Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 141


__ADS_3

Arya dan Gita sedang bersiap di kamar mereka. Rencananya, besok siang mereka ke kampung halaman Galuh untuk pindah ke rumah yang Salim siapkan.


Terdengar sepele, Salim hanya supir. Tapi buktinya dia bisa melakukan apa pun pekerjaan yang Arya perintahkan.


Tapi ketukan pintu kamarnya membuat aktivitas packing pakaian Arya dan Gita terhenti.


"Masuk!", pinta Arya. Seorang perempuan paruh baya membuka pintu tersebut.


"Kenapa bik?", tanya Gita.


"Maaf Nyonya, tuan. Dibawah ada tuan Yudis!", kata art tersebut.


Tangan Arya spontan menghentikan pekerjaannya.


"Ngapain dia ke sini?", tanya Arya dengan nada marah. Art nya pun menggeleng.


"Pa, mana bibik tahu kan. Mendingan sekarang papa temui dulu mas Yudis!", kata Gita lirih.


"Sepertinya dia sedang ingin bermain-main dengan ku, Ma!", kata Arya yang langsung meninggalkan Gita begitu saja.


"Jangan menghadapi mas Yudis dengan emosi seperti itu Pa!", Gita mengingatkan suaminya tapi sepertinya tak di dengar sama sekali.


Mau tak mau ia pun menyusul Arya ke lantai bawah.


.


.


.


"Mau apa ke sini?", tanya Arya pada seseorang yang lebih tua dari Arya. Lelaki berpostur tinggi tak beda jauh dari Arya itu berdiri.


"Hai, adikku! Ternyata kamu masih sama seperti dulu ya!",Yudis menepuk bahu Arya sok akrab. Tapi Arya menepisnya kasar.


Kakeknya Ganesh itu pun memilih duduk. Seperti biasa, sikap sombong dan arogan sudah nampak tercetak jelas di wajah Arya.


"Tidak perlu basa-basi, ada apa menemui ku?", tanya Arya datar.


"Oh ayolah Arya, tidak bisakah kamu bersikap sedikit lebih sopan pada kakak mu ini?", tanya Yudis yang sudah duduk berhadapan dengan Arya.


Arya tersenyum sinis.


"Sopan?", tanya Arya.


"Ya, tentu saja. Bukankah kita saudara? Kita memiliki darah yang sama dari ayah yang sama!", kata Yudis.


"Ckkk... mungkin kamu lupa, aku hanya anak pembantu di rumah kalian!", kata Arya mengangkat salah satu kakinya.


Gita yang awalnya ingin menemani Arya pun memilih kembali ke lantai atas. Dia percaya, suaminya sudah bisa mengendalikan diri sejak dia berdamai dengan Lingga dan Galuh.


"Ayok Arya, lupakan lah! Itu hanya masa kecil kita!", kata Yudis sambil mengibaskan tangannya dan terkekeh pelan. Arya mengangkat satu alisnya dan tersenyum remeh.


"Iya. Tentu saja kalian sudah melupakannya. Tapi tidak dengan ku!", kata Arya datar.


Yudis tak tahu harus berkata apa lagi.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk melayani mu jika tidak ada hal penting yang mendesak!", Arya melihat pergelangan tangannya.


Yudis menggenggam erat jemarinya hingga memutih mendengar ucapan Arya yang pasti ingin mengusirnya.


"Oke...aku dengar...Lingga sudah punya usaha sendiri ya sejak empat tahun lalu kamu mengusirnya?", tanya Yudis dengan nada mengejek.


"Iya. Usaha kecil-kecilan, memang kenapa? Apa itu masalah buat mu?", tanya Arya.

__ADS_1


"Ayolah Arya ... bukankah ini memalukan? Keturunan Pandu Winanta Putra hanya jadi pengusaha kelas teri, di kampung pula! Ckkkk.... seharusnya kamu berikan warisan yang layak padanya. Memalukan sekali!"


