Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 189


__ADS_3

Mobil Burhan sudah tiba di dekat pintu masuk gedung perusahaan Atmaja. Tapi karena mobil Burhan bukan lah pengunjung tetap, dia harus melewati tahap pemeriksaan security lebih dulu.


"Selamat siang!", seorang satpam hormat pada Burhan yang ada di belakang kemudi.


"Selamat siang!", sapa Burhan. Di belakang Burhan, Zea memunculkan kepalanya.


"Pak satpam, Zea mau ketemu papa!", kata Zea. Siapa yang tak mengenal putri tunggal Glen di perusahaan ini coba?


"Oh, nona Zea. Baik non! Silahkan masuk pak!", kata security tersebut. Lalu tangan Burhan terulur untuk membuka tombol palang parkir agar mobil bisa masuk.


"Langsung parkir di sebelah mobil papa aja mas Burhan!", kata Zea menunjukkan arah di mana mobil Glen berada.


Syam memang pernah tinggal di ibukota. Tapi...dia tak menyangka jika perusahaan papa kandungnya semegah ini.


Syam tertawa miris mengingat nasibnya beberapa tahun yang lalu. Anak haram! Suara itu masih sering berdengung di telinganya.


Ya... walau pun sudah memaafkan tapi tetap saja belum bisa melupakannya bukan?


"Ayok Syam!", Zea menyeret Syam.


"Aku bisa jalan sendiri Ze!", tolak Syam.


"Ngga! Ntar kamu alasan ini itu! Pokoknya kamu ngga boleh jauh-jauh dari aku!", paksa Zea, lagi.


Burhan mengusap tengkuknya yang kaku menghadapi dua bocah yang sama-sama keras kepala dengan sikap yang berbeda. Satu dingin, satunya bawel.


Huffft! Syam membuang nafas berat. Dia membiarkan Zea menggandeng tangannya menuju ke resepsionis.


"Siang kak!", sapa Zea pada resepsionis yang cantik itu.


"Selamat siang Nona Zea. Mau ke ruangan papa dan mama ya?", tanya resepsionis tersebut yang harusnya tak perlu di pertanyakan.


"Iya kak, mama sama papa lagi ngga ada meeting kan? Mereka ada di ruangannya?", tanya Zea.


"Coba saya hubungi sekretarisnya dulu ya!", kata resepsionis. Tak lama kemudian, perempuan berblazer hitam itu mempersilahkan Zea dan yang lain masuk.


"Ayok Syam!", Zea menggamit lengan Syam posesif. Bagi yang melihatnya mungkin berpikir jika bocah ABG itu tengah kasmaran karena menggandeng anak laki-laki seusianya.


"Saya tunggu di loby saja ya non Zea!", kata Burhan.


"Eum, ya udah deh!", kata Zea.


"Kamu aja yang keruangan papa. Aku sama mas Burhan aja!", kata Syam.


"Eh...jangan dong! Ntar kalo papa sama mama nanyain kamu gimana? Gak! Pokoknya kamu harus ikut masuk!", paksa Zea.


"Hobi banget maksa kamu tuh !", kata Syam.


"Biarin! Pokoknya ayok ...ayok!!!", Zea menyeret Syam sampai di lift.


Ternyata di depan lift juga sudah ada yang mengantre. Alhasil, dua bocah itu menjadi pusat perhatian mereka semua.


Tidak ada yang tak mengenal Zea, mereka menyapa gadis kecil itu ramah. Tapi melihat sikap dingin Syam yang sepertinya memilih diam tak ingin di sapa, mereka hanya mengangguk tipis.


Drrttt...drrttt...ponsel Syam bergetar.


"Siapa?", tanya Zea saat Syam melihat siapa yang menghubunginya. Sedang para orang dewasa melihat kedekatan dua bocah itu seperti sepasang ABG yang sedang menjalin kasih ala remaja.


Padahal mahhhh....


"Papa!",jawab Syam.


"Kan papa tahu kita mau ke atas. Masa telpon?", tanya Zea.


"Papa Arya, Ze!", sahut Syam ketus.


