Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
196


__ADS_3

Usai mendengar petuah dari sang kakak, Syam menemui ibunya yang akhir-akhir ini lebih sering di teras belakang. Selain tempat yang nyaman, pemandangan hijau sayuran sangat menyejukkan mata tentunya. Apalagi sekarang sudah di temani seseorang yang spesial. Siapa lagi jika bukan sang suami, alias abah Salim.


Sekar tertawa mendengarkan cerita bik Mumun yang masih setia menemaninya di sana meski sudah ada Salim.


"Bu!'',panggil Syam hingga membuat tawa Sekar terhenti.


"Eh...adek, sini dek!", panggil Sekar. Salim yang duduk di sebelah Sekar pun bergeser memberi Syam kesempatan untuk duduk di samping Sekar.


"Duduk dek!'', pinta Salim. Syam duduk di samping Sekar.


"Udah makan dek?", tanya Sekar yang begitu bahagia sang putra mau bicara lagi dengannya.


"Udah sih ...tapi Syam mau di suapin ibu!", kata Syam meringis menunjukkan gigi putihnya. Sekar tersentuh mendengar ucapan putranya itu. Dia sadar, dirinya tak pernah memperhatikan Syam apalagi sampai urusan remeh temeh seperti itu, menyuapi.


Tapi kali ini, Sekar tidak akan menolak permintaan anaknya tersebut.


"Huum! Manjanya anak ibu!", Sekar menepuk pipi Syam pelan. Salim tersenyum melihat istrinya yang melakukan hal sederhana itu pada Syam.


"Ibu ambilkan dulu, mau pakai lauk apa?",tanya Sekar.


"Bik Mumun masak apa aja bik?", tanya Syam. Padahal tadi dia makan, cuma sedikit. Dia tak berselera sama sekali.


"Sayur sop ayam kampung, perkedel, ayam goreng rempah sama tempe, sambel yang jelas mah. Sama...eum...pepes gurame dek!", jawab bik Mumun menjabarkan apa yang sudah ia masak hari ini.


"Tuh...banyak, tadi katanya udah makan?", tanya Sekar.


"Oh...udah sih Bu, cuma pakai nasi sama kuah sop jadi ngga enak. Kayaknya kalo di suapin ibu, jadi enak deh!", kata Syam.


Sekar terkekeh kecil lalu mendaratkan kecupan di puncak kepala Syam.


"Ibu ambilkan dulu sebentar ya!", Sekar mengacak asal rambut Syam.


"Bibik ikut Bu....!", susul bik Mumun di belakang Sekar.


Salim menepuk bahu Syam pelan dan tersenyum ramah.


"Terimakasih sudah mengerti kondisi ibu, dek!", kata Salim. Syam menoleh dan tersenyum tipis.


"Syam yang harusnya berterima kasih sama Abah. Abah mau menerima segala kekurangan ibu, dan keluarga kami lebih tepatnya."


Salim kembali mengusap bahu Syam.


"Kita sekarang satu keluarga Syam. Abah kan Abah kamu juga! Mulai sekarang, jangan segan menceritakan apa pun yang Syam rasakan sama Abah. Abah jadi yatim piatu sejak masih muda dulu, tidak punya tempat untuk berbagi. Jadi ...Abah harap, Syam mau berbagi apa pun sama Abah. Karena Abah tahu seperti apa rasanya kesepian sendirian!"


Syam tertegun sejenak. Ia tak pernah tahu cerita atau masa lalu Salim sebelumnya selain Salim yang bekerja di keluarga Saputra.


"Iya bah!", sahut Syam. Tak lama kemudian Sekar membawa nampan berisi nasi, mangkok dan gelas besar berisi air hangat.

__ADS_1


"Bu???", Syam melotot melihat nampan berisi penuh makanan.


"Sekalian suapin Abah, Abah belom makan sejak pulang dari pabrik penggilingan beras tadi. Ngga tau apa yang abah pikirin, jadi ngga pengen makan kayaknya! Tapi...ibu harap sih, adek sama Abah mau ibu suapin!",kata Sekar sambil memulai menyendok nasi beserta lauk dan teman-temannya.


Syam dan Salim berpandangan melihat sepenuh apa piring yang Sekar bawa.


"Abah dulu deh!", kata Syam mempersilahkan.


"Adek dulu aja lah ,Abah mah entar!", tolak Salim.


"Udah ngga usah rebutan, adek dulu baru Abah! Gantian!", pinta Sekar. Syam dan Salim hanya mampu menghela nafas berat dari pada membuat kanjeng ratu baper lagi.


.


.


.


Malam hari ....


