Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 153


__ADS_3

Glen bergabung dengan kedua kakak iparnya dan juga keponakannya. Tak lupa ia menyunggingkan senyumnya yang ramah pada mereka semua, tak terkecuali pada Salim.


"Tante Helen dan Zea ngga di ajak Om?", tanya Lingga setelah Glen duduk di sebelah Salim.


"Lain kali Ga. Tante mu sibuk di kantor, Zea belum libur sekolah."


Lingga mengangguk mendapatkan jawaban dari pertanyaan basa basinya pada suami tantenya itu.


"Jadi gimana Mang? Mau Lingga atau Papa yang bantu nerusin ke Galuh? Eh...ke ibu!", kata Lingga membenarkan ucapannya. Glen yang sebenarnya sudah mendengar sedikit obrolan itu pura-pura tak tahu menahu.


"Anu...itu Den, sepertinya..."


"Kenapa? Kamu insecure?", tanya Gita. Terlihat Salim tak menyahut apa-apa hanya helaan nafas yang terdengar oleh orang di sekitarnya.


"Kamu sudah yakin akan di terima, lalu kenapa harus seperti sekarang? Kaya ABG saja kamu Salim!", kata Arya tersenyum tipis seolah sedang meremehkan sikap rendah diri Salim.


"Saya hanya supir Tuan, Nyonya, Aden. Apa saya pantas...."


"Memang kenapa dengan pekerjaan supir? Apa ibu mempermasalahkannya?", tanya Lingga. Salim memilin jemarinya karena gugup di beri pertanyaan menohok oleh calon menantunya hehhehe


Jika Salim gugup, Glen justru sedang menahan diri. Dia tidak boleh ikut campur! Dia pikir, dia siapa???


Glen hanya orang asing yang menghamili Sekar tanpa pernikahan yang sah! Apa haknya melarang ibu dari anak biologisnya untuk menikah dengan supir sekali pun???


Bahkan Salim hampir seumuran dengan Glen, penampilannya juga tidak terlihat seperti seorang supir pribadi pada umumnya. Salim rapih dan visualnya cukup tampan di nilai oleh siapapun, termasuk Glen sendiri meskipun dia adalah laki-laki.


"Tidak Den. Hanya saja, ibu tidak ingin menambah beban pikiran den Lingga dan Non Galuh untuk beberapa hari ini. Apalagi, akan ada banyak acara nanti. Ibu ngga mau kalau...."


"Beban apa sih mang? Ada-ada saja!", kata Lingga terkekeh. Salim terdiam seribu basa. Karena itu kenyataan yang dia dengar langsung dari bibir seorang perempuan yang pernah dia....ah ... sudah lah! Kalo di ingetin nanti Salim mau lagi....


"Ibu yang mengatakan demi Den!", kata Salim.


"Manggil nya siapa Lim? Ibu?", tanya Gita. Arya terlihat menggosok ujung hidungnya untuk menahan tawanya. Entah apa yang dia tertawakan. Panggilan Salim pada Sekar????


"I-iya...Bu Sekar...!"


"Heheh udah mang, jangan tremor gitu kenapa. Santai saja sama aku mah!", Lingga menepuk bahu Salim pelan hingga membuat Salim merasa sedikit tenang. Itu artinya, restu dari Lingga sudah ia dapatkan.


Tinggal restu dari Galuh dan Syam tentunya!


Arya menatap adik iparnya yang terlihat gelisah di sofa ujung. Sosok Arya terlalu peka menghadapi situasi. Jelas, sudah puluhan tahun dia berada dalam dunia bisnis yang hampir membuat nya tahu seperti apa ekspresi rekan-rekan bisnisnya. Termasuk ekspresi Glen yang kurang suka dengan obrolan antara Salim dan Lingga.


"Oh iya Glen, ada yang mau aku tanyakan. Ke balkon sebentar!", ajak Arya langsung berdiri dari sofanya. Gita juga tak melarangnya. Suaminya memang sering seperti itu, jadi dia tak kaget.


Dua orang tampan yang beda usia kini sudah berada di balkon yang menghadap ke sawah.

__ADS_1


"Ada apa mas?", tanya Glen.


"Kamu tak berhak untuk tidak setuju dengan apa yang akan Salim dan Sekar lakukan!", kata Arya sambil memegang pembatas balkon yang terbuat dari bambu.