"Oh, kirain papa!", sahut Zea. Syam tak mengangkat panggilan Arya melainkan mengirim pesan. Nanti Syam akan menghubunginya jika sudah di ruangan Glen karena sekarang dia akan memasuki lift yang pasti cukup padat penumpangnya 🤭


"Kok ngga di angkat?", tanya Zea sambil masuk ke dalam lift yang pintunya sudah terbuka. Ada beberapa karyawan yang juga sudah masuk ke lift tersebut.


"Ntar aja di ruangan papa!", jawab Syam.


Tak ada obrolan yang berarti saat dua bocah itu berada di dalam lift. Tak sampai satu menit, kotak besi itu sudah sampai di lantai ruangan Glen.


Dua bocah itu keluar dari lift yang ternyata sudah di tunggu oleh sepasang suami istri yang tersenyum lebar.


"Mama!", Zea memeluk mamanya. Meski tiap hari bertemu, jarang sekali Zea bisa berkumpul dengan mama papanya di saat hari kerja seperti ini.


Tak berbeda jauh dari Helen ,Glen pun memeluk Syam seperti yang Helen lakukan pada sang putri.


"Anak-anak papa dari mana aja heum?", tanya Glen sambil mengecup puncak kepala Syam. Sontak karyawan Glen banyak yang bertanya-tanya.


Bukankah tadi mereka mendengar Syam menyebut nama seseorang dengan panggilan papa, dan sekarang bos nya juga menyebutnya papa???

__ADS_1


"Dari rumah Opa, terus ke kafe kakak. Ya kan Syam?", kata Zea.


"Heum!", sahut Syam datar.


Keempatnya menuju ke ruangan Glen dan Helen. Karena keduanya sama-sama memiliki perusahaan, ada saatnya keduanya berada di perusahaan Helen. Tapi kali ini keduanya berada di perusahaan Glen.


Orang kaya....!!!!


"Kalian duduk dulu ya!", pinta Glen. Tak lama kemudian, ia meraih gagang telepon dan menghubungi ob untuk membelikan cemilan yang biasanya di sukai oleh anak-anak.


Syam memandangi ruangan papanya. Jika ia biasa melihat ruangan seperti ini di televisi, di sinetron atau film...kali ini ia benar-benar berada di dalam gedung ini.


Sesuatu yang...ya...hal baru untuk Syam. Bisa di bilang, Syam katrok! Tapi memang kenyataannya ini adalah pertama kalinya ia masuk ke gedung perkantoran seperti ini.


"Oh ya Syam, Burhan mana?", tanya Helen.


"Di depan Tante. Ngga mau ikut masuk", jawab Syam.


"Kamu hubungi aja Burhan, pulang duluan. Biar kalian pulang bareng sama mama papa. Ya Syam?",kata Helen.


Tanpa basa-basi Syam pun mengangguk. Dia juga sebenarnya tak enak hati membuat Burhan menunggunya terlalu lama.


Seperti yang sudah Syam janjikan, ia menghubungi Arya setelah berada di dalam ruangan Glen.


"Maaf pa, Syam mau telpon papa Arya dulu sebentar!", kata Syam berdiri menjauh dari papa kandungnya. Dia hanya tidak enak jika obrolannya dengan Arya akan mengganggu keluarga papanya.


Glen hanya memandangi punggung Syam dengan tangan kanannya yang menempelkan benda pipih itu di telinganya.


Zea dan Helen bisa melihat wajah Glen yang sedih. Bisa jadi...Glen merasa iri karena Syam ternyata lebih dekat dengan Arya, di banding dirinya, papa kandungnya sendiri.


Zea berpindah pada papanya hingga Glen tersenyum menatap sang putri. Lelaki itu meraih Zea ke atas pangkuannya.


"Kenapa sayang?", tanya Glen pada Zea.


Sayangnya gadis kecil itu hanya menggeleng. Jujur, Zea takut papanya akan memusatkan perhatiannya pada Syam saja. Tapi sepertinya Zea juga harus memahami perasaan papanya.


"Bosen tahu Pa, Ma. Libur panjang gini mama papa malah sibuk kerja!", kata Zea manja.


