Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 157


__ADS_3

Puja sedang sibuk di kantor utama milik Arya yang sekarang jadi tanggungjawabnya. Saat dirinya tengah di sibukkan dengan berbagai pekerjaan, beberapa orang memasuki ruangannya tanpa ijin.


Sontak Puja merasa terkejut dan terganggu karena kedatangan tamu yang tak di undang.


"Maaf Pak Puja, saya sudah berusaha mencegah mereka. Tapi mereka memaksa masuk ke sini!", kata sekretaris Puja.


Puja mengangguk dan mengangkat tangannya yang memberi isyarat agar sekretarisnya keluar dari ruangannya tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, Om Yudis?", tanya Puja sambil berjalan mengitari mejanya menuju ke tempat Yudis berdiri.


"Kamu hanya bocah kemarin sore! Jangan coba-coba bermain-main dengan ku!", ancam Yudis.


Puja memijat keningnya sesaat hingga seseorang yang lebih dewasa dari nya pun masuk. Lukas, orang kepercayaan Arya memasuki ruangan Puja.


"Maafkan saya om Yudis, tapi apa yang saya lakukan tidak melanggar hukum!", kata Puja santai.


Dada Yudis naik turun menahan amarah. Bisa-bisanya Puja mengambil alih semua saham milik nya....oh... tidak! Milik keluarga Pandu, ayah dari Yudis dan Arya.


"Kamu dan papa mu sama-sama serakah!", tuding Yudis tepat di depan hidung Puja. Puja yang memang pembawaan nya tenang pun terkekeh kecil.


"Sebelum om berkata demikian, sebaiknya bercermin dulu. Biar om tahu siapa yang serakah sebenarnya?!"


"Bocah bau kencur jangan coba-coba...!"


"Stop Om! Sejak tadi aku mencoba menahan emosi dan berusaha untuk tidak kasar sama Om. Terserah om mau berteriak histeris seperti apa pun, semua aset sudah beralih pada papa."


Yudis meremas kedua tangannya hingga memutih.


"Papa masih berbaik hati menyisakannya sedikit untuk bekal hidup Om sampai tua nanti. Kalau papa mau, papa bisa memiskinkan Om sampai om mungkin akan berpikir akan makan apa!"


"Ba*****!"


"Om jangan pernah berpikir untuk mengganggu Lingga dan istrinya! Mereka tak ada sangkut pautnya dengan masalah Om dan papa. Dan... sebenarnya...papa tidak ada masalah dengan om. Om Yudis saja yang terlalu mencari-cari celah untuk bermasalah dengan papa."


"Pandai sekali mulut kamu berbicara seperti itu dengan om kamu sendiri Puja!", kata Yudis geram.


"Puja minta maaf Om. Tapi...aku harap, om juga menyadari untuk tidak menggangu keluarga adikku!"


Yudis meninggalkan ruangan Puja begitu saja. Lukas sebenarnya tadi tak tahu jika Yudis akan datang, tapi ternyata dirinya sangat tepat memasuki ruangan Puja saat masih ada Yudis di sana.


"Semua aman kan Om?", tanya Puja.


"Aman mas Puja!", jawab Lukas. Setelah itu Lukas kembali keruangannya, sedang Puja melaporkan apa yang terjadi di kantornya pada papanya.


.

__ADS_1


.


.


Galuh sedang menyusui Ganesh di kamarnya. Kedua mertuanya sedang belajar berkebun bersama ibunya.


Lingga sendiri di sibukkan dengan laptopnya yang menyala di meja rias Galuh. Biasanya Galuh yang akan membantu Lingga mengecek pembukuan kafe dan minimarket di Jakarta. Tapi sejak ada Ganesh, Lingga melakukan semuanya sendiri.


Melihat sang putra sudah lelap, Galuh meletakkan Ganesh lalu ia menghampiri Lingga di meja riasnya.


Tangan lentik Galuh memijat bahu Lingga dengan pelan namun penuh tekanan. Awalnya Lingga terkejut tapi semakin lama justru keenakan hehehe...


"Kok ngga ikut tidur aja Yang?"


"Ngga ngantuk bang!", kata Galuh sambil terus memijat bahu Lingga. Sesekali Lingga memejamkan matanya menikmati sentuhan istrinya tersebut.


