
"Maaf? Bicara maaf memang mudah!",kata Galuh pelan tapi terasa menyakitkan bagi Lingga.
"Aku tahu, kesalahan ku terlalu banyak Luh."
"Tapi kamu masih berniat meminta maaf?",tanya Galuh tanpa menatap suaminya sama sekal.
Sekarang Lingga yang menyandarkan punggungnya ke bahu jembatan, berdiri di samping Galuh.
"Aku tau, mungkin berat buat kamu memaafkan ku!", lanjut Lingga. Lelaki tampan itu menatap Galuh dengan pandangan yang... entah lah.
"Beri aku alasan untuk bisa memaafkan mu!",kata Galuh menunduk sambil menatap kakinya yang bergerak tak jelas karena sejujurnya Galuh hanya takut mendengar penjelasan Lingga yang justru nanti akan semakin menyakitinya.
"Saat itu aku bukan sedang KKN, aku sudah selesai kuliah. Hanya saja, aku ingin ikut-ikutan seperti mahasiswa yang lain. Dan ya....di sana lah kita di pertemukan."
"Setelah aku berpamitan sama kamu dan bilang akan kembali pada mu, ternyata papa ku meminta ku untuk kuliah di Kanada setelah pernikahan Om Glen dan Tante Helen, orang tua Zea. Papa mengancam akan mencabut segala fasilitas yang aku miliki saat itu."
Lingga menjeda penjelasannya. Sejujurnya dia merasa sesak memberi penjelasan pada Galuh. Tapi setidaknya, ia meluruskan hal yang sebenarnya.
__ADS_1
Galuh tersenyum kecut.
"Aku tahu aku salah, aku tak berpikir panjang saat itu Luh. Yang aku pikirkan hanya lah bagaimana caranya aku bisa sukses dan gak bergantung lagi pada papaku. Dengan kuliah di sana dan juga meneruskan perusahaan keluarga kami di sana dengan kakakku."
"Papa mengambil ponsel ku yang berisi nomor kamu. Aku bahkan tak tahu sosial media yang kamu miliki Luh. Bagaimana aku mau memberi tahu kamu??!"
Galuh masih terdiam mendengarkan apa yang Lingga jelaskan.
"Delapan tahun di sana, aku sudah mulai mandiri. Aku tak bergantung lagi dengan papa ku. Dan aku memutuskan untuk kembali ke sini, mencari kamu dan ibu!",kata Lingga sambil menatap Galuh.
"Apa kamu pikir delapan tahun itu sebentar?",Galuh menoleh pada suaminya. Mata mereka saling beradu pandang.
"Tidak, delapan tahun itu waktu yang sangat lama!",jawab Lingga.
"Kamu tahu itu! Apa kamu juga tahu hal apa yang sudah aku lalui selama menunggu kamu memenuhi janji mu..??",tanya Galuh dengan mata berkaca-kaca. Dan tanpa aba-aba ada titik kecil meleleh di pipi gadis itu.
Lingga akan menyentuh nya, tapi Galuh mengelak.
__ADS_1
"Kamu menggantung status ku? Oke, mungkin benar 'cuma' nikah siri! Tapi bukan kah dari awal kita sepakat untuk menjaga ikatan itu? Lalu kenapa terjadi seperti itu? Aku tahu, kita menikah tanpa cinta. Tapi bukan berarti kamu bebas memperlakukan aku seperti itu. Aku tahu, aku orang miskin!",keluh Galuh.
"Aku tidak berpikir seperti itu galuh. Apa yang aku katakan soal kuliah ku di luar negeri, itu benar adanya. Dua hari lalu aku baru tiba di sini, turun dari pesawat aku kan menuju ke rumah kamu di kampung. Bahkan aku menyempatkan diri berhenti di gubug yang sudah mempertemukan kita dimana kamu juga baru selesai berkunjung ke rumah kamu Luh?!"
Galuh menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya.
"Cerita kan padaku, apa yang sudah kamu lalui selama aku tidak ada di sini?",tanya Lingga. Galuh langsung menoleh pada suaminya.
"Apa pentingnya buat kamu? Kamu siapa? Bukankah sudah jelas jika lebih dari enam bulan seorang suami tidak menafkahi istrinya itu artinya...."
"Tapi aku tidak akan pernah mengatakan kata itu Galuh. Tidak akan!"
"Untuk apa? Tidak ada perasaan apa-apa di antara kita. Yang ada...aku hanya merasa terbebani dengan status ku yang menggantung, karena kamu. Sebagai formalitas, tinggalkan aku!"
Lingga menggeleng. Lalu memegang bahu gadis yang tinggi nya hanya sedagu Lingga.
"Kita menikah secara resmi!",kata Lingga penuh keyakinan.
__ADS_1
Mata keduanya saling menatap. Jika Lingga menatap penuh harapan, tidak dengan Galuh yang menatap suaminya dengan rasa kecewa.