"Maaf sayang!", Glen mengusap puncak kepala Zea.


"Tapi mama sama papa jangan lembur ya? Pulang sore terus selama Syam di sini, selama kita libur! Zea pengen quality time sama keluarga kita!"


Ternyata Syam sudah selesai menghubungi Arya. Dia cukup menyimak percakapan antara Zea dan papanya. Karena bertukar tempat, Syam duduk bersebelahan dengan Helen.


"Oh ya Syam, gimana kalo nanti pulang dari kantor kita mampir ke mall. Buat beli peralatan sekolah kamu sama Zea!"


Syam memahami maksud baik ibu tirinya tersebut yang sedang berusaha mendekatinya. Dan...dia tak mungkin mengecewakan perempuan sebaik Helen.


"Iya, Tante!", kata Syam tersenyum. Zea bersorak girang mendengar jawaban dari Syam. Gadis itu cukup iri karena dengan mudahnya sang mama membujuk Syam. Sedang Zea harus membujuk bahkan tepatnya memaksa Syam agar menuruti kemauannya.


Lingga dan Galuh sudah tiba di rumah bersamaan dengan Alex yang keluar dari ruang tamu.


"Eh...ada tamu ngga di undang?!", sindir Lingga pada Alex.


"Sia*** Lo! Gue mau liat ponakan gue doang!", sahut Alex tak mau kalah. Galuh tidak heran jika dia sahabat itu berkata menyakitkan.


"Mas Alex mau ke mana?", tanya Galuh.


"Balik ke hotel! Males sama suami kamu ,Luh!", kata Alex.


"Oh...sok atuh...mangga...!", kata Lingga.


"Abang ih... bercanda nya ngga lucu!", kata Galuh memukul lengan suaminya lantas meninggalkan dua sahabat itu.


"Ga yakin gue Lo mau nengok Ganesh doang!", sindir Lingga sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Lo kayak cenayang aja!", sahut Alex yang bersandar di mobilnya.


"Gue tahu Lo, Lex!"


"Huum, iya..."


"To the poin aja, ada apa Lo ke sini?"


Alex membuka pintu mobilnya lalu menyerahkan sebuah amplop berwarna ungu muda. Dan lelaki itu menyerahkan ke tangan Lingga.


"Apaan nih?", tanya Lingga.


"Surat tanah! Undangan lah!", sahut Alex ketus.


"Sapa yang mau kawin?", tanya Lingga membolak-balik amplop tersebut yang hanya ada inisal A&A.


"Nikah Lingga...a....elahhhh....kawin mah udah!"

__ADS_1


Lingga menoyor pipi Alex. Lalu ia membaca kartu undangan pernikahan milik Alex. Bapak satu anak itu tersenyum simpul.


"Alhamdulillah, akhirnya ada yang mau sama Lo juga, Lex!", ujar Lingga.


"Sialan Lo! Gue bukan kagak laku ya, cuma selektif aja cari ibu buat anak-anak gue!", kata Alex membela diri.


"Gue ga bilang Lo kagak laku kali, bro!", kata Lingga menepuk bahu Alex lalu keduanya tertawa bersama.


"Dateng kan Lo?", tanya Alex.


"Insyaallah diusahakan datang bro, tapi pas resepsi ya. Ga ikut pas pemberkatan!"


"Iya, tahu gue! Lo sama keluarga sini datang aja gue udah seneng banget bro!"


Lingga kembali tersenyum, tapi kali ini senyum nya begitu tulus.


"Insyaallah, gue usahain. Karena...selain Lo sahabat baik gue, Lo juga salah satu perantara yang Tuhan kirimkan agar gue dan papa bisa akur seperti sekarang."


Alex membalas senyuman Lingga.


"Gue ga mau lagi kalo Lo ngomong gini dan merasa utang budi sama gue!"


"Heheh oke! Selamat ya bro!", Lingga kembali menepuk-nepuk bahu Alex.


"Tadi ada nak Alex, kak!", kata Sekar yang sudah menyerahkan Ganesh pada ibunya.


"Iya, masih di depan sama Abang. Emang ngapain dia ke sini? Tumben ga kabar-kabar!"