Tak ada sahutan apa pun lagi dari bibir Lingga. Ia terus memandangi layar laptopnya dengan serius. Galuh pun tak banyak bertanya lagi mengingat jika suaminya juga butuh konsentrasi.


Tangan lentik itu masih terus memijat bahu Lingga. Hingga tanpa ia sadari sejak tadi suaminya menyadari jika Galuh sudah menguap dari tadi.


Lingga menghentikan jemarinya yang menari di atas tuts laptop nya. Selang beberapa detik kemudian, dia melipat layar laptop tersebut. Dengan perlahan, Lingga menarik Galuh hingga duduk di pangkuannya.


"Bang, suka ngagetin deh!", kata Galuh yang tiba-tiba duduk diatas pangkuan Lingga.


"Ya maap!", kata Lingga. Lalu bapak satu anak itu memiliki untuk menenggelamkan wajahnya di tempat dimana seorang Ganesh menikmati sumber kehidupannya.


"Capek ya wajar Yang. Tapi ini kan kewajiban Abang. Jangan pernah berpikir kalau kamu merasa bersalah tak membantu Abang. Tugas kamu hanya merawat dan mengurus abang serta Ganesh sebaik mungkin!", kata Lingga tersenyum.


"Huum!", sahut Galuh sambil mengusap rahang serta ada jambang tipis yang menghiasi wajah Lingga hingga kadar ketampanannya berkali-kali lipat.


"Ngga cuma kamu yang kangen Yang, Abang jauh lebih kangen!", Lingga merasakan jika istrinya akan bersikap manja setelah ini.


Galuh memeluk erat suaminya.


"Oh ya bang, jadi kapan akikah Ganesh di langsungkan?"


"Malam Jumat aja gimana Yang? Niat Abang, mau beli aja ke tempat yang biasa terima orderan akikahan. Biar yang di rumah ngga ribet Yang. Ngga keberatan kan?", tanya Lingga.


"Heum, aku ikut aja!", kata Galuh.


"Oh iya, Abang mau cerita tentang Mang Salim sama ibu!", kata Lingga.


"Mang Salim sama ibu kenapa?"


"Kemarin mang Salim sempat bilang sama Abang kalo ternyata dia tuh suka sama ibu. Ibu juga ternyata sama-sama suka. Jadi, niatnya...aku sama papa mau...bantu mang Salim buat sama ibu. Menurut kamu gimana Yang?"

__ADS_1


Galuh menghela nafas berat.


"Bukannya ibu cuma cinta sama bapak ya?"


Galuh tak butuh jawaban apapun dari Lingga. Hingga dia bingung sendiri harus bertanya siapa.


"Yang, setiap hati bisa berubah-ubah."


Galuh pun mengangguk mencoba mengerti.


"Tapi, Abang yakin kalo mang Salim serius sama ibu."


"Iya, aku tahu mang Salim orang yang baik kok bang?!"


"Jadi kamu setuju kalo ibu sama mang Salim?"


"Setuju aja bang, yang penting mereka bahagia."


Lingga merengkuh Galuh dalam pelukannya. Sesekali ia mengecup pelipis Galuh dengan sayang.


"Terus kenapa diem gini heum?"


"Ingat bapak, Bang!", jawab Galuh. Lingga merasakan kesedihan istrinya. Bahkan Lingga tak pernah tahu seperti apa rupa mendiang mertuanya.


"Doakan yang terbaik buat bapak agar di ampuni dosa nya dan juga di lapangkan kuburnya."


"Aamiin bang!", jawab Galuh.


"Ngomong-ngomong kita belum sepakat lho yang?!"


"Sepakat apa sih bang?", Galuh bingung.


"Nanti Ganesh manggil kita apa? Mama papa?Mami papi? Ayah bunda? Mommy Daddy?"


"Abah sama umi sekalian!", celetuk Galuh.


"Ishhhh Abang serius Yang. Becanda terus deh!"


"Abah Umi kan bagus lho Bang!"


"Bagus, cuma ngga cocok sama aku yang masih amburadul begini. Udah deh, ayah bunda aja!", putus Lingga.


"Lah??? Ngapain tanya kalo akhirnya mutusin sendiri sih bang?", tanya Galuh sedikit kesal.


*******

__ADS_1


21.18


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2