Arya tersenyum sinis.


"Memalukan katamu? Bukankah lebih memalukan jika hanya mengharapkan warisan serta menghamburkannya untuk berfoya-foya? Kedua putra ku bukan seperti mu! Mereka berdiri dengan kaki mereka sendiri, dengan usaha mereka. Sama seperti ku! Aku bisa menunjukkan pada kalian, aku mampu tanpa kalian. Begitu pula dengan dua putra ku. Mereka tak perlu memamerkan apa pun pada keluarga kakek nya yang terhormat seperti kamu contohnya!"


Yudis menatap nyalang terhadap adik beda ibu tersebut.


"Semakin hari semakin sombong dan arogan kamu Arya!", hardik Yudis.


Arya hanya mengangkat kedua bahunya. Dia tak rela ada yang menghina kedua putranya yang hebat-hebat. Meski dia pun pernah melakukan hal yang sama, tapi utama dulu saat dirinya masih tak menerima kenyataan bahwa menantunya adalah pilihan terbaik putra bungsunya.


"Ya, kami sombong karena kami mampu!", sahut Arya datar.


"Baiklah, apa setelah ini kamu masih akan sombong?", sekarang Yudis yang tersenyum licik.


Arya sempat mengernyitkan alisnya beberapa saat.


"Bagaimana kehilangan orang-orang yang kamu sayangi Arya? Anak bungsu? Menantu? Atau bahkan cucu?", tanya Yudis.


Arya terdiam sejenak mencerna ucapan kakak tirinya tersebut.


"Kamu ingin membalas dendam pada ku lewat mereka?", tanya Arya.


Yudis kembali tersenyum simpul dan seringai jahat dari sudut bibirnya.


"Ku pikir, setelah apa yang kamu dapatkan sekarang...kamu tidak akan lagi bertingkah, Kak Yudis!", kata Arya penuh penekanan.


Yudis menatap nyalang pada adik tirinya tersebut.


"Apa....aku perlu memiskinkan mu sampai semiskin-miskinnya hingga kamu tidak akan lagi coba-coba mengusik ku?", ancam Arya.


Yudis menatap benci pada Arya yang justru mengintimidasi dengan tatapannya.


"Kamu pikir, aku akan membiarkan anak menantu dan cucuku berada dalam jangkauan mu? Hahahaha salah besar! Bahkan sebelum anak buahmu bertindak, aku sudah mematahkan mereka lebih dulu. Jadi...apa kamu masih mau bermain-main dengan ku?",tanya Arya pada Yudis. Yudis bergeming.


"Pintu keluar masih di sana, silahkan!", sarkas Arya.


Yudis bangkit dari sofanya. Tanpa permisi, ia meninggalkan Arya dengan menghentakkan kakinya dengan emosi yang berada di ubun-ubun.


Bahkan Yudis saja belum memberikan tekanan pada Arya, tapi ternyata dirinya sudah kalah start. Gita perlahan menuruni tangga tapi saat dirinya akan menghampiri sang suami, tapi ia urungkan saat suaminya menghubungi seseorang dengan ponselnya.


[Bagaimana?]


[Aman tuan. Dokter Maria justru sudah memindahkan Ganesh dan beberapa bayinya dari ruangan tersebut atas permintaan den Lingga]


[Mereka tidak tahu cucuku?]


[Sepertinya tidak tuan. Ruangan itu steril dari orang-orang yang tidak berkepentingan]


[Lalu bagaimana kondisi anak-anak ku?]


[Den Lingga dan Non Galuh sudah berada di kost nya. Beberapa orang sudah di tempatkan di rumah sakit dan sekita kost mereka. Sedang Bu Sekar dan Den Syam sudah berada di rumah]


[Baiklah! Terimakasih! Bonus mu akan segera ku kirim]


[Sama-sama tuan]


Arya meletakkan ponselnya ke atas meja. Dia mengusap kasar wajahnya. Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun menggeluti liciknya dunia, dia sudah paham betul siapa-siapa yang mencoba mencari celah untuk menjatuhkannya. Entah lewat dirinya langsung atau melewati keluarganya. Beruntungnya Arya sudah sigap menyikapi dan mengantisipasi semuanya.