Glen memalingkan wajahnya. Dia heran, kenapa kakak iparnya tahu segalanya. Sepintar apa seorang Arya???


"Kamu hanya ayah dari Syam, bukan suami Sekar."


"Aku tahu mas!", jawab Glen lugas.


"Lantas? Untuk apa kamu terlihat keberatan seperti itu?", tanya Arya.


"Aku hanya khawatir, Syam akan jauh lebih dekat dengan Salim dari pada aku. Ayah kandungnya sendiri. Kedekatan Syam dengan mas Arya saja sudah membuat ku iri, sekalipun mas Arya adalah kakak ipar ku sendiri. Sedang Salim? Dia...orang asing. Tapi ...Syam....!"


"Jangan melihat hanya dari sisi kamu saja Glen!", kata Arya sambil menatap gelapnya malam. Glen pun turut mendongak menatap langit. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya selama menjadi adik ipar Arya, Glen bisa berbicara santai dari hati ke hati dengan kakak iparnya ini. Selama ini, Arya selalu bersikap bossy dan arogan. Tapi ternyata, ada sisi lain yang mungkin tak banyak orang ketahui.


"Selama ini, Syam kekurangan kasih sayang seorang ayah. Dia mendapatkan figur seorang ayah sekaligus seorang kakak, dari Lingga. Maaf, bukan maksud ku menyudut kan mu."


Glen mengangguk pelan.


"Dan aku dekat dengan Syam, karena aku merindukan putra ku. Arsyam! Dengan melihat dan menyayangi Syam, aku bisa mengobati sedikit rinduku pada Arsyam."


Arya menghela nafas panjang.


"Tapi...aku rasa, Syam menemukan sosok yang berbeda dari Salim. Laki-laki yang bisa membuat ibunya tersenyum dan juga menyayanginya."


Glen bergeming di tempatnya.


"Bohong kalo Syam tidak ingin berada di dalam keluarga yang utuh! Tapi ..."


Arya menjeda beberapa saat ucapannya.


"Bagi orang lain, Syam tetap terlihat anak kecil. Tapi...dia dewasa oleh keadaan Glen. Dia tidak ingin ada hati yang terluka hanya untuk kebahagiaannya sendiri. Dia tidak ingin melukai hati Helen dan Zea."


Glen mengangguk paham.


"Syam anak yang baik. Dia tahu seperti apa harus bersikap, meskipun dia anak-anak tapi cara berpikirnya jauh lebih dewasa di banding anak seusianya."


"Iya mas. Terimakasih atas nasehatnya!", kata Glen.


"Kamu benar-benar hanya memikirkan Syam kan? Bukan karena tertarik pada Sekar???", tanya Arya yang langsung menohok ke jantung Glen.


.


.

__ADS_1


.


[Puja, ada yang Papa ingin kamu lakukan]


[Kenapa pa?]


[.....]


[Serius Pa? Tapi....]


[Papa tidak akan serahkan Puja. Lakukan saja dulu!]


[Tapi kalau...]


[Dengarkan papa! Semua yang kamu lakukan nanti, untuk kebaikan kita bersama. Terutama kehidupan keluarga adik kamu]


[Oke....oke! Puja lakukan apa yang papa mau!]


[Terimakasih Nak. Papa tahu, kamu bisa papa andalkan!]


[Iya pa. Berhenti memujiku seperti itu!]


Arya dan Puja terkekeh bersama.


[Kalau sudah, tolong kabari Papa!]


[Siap Pa!]


Arya mematikan sambungan telponnya lalu menuju ke dapur di mana istrinya berada. Gita sedang memasak untuk sarapan Arya dan Glen. Karena Gita memang tak biasa sarapan berat. Paling hanya memakan beberapa potong buah untuk mengganjal perut dan juga teh hangat.


"Nanti habis sarapan kita ketemu Ganesh ya Ma!", ujar Arya.


"Iya pa!", jawab Gita sambil menyiapkan dua piring untuk suaminya dan juga adik iparnya.


*****


Ga ada Galuh nya ya 😆😆😆😆


Alhamdulillah dua bab hari ini 😁


Semoga tidak mengecewakan anda semua ya pemirsahhh....


Haturnuhun 🙏🙏🙏🙏


16.16

__ADS_1


__ADS_2