangkah mendekati istrinya yang sedang serius.


"Biar Abang aja Yang!", kata Lingga duduk di hadapan Galuh. Galuh mendongakkan kepalanya setelah fokus dari laptop.


"Abang capek, ngurusin semuanya! Aku fungsinya apa coba?", tanya Galuh. Lingga meraih laptopnya lalu ia letakan di meja.


"Pekerjaan itu tanggung jawab Abang. Kalo tugas kamu Yang, ngurusin Abang sama Ganesh! Udah, itu aja!", Lingga menggenggam tangan Galuh.


Galuh berusaha mengerti ucapan Lingga. Tapi kadang ada perasaan yang memaksa seolah dirinya itu di anggap tidak mampu melakukan semuanya. Padahal....


"Yang! Abang pengen ngomong sebentar, soal Ibu dan Mang Salim!"


"Heum? Apa?", tanya Galuh. Lingga pun menceritakan rencananya pada Galuh yang sudah ia diskusikan dengan papanya juga mang Salim. Galuh hanya mengangguk tipis sambil sesekali melipat bibirnya.


"Gimana? Kamu ngga keberatan kan Yang?"


"Aku ikut bagaimana baiknya aja Bang, yang penting ibu sama Syam bahagia. Itu aja!", kata Galuh. Lingga meraih Galuh dalam pelukannya.


"Maaf Yang, kalo Abang memutuskan segala sesuatunya sendiri. Bukan maksud Abang buat ngga anggap kamu, tapi Abang cuma ngga mau membebani kamu. Itu aja yang!", kata Lingga mengusap punggung Galuh.


"Iya!", sahut Galuh singkat. Kenapa? Dia sendiri bingung mau menjawab apa. Tapi dia hanya berusaha menahan emosinya agar jangan ada lagi kesalahpahaman dan berakhir dengan pertengkaran di antara keduanya.


"Aku juga mau cerita bang!", kata Galuh sambil merebahkan dirinya di kasur. Lingga pun turut melakukannya. Ia menyelipkan rambut istrinya yang menutupi sedikit wajahnya.


"Cerita apa heum?", kata Lingga memainkan rambut Galuh. Sesekali ia mengecup lengan atas Galuh lalu mengusapnya.


Galuh menceritakan kejadian siang tadi tentang papanya dan mendiang bapaknya yang ternyata saling mengenal. Tak hanya saling mengenal, nyatanya mereka cukup dekat saat masih remaja dulu.


Lingga mendengarkan setiap kata yang istrinya katakan. Sungguh, entah terbuat dari apa hati istrinya tersebut yang dengan mudah memaafkan kesalahan demi kesalahan orang lain. Termasuk diri nya dan juga papanya.


"Allah menghadirkan kamu dalam kehidupan Abang adalah sebuah anugrah yang tak ternilai Yang!", kata Lingga meletakkan dagu nya di atas kepala Galuh. Sedang tangannya masih mengusap lengan Galuh.


"Abang tidak akan tahu seperti apa takdir yang akan Abang hadapi jika saat itu kita ngga di nikahkan mendadak."


"Drama banget ya Bang? Kayaknya ngga mungkin banget gitu ya?", gumam Galuh.


"Heum? Ngga juga! Emang jalan ceritanya harus seperti itu!", kata Lingga.


"Iya iya, dan cowok nyebelin plus blagu itu sekarang sudah menjelma jadi sosok laki-laki yang tampan lahir batin, ngga kaya dulu. Urakan! Hehehe!", kata Galuh.


"Ini juga, dulu galaknya ampun deh! Berani lagi narik-narik kerah, cowo lagi lawannya. Anaknya bu Sekar emang ya ....!", goda Lingga.


"Tapi cinta banget kan sekarang walaupun galak kaya gitu?", tanya Galuh.


"Ngga! Biasa aja!", sahut Lingga. Galuh mencebikkan bibirnya lalu memunggungi Lingga. Lingga tahu istrinya lagi mode merajuk. Tapi nama nya juga Lingga, kalau dalam bahasa sansekerta artinya kekuasaan. Ya, Lingga memang penguasa hati istrinya heheheh


Lelaki itu iseng memeluk ibu nya Ganesh dari belakang dengan erat.


"Masih berapa hari lagi puasanya Yang?", bisik Lingga.


"Belum tahu!", jawab Galuh.


"Kok gitu?", tanya Lingga bingung.


"Aku pikir dua hari kemarin udah bersih, tinggal ngeflek doang. Ternyata tadi ashar banjir lagi."


Lingga mendesah pelan. Galuh pun memutar badannya hingga keduanya berhadapan.


"Kalo Abang mau, ada cara lain bang !", tawar Galuh. Lingga menggeleng.


"Ngga! Nunggu itu aja!", jawab Lingga merengkuh badan mungil di depannya.


"Kasian Abang nahan Mulu."


"Tenang aja Yang, aman kok. Yang penting selalu di kasih ini tiap hari!", kata Lingga sambil menunjuk bibir Galuh dengan telunjuknya!


****


21.00

__ADS_1


Besok part nya Akikah Ganesh, sama lamaran Salim Sekar 🤫🤫🤫


Terimakasih 🙏✌️🙏


__ADS_2