Tidak salah memang menempatkan seseorang yang ia percaya di antara keluarga putranya tersebut.


"Papa akan selalu berusaha menjaga kalian, semampu papa selama papa masih hidup!", monolog Arya yang dapat di dengar oleh Gita.

__ADS_1


Mata Gita berkaca-kaca. Sungguh dia baru merasakan betapa cinta suaminya begitu besar terhadap anak-anak mereka.


Malam ini, Arya dan Gita berdua di rumah. Sedang Puja dan keluarganya tengah menginap di rumah orang tua Vanes.


Gita memeluk Arya dari belakang yang sedang duduk di sofa hingga membuat lelaki tua itu terkejut.


"Mama!"


"Terimakasih pa!", kata Gita tulus. Tangan Arya reflek mengusap lengan Gita yang melingkar di depan dadanya.


Arya tersenyum tipis.


"Kenapa mama harus berterima kasih?", tanya Arya. Gita menggeleng pelan.


"Karena papa terbaik!", sahut Gita. Lagi-lagi Arya mengulas senyum.


"Kita ke kamar lagi ma, sudah malam. Waktunya beristirahat! Besok pagi baru kita lanjutkan membereskan apa yang perlu kita bawa!", ajak Arya.


"Iya, Pa!", jawab Gita.


.


.


.


Salim baru saja masuk ke dalam biliknya yang ada di pabrik batako. Ada beberapa sekat ruangan di pabrik tersebut yang pasti layak untuk di tinggali.


"Ti mana mang Salim?", tanya salah seorang pekerja pabrik yang kebetulan di kamar yang sama dengan dirinya.


"Oh, itu jang. Cari angin!", jawab Salim. Lelaki itu duduk di dipan yang ia tempati.


"Sebenarnya teh, mang Salim ini supir atau apa sih?", tanya orang itu. Salim menautkan alisnya.


"Maksudnya?", tanya Salim bingung.


"Ngga deh, ngga jadi!", katanya. Salim semakin bingung.


"Bener? Ngga mau nanya aja, biar ngga penasaran?", tanya Salim. Lelaki berumur dua puluhan itu pun mengangguk lalu merebahkan dirinya di dipan yang lain.


"Eum, ngomong-ngomong kapan gajian ya? Apa den Lingga lupa karena lagi sibuk di Jakarta?", tanya lelaki itu.


"Insyaallah besok jang. Bu Sekar yang ngasih, kalo den Lingga masih di rumah sakit nemenin non Galuh."


"Tuh kan...mang Salim mau serba tahu! Pasti ngga cuma supir, ya kan???? Jangan bilang kalo mang Salim teh lagi ngawasin kami."


"Heheheh ada-ada aja Jang. Saya mah emang supir, buka pengawas. Kan sudah ada mandor nya kalian ini. Buat apa saya ngawasin. Cuma tadi, den Lingga ngomong kaya begitu. Ibu yang mau kasih gaji kalian sama anak-anak pabrik penggilingan beras juga ,waktu saya jemput ibu dan den Syam!", jelas Salim. Lelaki itu hanya ber'oh' saja.


"Alhamdulillah kalo besok gajian mah heheheh!"


"Ya udah atuh, saya mau tidur duluan. Besok antar den Syam ke sekolah."


"Iya mang, mangga!", kata lelaki itu yang memainkan ponselnya, bermain mobil legenda 🤭🤭🤭


********


12.08


Alhamdulillah masih bisa menghalu setelah hari pertama bocil2 mengikuti MPLS 🤭🤭🤭


Terimakasih sudah mampir sini yakkkk jangan lupa tinggalin jejak kalian.


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2