"Kasih undangan pernikahan Kak."


"Alhamdulillah, mas Alex mau nikah kapan Bu?", tanya Galuh antusias.


"Lupa tadi tanggalnya. Tapi kayaknya pemberkatan dulu abis itu dua Minggu kemudian baru resepsi deh kalo ngga salah mah!", jawab Sekar. Galuh hanya mengangguk. Mungkin dia akan menggali informasi pada suaminya nanti.


"Oh iya Luh, gimana konsul di bidan tadi?", tanya Gita yang membawa minuman dari meja dapur.


"Alhamdulillah aman Ma, Ganesh belum di kasih kesempatan buat di beri adik!", jawab Galuh tersenyum malu. Baik Gita maupun Sekar sama-sama terkekeh.


"Jadi, udah di portal sekarang?", ledek mama Gita.


"Iya ma, pakai yang delapan tahun. Cari aman!", jawab Galuh.


"Isssh....ngeri itu masangnya!", kata Gita.


"Iya sih, tapi ngga sesakit yang di bayangkan kok!"


"Eum...iya sih, masing-masing punya plus minusnya. Tapi kalo mau jangka panjang ya emang itu!", sahut Gita.


"Kalo ibu gimana? Kapan mau konsultasi sama Bu bidan?", tanya Galuh pada Sekar. Perempuan itu menatap sepasang mata Galuh yang jernih.


"Terus terang...ibu takut kak!", kata Sekar. Gita dan Galuh saling berpandangan. Galuh berpindah tempat duduk di samping ibunya.


"Takut apa Bu?", tanya Galuh pelan.


Sekar tampak memejamkan matanya beberapa saat.


"Dulu...ibu mudah sekali hamil Syam padahal.....!", Sekar tak meneruskan kata-katanya. Galuh sadar apa yang akan ibunya katakan cukup menyakitkan. Begitu pula dengan Gita yang memilih diam mendengar obrolan menantu dan besannya tersebut.


Ibu satu anak itu mengusap bahu ibunya dengan pelan.


"Sekarang usia ibu sudah tidak muda lagi, ibu sudah tua kak! Dan...ibu juga tahu, Abah pasti menginginkan keturunan darah dagingnya sendiri. Tapi melihat kondisi ibu...ibu ngga yakin kak. Jujur, ibu takut kecewain Abah!", jelas Sekar.


"Bu... rejeki kan sudah ada yang mengatur. Makanya...ibu sama Abah sebaiknya konsultasi dulu ke bidan kalo perlu ke dokter spesialis di rumah sakit. Biar apa? Biar semua jelas! Kalian periksa bersama-sama, jadi dokter juga akan menjelaskan bagaimana baiknya nanti. Ya Bu?!"


Tak ada sahutan dari Sekar, Gita ikut bicara.


"Ngga ada salahnya konsultasi ke dokter yang pasti jauh berpengalaman Sekar. Coba saja dulu, mumpung suami kamu belum di sibukkan dengan usaha barunya."


"Ya Bu?", Galuh menimpali ucapan mertuanya. Akhirnya Sekar mengangguk, nanti setelah suaminya pulang dia akan berbicara padanya.


"Oh iya ma, emang Abah sama papa lagi kemana dari pagi?", tanya Galuh.


"Lagi cari tempat buat toko Abah kamu. Makanya mama bilang, mumpung Abah kamu belum sibuk dengan urusan usaha barunya alangkah baiknya ajak ibu kamu ke bidan atau dokter, Luh!"


"Tuh kan...Bu! Nanti ajak Abah ya!", Galuh ingin memastikan lagi.


"Iya... insyaallah kak, nanti Abah pulang ibu bilangin."


"Udah sore nih, Ganesh mau mandi dulu ya Nenek, Oma??", pamit Galuh membopong bayik kecilnya ke dalam kamar. Kedua neneknya pun hanya mengangguk tipis pada ibu satu anak tersebut.


*****


20.23

__ADS_1


Terimakasih banyak2 yang udh ke sini. Kalo rada ga connect Mon maap ya?? Lagi nyeuri awak 😔🤧


🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2