"Abah mau ke rumah mas Arya dulu ya Bu!", pamit Salim pada Sekar.


"Jangan kemalaman pulangnya!", kata Sekar.


"Iya Bu, nanti kalo ibu sudah ngantuk tidur dulu aja ya!"


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Syam sudah ada di kamarnya, begitu pula dengan keluarga Lingga.


Salim melangkah menuju ke pintu belakang arah garasi bersamaan dengan Galuh yang keluar dari kamarnya membawa botol minum.


"Abah mau ke mana?", tanya Galuh.


"Mau ke tempat opa nya Ganesh,kak! Kakak butuh bantuan Abah?", tanya Salim. Galuh menggeleng.


"Abang juga tadi bilang ke sana sih habis jama'ah isya."


"Oh, berarti sekarang masih di sana ya?", tanya Salim.


"Kayaknya iya deh bah!", jawab Galuh. Ponsel Galuh yang ada di saku piyamanya bergetar. Ada nama Burhan di sana.


"Maaf bah, angkat telepon dari mas Burhan dulu ya!", pamit Galuh seraya meninggalkan Salim di tempatnya. Salim mengangguk sedikit dan setelah itu meninggalkan rumah menuju ke kediaman Arya.


Beberapa menit berlalu...


Salim memarkirkan mobilnya di depan rumah Arya. Benar kata Galuh, motor Lingga masih ada di depan pintu masuk rumah berbahan kayu tersebut.


"Assalamualaikum!", Salim mengucap salam. Terdengar sahutan dari beberapa orang di teras yang menghadap sawah tanpa lampu itu.

__ADS_1


"Walaikumsalam!"


Terlihat Arya , Lingga dan Salim terlibat obrolan serius. Sedang Gita sudah berada di kamarnya saat ini. Nenek dua cucu itu kurang tahan hawa dingin. Makanya dia memilih untuk tidur saja.


"Pokoknya kalau kamu butuh suntikan dana , jangan sungkan bilang sama saya!", kata Arya.


"Baik mas, terimakasih sebelumnya. Dan...maaf, mobil mas Arya saya kembalikan saja di sini ya. Nanti saya pulang ikut Abang aja! Terimakasih sudah mengijinkan saya memakainya setiap hari."


"Kamu lihat kan siapa nama pemilik di BPKBnya?", tanya Arya.


"Iya, memang atas nama saya. Tapi itu kan bukan hal saya tuan, eh....mas!"


"Kamu pikir, saya pakai nama kamu buat menghindari pajak?", tanya Arya. Lingga hanya menjadi pendengar dua orang dewasa di hadapannya.


"Maksudnya mas?", tanya Salim.


"Kamu sudah ikut saya dari dulu Lim. Apa salahnya jika mobil itu buat kamu! Kalo kamu beralasan tidak enak gara-gara karena kamu pernah kerja di saya, ya udah...anggap aja ini hadiah pernikahan dari saya. Walaupun...ya sudah tidak baru lagi. Kan kamu yang memakainya selama ini! Dan saya ... tidak suka penolakan!"


Salim menelan salivanya susah payah. Lingga justru malah tersenyum mendengar ucapan papanya.


"Tapi maaf mas, ini... berlebihan!", kata Salim lirih.


"Kamu tahu saya tidak suka penolakan Lim!", ulang Arya. Akhirnya, Salim hanya pasrah menerima pemberian Arya yang sangat luar biasa baginya.


"Terimakasih mas , terimakasih!", pangkas Salim yang tak bisa menolak perintah Arya.


"Iya!", jawab Arya.


"Oh iya bang, mumpung ada Abang. Abah juga mau bicara hal penting."


"Hal penting apa bah!?", tanya Lingga penasaran.


Bukanya mau mengadu, Salim menceritakan apa yang ia dengar di pabrik penggilingan beras tadi pada menantunya yang otomatis di dengar oleh Arya juga.


"Abah ngga usah ambil pusing, cuekin aja bah. Mereka kan ngga tahu apa-apa."


"Pengen nya Abah begitu, tapi Abah rasa apa yang mereka katakan benar bang?!"


"Maksud Abah?", tanya Lingga bingung.


"Bagaimana kalau Abah saja yang membuat rumah kecil-kecilan bang! Maaf, bukan maksud Abah buat halangin kamu punya rumah Bang. Bukan! Tapi ... sekali pun apa yang di katakan orang-orang tadi tidak benar sepenuhnya bang, tolong...biarkan Abah aja yang keluar dari rumah itu."


Lingga bergeming. Urusan rumah ternyata belum kelar juga....????


*****


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏 besok lanjut lagi 😁✌️

__ADS_1


__ADS_2